Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2016

MOANA: NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT



MOANA: NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT
"Pergilah......Laut telah memilihmu..!, bisik sang nenek parau dengan nafas yang payah,  seraya memberikan sekeping batu hijau kepada cucunya. Perempuan tua sang penjaga legenda itu  tiba di batas akhir  kehidupannya.

***   ***  ***

Inilah kisah tentang semangat kepercayaan diri, tekad dan energi petualangan yang tak habis yang ditebar  demi pencarian jati diri  kolektif. Film  "Moana" berkisah tentang petualangan seorang gadis belia bernama Moana. Ia adalah puteri seorang kepala suku di sebuah pulau subur bernama Motunui di Lautan Pasifik Selatan. Adegan dimulai dari dongeng sang nenek tentang legenda Te Fiti, dewi kesuburan dan segala kehidupan. Suatu masa, seorang manusia setengah dewa bernama Maui mencuri jantung Te Fiti yang diyakini memiliki keajaiban bagi siapa yang memilikinya. Maui berhasil mencuri jantung Te Fiti, melarikan diri meninggalkan dewi kehidupan Te Fiti yang seketika di ambang kehancuran. Dalam pelariannya, Maui tertimpa sial, kail ajaibnya hilang dan ia dikutuk terpenjara di sebuah pulau terpencil.
Seribu tahun berlalu, dongeng Te Fiti dan Maui diceritakan dari generasi ke generasi. Hingga pada generasi ke sekian, seorang Moana cilik menyimak penuh antusias legenda yang diceritakan sang nenek.
Suatu hari, Moana cilik bermain di tepi pantai dan mendapati dirinya berkenalan dengan laut lewat peristiwa yang unik. Laut memberikannya sekeping batu mulia berwarna hijau yang sesungguhnya merupakan jantung Te Fiti. Malang, batu hijau itu lepas dri genggamannya saat sang ayah meraih tubuhnya dari tepi pantai. Diam-diam sang nenek menyelamatkan dan menyimpan batu itu, jantung Te Fiti.
Ketika Moana beranjak remaja, sebuah bencana menimpa suku Motunui. Mereka mengalami kegagalan panen hasil bumi dan tak ada ikan yang bisa ditangkap dari laut. Sang nenek yang mengetahui apa yang terjadi, membuka sebuah rahasia besar leluhur mereka. Ia menyerahkan batu hijau jantung Te Fiti dan menyampaikan sebuah tugas besar kepada Moana, cucunya. "Laut telah memilihmu, cucuku", ujar sang nenek.
Di usia yang sedemikian muda, Moana diberi kepercayaan besar membimbing masyarakat sukunya dan  diamanahi sang nenek agar menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Pencarian jati diri mengarungi lautan itu membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapat, tersembunyi. Moana menemukan kesadaran bahwa ia dan masyarakat sukunya sesungguhnya adalah masyarakat penjelajah lautan. Jati diri suku penjelajah lautan ini sangat terkait dengan muasal cerita ini, Kepulauan Polinesia yang teletak di Lautan Pasifik.
Kisah Moana mengingatkan diri saya pada legenda masa lalu bangsa Indonesia yang konon dikenal sebagai pelaut ulung, Banyak jejak yang membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah pelaut yang tangguh, tengok saja lagu "Nenek Moyangku Orang Pelaut" atau tradisi Kapal Phinisi dari Makassar. Jejak sejarah lain mungkin tak terhitung dan tersebar di beragam situs.
Bahwa nenek moyang kita orang pelaut, itu benar. Tapi kenyataan itu berlangsung jauh di belakang kita, duluuuu sekali. Sekarang, apakah kita juga bangsa pelaut? Negeri yang berlimpah lautan ini, apakah masyarakatnya mengenal laut? Jangankan berenang di laut, di kolam saja mungkin kita cuma ingin main air saja. Kita lebih senang bergembira di wahana permainan air macam water boom ketimbang bersusah payah belajar renang, Atau jangankan menyeberangi lautan, banyak dari kita bersampan saja sudah gemetar dan mabuk laut. Dan, ketimbang menyantap ikan dari laut mungkin kita lebih banyak menyantap Ikan Lele.
Sekali lagi, memang benar nenek moyang kita adalah orang pelaut. Tapi, apakah kita ini orang pelaut juga?

Kamis, 05 Maret 2015

The Beauty and The Beast Love Story

Sebagaimana film-film Amerika lain, Fifty Shades of Grey adalah produk yang ramai oleh segala kehebohan, huru hara .....sebuah trik marketing yang membuat banyak orang menoleh pada film ini.

Apa yang menarik dari film ini? Unsur sensualitasnya? 
Ternyata, setelah menonton film ini.....ya..begitu deh..biasa-biasa saja. Tidak ada yang membuat saya merasa "wow".....mungkin akan berbeda efeknya jika saya pernah membaca novelnya.

Film Fifty Shades of Grey berkisah tentang hubungan percintaan Anastasia Steele dan Christian Grey. Anastasia Steele adalah sorang mahasiwi jurusan Sastra yang secara tak sengaja menggantikan temannya mewawancarai Christian Grey. Grey, merupakan seorang milyuner berusia muda yang menjadi donatur penting di universitas tempat Steele kuliah. Pertemuan pertama berlanjut pada kencan-kencan berikutnya. Perlahan Steele mulai mengenal karakter Grey yang tersembunyi, sebuah obsesi seksual yang aneh dalam hubungan antara Dominator dan Submissive.

Konon, EL James terinspirasi oleh karakter Edward Cullen dan Isabella Swan dalam novel besutan Stephanie Mayer. Karater Christian Grey memiliki kemiripan dengan Edward Cullen: Tampan, kaya raya, memiliki kekuatan/kekuasaan, baik hati namun menyimpan sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, Anastasia Steele juga terlihat mewakili karakter yang ada pada Isabella Swan: Cantik, dari kalangan biasa, kondisi ekonomi biasa, memiliki keinginan kuat, berani menempuh bahaya.
Secara garis besar kedua cerita tersebut, baik trilogi Twilight maupun Fifty Shades of Grey sama-sama mengusung tema "The Beauty and The Beast Love Story"

Satu-satunya unsur paling menarik dalam film ini adalah dasi metalik milik Christian Grey. Sebuah benda yang semula hanya berfungsi sebagai aksesoris fashion laki-laki kantoran, kini punya nilai yang berbeda di mata publik. Dasi metalik ini seakan merepresentasikan sensualitas si pemilik, mengalahkan ikon-ikon sensualitas perempuan yang selama ini mendominasi imajinasi publik.

Rabu, 28 Januari 2015

Notting Hill dan Fragmen-Fragmen yang Menyertainya

Menonton ulang film komedi romantisnya Julia Roberts dan Hugh Grant......dan membincangkannya dengan suami.
Ini jenis film perpaduan komedi Inggris yang ekspresif namun dikemas ala Hollywood. Film ini berkisah lika-liku cinta Anna Scotts, seorang aktris kondang Hollywood dengan William Thackher seorang pemilik kedai buku travelling di kawasan Notting Hill Kota London. Perbedaan keduanya yang bagai bumi dan langit tak menyurutkan hati keduanya meski begitu banyak lika-liku.....Pasang surut hati yang berakhir happy ending khas Hollywood ini dihiasi banyak fragmen-fragmen kecil.



Banyak fragmen yang disisipkan dalam film ini tanpa menggangu jalannya kisah utama film ini. Lihatlah bagaimana Thackher menghadapi ancaman kebangkrutan karena hanya menjual buku-buku bertema khusus "travelling" bukan novel yang bakal laris terjual. Ada juga fragmen soal teman satu rumahnya yang aneh bin ajaib dengan penampilan seperti psikopat....dan ternyata tanpa diduga, temannya tersebut berjodoh dengan adiknya. Kisah lain soal mantan Thackher yang menikah dengan sahabatnya sendiri dan mengalami cedera tulang punggung hingga harus hidup di atas kursi roda.


Lain lagi dengan fragmen di sekeliling Anna Scotts yang ternyata pernah menjalani operasi pada hidung dan dagu untuk alasan estetika, pacar yang ternyata tak membuatnya nyaman. Semua kisah-kisah itu adalah penguat kisah cinta kedua bintang utama.
Hal menarik lain adalah pengisolasian kedua tokoh utama dari tokoh-tokoh pendukung lainnya. Wajah rupawan Anna Scotts dan William Thackher hadir di layar kaca sebagaimana besutan film-film Hollywood lain. Ada jarak antara penonton dengan kedua tokoh utama (Julia Roberts dan Hugh Grant) yang sengaja diciptakan, bahwa mereka hanyalah sebuah kisah dalam film.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi pemeran pendukung lain, terutama teman-teman dekat William Thackher. Hampir semua teman dekat William Thackher adalah kita ......orang-orang yang tak sempurna, mulai dari penampilan fisik, mimik, perjalanan hidup...semua sangat natural, semuanya terlihat seperti loser. Tak beda dengan kita kebanyakan yang tidak cantik, tidak ganteng, pecundang, pengangguran dan lain sebagainya.
Berbeda sekali dengan Anna Scotts, ya...kalau nonton Julia Roberts kira-kira seperti itulah....dia bukan bagian dari kita...dia itu bintang.... Juga karakter William Thackher, apa bedanya dengan Hugh Grant sang aktor British yang gantengnya bikin cewek klepek-klepek?
Hal lain yang membuat film ini istimewa adalah Notting Hill. Ini adalah sebuah ruas jalan di Kota London yang sama sekali tidak disetting untuk film ini. Justru film ini menyesuaikan diri dengan kawasan Notting Hill itu sendiri. Pasar kaget Portobello di ruas jalan ini memang begitu adanya. Rumah berpintu biru memang benar-benar ada, dan kebetulan pemiliknya adalah penulis cerita film ini.

Minggu, 30 November 2014

Gravity dan Cita-Cita Masa Kecil yang Kubatalkan


Sewaktu kecil saya pernah bercita-cita menjadi seorang astronot lantaran senang melihat bintang. Itu cita-cita jangka panjang. Cita-cita jangka pendek saya adalah mengintip bintang di Observatorium Bosscha, Bandung. Kedua cita-cita itu tak pernah terlaksana.
Saya urung menjadi astronot karena rasa takut yang berlebihan, sebuah ketakutan yang mungkin menghinggapi semua orang. Saya takut jika menjadi astronot akan melayang dan menghilang di tengah kegelapan luar angkasa. Cita-cita saya yang lain juga urung terlaksana, setidaknya belum. Sampai tulisan ini dibuat saya belum pernah menginjakkan kaki ke Observatorium Bosscha, apalagi meneropong bintang-bintang.
Sutradara Alfonso Cuaron menghadirkan mimpi buruk saya di masa lalu. Ia mengirim George Clooney dan Sandra Bullock ke luar Angkasa lewat film besutannya yang dilansir tahun lalu, Gravity.
Saya hadir secara tiba-tiba ketika suami dan anak-anak memutarnya di ruang keluarga. Saya hadir saat adegan Dr. Ryan Stone, yang diperankan Sandra Bullock, terlepas dari tali kendali yang menghubungkannya dengan wahana Teleskop Hubble yang tengah diperbaikinya. Tubuhnya tak henti berputar tanpa bisa dikendalikannya. HIngga akhirnya, rekannya Matt Kowalsi (George Clooney) berhasil menangkapnya.
Saya meninggalkan adegan di televisi, berpindah ke ruang lain. Saya tidak tahan menahan degup jantung demi menahan ketegangan itu. Terus terang ya....ini bukan soal alay atau bukan.....rasanya kok saya seperti nonton film G30S/PKI-nya Arifin C Noer yang tersohor itu..... 




Hari berikutnya, saya memutar film itu kembali, mencoba menyaksikan utuh. Akhirnya saya berhasil menyaksikan film ini secara utuh setelah melewati semua ketegangan yang menyertainya.



Rabu, 12 November 2014

Lokomotif Itu Bernama Kuldesak

Sebelum film  Ada Apa Dengan Cinta booming, empat sutradara muda Indonesia telah menyemai bibit melalui sebuah film indie. Kuldesak, inilah lokomotif kebangkitan kembali film Indonesia. Sebuah film hasil kerja gotong royong berbagai pihak, mulai dari produser, sutradara, bintang utama, penulis skenario dan seluruh kru yang kerja bakti demi menyambung sebuah mata rantai yang terputus, mata rantai sinema Indonesia.
Film ini berisi empat cerita pendek yang satu sama lain tak berhubungan sama sekali, masing-masing film disutradari oleh Mira Lesmana, Nan T achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani. Meski benak penonton dipenuhi teka-teki dalam mencari benang merah antar cerita, tetapi tak mengurangi antrian penonton di loket-loket gedung bioskop. Kami, para anak muda yang memenuhi antrian itu merasa terhibur dengan sajian film-film ala video klip ini. Ya....satu-satunya benang merah antara film ini dengan para penontonnya adalah keindahan adegan yang bak video klip sebuah lagu. Kronologi cerita sudah bukan masalah lagi kala itu, bahkan anggapan bahwa Kuldesak mengambil ide film Four Rooms juga bukan hal penting.
Dalam sebuah talkshow di Fakultas Sastra UGM, Mira Lesmana mengungkapkan sebuah misi: Keuntungan film ini akan digunakan untuk produksi film berikutnya, demikian seterusnya ia berharap ada efek domino yang menjalar dari proyek percobaan serius mereka ini.
Tahun-tahun berikutnya, saya mendapati Rizal Mantovani yang sukses dengan Jailangkung, Nan T Achnas dengan Pasr Berbisik dan Bendera, Mira Lesmana memproduseri film Petualangan Sherina, Gie, Ada Apa Denga Cinta, trilogi Laskar Pelangi. Tak ketinggalan Riri Riza yang menyutradarai Petualangan Sherina, Eliana Eliana.

Sejak itu, kereta perfilman Indonesia mulai melintasi rel waktu, menyinggahi stasiun-stasiun. Gerbong-gerbongnya mempersilahkan diri dimasuki para penonton yang hendak turut dalam petualangan kereta ini.




MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...