Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Januari 2015

Setangkup Tempe yang "Hijau"

Pagi ini membeli sepuluh potong tempe yang dibungkus satu-satu dengan daun pisang. Di luar dugaan, mbah pedagang tempe menawarkan apakah tempe yang saya beli mau dibuka satu persatu agar saya tak repot membukanya di rumah. Saya langsung menyetujuinya. Maka kesepuluh tempe langsung ditelanjangi dan disatukan dalam sebuah "mangkuk" besar yang terbuat dari daun pisang, sisa bungkus salah satu tempe.
Hmmm...lumayan juga pikir saya. Saya tak perlu repot mengupasi satu persatu tempe bungkus ini dan mengurangi tumpukan sampah di dapur. Maklum saja, meski cuma berjumlah 10 buah, bungkus tempe-tempe ini cukup menghebohkan untuk ukuran dapur saya yang mungil
Di sisi lain, mbah Penjual Tempe juga bisa menggunakan kembali bungkus tempe tersebut. Re-use, itu istilah yag sering kita ucapkan kalau sedang ngobrol tentang Daur ulang sampah.




Sebenarnya....dalam hati....saya malu juga kepada mbah Penjual Tempe ini. Saya yang sering terlibat diskusi soal lingkungan hidup ternyata masih sering berlaku kurang "hijau" dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan si mbah Penjual Tempe, dia menjalankan prinsip re-use dalam diam.


Jadi deh, diam-diam dan secara sepihak saya menetapkan si mbah sebagai langganan tempe bungkus saya 
smile emoticon
Merdeka!

Sabtu, 27 Desember 2014

Kalau Kepepet, Apa Boleh Buat


Berwisata di ALun-ALun Utara memang menyenangkan sekali, mulai dari ruang terbuka yang luas, pedagang makanan yang ramah, deretan pohon beringin di sisi jalan, bahkan arena Sekaten yang digelar setiap tahun menambah daya tarik kawasan ini.
Namun, semuanya buyar ketika secara tiba-tiba tubuh kita diserang sindrom pipis mendadak atau yang lebih parah harus BAB. Kawasan wisata yang tersohor ini tidak dilengkapi dengan fasilitas toilet yang memadai.
Minggu pagi, saya sering membawa anak-anak nongkrong-nongkrong di sisi barat ALun-ALun Utara untuk menikmati susu segar, wafel cokelat keju, roti goreng atau jajanan lain. Tak jarang, mereka mendadak ingin buang air kecil dan lokasi toilet terdekat adalah di sudut pertigaan jalan Pekapalan dan Jl. Ibu Ruswo, tepat di seberang outlet Dagadu. Di sini ada sebuah toilet yang tampaknya sudah cukup tua. Toilet ini terbuat dari lempeng besi dan berdiri di atas roda dan tiang. Pada beberapa bagian toilet ini serangan karat nampak mengerogoti dengan ganas. Nampaknya, toilet ini dulu merupakan mobile toilet yang digunakan berkeliling sebagai sarana pendudukung kegiatan outdoor.
Meski terlihat mengerikan, apa boleh buat, terpaksa kami menumpang buang hajat di toilet tersebut. Meski merasa agak was-was, saya tetap bersyukur dengan keberadaan toilet tersebut.



Kadang saya bertanya-tanya sendiri, sampai berapa lama ya.... toilet itu bertahan di sana? Atau, kapan ya.... toilet ini direvitalisasi, diganti dengan bangunan yang lebih baru dan permanen sehingga kami bisa memanfaatkanya tanpa perasaan deg-degan?

Selasa, 02 Desember 2014

Panen Mangga di Musim Penghujan

Musim penghujan sudah tiba, banyak kebaikan didapat di musim ini: air yang melimpah, udara yang sejuk, pucuk-pucuk pohon yang membunga dan tentu saja panen buah. Salah satu buah yang tengah melimpah pada musim ini adalah Buah Mangga.
Meski pohon Mangga di pekarangan belakang rumah kami telah ditebang akibat usia yang menua, tetapi kelezatan Buah Mangga masih tetap dapat kami nikmati. Kini kami memanennya di pasar dekat rumah...ups tepatnya membeli  Tak hanya itu, beberapa rekan dengan senang hati mengundang dalam perayaan kecil panen buah Mangga di kediaman mereka. Ini tentu saja undangan yang sangat menyenangkan, memetik dan menikmatinya bersama dalam sebuah keriangan 
Buah berwarna kekuningan ini bernama asli Malayalam Maanga konon berasal dari wilayah di perbatasan India dengan Burma. Di masa kolonial, orang-orang Portugis mengenalkan buah ini ke daratan Eropa dan dikenal sebagai Manga dalam Bahasa Portugis dan Mango dalam Bahasa Inggris.
Buah Mangga yang saya beli di pasar adalah enis Mangga Harum Manis, jenis yang sangat popuper dan ikonik di antara jenis lainnya. Sedangkan pohon Mangga yang dulu pernah hadir di pekarang rumah kami merupakan jenis Mangga Madu. Mangga Madu adalah jenis Mangga yang daging buahnya sangat manis. Mangga ini harus dipetik dalam kondisi mengkal, jika dalam kondisi telah matang maka kita aan mendapati daging buah yang sudah terlalu matang, kondisinya bisa dikatankan hampir 'bonyok'. Jenis lain yang cukup populer adalah Mangga Cengkir Indramayu yang berdaging tebal, harumnya khas dan memiliki kandungan karbohidrat lebih banyak.


Panen Buah Mangga diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan buan Desember. Pasar-pasar akan dipenuhi dengan keranjang-keranjang berisi Buah Mangga, demikian pula pinggiran jalan raya akan diisi penual Mangga dadakan yang datang dari berbagai daerah.
Sudahkah temans menikmati Buah Mangga hari ini?

Minggu, 26 Oktober 2014

Septic Tank yang Baik Menjaga Kualitas Air Tanah




“Aduuhhh….perutku sakit sekali…..rasanya kayak melilit….sudah lima kali bolak-balik ke toilet…… badanku lemas sekali…”
Kejadian itu pernah saya alami lima belas tahun yang lalu saat indekost di wilayah Pogung. Tubuh saya sudah lemas akibat  diare yag menyerang.  Tak hanya sekali, tercatat tiga kali saya mengalami diare akut yang membuat tubuh saya kekurangan cairan cukup banyak.  Menurut dokter, diare yang saya alami diakibatkan oleh bakteri e-coli yang masuk melalui makanan, air minum atau air di kamar mandi. Karena diare yang saya alami telah berulang tiga kali maka dokter menyarankan agar saya memeriksa sumber air di tempat tinggal saya.
Beberapa waktu usai tubuh saya membaik, disertai rasa penasaran yang cukup tinggi, saya memeriksa  letak sumur dan septic tank di kos. Ternyata jarak antara sumur dan septic tank cukup jauh, kurang lebih 12 meter. Sumur berada diujung  bagian dalam kos sedangkan septic tank berada di halaman depan bangunan kos. Hmmm……menurut saya jarak dan lokasi keduanya  cukup ideal.

Masih berbekal rasa penasaran, saya iseng ngobrol dengan pemilik kos.  Istilah kerennya saya melakukan investigasi kecil-kecilan. Dengan bangga, ibu kos saya  berkata,  “Septic tank saya itu ndak pernah bermasalah mbak…. Sudah dua puluh tahun lebih sejak dibuat… belum pernah disedot lho!”
Apaa? Dua puluh tahun lebih septic tank itu tidak pernah disedot? Waduh!! Jangan-jangan sumur di kos sudah tercemar  limbah tinja dari septic tank  dan mungkin gara-gara itu saya kena diare..….
Namun, saya masih penasaran soal penyebab sakit saya ini. Esoknya saya melanjutkan investigasi.  Saya memeriksa rumah sekitar yang berbatasan langsung dengan kos-kosan. Alhasil, saya  mendapati letak septic tank yang berada tak sampai tiga meter  lokasi sumur di kos saya.
Pengalaman saya menjadi sebuah pelajaran berharga bagaimana sebuah pengelolaan sistem pembuangaan limbah  biologis manusia harus diperhatikan secara serius. Idealnya, selain memperhatikan jarak antara sumur dengan septic tank, perlu juga dicermati lokasi septic tank milik tetangga serta pengurasan septic tank secara berkala.
Septic tank sendiri merupakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pengolah dan pengurai limbah tinja manusia. Bangunan septic tank ini harus kedap air sehingga air yang berada di dalam   septic tank tidak akan meresap ke dalam tanah tetapi akan mengalir keluar melalui sebuah saluran tersendiri.   Sebenarnya air yang telah keluar  melalui pipa saluran tersebut masih tidak aman bagi lingkungan sekitar sehingga masih di perlukan  unit pengolahan lain  berupa sebuah bidang resapan, sumur resapan dan  filter aliran ke atas yang menggunakan pasir dan kerikil.

Don’t just built  a septic tank, think first!  
Jangan  membuat septic tank sembarangan, kita harus mempertimbangan banyak hal mlai dari jarak sumur dengan septic tank jumah penghuni rumah, pengurasan hingga tidak membuang benda lain ke lubang toilet.
Selain septic tank konvensional yang dibuat dari bahan batu bata dan semen, kini telah muncul berbagai jenis septic tank  dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Septic tanc jenis ini umumnya terbuat dari fiber glass dan memiliki bentuk bermacam-macam.  Septic tank ramah lingkungan ini terdiri dari  3 kompartemen dan 1 talang air.
·         Kompartemen 1 merupakan saringan awal (bar screen) tempat dimana tinja dan urine masuk pertama kalinya. Kompartemen ini berfungsi untuk memisahkan limah organic dan anorganik. Selanjutnya  limbah tinja dan urine masuk ke Kompartemen 2 secara over flow.
·         Kompartemen 2 memiliki media filter mega cell yang berfungsi sebagai tembah tumbuh kembang bakteri pengurai  limbah tinja.  Media filter ini dibuat secara dinamis dan akan berputar-putar apabila ada arus air dari  bawah. Perputaran  pada kompartemen ini membuat sebuah rotasi peguraian  limbah tinja,  tinja yang berada di bawah akan terangkat ke atas  sehingga tidak terjadi pengendapan. Penguraian akan berlangsung secara merata dan menghasilkan air yang mulai baik untuk elanjutkan masuk ke kompartemen ketiga.
·         Pada Kompatemen 3  terdapat media filter sedimentasi yang juga berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya bakteri pengurai sebagaimana pada kompartemen  2.  Fungsi bakteri pengurai  pada kedua kompartemen masih sama hanya saja pada kompartemen 3 lebih pada penyaring apabila masih ada bakteri yang lolos dari kompartemen 2. Selanjutnya air akan naik menuju Talang Air.
·         Talang Air berfungsi sebagai filter terakhir apabila dalam aliran air masih terdapat bakteri pathogen yag lolos. Kandunan desinfectan chlorine pada Talang Air akan membunuh bakteri patogen yang lolos dari ketiga kompartemen sebelumnya. Air yang keluar dari Talang Air ini terhitung sudah ramah lingkungan  dan tidak mencemari air tanah di lingkungan sekitar.

Septic tank ramah lingkungan ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki septic tank konvensional  karena tidak memerlukan lahan luas sehingga bisa digunakan pada pemukinan padat penduduk. Selain itu pemasangannya lebih mudah dan cepat. Bahkan septic tank ini juga bisa dimanfaatkan pada unit toilet berjalan. Karena memiliki system rotasi maka tidak terjadi endapan lumpur tinja maka tidak diperlukan pengurasan/penyedotan, cukup memasukkan bubuk bakteri pada lubang toilet.
Nah….pemilihan jenis septic tank yang tepat  dan disertai perawatan yang baik akan membantu mengurangi pencemaran air tanah di lingkungan sekitar kita dan secara tidak lagsung kita telah   melakukan  aktivitas #KonsumsiHijau.

Air tanah yang tidak tercemar akan membantu menjaga kesehatan tubuh kita agar bisa beraktivitas dengan baik sehingga harapan menuju  #JogjaHijau  bukanlah sebuah impian belaka. Dengan demikian kita  bisa memiliki kualitas hidup lebih baik.

Jumat, 30 Mei 2014

Tutorial Pembuatan Polybag dari Tas Kresek

Minggu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Dusun Gatak, Tamantirto, Bantul. Ada ilmu baru yang saya dapatkan dari kunjungan tersebut, teknologi sederhana mendaur ulang limbah tas kresek.
1. Susun 5 lapis kresek sebanyak 2 atau 3 baris berjejer. Pada pertemuan antar barsan ada pinggiran yang tumpang tindih sebagai penyambung.
1. Susunan plasti kresek dilapisi sehelai kertas (paling baik gunakan kertas kalkir atau samson). Lalu disetrika.
3. Buka kertas, kita mendapatkan lembaran plastik kresek yang telah menyatu dan tebal.
4. Di tengah lembaran plastik kresek ditaruh selembar kertas yang hanya menutupi bagian tengah saja. Lembaran platik kresek sisi kiri & kanan ditekuk ke bagian tengah. Lalu lapisi kembali dengan kertas secara keseluruhan. Setrika.
5. Kedua sisi pinggir lapisan kresek telah menyatu dan berbentuk tabung.
6. Siapkan sebuah potongan kayu berbentuk tabung sebagai cetakan. Masukkan tabung lembaran plastik kresek, lipat bagian atas, lapisi kertas lalu disetrika.
7. Taraaaa...This is it.......Polybag hasil daur ulang tas kresek..

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...