Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Paulina del Valle dan Marionetnya

Pada kenyataannya, perempuan yang menarik perhatianku bukanlah Aurora del Valle sang pemeran utama, melainkan Paulina del Valle sang nenek. Paulina del Valle, perempuan perkasa pada zamannya, masa di mana budaya patriarki masih mengakar kuat di tengah keriuhan demam para penambang emas di San Fransisco. Masa-masa paling liar di awal pembentukan sebuah negara bernama Amerika, masa penaklukan para penjelajah atas para pribumi.
Paulina, dianugerahi bakat perniagaan yang cemerlang, meski harus hadir secara in absentia. Buadaya patriarki masih mengharamkan kehadiran perempuan dalam ranah publik terutama ketika harus mengunjungi langsung lokasi-lokasi lahan niaga. Tak terbayangkan perempuan tidak cantik dengan lemak yang melilit sekujur tubuhnya ini mampu menjadikan suaminya seolah boneka marionet, hadir pada pertemuan-pertemuan bisnis untuk mewakili keberadaan dirinya, yang sesungguhnya otak dari segala keberhasilan kerajaan niaga yang menggurita.
Tiba saat suaminya wafat, pintu-pintu segera menutup bagi para janda. Tak ada tempat bagi para janda di ruang publik. Namun, keberuntungan adalah teman setianya. Adalah Frederick William sang pelayan sejati yang menawarkan diri menggantikan posisi mendiang suaminya sebagai jalan pembuka bagi ruang-ruang publik. Lelaki dengan segala ketenangan dan rasionalitasnya yang tetap setia pada pelayanan tanpa berkhianat hingga di akhir hayat Paulina del Valle. (Portrait in Sephia, Isabel Allende)

Minggu, 13 Maret 2016

PERJALANAN TERAKHIR

Orang-orang kampung tengah menyalatkan jenazahnya, ketika aku tiba bersama suami dan kedua anakku di pagi yang mulai terik. Ia pergi di spre hari sebelumnya. Aku mendapat diriku membaca pesan pendek di layar seluler saat malam telah penuh menutup hari. Segera saat matahari masih lelap pada dini hari, kami bergegas menempuh perjalanan panjang. Dini hari, kami membelah jalan-jalan ibukota menuju tanah nun di sisi bebukitan berhalimun. Aku hampir terlewatkan, menatap wajahnya untuk yang terakhir kali. Menekuni wajahnya yang menguning kaku dalam ketenangan yang tak pernah kudapati sebelumnya. Tahun-tahun terakhir di hidupnya, matahari hampir tak mampu menyentuh kulit kuning langsatnya. Wajahnya begitu cantik dengan kebersihan kulit kuning cerah yang didapatnya dari darah margaTan, sebuah marga dari daratan luas di utara kepulauan ini. Usai ritual di dalam bangunan mushala, sejumlah tetua memimpin perjalanan terakhir jenazahnya dalam keranda berselimut kain hijau. Aku hanya terdiam, berjalan di samping keranda. Anak-anak berjalan bersisian bersama suamiku. Sepanjang perjalanan menuju tanah peristirahaannya, aku hanya mampu mengenang dan mengenang segala kebersamaan kami. Hingga tanah merah memeluknya tubuhnya erat tak bersisa, aku hanya terdiam tanpa setetes air matapun jatuh di wajahku. Aku tak mampu menitikkan air mata, semua sudah habis bertahun lalu sejak matahari tak pernah menyentuh kulit tubuhnya.Yang tersisa pada diriku hanya kenangan dan kenangan dalam benakku. Kerinduan yang bersisa tak terkira banyaknya ini hanya mampu kulimpahkan pada cermin di kamarku. Aku kerap menyambanginya dalam cermin di kamar, memandang dalam ke dalam mataku.....yang serupa dengan matanya.

POHON SIRSAK, KEMARAU DAN SUMUR YANG MENGERING

Pohon Sirsak kecil itu kutemukan di muka rumahku. Ia tumbuh tepat di atas lahan kosong, tempat aku biasa menyemai beragam biji buah. Rupanya, di antara keping-keping benih yang kusemai, hanya satu yang diam-diam tumbuh dengan segala daya hidupnya.
Sejak kutemukan pada pagi yang mulai terik itu, aku langsung menghujaninya dengan segala cinta yang tersimpan berlimpah dalam gudang-gudang di hatiku. Setiap pagi dan sore hari, selalu kuguyurkan air kesejukan, membasahi segenap permukaan daun, batang hingga pada permukaan tanah dan menelusup pada akar-akarnya yang kehausan.
Hari berganti, pohon mungilku mulai meninggi, jangkung bak remaja yang tumbuh dengan segala pesonanya. Aku tak pernah bosan terpikat padanya, Pohon Sirsak yang tumbuh tiba-tiba di halaman rumahku.
Pada setiap pucuk-pucuk daunnya yang hijau memutih, kutitipkan semua harapanku. Meski, kelak tiap helai daun akan gugur pada masanya atau satu persatu tetangga berdatangan memetiknya, dengan dalih merebusnya untuk obat herbal.
Tidak, hatiku tak pernah patah pada setiap guguran daun yang mengering atau pada setiap petikan jemari pada tetangga. Aku melapangkan keikhlasan pada guguran dan petikan yang datang secara berkala.
Suatu masa, kemarau datang bertamu dan berdiam lama menahun. Aku tetap membasuhkan Pohon Sirsak di pagi dan sore hari namun ia telah meninggi dan membesar. Air yang kubasuhkan tak cukup lagi bagi akar-akarnya yang kian dahaga. Persediaan air dalam sumur di samping rumah mulai menyusut, padahal ia kian membutuhkan lebih banyak air.
Aku tetap menyiramkan air, mula-mula hanya setengah ember, lalu seember....rupanya sember air tak cukup bagi pohon yang kian membesar itu. Kulipatgandakan menjadi dua ember, tak cukup...akar-akarnya meronta kehausan bagai anak kecil yang merengek hendak menyusu pada ibunya. Kuguyurkan lagi air sebanyak tiga, empat, lima, enam....hingga sepuluh ember pada setiap pagi dan sore hari. Air di dalam sumur sudah tak lagi menyusut, melainkan kering tak bersisa.

Selasa, 28 Juli 2015

Pohon Besar dan Daun-Daun Berlidah Api





"Huuhh...panas sekali udara hari ini......." 

Aku mengipas-ngipaskan selembar koran menghalau rasa gerah dan peluh yang mengucur deras di sekujur tubuh. Aku tak habis pikir, kenapa udara panas tak segera hilang meski aku tengah berada di bawah pohon besar yang rindang ini, yang kerimbunannya jelas telah menghalangi sinar matahari jatuh di permukaan tanah. Biasanya kalau matahari seterik ini, aku akan berleha-leha di bawah pohon besar ini, lalu tertidur dalam belaian angin sepoi-sepoi yang meninabobokanku. 

Pohon besar ini, sependek yang kuketahui telah ada sejak mendiang kakekku berusia belia...kalau meminjam bahasa anak muda masa kini istilahnya abege. Kutaksir usianya lebih dari seabad, karena menurut mendiang nenek, ia dan kakek menikah saat masa pendudukan kolonial Belanda, ketika pemuda-pemuda bumiputera tengah berkumpul. Kuperkirakan pristiwa yang dimaksud nenek mungkin Kongres Pemuda pada 1928 sebab nampaknya hanya peristiwa itu yang gaungnya bergema kemana-mana, cetar membahana kala itu. Mungkin mendiang kakek lahir di awal abad ke-dua puluh, sedangkan kini aku telah memasuki abad 21, pada dekade pertamanya. Haduuh....hitung-hitungan usia pohon besar besar ini sungguh ruwet, yang jelas usianya sudah tuaaa sekali....... 


Diameter batang pohon ini mungkin lebih dari tiga meter. Bayangkan saja, untuk memeluk batangnya dibutuhkan lima orang dewasa yang mengelilingi lingkar batangnya. Sungguh sebuah penopang yang luar biasa bagi sebuah pohon dengan cabang, ranting dan daun-daun yang rimbun ini. Ini tentu didukung oleh akar tunjag pohon yang tak kalah kokoh menghujam ke bawah, dan tentu saja juga berdahan, meranting dengan kelengkapan bulu-bulu halus tudung akar yang siap menyedot segala intisari di dalam lahan yang gembur. 

Daunnya? Kau tahu bagaimana daun-daun yang berjumlah ribuan ini menjadi ujung tombak bagi proses fotosintesis, mengeksekusi segala intisari dari lahan gebur yang dialirkan melalui saluran-saluran panjang pembuluh xylem. Pada dedaunan inilah, lahan di sekitar pohon besar ini membuktikan kesuburannya. Entahlah..padahal menurut ibu, pohon itu tak pernah disiram atau diberi pupuk. Dibiarkan begitu saja. 

Yang mengherankan tentu saja warna pada permukaan daun-daunnya, meski terlihat berwarna hijau dan nampak sejuk di mata namun jika kau perhatikan daun-daun itu tak sungguh-sungguh berwarna hijau, melainkan berwarna oranye kemerahan....ya...mirip dengan arang yang kau bakar saat kau membakar satai daging kambing di hari raya kurban. Kira-kira seperti itulah.....Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan sebuah warna yang mewakili rasa panas namun tetap diliputi rasa riang gembira. Sebab, demikian juga dengan daun-daun pohon besar ini, terkadang menimbulkan sebuah keriangan karena warna hijaunya yang teduh, namun jika kupandangi dengan seksama nyata sekali warna bukan hijau...ya..itu tadi sepeti arang yang kau bakar dalam sebuah keriangan hari raya. 

Seperti siang ini, tiba-tiba warna daun-daun itu merah menyala di bawah terik matahari dan tentu saja membuatku merana dalam cuaca tropis yang sedemikian kering ini. 

Kulirik arloji,pukul 12 siang. Bayangan hitam tubuhku telah memendek dalam ukuran yang hampir menyamai selop-selop kakiku. Baiklah...ini memang pukul12 siang dan matahari menggeram dengan garang tepat di atas ubun-ubun kepalaku. Panas yang terasa menusuk itu seolah ujung-ujung lidah api matahari telah sampai ke permukaan bumi, menjilat-jilat permukaan kulit kepalaku. Tajam dan panas. 

Pandanganku berkunang hampir gelap....tiba-tiba kulihat ujung rambutku menguning jingga....beberapa ujung daun pohon besar ini menggapai kepalaku tanpa kusadari. Rasa panas terbakar itu menjalar perlahan memasuki tubuhku.....Dahan dan ranting-ranting yang berwarna laksana bara itu perlahan memanjang, menjulurkan ujung-ujung daunnya serupa lidah api.....berusaha menggapai seluruh tubuhku. Otot-otot tubuhku mengejang, kaku. 

Samar-samar kulihat mendiang kakek, nenek, Bapak, Ibu dan para tetua yang telah berpulang menarik tubuhku beramai-ramai......mengerahkan segala kekuatan yang tersisa dari arwah-arwah mereka.....menjauhkanku dari lilitan pohon besar yang berubah menjingga itu. 

Aku terlempar jauh dan terhempas di atas rumput-rumput liar dan ilalang yang berselimut embun di siang terik, bukan pada pagi seperti biasa. Dari kejauhan, pohon besar itu menarik kembali ranting-ranting dan daun-daunnya pada posisi semula dan kembali berwarna hijau serupa hijaunya rumput dan ilalang tempatku bersimpuh. 
Di kemudian hari, aku mendapat sebuah cerita mistis tentang daun-daun serupa bara api itu. Konon daun-daun itu sesungguhnya hendak membawaku ke surga, sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan. Aku mendengarnya tak lama setelah aku tehempas dan terkapar di antara rerumputan dan ilalang. 

Samar-samar aku mendengar bisik-bisik halus nun dari balik tanah tempatku terkapar. Rupanya akar-akar pohon besar tengah berbincang satu sama lain. Akar-akar yang telah menjalar hingga jauh melampaui jarak yg tak pernah kubayangkan, menjalar jauh melebihi jangkauan daun-daun pada ranting terluar pohon itu. 

Yogyakarta, 27 Juli 2015. 

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...