Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Mei 2015

Renang dan "'Pindah Rumah"




Renang mungkin menjadi aktivitas favorit setiap anak karena di dalam kolam mereka bisa bermain air dan hampir tak merasakan peluh keringat.


Saya termasuk sering mengajak ke kolam renang dengan harapan dapat mengajari mereka berenang, namun selalu berakhir sia-sia. Padahal saya terhitung ibu yang pandai renang, bahkan di masa single kerap didapuk menjadi coach gadungan bagi teman-teman kost saat kami renang bersama.

Saya selalu gagal mengajari anak-anak belajar renang, ujung-ujungnya ya cuma jadi tukang ojek 'Lumba-lumba' . Mereka menunggangi punggung saya lalusaya berjalan keliling kolam.

Meski menyenangkan sebearnya renang itu cukup merepotan. Gimana nggak repot, persiapannya banyak banget: Menyiapkan handuk baju ganti, sabun, shampoo, bedak, minyak kayu putih, kantong plastik kresek untuk wadah baju basah dan tentu saja nggak boleh alpa mengingatkan anak-anak untuk makan sebelum renang. Itu baru persiapannya......nanti sesampai di kolam renang, kita juga harus menjadi asisten utuk membantu anak mandi usai renang, pakain bedak minyak kayu putih, sisiran hingga pakai baju. Juga siap-siap anak-anak akan kelaparan usai renang. Pokoknya renang itu seperti 'pindah rumah' deh.... Semua keperluan toiletres diangkut...ha...ha...ha....

Lebih dari sebulan yang lalu, mendadak Kakak Eda mengajukan permintaan mengiuti kelas renang kepada saya dan ayahnya. Usut punya usut ternyata ia minder terhadap teman-teman sekelasnya lantaran di antara teman-temannya hanya ia sendiri yang tidak bisa berenang.

Akhirnya, saya dan ayahnya menyepakati permintaannya untuk mengikuti kelas renang. Kakak Eda sangat antusias mengetahui diizinkan mengikuti kelas renang. Bersyukur saya berhasil mendapatkan lokasi kolam yang representatif bagi anak-anak dengan harga terjangkau dan coach yang memahami anak-anak.

Setiap awal pertemuan, coach selalu meminta anak-anak berbaris di pinggir kolam untuk berbaris dan melakukan pemanasan. Pelajaran awal di kelas renang adalah melatih mental anak-anak untuk tidak takut terhadap air. Anak-anak diminta menahan nafas di dalam air selama beberapa detik, gunanya untuk mengatur pernafasan.

Pelajaran kedua adalah berdiri tegak di dalam kolam dengan kaki dlurus dan kedua tangan direntangkan, lalu anak-anak diminta merebahkan iri ke air dalam keadaan telungkup dan menahan nafas selama beberapa detik. Gerakan ini meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak akan tenggelam.

Minggu beriku adalah pelajaran menggerakkan kedua kaki secara bergantian dan berulang-ulang, dilanjutkan dengan pelajaran meluncur.

Dalam beberapa pertemuan, Kakak Eda mulai melatih kemampuan meluncur dari satu titik ke titik lain. Perkembangannya cukup signifikan dan dia sangat antusias mengikuti kelas renang ini. Setelah cukup mahir meluncur, materi selanjutnya adalah engenalan pada gaya bebas, gerakan meluncur mulai dikombinasikan dengan gerakan mendayung dari satu tangan, kedua tangan dan geraka megambil nafas dari satu sisi. Semua diajarkan secara bertahap.

Di akhir setiap kelas, anak-anak diberi kesempatan melakukan relaksasi di dampingi coach. Setiap anak tiduran terlentang di permukaan air dengan kepala disangga oleh telapak tangan coach. Saya bisa melihat anak-anak melayang di permukaan air dengan mata tertutup seperti tertidur.

Dengan perkembangan seperti ini, perjuangan saya setiap minggu 'pindah rumah' jadi nggak sia-sia deh

Jumat, 30 Mei 2014

IBU MENYUSUI: MAKANLAH SAYUR APAPUN!

ekitar tahun 2006, ketika saya mengontrak rumah di wilayah Sunter Jaya, Jakarta Utara, saya bertetangga dengan komunitas perantau dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Sebagian masih hidup membujang dan sebagian lagi sudah berkeluarga, keluarga muda tentunya. Keluarga muda ini, sebagaimana saya dan suami yang baru memiliki seorang anak, umumnya memiliki bayi atau balita.
Salah seorang tetangga Flores bernama Mama Yessy, memiliki anak berusia 7 bulan bernama Glenn, sebaya dengan anak pertama saya. Setiap hari kami memiliki aktivitas serupa, memasak, mencuci baju, mencuci piring, momong anak dan macam-macam rutinitas kami, sebagai seorang ibu rumah tangga. Bertetangga dan beraktifitas bersama hampir setiap hari, membuat saya menjadi tahu pola asuh anak ala Flores, paling tidak ala Mama Yessy ini. Mulai dari cara menggendong anak, pola komunikasi yang intensif dan menu lauk pauk.
Jika pada umumnya seorang ibu menggendong bayi dengan posisi tubuh di depan atau menyamping, maka Mama Yessy memiliki cara tersendiri. Ia menggendong anaknya dengan posisi sang anak berada di punggungnya, sehingga ketika terpaksa harus memasak sambil menggendong bayi, sang bayi akan aman dari cipratan minyak goreng yang panas. Beberapakali saya mencoba menerapkan cara menggendong seperti itu, namun elalu mengalami kegagalan meski Mama Yessy dengan sabar berusaha mengajari saya.
Tidak seperti anggapan banyak orang tentang pola komunikasi masyarakat pedesaan yang kurang intens, Mama Yessy yang berasal dari sebuah desa di Kecamatan Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur merupakan seorang ibu muda yang sangat komunikatif terhadap anaknya. Setiap hari, ia selalu bercakap-cakap dengan bayinya. Terkadang ia menyanyikan lagu-lagu riang dalam bahasa Flores, yang saya sama sekali tidak mengerti artinya.
Soal menu makanan, Mama Yessy hampir setiap hari masak menu ikan dan sayur. Kebetulan harga ikan di wilayah Sunter lumayan murah, bisa jadi karena jarak antara wilayah Sunter dengan Pasar Ikan Muara Karang tidak terlalu jauh. Menurut Mama Yessy, di kampungnya mereka memang terbiasa mengkonsumsi ikan laut. Bisa jadi karena ketersediaan yang hasil laut melimpah ditambah harga yang masih murah di Flores sana.
Ada cerita menarik tentang menu yang hampir setiap hari juga dimasak dan dikonsumsi oleh Mama Yessy dan keluarga, termasuk komunitasnya. Bila bagi sebagian besar ibu menyusui, daun katuk diyakini berkahasiat memperbanyak ASI, lain halnya dengan Mama Yessy. Beliau lebih banyak memasak sayur daun singkong sebagai pengganti Daun Katuk. Menurut penuturannya Daun Katuk terbilang langka di wilayah Flores. “Susah sekali mendapatkan daun katuk. Jadi kami lebih sering menggantinya dengan daun singkong” tutur Ibu Yessy.
Beberapa kali saya terlibat masak bersama dengan Mama Yessy. saya jadi tahu persis menu sayur istimewanya ini. Pertama-tama daun singkong direbus, air rebusan dibuang. Daun singkong hasil rebusan diiris-iris lalu di tumis bersama irisan bawang merah, bawang putih dan sedikit penyedap rasa. Terkadang, ia menambahkan segengam kacang hijau sebagai bagian dari bahan baku sayur daun singkong.
Penasaran dengan efek pada ketersediaan ASI, saya pernah mencoba mengkonsumsi sayur Daun Singkong sehari penuh, tentu dengan menu lengkap lauk ikan, nasi dan sayur. Sedari pagi, siang, sore hingga alam hari, saya makan sebanak mungkin dengan menu yang sama. Terus terang, seharian dengan menu yang sama membuat saya bosan bukan kepalang, rasanya mau memuntahkan isi perut saya. Tapi, saya memaksakan diri melakukan eksperimen ini.
Keesokan hari, sebuah keajaiban tiba-tiba muncul. Dada saya kembali membengkak seperti saat di awal-awal persalinan. Ketika menyusui anak saya, ASI mengucur deras…. mengenyangkan perut anak saya hingga siang hari ia terlelap puas. Saya juga puas telah membuktikan kepada diri sendiri bahwa pola makan lengkap nasi, lauk dan sayur (dengan jenis sayur apapun) ditambah susu adalah cara paling mudah mempertahanan ketersediaan ASI di masa menyusui.

Memangkas Rambut



Anak-anak terhitung jarang ke salon karena selama beberapa waktu saya lebih sering memangkas rambut mereka di rumah, tentu dengan menggunakan peralatan seadanya dan keterampilan yang minim pula. Mereka cenderung menyukai pangkas rambut ala rumahan yang terus terang tidak fashionable.

Kadangkala, secara sembunyi-sembunyi anak-anak memangkas sendiri rambut mereka. Hasilnya saya mendapati poni mereka terpangkas tidak karuan atau bahkan habis rata, sejajar dengan anak rambut di pangkal dahi. Rambut bagian samping juga mereka pangkas secara serampangan hingga berada dibatas telinga. Hal yang membuat saya panik bukanlah hasil pangkas mandiri yang super ajaib itu, tetapi lebih pada kekhawatiran para proses pemangkasan diam-diam yang melibatkan benda tajam bernama gunting.


Seiring bertambahnya usia, saya mulai membawa mereka mengunjungi tenaga profesional pemangkas rambut di salon-salon sekitar kediaman kami. Kesabaran dan keramahan menjadi pertimbangan saya dalam memilih tenaga pemangkas rambut. Salah satunya di Tom Salon yang berlokasi di bilangan Jalan Suryowijayan ini.

Saya senang membawa anak-anak memangkas rambut di salon tersebut karena beberapa faktor, harga yang terjangkau, ketelatenan, kesabaran dan keramahan pelayanan di salon tersebut.

Rabu, 31 Juli 2013

Bermain Plastisin di Hari Libur

Mengisi libur sekolah di awal Ramadhan, Rayda dan Nawal menyibukkan diri dengan bermain plastisin.  Saya menyediakan beberapa warna  yag kemungkinan diperlukan oleh mereka: Merah, merah muda, hijau, hijau muda, oranye, kuning, ungu  dan biru. Sayangnya saya tidak mendapatkan warna hitam dan putih sebagai pelengkap.  Tapi, warna-warna yang ada sudah sangat lengkap dan memadai  sebagai media bermain dan belajar anak-anak.

Saya turut terlibat dalam aktivitas membentuk  karya tiga dimensi ini. Anak-anak  saya betaaahhh sekali  bermain plastisin. Ini merupakan salah satu permainan  kesukaan mereka sejak masih berusia  3 tahun.  

Beda tingkatan usia maka beda pula bahan plastisin yang saya gunakan.  Ketika anak-anak saya masih berusia batita, saya membuat sendiri plastisin yang akan digunakan anak-anak. Agar aman jika tertelan oleh anak-anak, adonan plastisin yang saya sediakan terbuat dari campuran tepung terigu, air, garam halus dan pewarna makanan.   Uleni semua bahan hingga kalis (tidak lengket di tangan) maka anda akan mendapati plastisin yang aman bagi batita/balita anda.



Tips Membuat Plastisin

Ada beberapa tips ringan yang perlu diperhatikan dalam membuat plastisin tepung terigu ini.
Pertama jangan meremehkan peranan garam. Garam merupakan salah satu elemen penting yang tidak boleh dilupakan dalam membuat adonan plastisin ini. Kenapa?  Karena garam mempunyai sifat mengikat air maka kekenyalan dan kelembaban  adonan plastisin dapat lebih bertahan lama.   

Kedua, simpanlah plastisin dalam wadah tertutup rapat jika tidak digunakan agar plastisin tidak mengering. Penyimpanan sebaiknya dilakukan secara terpisah antara warna satu dengan warna lain agar tidak terjadi percampuaran antar warna.

Ketiga, jika plastisin mongering basahi pemukaannya dengan air, lalu uleni hingga kalis. Plastisin siap digunakan kembali.

Ketika anak-anak saya  memasuki usia 5 tahun,  mereka mulai  memahami benda-benda mana yang tidak bisa atau tidak boleh dimakan. Maka saat itulah saya mulai mengganti plastisin dengan bahan yang terbuat dari lilin malam yang lembut (lilin mainan) dan berwarna-warni.   

Tips ringan lain seputar lilin mainan ini, jika plastisin lilin ini  terasa terlalu kaku atau keras  untuk dibentuk oleh anak-anak sebaiknya dicampur menggunakan krim hand body berbasis minyak (biasanya saya menggunakan merk Nivea).  Ada dua keuntungan sekaligus yang bisa didapat: kekenyalan lilin plastisin dan keharuman wangi yang didapat dari  krim hand body.


Manfaat Bermain Plastisin Bagi Anak-Anak

Meski bermain plastisin nampaknya sederhana, namun  banyak sekali manfat yang bisa didapat. Antara lain mengaktifkan motorik kasar dan motorik halus pada jari jemari anak,  pengenalan warna,  bermain imajinasi,  melatih kesabaran anak, merangsang indera peraba dan kemampuan kinestetik anak.

Alhasil, setelah lebih dari dua jam asyik bermain, maka  tersajilah beberapa karya  kecil  dari lilin plastisin. Oya, sebagai panduan membentuk lilin plastisin, saya menggunakan buku cara menghias cup cake dengan fondant. Selamat mencoba :)





















MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...