Jumat, 30 Mei 2014

JASMERAH

Bulan Mei ini, 16 tahun yang lalu...... kami mengumpulkan berita dari segenap penjuru kota, mengabarkannya kembali ke segenap penjuru kota..... 

Melewati hari-hari yang penuh tanda tanya: Adakah jadwal unjuk rasa hari ini?
Menjumpai begitu banyak orang muda berpeluh, memenuhi titik-titik perteuan dengan sepasukan aparat yang barangkali terpaksa hadir karena tugas memanggil mereka
Menjumpai begitu banyak pedagang minuman beraroma jamu yang muncul secara massif..... ah, sejak kapan di kota ini dibangun pabrik minuman ringan itu?
Di sudut kota, secara tiba-tiba becak-becak lengkap dengan pengayuhnya tidak pernah pulang kandang..... mereka memilih terlelap di sudut-sudut jalan yang sepi penumpang.... hingga tengah malam...

Semua bersiap menghadapi sesuatu yang besar......
Yang tak pernah terbayangkan sebelumnya....

Kami beruntung, karena sesuatu yang ditunggu-tunggu akhrnya terjadi....
Kulihat tayangan di televisi, Pemimpin Besar membacakan sebuah pidato tertulis....
Ia mengundurkan diri.....

DOODLE HARI INI: RUBIK's CUBE

Google, selain menyediakan layanan pencarian informasi, juga membuat aplikasi interaktif Doodle. Sebuah modifikasi dari logo Goggle yang didedikasikan bagi berbagai peringatan hari bersejarah bagi banyak pencapaian di seluruh dunia.
Doodle memiliki sebuah tim desain grafis khusus yang bekerja menelurkan ide-ide keatif. Dipimpin Dennis Hwang yang dibantu oleh Michael Lopez, Ryan Germick, Susie Sahim dan Jennifer Hom, tim ini juga membuat kompetisi Doodle di seluruh dunia yang rancang bagi anak-anak.

Hari ini, Doodle menampilkan logo interaktif Rubik dalam peringatan 40 tahn kelahiran permainan kubus berwarna tersebut. Rubik merupakan sebuah permainan teka-teki mekanis berbentuk kubus berwarna-warni. Elem-elemen warna pada Rubik terdiri dari enam warna yang di sajikan secara acak untuk di susun secara sistematis berdasarkan kelompok warna yang sama. Secara mekanis, Rubik terdiri dari 26 bagian kecil yang berputar pada tiap porosnya. Permainan otak ini didesain oleh Erno Rubik, seorang pengajar pada Department of Interior Design at the Academy of Applied Arts and Crafts di Budapest.

IBU MENYUSUI: MAKANLAH SAYUR APAPUN!

ekitar tahun 2006, ketika saya mengontrak rumah di wilayah Sunter Jaya, Jakarta Utara, saya bertetangga dengan komunitas perantau dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Sebagian masih hidup membujang dan sebagian lagi sudah berkeluarga, keluarga muda tentunya. Keluarga muda ini, sebagaimana saya dan suami yang baru memiliki seorang anak, umumnya memiliki bayi atau balita.
Salah seorang tetangga Flores bernama Mama Yessy, memiliki anak berusia 7 bulan bernama Glenn, sebaya dengan anak pertama saya. Setiap hari kami memiliki aktivitas serupa, memasak, mencuci baju, mencuci piring, momong anak dan macam-macam rutinitas kami, sebagai seorang ibu rumah tangga. Bertetangga dan beraktifitas bersama hampir setiap hari, membuat saya menjadi tahu pola asuh anak ala Flores, paling tidak ala Mama Yessy ini. Mulai dari cara menggendong anak, pola komunikasi yang intensif dan menu lauk pauk.
Jika pada umumnya seorang ibu menggendong bayi dengan posisi tubuh di depan atau menyamping, maka Mama Yessy memiliki cara tersendiri. Ia menggendong anaknya dengan posisi sang anak berada di punggungnya, sehingga ketika terpaksa harus memasak sambil menggendong bayi, sang bayi akan aman dari cipratan minyak goreng yang panas. Beberapakali saya mencoba menerapkan cara menggendong seperti itu, namun elalu mengalami kegagalan meski Mama Yessy dengan sabar berusaha mengajari saya.
Tidak seperti anggapan banyak orang tentang pola komunikasi masyarakat pedesaan yang kurang intens, Mama Yessy yang berasal dari sebuah desa di Kecamatan Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur merupakan seorang ibu muda yang sangat komunikatif terhadap anaknya. Setiap hari, ia selalu bercakap-cakap dengan bayinya. Terkadang ia menyanyikan lagu-lagu riang dalam bahasa Flores, yang saya sama sekali tidak mengerti artinya.
Soal menu makanan, Mama Yessy hampir setiap hari masak menu ikan dan sayur. Kebetulan harga ikan di wilayah Sunter lumayan murah, bisa jadi karena jarak antara wilayah Sunter dengan Pasar Ikan Muara Karang tidak terlalu jauh. Menurut Mama Yessy, di kampungnya mereka memang terbiasa mengkonsumsi ikan laut. Bisa jadi karena ketersediaan yang hasil laut melimpah ditambah harga yang masih murah di Flores sana.
Ada cerita menarik tentang menu yang hampir setiap hari juga dimasak dan dikonsumsi oleh Mama Yessy dan keluarga, termasuk komunitasnya. Bila bagi sebagian besar ibu menyusui, daun katuk diyakini berkahasiat memperbanyak ASI, lain halnya dengan Mama Yessy. Beliau lebih banyak memasak sayur daun singkong sebagai pengganti Daun Katuk. Menurut penuturannya Daun Katuk terbilang langka di wilayah Flores. “Susah sekali mendapatkan daun katuk. Jadi kami lebih sering menggantinya dengan daun singkong” tutur Ibu Yessy.
Beberapa kali saya terlibat masak bersama dengan Mama Yessy. saya jadi tahu persis menu sayur istimewanya ini. Pertama-tama daun singkong direbus, air rebusan dibuang. Daun singkong hasil rebusan diiris-iris lalu di tumis bersama irisan bawang merah, bawang putih dan sedikit penyedap rasa. Terkadang, ia menambahkan segengam kacang hijau sebagai bagian dari bahan baku sayur daun singkong.
Penasaran dengan efek pada ketersediaan ASI, saya pernah mencoba mengkonsumsi sayur Daun Singkong sehari penuh, tentu dengan menu lengkap lauk ikan, nasi dan sayur. Sedari pagi, siang, sore hingga alam hari, saya makan sebanak mungkin dengan menu yang sama. Terus terang, seharian dengan menu yang sama membuat saya bosan bukan kepalang, rasanya mau memuntahkan isi perut saya. Tapi, saya memaksakan diri melakukan eksperimen ini.
Keesokan hari, sebuah keajaiban tiba-tiba muncul. Dada saya kembali membengkak seperti saat di awal-awal persalinan. Ketika menyusui anak saya, ASI mengucur deras…. mengenyangkan perut anak saya hingga siang hari ia terlelap puas. Saya juga puas telah membuktikan kepada diri sendiri bahwa pola makan lengkap nasi, lauk dan sayur (dengan jenis sayur apapun) ditambah susu adalah cara paling mudah mempertahanan ketersediaan ASI di masa menyusui.

Berayun-ayun di Alun-Alun

Di musim libur lebaran, Alun-Alun Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya ramai oleh pengunjung. Para pedagang bersigap menggelar dagangan, begitu pula dengan penyedia arena bermain anak-anak. Ada yang menggelar komidi putar dan ada pula yang menggelar kolam mini berisi ikan-ikan mainan yang siap dipancing.

Tak jauh dari lokasi kolam pancing mini dan komidi putar, saya menjumpai banyak ayunan yang terbuat dari jalinan tali tambang plastik warna-warni. Ada sekitar 23 buah ayunan yang dipasang melintang dari satu batang pohon ke batang pohon lain. Bahkan beberapa patok batang bambu ditanam untuk mengaitkan ayunan-ayunan ini.

Yang bermain ayunan ternyata tak hanya anak-anak, namun ada pula orang dewasa yang menyewanya untuk sekedar tidur-tidur santai. Harga sewa ayunan hanya sebesar Rp.2000 , sepuasnya tanpa batasan waktu.

Menurut Junaidi, sang pemilik usaha, sebenarnya ia bermaksud menjual ayunan-ayunan tersebut. Penyewaan hanya sebagai bagian dari promosi belaka. "Untuk promosi saja...kalo sudah merasa nyaman memakainya, siapa tahu berminat membeli dan memasangnya di rumah", tutur pria asal Subang ini.

Junaidi memulai usahanya sejak tahun 1994. Pada hari-hari biasa ia hanya diperbolehkan memasang 3 buah ayunan dengan area terbatas hanya di bagian depan Alun-Alun. Pembelianpun hanya berkisar 6-10 buah ayunan perharinya.

Namun, berkah lebaran rupanya turut menghampiri pria berusia 45 tahun ini. Selama lebih dari seminggu libur lebaran ia diperbolehkan memasang 23 buah ayunan dengan menempati bagian dalam aln-alun. Begitupun dengan omzet penjualannya yang meningkat tajam sekitar 25-35 buah ayunan perharinya.

Junaidi bertekad akan terus menekuni usaha ayunannya ini "Alhamdulillah....saya mantap menjalankan usaha ini..", ujarnya.

Pucuk Pohon Kelapa, Singgasana Sang Penantang Matahari


Nama Suryaman pantas disandangnya, sebab ia seorang penantang matahari. Saya mendapatinya tengah bertahta di singgasananya, pada pucuk sebuah pohon kelapa .

Bermodal sebuah golok dan tali tambang, kakek berusia lebih dari 60 tahun ini, memetik hampir 40 buah kelapa muda. Di atas singgasananya ia memilih-milih rangkaian mana yang akan dipetiknya. Sebelum menebasnya, rangkaian buah kelapa terpilih terlebih dahulu diikat menggantung menggunakan tali tambang. Usai ditebas, satu tangkai rangkaian berisi 8-10 buah kelapa diturunkan perlahan-lahan. Seorang lelaki muda yang telah menunggu di bawah akan melepaskan ikatan tali.

Begitu seterusnya hingga tercapai jumlah yang dibutuhkannya. Terakhir, ia meninggalkan singgasananya dengan sangat sigap, menuruni batang pohon kelapa setinggi lebih dari 10m.

Tutorial Pembuatan Polybag dari Tas Kresek

Minggu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Dusun Gatak, Tamantirto, Bantul. Ada ilmu baru yang saya dapatkan dari kunjungan tersebut, teknologi sederhana mendaur ulang limbah tas kresek.
1. Susun 5 lapis kresek sebanyak 2 atau 3 baris berjejer. Pada pertemuan antar barsan ada pinggiran yang tumpang tindih sebagai penyambung.
1. Susunan plasti kresek dilapisi sehelai kertas (paling baik gunakan kertas kalkir atau samson). Lalu disetrika.
3. Buka kertas, kita mendapatkan lembaran plastik kresek yang telah menyatu dan tebal.
4. Di tengah lembaran plastik kresek ditaruh selembar kertas yang hanya menutupi bagian tengah saja. Lembaran platik kresek sisi kiri & kanan ditekuk ke bagian tengah. Lalu lapisi kembali dengan kertas secara keseluruhan. Setrika.
5. Kedua sisi pinggir lapisan kresek telah menyatu dan berbentuk tabung.
6. Siapkan sebuah potongan kayu berbentuk tabung sebagai cetakan. Masukkan tabung lembaran plastik kresek, lipat bagian atas, lapisi kertas lalu disetrika.
7. Taraaaa...This is it.......Polybag hasil daur ulang tas kresek..

Nasi Liwet Solo

Kemarin, seorang teman memberikan saya seporsi Nasi Liwet Solo buatannya. Hidangan sepinggan yang masih hangat ini langsung menggugah selera makan saya. Sudah lama saya tidak menikmati Nasi Liwet Solo. 

Nasi Liwet Solo merupakan jenis menu sepinggan, yaitu menu lengkap nasi, sayur dan lauk pauk. Rasanya agak mirip dengan Nasi Uduk Betawi atau Nasi Gurih Yogya. Rasa guruh pada nasi merupakan hasil campuran nasi, santan, daun salam, daun pandan, serai dan sedikit garam yang dimasak bersamaan dalam panci dengan api kecil.

Selain nasi, kelengkapan lainnya adalah ayam areh (sejenis opor ayam, sayur labu siam, telur pindang, telur dadar dan bila suka bisa ditambahkan timu atau krupuk.

Kedai Nasi Liwet Solo yang cukup legendaris antara lain Nasi Liwet Bu Wongso Lemu di kawasan Keprabon, Solo. Belum lengkap rasanya bertandang ke Solo jika belum menicipi Nasi Liwet Solo. Mari makan

ASYIKNYA MEMBUAT GERABAH DI KASONGAN

Di akhir semester ini, Nawal mengikuti kegiatan minitrip dari sekolah. Kegiatan yang dijalani adalah belajar membuat gerabah dari tanah liat di Desa Wisata Gerabah Kasongan, Bantul.

Memasuki ruang kegiatan, setiap anak mendapat selembar koran sebagai alas duduk. Mereka bebas memilih tempat duduknya masing-masing.

Kegiatan diawali dengan perkenalan oleh pengelola Pusat Pelatihan Gerabah dan Finishing ini. Selanjutnya, demo pembuatan gerabah oleh instruktur. Dalam demo ini, dipaparkan 3 macam cara pembuatan gerabah yaitu teknik cetak, teknik putar dan teknik bebas. Semua anak memperhatikan demo tersebut secara seksama.

Selanjutnya instruktur membagikan cetakan-cetakan gerabah dan tanah liat kepada masing-masing anak. Motif cetakan yang tersedia cukup beragam, sebut saja motif buah-buahan, hewan, alat transportasi hingga figur kartun. Maka dimulailah petualangan motorik mereka di sessi praktek ini....

Ternyata ada beberapa anak yang tidak begitu saja mau menerima cetakan gerabah yang diberikan. Mungkin cetakan yang meraka dapat kurang seru ya..he..he..he.... Akhirnya mereka aktif memilih motif cetakan yang sesuai dengan selera. Ada yang memilih motif kartun yang sedang hits seperti Angry Bird, Dora Emon, atau hewan-hewan lucu macam kucing dan anjing.

Tangan-tangan mungil ini segera menjumput tanah liat dihadapannya, memasukkannya ke dalam cetakan hingga terisi penuh dan padat. Kepalan-kepalan tangan mereka saling bergantian memukul-mukul tanah liat, mencoba terus memadatkan isi cetakan.

Sementara anak-anak asyik membuat gerabah cetak, instruktur terus mengawasi mereka dan mendatangi satu persatu terutama membantu saat anak-anak kesulitan melepas tanah liat dari cetakan.

Usai melepas gerabah dari cetakan, selanjutnya permukaan atas gerabah di perhalus. Anak-anak mencelupkan 1-2 jari ke dalam gelas berisi air, lalu memolesnya di atas permukaan gerabah hingga halus.

Langkah akhir, setiap anak menulis nama masing-masing di permukaan gerabah bagian bawah menggunakan lidi, sebagai identitas kepemilikan mereka.

Selanjutnya gerabah-gerabah cetak ini akan menginap di UPT Kasongan ini selama minimal 7 hari. Kurun waktu 7 hari ini meliputi proses pengeringan yaitu diangin-anginkan di dalam ruangan, dijemur di bawah terik matahari dan terakhir di bakar dalam oven pembakaran. Nah...7 hari kemudian anak-anak akan menerima hasil gerabah cetak buatan mereka.....

Usai membuat gerabah, tiap anak membebaskan waktunya melakukan banyak hal...ada yang saling bercanda, menyaksikan pembuatan keramik, menyaksikan show room. Beberapa anak meneruskan ekperimen tanah liat mereka, memanfaatkan tanah liat yang ada, mencoba teknik putar dengan alat putar gerabah atau teknik bebas, membentuk bermacam figur imajinasi mereka.

Beberapa saat kemudian, bis yang akan membawa kami pulang, datang menjemput. Saatnya kembali ke rumah, membawa kenangan eksperimen gerabah sembari menanti hasil kreasi.........7 hari lagi kami kembali.... Bye....

---------------------------------------------------------------------------------------------


Lokasi: Pusat Pelatihan Gerabah & Finishing, UPT Dinas Perindagkop, Kasongan Bantul.
Pelatihan untuk rombongan: Pelajar, isntansi, keluarga dan umum.
Jadwal: Setiap hari (Minggu & libur tetap buka) pukul 08.00-16.00 WIB.
Fasilitas: Gedung pelatihan 2 lantai, show room, instruktur, penginapan dan parkir luas.

SLIDING ON PARANG KUSUMO BEACH

Libur akhir tahun, kami membawa Eda dan Nawal ke Pantai Parang Kusumo. Sebelumnya kami mengunjungi Raisya, Janeta dan Tante Nova di kediaman Mbah Puterinya di Kretek.
Semula kami ingin bersama-sama Raisya berwisata ke Pantai Depok, namun karena kerepotan mamanya dengan adik Janeta maka kami berharap ada kesempatan di lain waktu untuk berwisata bersama.

Dalam perjalanan, akhirnya kami memutuskan ke Pantai Parang Kusumo untuk bersliding-ria.

Hamparan gumuk pasir yang luas membuat kami serasa berada di gurun sahara. Gumuk pasir merupakan satu-satunya gurun pasir yang ada di Indonesia, kawasan ini membentang sejauh 15,7 km dari hulu Sungai Opak hingga Pantai Parang Tritis. Sedangkan sepanjang garis pantai membentai sepanjang 2 km.

Saat kami tiba, hamparan pasir ini basah usai hujan deras pada pagi hari disusul gerimis sepanjang hari. Eda dan Nawal segera bergegas berlari ke tengah-tengah bebukitan gumuk pasir. Saat menemukan sebuah puncak gumuk pasir, ayah langsung main perosotan srrrrttttt........... Selanjutnya Eda dan Nawal tak henti ikut bermain seluncur, walau semula takut-takut namun akhirnya ketagihan....he...he...he.. Srrrtttt......... bolak-balik ke atas lalu meluncur kebawah.....

Gumuk pasir ini rupanya membuat anak-anak takjub, mereka berlari ke sana kemari, naik turun bukit pasir ini....demi mencari sesuatu yang baru yang bisa mereka temukan.

Beberapa kali Nawal memisahkan diri seolah tengah menyelidiki sesuatu....... Saya menanyakan apa yang sedang dicarinya.... "Nawal mencari bulu babi..."

Ha..ha..ha... Rupanya Nawal penasaran sekali, apakah bulu babi ada di sekitar gumuk pasir ini. Eda dan Nawal selalu mengidentikan bahwa di setiap pantai pasti ada bulu babi, sebagimana pengalaman mereka ketika menemukan bulu babi di Pantai Indrayanti, Gunung Kidul. Ditambah dengan ingatan mereka saat menyaksikan tayangan Si Bolang di Trans7 tentang anak-anak yang berburu hewan Bulu Babi untuk dimakan.

Usai puas bermain perosotan, naik-turun bukit, berlari-lari........kami menuju destinasi selanjutnya ke arah timur.....
Ya! Kami menuju Pantai Parang Tritis.

Di Pantai Parang Tritis ini kami menyaksikan banyaknya pengunjung yang akan menghabiskan sisa waktu akhir tahun. Banyak yang memilih menggelar tikar di hamparan pasir sambil menikmati jagung bakar, minum air kelapa muda, nyanyi bersama dan ada juga yang mendirikan tenda untuk camping di malam hari. Bahkan beberapa pengunjung memeriahkan suasana dengan menyalakan beberapa kembang api.

Sebagian pengunjung juga ada yang asyik bermain air di antara debur ombak laut selatan. Ada yang asyik menimati tubuhnya dihantam ombak, bermain bola, hingga ada juga yang asyik surfing jauh ke arah kumpulan ombak yang berkejaran saling menggulung.

Di tepi pantai, kami menikmati sedikit sensasi ketika ombak menepi hingga jauh menjorok ke daratan.....Eda dan Nawal semula panik bukan main ketika sisa-sisa deburan ombak menggenangi kaki mereka hinga setinggi betis. Kami menenangkan dan mengingatkan mereka agar tidak panik, tidak berlari....cukup berdiam diri saja hingga air kembali surut.

Sia-sisa debur ombak yang kembali ke laut membuat kita seolah-olah digiring ke arah laut.......jadi semacam hipnotis alamiah, kenyataannya kaki kita tetap berpijak pada lokasi yang sama,

Saat hari beranjak malam, kami meninggalkan pantai untuk makan malam di kedai-kedai sekitar pantai ini. Tidak lupa saya membeli sedikit cemilan khas laut berupa keripik rumput laut dan peyek undur-undur.

Pukul 19.30, kami begegas kembali pulang ke rumah......menghabiskan malam pergantian tahun dengan istirahat di dalam rumah yang hangat. Selamat Tahun Baru 2014!

HOW SELFIE ARE YOU?


Begitu populernya aktifitas Selfie di media sosial, hingga Oxford Dictionaries menobatkan kata ini sebagai Word of The Year 2013 pada 19 November 2013. Dan secara resmi telah memasukkannya ke dalam kosa kata kamus besar Oxford Dictionary.

___________________________
Definition of selfie in English:
selfie
Line breaks: selfie
Pronunciation: /ˈsɛlfi /
(also selfy)
NOUN (PLURAL SELFIES) • informal
a photograph that one has taken of oneself, typically one taken with a smartphone or webcam and uploaded to a social media website:
occasional selfies are acceptable, but posting a new picture of yourself every day isn’t necessary
Origin

early 21st century: from self + -ie.
___________________________

Selfie merupakan aktivitas memotret diri sendiri menggunakan ponsel pintar atau webcam untuk selanjutnya diunggah ke media sosial. Beberapa kalangan menyebut selfie sebagai aktualisasi narsisme dan eksistensi diri di media sosial.

Bagaimana dengan anda? How selfie are you?

http://blog.oxforddictionaries.com/press-releases/oxford-dictionaries-word-of-the-year-2013/

TERSEDAK

Pagi ini ketika menyantap arem-arem, saya tersedak dan segera mengalami batuk-batuk yang cukup hebat. Meminum segelas air putih tidak serta merta menyurutkan guncangan dan rasa panas perih yang saya rasakan dari dalam kerongkongan. Namun beberapa saat kemudian, saya merasakan rasa panas perih sedikit berkurang, juga batuk-batuk saya perlahan mereda.
Nampaknya air yang saya minum telah merangsang produksi liur pada pangkal lidah. Air liur yang kental telah mengikat serpihan arem-arem yang hampir tersesat masuk ke saluran pernafasan, membantu mengembalikannya ke jalan yang benar ke saluran pencernaan.

Ada mitos tentang tersedak, menyebutkan jika kita tersedak artinya kita sedang menjadi objek pembicaraan orang lain. Padahal tersedak merupakan sebuah sebuah kelalaian yang bisa berakibat fatal. Saluran pernafasan dan saluran perncernaan dalam tubuh kita memiliki jalan masuk yang sama yaitu rongga mulut, lalu keduanya berpisah dan pada persimpangan keduanya tedapat sebuah katup yang berfungsi menutup saluran pernafasan saat kita menelan makanan atau minuman, sehingga serpihan makanan/air minum tidak masuk ke dalam saluran pernafasan.

Tersedak, merupakan sebuah alarm bahwa telah terjadi kelalaian saat kita menyantap makanan/minuman. Itulah sebabnya ada sebuah nasihat agar kita tidak berbicara saat makan, agar meminimalisir kecelakan saat menyantap makanan/minuman. Saya bersyukur pagi ini telah tersedak karena alarm tubuh saya berfungsi baik dan telah membantu saya terhindar dari kemungkinan yang fatal.

Bandara Tutup Akibat Abu Kelud

Bandara Adisucipto Yogyakarta terpaksa ditutup akibat hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Kelud. Sebagai informasi, jarak Kota Kediri (Kota terdekat dengan Gunung Kelud)- Yogyakarta berkisar 242 km.

Fotografer Eduardo A Wibowo berkesempatan merekam sebuah pesawat domestik yang terpaksa membatalkan rute penerbangan akibat hujan abu vulkanik di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Alih-alih batal mengantarkan sang istri ke bandara, fotografer ini malah mendapatkan momen yang hening namun dramatik di sekitar landas pacu bandara tersebut.

Foto ini tidak hanya mewakili banyaknya rute penerbangan antar kota di Jawa yang terpaksa ditunda bahkan dibatalkan, tetapi juga mewakili ribuan penumpang yang gagal terbang menuju daerah tujuan masing-masing.

Sejumlah bandar udara terpaksa ditutup dan tidak melayani jadwal penerbangan akibat hujan abu vulkanik yang mengganggu lalu lintas udara. Bandara yang terpaksa ditutup antara lain Bandara hussein sastranegara (Bandung), Bandara Ahmad Yani (Semarang), Bandara Adisucipto (Yogyakarta), Bandara Adi sumarmo (Solo), Bandara Abdurahman saleh (Malang) dan Bandara Djuanda (Surabaya).

Demikian pekatnya hujan abu vulkanik ini hingga menyebabkan atmosfir di sekitar pesawat terbang layaknya sebuah studio foto.

Abu Vulkanik Kelud

Pukul 3 sore, dengan mengenakan raincoat lengkap masker penutup hidung mulut dan helmet saya keluar rumah, menuju apotik dan minimarket untuk membeli beberapa keperluan seperti masker dan stok makanan. 

Suasana terlihat cukup lengang meski ada beberapa kendaraan lalu lalang, jalan-jalan dipenuhi abu vulkanik tebal yang sebagian beterbangan di udara saat disapu kendaraan yang melintas.

Hari ini, seluruh siswa sekolah diliburkan, demikian juga aktivitas perkantoran. Di sebuah sekolah menengah atas, tertera secarik kertas berisi pengumunan libur sekolah.

Di sebuah apotik, saya membeli 8 buah masker seharga Rp.2.000/pc untuk stok beberapa hari ke depan, mengingat masker yang saya beli merupakan masker sekali pakai. Pembelian masker di apotik dan mini market mencapai penjualan tertinggi sejak meletusnya Gunung Merapi beberapa tahun silam.

Begitupun suasana di sebuah waralaba minimarket yang cukup ramai dikunjungi pembeli yang hendak membeli stok makanan, dikarenakan pasar-pasar juga sepi dari aktivitas jual-beli. Sebagian pengunjung tetap mengenakan perlengkapan jaket, masker bahkan helm saat masuk ke dalam minimaket. Abu vulkanik terlihat menempel pada sebagian properti minimarket.

Memangkas Rambut



Anak-anak terhitung jarang ke salon karena selama beberapa waktu saya lebih sering memangkas rambut mereka di rumah, tentu dengan menggunakan peralatan seadanya dan keterampilan yang minim pula. Mereka cenderung menyukai pangkas rambut ala rumahan yang terus terang tidak fashionable.

Kadangkala, secara sembunyi-sembunyi anak-anak memangkas sendiri rambut mereka. Hasilnya saya mendapati poni mereka terpangkas tidak karuan atau bahkan habis rata, sejajar dengan anak rambut di pangkal dahi. Rambut bagian samping juga mereka pangkas secara serampangan hingga berada dibatas telinga. Hal yang membuat saya panik bukanlah hasil pangkas mandiri yang super ajaib itu, tetapi lebih pada kekhawatiran para proses pemangkasan diam-diam yang melibatkan benda tajam bernama gunting.


Seiring bertambahnya usia, saya mulai membawa mereka mengunjungi tenaga profesional pemangkas rambut di salon-salon sekitar kediaman kami. Kesabaran dan keramahan menjadi pertimbangan saya dalam memilih tenaga pemangkas rambut. Salah satunya di Tom Salon yang berlokasi di bilangan Jalan Suryowijayan ini.

Saya senang membawa anak-anak memangkas rambut di salon tersebut karena beberapa faktor, harga yang terjangkau, ketelatenan, kesabaran dan keramahan pelayanan di salon tersebut.

Having A Fun Water Day with Girls


Dalam beberapa kesempatan kami mengajak anak-anak menikmati permainan di water park. Interaksi di dalam air memunculkan banyak hal baru, mulai dari keberanian melewati hujan buatan yang berasal dari wahanaember tumpah, melewati instalasi lorong berair, berseluncur hingga sekedar berenang mengitari area kolam renang.

Di area water park ini, kami juga baru mengetahui bahwa Nawal yang cukup berjaya di daratan ternyata harus berjuang melawan banyak rasa takut di kolam air 

Kakak Eda rupanya lebih suka mengeksplorasi keingintahuannya pada dunia air. Ini terlihat dari aktifnya Kakak Eda mencoba wahana-wahana yang ada di kawasan ini. Bahkan ia ingin sekali mencoba papan loncat di ketinggian 5 meter. Ups... kalau yang itu nanti saja kak.......kalau sudah agak besar dan pandai renang di dalam air .... 

PEREMPUAN DAN MITOS KECANTIKAN

Minggu lalu, saat memasuki sebuah pusat perbelanjaan saya melihat seorang lelaki berdiri memegang sebuah tabung kecil berisi krim berwarna putih dan beberapa lembar kertas brosur. Tiba-tiba lelaki itu melihat ke arah saya dan segera menghampiri.

Ia memperhatikan wajah saya dan berkata ,"Bu, mari dicoba krimnya supaya mukanya bisa cerah dan flek-fleknya hilang. Jadi cantik lhoo Bu"
Tanpa ba bi bu lagi, ia mengoleskan krim putih pada permukaan punggung lengan saya, memberikan selembar brosur dan secepat itu juga menggiring saya menuju outlet kosmetik.
Saya segera menghindar dan memasang kedua telapak tangan membentuk tanda penolakan. "Tidak, terima kasih!"

Modus mengerikan ini telah menjebak banyak perempuan untuk mengkonsumsi krim pemutih pada permukaan wajahnya. Jika saat itu saya tidak menolak, maka saat itu pula para sales kosmetik ini akan mengoleskan krim pemutih pada kulit wajah saya. Efek instant akan terlihat bahwa wajah yag semula berwarna coklat dan kusam akan segera terlihat halus dan cerah karena dilapisi krim tersebut. Penggunaan dalam tujuh hari akan mengelupaskan kulit ari, selanjutnya warna kulit wajah akan memerah dan hari berikutnya wajah akan memutih cerah berminyak dan tampak cantik jelita.

Saya sudah merasa sangat terbantu dengan menggunakan bedak two way cake, pensil alis, eye shadow dan lipstik dan merasa amazing. Semoga konsep kecantikan kulit cokelat saya tidak berubah.

THERE'S ALWAYS FIRST TIME FOR EVERYTHING

Kemarin sore saya berbincang dengan seorang rekan tentang sebuah tawaran yang datang kepadanya yaitu memberikan pelatihan pada sebuah perusahaan pertambangan. Ini adalah klien pertamanya, rekan saya sungguh senang bukan kepalang sekaligus didera kebingungan. Ada keraguan yang menyelinap, rasa pesimis apakah ia bisa mengemban amanah tersebut. 

Saya katakan padanya," Temanku, ada sebuah quote bagus "There's always first time for everything". Selalu saja ada saat pertama kali bagi setiap hal. Pacar pertama, anak pertama, klien pertama, gaji pertama.....dan segala hal akan selalu dimulai untuk pertama kalinya"

Meski saya tahu bahwa quote tersebut mungkin bukan hal baru baginya, saya tetap menyampaikannya. Paling tidak sekedar mengingatkannya kembali. Lalu, untuk menguatkan hati teman saya itu, saya kembali berujar,"Jika kita tidak pernah mencobanya , kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, apakah gagal atau berhasil".

Kemudian saya menceritakan sebuah rahasia di balik quote tersebut. "Sssttt.....Kamu tahu nggak, quote itu aku pakai ketika melawan ketakutan luar biasa dalam menghadapi persalinan pertamaku...."

"Ha...ha...ha...ha....." lalu kami tertawa bersama......

"There's always first time for everything" adalah sebuah quote yang saya dapat dari sebuah iklan komersial televisi. Iklan bersponsor sabun kecantikan tersebut merupakan promo sebuah film nasional berjudul "Janji Joni" yang dibintangi Mariana Renata dan Nicolas Saputra.

The Dark Gray Sky and Me



How I love to see the sky in dark gray
It seems to invite me fly away
I know the heavy rain is coming
The wind blowing fast
The thunder screaming so loud 
But let me kiss this dramatic sky for a while

Libur Hari Buruh

Setelah sekian lama diperjuangkan, akhirnya 1 Mei resmi diperingati sebagai Hari Buruh Internasional dan tercetak sebagai tanggal merah pada penanggalan-penanggalan resmi di Indonesia. Namun, bukan sebagai sebuah penghargaan terhadap kaum buruh, lebih kepada alasan pragmatis: Menghindari kemacetan, kerusuhan dan segala hal yang dianggap tidak efektif dan efisien jika tanggal tersebut tetap tercetak hitam/biru

OMAH KOPI OMAH SEDULUR, KARENA SETIAP GENERASI BUTUH RUANG KLANGENAN

Kedai kopi yang kerap kami singgahi ini sungguh-sungguh hanya sebuah kedai sederhana yang menyediakan minuman berkafein. Hawa di dalam ruangan yang tidak sesejuk kafe-kafe mahal.... tidak menyurutkan langkah kami menyinggahi kedai ini untuk sekedar ngopi dan ngobrol, memelihara jalinan pertemanan.

Jika berpuluh tahun silam, ada warung SGPC Bu Wiryo nun di Kampung Bulaksumur sana....maka di Kampung Jetis, kedai ini mencipta sebuah klangenan baru yang menyatukan pertemanan lintas generasi.

Menu aneka kopi dalam tiga puluh toples bertutup merah telah mewakili kegemaran minum kopi bersama di seantero nusantara. Mulai dari berbagai kopi di SUmatera, Jawa, Nusa Tenggara, Bali hingga yang cukup spesifik macam kopi durian dan kopi luwak.

Di tempat ini, saya bisa menjalin keakraban dengan seorang teman yang terpaut usia puluhan tahun dan berbagi pegalaman tentu saja. Obrolan-obrolan mengalir dan beterbangan di udara malam mulai dari obrolan ekonomi, politik, karir hingga berbagai info menarik.

Sebuah keakraban bisa dijalin di mana saja........kedai kopi ini telah menjadi bagian dari keakraban tersebut.

Anyaman Bambu Kampung Naga, Rantai Industri Dodol Garut

Anyaman bambu hasil kerajinan kaum perempuan Suku Naga rupanya memiliki andil dalam industri kuliner Kabupaten Garut. Sebagian keranjang bambu berukuran kecil yang menjadi 'wadah' penganan dodol ternyata dipasok dari Kampung Naga. 

Mula-mula, bilah bambu di belah tipis menggunakan pisau tajam, lalu di jemur untuk mengurangi kadar air. Tahap berikutnya adalah penganyaman dan kembali dijemur untuk kedua kalinya. Selanjutnya wadah-wadah anyaman ini siap dikirim ke industri-industri rumah tangga penghasil dodol di Kabupaten Garut.

FOTOMEDIA

Medio 90-an saat hobiis fotografi masih menggunakan kamera SLR analog, Fotomedia mungkin menjadi satu-satunya majalah fotografi yang menjadi referensi paling dicari. Saya sendri belajar banyak dari artikel-artikel di dalamnya. 
Artikel yang ditampilkan membantu kami yang masih semangat belajar, untuk terus mencharge ilmu melukis cahaya ini.

Nama-nama macam Ray Bachtiar, Davy Linggar, Oscar Motulloh, Darwis Triadi, Roy Genggam menjad kontributor yang sering wara-wiri pada terbitan tersebut.
Artikel maupun foto yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari ulasan tips dan trik, kritik foto, ulasan budaya, lomba foto bulanan, liputan hunting, liputan pameran hingga kuratorial sebuah foto. Semuanya tampil lengkap.

Waktu berlalu, seiring kehadiran media digital, pada tahun 2004 majalah Fotomedia mulai berganti rupa menjadi terbitan berbentuk buku toturial bersponsor. Saat ini sepertinya majalah ini hanya bisa saya temui di sudut-sudut toko buku bekas di kawasan Shopping Centre, Kompleks Taman Pintar Yogyakarta.

Berayun-ayun di Alun-Alun

Di musim libur lebaran, Alun-Alun Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya ramai oleh pengunjung. Para pedagang bersigap menggelar dagangan, begitu pula dengan penyedia arena bermain anak-anak. Ada yang menggelar komidi putar dan ada pula yang menggelar kolam mini berisi ikan-ikan mainan yang siap dipancing.

Tak jauh dari lokasi kolam pancing mini dan komidi putar, saya menjumpai banyak ayunan yang terbuat dari jalinan tali tambang plastik warna-warni. Ada sekitar 23 buah ayunan yang dipasang melintang dari satu batang pohon ke batang pohon lain. Bahkan beberapa patok batang bambu ditanam untuk mengaitkan ayunan-ayunan ini.

Yang bermain ayunan ternyata tak hanya anak-anak, namun ada pula orang dewasa yang menyewanya untuk sekedar tidur-tidur santai. Harga sewa ayunan hanya sebesar Rp.2000 , sepuasnya tanpa batasan waktu.

Menurut Junaidi, sang pemilik usaha, sebenarnya ia bermaksud menjual ayunan-ayunan tersebut. Penyewaan hanya sebagai bagian dari promosi belaka. "Untuk promosi saja...kalo sudah merasa nyaman memakainya, siapa tahu berminat membeli dan memasangnya di rumah", tutur pria asal Subang ini.

Junaidi memulai usahanya sejak tahun 1994. Pada hari-hari biasa ia hanya diperbolehkan memasang 3 buah ayunan dengan area terbatas hanya di bagian depan Alun-Alun. Pembelianpun hanya berkisar 6-10 buah ayunan perharinya. 

Namun, berkah lebaran rupanya turut menghampiri pria berusia 45 tahun ini. Selama lebih dari seminggu libur lebaran ia diperbolehkan memasang 23 buah ayunan dengan menempati bagian dalam aln-alun. Begitupun dengan omzet penjualannya yang meningkat tajam sekitar 25-35 buah ayunan perharinya.

Junaidi bertekad akan terus menekuni usaha ayunannya ini "Alhamdulillah....saya mantap menjalankan usaha ini..", ujarnya.

The Sea Turtles Release

There you go....to the ocean...our dear baby sea turtles
Who named Kitty, Spongebob, zombie, princess, and another naming by our children...
I will be on 57 years old and being a grandma when you coming home here...

I heard a king of yours died on 270 years old
What would you be on that times a head?
Will you still coming home?

I wish I could flying in the ocean with you....


Ps. Give my regards to Mr. Flying Dutchman, may he saves you well :)

Minggu Pagi Di Alun-Alun Utara

Mengendarai motor, saya mengajak Eda & Nawal sarapan susu segar dan waffel di kawasan Alun-Alun Utara.

Saya memberikan sejumlah uang kepada Eda untuk bertransaksi langsung dengan penjual susu. Mereka bebas memilih rasa susu yag diminati.

Produk susu segar yang ditawarkan di kawasan ini, ada 2 jenis. Yang masih mentah & sudah dipasteurisasi. Yang masih mentah rasanya plain (tawar, karena tidak diberi gula) da dikemas dalam plastik literan. Harga perliternya Rp.3.000. 

Pembeli susu tawar mentah ini tidak hanya konsumen langsung namun juga banyak para pedagang susu yang menjualnya kembali di kedai-kedai mereka, atau ada yang menjualnya kembali ke rumah-rumah pelanggan masing-masing, tentu dengan selisih harga tertentu. 

Sedangkan susu yang sudah dipateurisasi dikemas dalam gelas cup berukuran 220ml dengan harga Rp. 2.000/cup. Susu jenis ini rasanya manis dan memiliki beberapa aroma pilihan seperti melon, strawberry, vanilla, cokelat & mocca. 

Pilihan selanjutnya adalah waffel dengan toping cokelat masak dan taburan keju cheddar plus selai vanilla. Inilah menu yang ditunggu anak-anak di setiap minggu pagi :)

Icip-icip Tom Yam Ala Resto

ngat Thailand, tentu ingat sup Tom Yam. Ini kuliner andalan Negeri Gajah Putih yag tersohor. Penasaran dengan menu satu ini, saya mengunjungi sebuah kedai sederhana di kawasan Jalan Bugisan, beberapa meter dari perempatan Jl. Sugeng Jeroni- Jl Bugisan, Yogyakarta. Kedai ini dikelola seorang koki sebuah hotel berbintang tiga. Ada 3 jenis menu sup Tom Yam yang ditawarkan yaitu ayam, sapi dan sea food. Saya memilih menu Tom Yam Sea Food yang menjadi andalan kedai ini. 

Beberapa saat menanti, akhirnya menu pesanan tersaji di hadapan saya. Ada kejutan kecil yang saya dapatkan.....meski kedai yang saya datangi ini terbilang sederhana namun pemiliknya rupanya serius menberikan layanan bagi pengunjungnya. Sup Tom Yam benar-benar disajikan istimewa...menggunakan panci steam boat mini..... Sebagai pembeli, saya benar-benar merasa diistimewakan....... serasa makan di restoran mahal... :) 

Lalu, apa saja isi sup istimewa ini? Ada bayak jenis "flora dan fauna" di sup ini rupanya...ha...ha..... ha... :D Sebut saja macam bakso ikan, udang peci yang kemerahan, sosis, potongan cumi, sawi putih, jamur bokji, jamur merang, jamur tiram......komplit! 

Akhirnya tiba saatnya melahap semua kenikmatan yag tersaji panas-panas ini.......Hmmmm rasa asam, asin dan pedas yang menyatu di tambah gurihnya hidangan laut benar-benar memanjakan lidah. 

Tom Yam, sebagaimana hidangan Thailand yag lain, memiliki pengaruh dari beberapa kebudayaan di sekitar wilayah tersebut antara lain China dan India. Ini bisa ditelusuri dari rempah yang digunakan. Penggunaan kecap asin dan bawang putih yang merupakan bumbi inti masakan China. Sementara pengaruh kuliner India bisa dilihat dari penggunaan daun ketumbar dan daun jeruk. Pada hidangan aselinya, konon kuah Tom Yam terasa sangat kental akibat penambahan santan, ini mengingatkan pada hidangan kari India. 

Hidangan Tom Yang yang saya nikmati ini, komposisinya memang tidak sekental aselinya, tidak menggunakan santan kelapa. Menurut pemiliknya, mereka menyesuaikan dengan cita rasa lidah orang Indonesia, terutama lidah orang Yogya :) 

Selain menu utama ini, saya juga dimanjakan dengan minuman juice andalan yaitu healthy Juice berupa paduan sawi putih, nanas, mentimun dan perasan jeruk nipis yang di blender bersama potongan batu es.......Rasanya segar sekali..... :)

A Day with Raisya

Siang ini, tanpa terduga sebuah pesan muncul di chat inbox, mengabarkan kawan lama kami tengah berlibur di Yogya. Segera saja saya, Eda dan Nawal meluncur menuju kawasan Taman Pintar. 

Kami menemui Raisya, Tante Nova ibunya raisya, Janeta, Riska dan Budenya Raisa di food court kawasan wisata ini. Raisya, gadis kecil berusia 4 tahun ini merupakan teman kedua anak saya, Eda dan Nawal, semasa kami tinggal di Bintara, Bekasi Barat. Keluarga kami bertetangga dekat dengan keluarga Raisya, berada dalam satu kontrakan yang sama. Tepatnya, kami sama-sama berstatus kontraktor, he...he...he...

Awal bertemu, Raisya ruapanya sangat malu, sampai-sampai ia menutup wajah dalam pelukan Budenya. Hal ini berlangsung hampir 1 jam, tepat seperti yang dikatakan ibunya. Usai masa malunya berlalu, ia bersama Nawal bermain di gedung PAUD Timur. Saya sengaja mengajak tamu saya ini ke gedung PAUD Timur dengan beberapa pertimbangan. Anak-anak bisa bermain di dalam beberapa ruangan yag masng-masing memiliki tema berbeda, suasana di dalam ruangan juga terasa sejuk, aman dan yang paling penting adalah orang tua dapat beristirahat di ruang tunggu gedung ini. O,ya orang tua tidak diperkenankan ikut masuk ke dalam ruang bermain, kami hanya diperkenankan berada di ruang tunggu. Kami tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak karena ada pembimbing yang akan mengawasi anak-anak. Selain itu, ada juga kamera cctv yang dihubungkan dengan monitor di ruang tunggu, sehingga orang tua dapat memantau dari ruang tunggu. 

Usai melepas lelah di Gedung PAUD Timur, kami bergerak menuju Rumah Gerabah. Di Rumah Gerabah ini anak-anak diberi kesempatan berkreasi membentuk tanah lempung yang disediakan. Nawal membuat patung singa, Eda membuat es krim dan Raisya membuat bakso. Ekspresi serius segera menghiasi wajah mereka, mengiringi konsentrasi salam membentuk tanah-tanah lempung di hadapan mereka. 

Waktu yang telah bergulir hingga sore memaksa kami berpisah sebelum malam menjelang. Kami segera mengemas barang dan tentu saja gerabah yang belum usai dibentuk anak-anak. Pembimbing Rumah Gerabah rupnya berbaik hati menyiapkan kantong plastik sebagai wadah pengemas tanah liat dan gerabah yang belum usai terbentuk. Akhirnya sore itu kami berpisah denga membawa buah tangan berupa sekantung tanah liat dari Rumah Gerabah di Taman Pintar. :)

ANGKRINGAN UNIK: Angkringan Kedai Panjat

Jumlah angkringan di seantero Yogyakarta bisa jadi mencapai ribuan namun angkringan yang memiliki keunikan tersendiri mungkin tidak banyak jumlahnya.

Salah satu angkringan unik yang sekaligus memiliki fungsi sebagai ruang komunitas adalah Angkringan Kedai Panjat. Di sini, selain bisa menuntaskan rasa lapar dan kongkow-kongkow, terdapat pula fasilitas Panjat Dinding indoor. 

Angkringan ini milik sepasang suami istri yang berprofesi sebagai atlet & pelatih panjat dinding, Adhe Gustadi dan istrinya Tutut Gendok.

Terletak di pinggir Jalan Raya Kalasan Yogyakarta, tepatnya di seberang Jembatan Timbang Bogem, awalnya rumah mereka menjadi tempat berlatih teman2 atlet panjat dinding...lalu mereka iseng menyediakan sekedar menu pengganjal perut ala angkringan ini. 

Sarana dinding panjat ini sudah mulai "dicicil" sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Kediaman itu juga sempat "nganggur" ketika keduanya menjadi atlet perwakilan Provinsi Jawa Tengah yang memusatkan pelatihan di kota Purwokerto. Sejak sepuluh tahun lalu itu pula, keduanya tetap merajut impian mendirikan sekolah panjat dinding bagi anak2 usia dini sebagai sarana regenerasi atlet olahraga panjat dinding.

Perlu diketahui, olahraga yang memicu adrenalin ini masih terhitung baru di tanah air. Olahraga ini semula ditekuni kalangan mahasiswa pecinta alam di kampus-kampus dan selanjutnya mengalami perkembangan yag cukup signifikan.

Panjat dinding mulai diresmikan menjadi salah satu cabang olahraga sejak PON XVI di Palembang (tahun 2004). Ketika itu, hampir semua atletnya merupakan jebolan mapala-mapala di seluruh Indonesia. Bisa dibilang olahraga ini lahir di kampus.

Jumat, 16 Mei 2014

Pada Sebuah Kapal, Roman dengan Dua Sudut Pandang

Novel yang baru saja selesai saya baca adalah sebuah novel lama yang terbit pertama kali tahun 1985 dan telah mengalami cetak ulang hingga kesembilan kalinya.
Novel ini bercerita tentang kisah percintaan diam-diam seorang perempuan Indonesia bernama Sri dengan seorang perwira kapal laut. Keduanya telah terikat perkawinan dengan pasangan masing-masing.
Sri, seorang perempuan Indonesia menikah dengan laki-laki Perancis yang berprofesi sebagai sorang diplomat ernama Charles Vincent, telah memiliki seorang anak perempuan bernama Lintang. Sementara sang perwira kapal seorang lelaki Perancis bernama Michel Dubanton.
Rangkaian keseluruhan cerita terbilang cukup panjang, dimulai dari masa kecil para tokoh, masa remaja hingga masa dewasa keduanya. Sri, tokoh perempuan dikisahkan dibesarkan dalam buadaya Jawa dan kasih sayang segenap keluarga. Masa kecil Sri juga ditekankan pada akivitasnya sebaai penari yang sangat aktif hingga terpilih menjadi penari istana negara, menunjukkan jati diri tokoh perempuan pada novel ini.

Sementara, tokoh Michel Dubanton juga dikisahkan sebagai seorang anak lelaki yang tumbuh dalam lingkungan kasih sayang keluarga yang demikian baik. Cita-cita Michel Dubanton untuk menjadi seorang pelaut telah ditumbuhkan sejak usianya masih belia.


Hingga dalam perjalanan kehidupan, mereka mengalami ketidakbahagiaan dalam mengarungi rumah tangga masing-masing. Waktu jua yang mempertemukan keduanya dalam sebuah perjalanan laut di atas sebuah kapal. Keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan mengalami chemistry. Ada begitu banyak kesamaan yang mereka temui dalam kedekatan selama pejalanan.
Dalam novel ini NH Dini memberikan kejutan yang tak terduga, ia menghadirkan dua segmen cerita, dimana masing-masing segmen menceritakan secara detail kronologis perjalanan hidup kedua tokoh utama, mula dari masa kecil hingga saat hubungan romantika keduanya berlangsung.
Segmen pertama bertajuk "Penari" menceritakan kisah Sri dari sudut pandang Sri sebagai tokoh aku. Bagian ini terasa sangat feminin, unsur kehalusan sangat terasa pada ungkapan-ungkapan perasaan Sri.
Sedangkan segmen kedua berjudul "Pelaut" menceritakan tokoh Michel Dubanton sejak masa kanak-kanak hingga dewasa dari sudut pandang seorang lelaki. Di segmen ini pula, pembaca disuguhi kisah-kisah pergaulan para petualang laut.
Singkat kata, lewat "Pada Sebuah Kapal" NH Dini telah menghadirkan dua novel dalam satu buku. Versi Sri dan versi Michel Dubanton.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...