Selasa, 28 Juli 2015
Pohon Besar dan Daun-Daun Berlidah Api
"Huuhh...panas sekali udara hari ini......."
Aku mengipas-ngipaskan selembar koran menghalau rasa gerah dan peluh yang mengucur deras di sekujur tubuh. Aku tak habis pikir, kenapa udara panas tak segera hilang meski aku tengah berada di bawah pohon besar yang rindang ini, yang kerimbunannya jelas telah menghalangi sinar matahari jatuh di permukaan tanah. Biasanya kalau matahari seterik ini, aku akan berleha-leha di bawah pohon besar ini, lalu tertidur dalam belaian angin sepoi-sepoi yang meninabobokanku.
Pohon besar ini, sependek yang kuketahui telah ada sejak mendiang kakekku berusia belia...kalau meminjam bahasa anak muda masa kini istilahnya abege. Kutaksir usianya lebih dari seabad, karena menurut mendiang nenek, ia dan kakek menikah saat masa pendudukan kolonial Belanda, ketika pemuda-pemuda bumiputera tengah berkumpul. Kuperkirakan pristiwa yang dimaksud nenek mungkin Kongres Pemuda pada 1928 sebab nampaknya hanya peristiwa itu yang gaungnya bergema kemana-mana, cetar membahana kala itu. Mungkin mendiang kakek lahir di awal abad ke-dua puluh, sedangkan kini aku telah memasuki abad 21, pada dekade pertamanya. Haduuh....hitung-hitungan usia pohon besar besar ini sungguh ruwet, yang jelas usianya sudah tuaaa sekali.......
Diameter batang pohon ini mungkin lebih dari tiga meter. Bayangkan saja, untuk memeluk batangnya dibutuhkan lima orang dewasa yang mengelilingi lingkar batangnya. Sungguh sebuah penopang yang luar biasa bagi sebuah pohon dengan cabang, ranting dan daun-daun yang rimbun ini. Ini tentu didukung oleh akar tunjag pohon yang tak kalah kokoh menghujam ke bawah, dan tentu saja juga berdahan, meranting dengan kelengkapan bulu-bulu halus tudung akar yang siap menyedot segala intisari di dalam lahan yang gembur.
Daunnya? Kau tahu bagaimana daun-daun yang berjumlah ribuan ini menjadi ujung tombak bagi proses fotosintesis, mengeksekusi segala intisari dari lahan gebur yang dialirkan melalui saluran-saluran panjang pembuluh xylem. Pada dedaunan inilah, lahan di sekitar pohon besar ini membuktikan kesuburannya. Entahlah..padahal menurut ibu, pohon itu tak pernah disiram atau diberi pupuk. Dibiarkan begitu saja.
Yang mengherankan tentu saja warna pada permukaan daun-daunnya, meski terlihat berwarna hijau dan nampak sejuk di mata namun jika kau perhatikan daun-daun itu tak sungguh-sungguh berwarna hijau, melainkan berwarna oranye kemerahan....ya...mirip dengan arang yang kau bakar saat kau membakar satai daging kambing di hari raya kurban. Kira-kira seperti itulah.....Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan sebuah warna yang mewakili rasa panas namun tetap diliputi rasa riang gembira. Sebab, demikian juga dengan daun-daun pohon besar ini, terkadang menimbulkan sebuah keriangan karena warna hijaunya yang teduh, namun jika kupandangi dengan seksama nyata sekali warna bukan hijau...ya..itu tadi sepeti arang yang kau bakar dalam sebuah keriangan hari raya.
Seperti siang ini, tiba-tiba warna daun-daun itu merah menyala di bawah terik matahari dan tentu saja membuatku merana dalam cuaca tropis yang sedemikian kering ini.
Kulirik arloji,pukul 12 siang. Bayangan hitam tubuhku telah memendek dalam ukuran yang hampir menyamai selop-selop kakiku. Baiklah...ini memang pukul12 siang dan matahari menggeram dengan garang tepat di atas ubun-ubun kepalaku. Panas yang terasa menusuk itu seolah ujung-ujung lidah api matahari telah sampai ke permukaan bumi, menjilat-jilat permukaan kulit kepalaku. Tajam dan panas.
Pandanganku berkunang hampir gelap....tiba-tiba kulihat ujung rambutku menguning jingga....beberapa ujung daun pohon besar ini menggapai kepalaku tanpa kusadari. Rasa panas terbakar itu menjalar perlahan memasuki tubuhku.....Dahan dan ranting-ranting yang berwarna laksana bara itu perlahan memanjang, menjulurkan ujung-ujung daunnya serupa lidah api.....berusaha menggapai seluruh tubuhku. Otot-otot tubuhku mengejang, kaku.
Samar-samar kulihat mendiang kakek, nenek, Bapak, Ibu dan para tetua yang telah berpulang menarik tubuhku beramai-ramai......mengerahkan segala kekuatan yang tersisa dari arwah-arwah mereka.....menjauhkanku dari lilitan pohon besar yang berubah menjingga itu.
Aku terlempar jauh dan terhempas di atas rumput-rumput liar dan ilalang yang berselimut embun di siang terik, bukan pada pagi seperti biasa. Dari kejauhan, pohon besar itu menarik kembali ranting-ranting dan daun-daunnya pada posisi semula dan kembali berwarna hijau serupa hijaunya rumput dan ilalang tempatku bersimpuh.
Di kemudian hari, aku mendapat sebuah cerita mistis tentang daun-daun serupa bara api itu. Konon daun-daun itu sesungguhnya hendak membawaku ke surga, sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan. Aku mendengarnya tak lama setelah aku tehempas dan terkapar di antara rerumputan dan ilalang.
Samar-samar aku mendengar bisik-bisik halus nun dari balik tanah tempatku terkapar. Rupanya akar-akar pohon besar tengah berbincang satu sama lain. Akar-akar yang telah menjalar hingga jauh melampaui jarak yg tak pernah kubayangkan, menjalar jauh melebihi jangkauan daun-daun pada ranting terluar pohon itu.
Yogyakarta, 27 Juli 2015.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG
Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...
-
Aku mengenal butir-butirnya di dapur rumah, saat ibu melakukan ritual memasak untuk keluarga. Ibu menggerus butir-butir Ketumbar usai meny...
-
ngat Thailand, tentu ingat sup Tom Yam. Ini kuliner andalan Negeri Gajah Putih yag tersohor. Penasaran dengan menu satu ini, saya mengunjung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar