Sabtu, 11 Juli 2015

Robohnya Rumah Kami (Afnan Malay)

Cuma beberapa menit setelah gempa ikut melindas Bantul pun Klaten, saya mengirim pesan singkat kepada Syaifudin Gani. Ia mantan aktivis Walhi Medan. Kepadanya saya sampaikan, "Bung, rumahku baru saja dihantam gempa hebat. Tampaknya Jogja segera habis." Begitu sepenggal kisah yang sempat saya kirimkan. Nyaris, saya, istri, kedua anak lelaki kami, dan ibu mertua—yang baru berani mengunjungi kami dari Semarang setelah Merapi tensinya mereda—hanya tinggal nama.
Sungguh, semula jawaban Gani bagi saya terkesan dingin, "Aku ikut dukacita, kudoakan semoga kamu setabah orang Aceh". Benar, tanah kelahiran kawan saya itu telah menjadi asosiasi untuk setidaknya dua hal: pertama, puncaknya malapetaka; kedua, tangguhnya kesabaran. Saya segera membalas, "Soal ketabahan, Aceh tidak tertandingi Bung! Sebetulnya ingin saya tambahkan, melihat dahsyatnya bencana, jangan melulu dihitung seberapa banyak korban jiwa. Tetapi, tanpa imbuhan itu pun, ia telah sedemikian gelisah. Lalu, membalas berkali-kali sesuai dengan perkembangan yang dilaporkan. Bagi saya itu semacam permakluman. Ternyata gempa Sabtu akhir Mei silam yang berpusat di Laut Selatan tidak main-main.
Menghadapi gempa merupakan hal baru bagi kami yang bermukim di Jawa. Hanya saja, mungkin bagaimana melawan kedukaan di mana pun tidak jauh berbeda. Kami sepertinya dipagari cukup kesabaran. Kalau dulu ada slogan kampanye SBY-Kalla, "Bersama Kita Bisa". Kami plesetkan menjadi bersama kita (jangan) binasa. Makanya, gempa kami "manipulasi" layaknya acara kumpul-kumpul bersama. Dapur umum seadanya digelar di hampir semua sudut jalan. Seolah-olah kami sedang menghadirkan nostalgia pramuka.
Ketika malam tiba, saat itulah teror sesungguhnya menggedor-gedor seberapa tebal kepasrahan—religiositas atau spiritualitas, bukan nrimo dalam artian fatalistik—yang kami punya. Dalam gelap berkawankan dingin, kami awas mencermati setiap geliat gempa susulan yang berkali-kali tidak sungkan ikut menyelinap berdesakan persis di tubuh-tubuh kami. Memang tidak ada isak tangis, lebih dari itu, kami sebetulnya tengah menyambut kematian. Sambil tetap menunggu akhir teka-teki: sanggup bertahan!
Kalau saja tidak ada interaksi dengan peristiwa di luar kami, mungkin kami lulus berguru kepada orang Aceh soal ilmu tabah. Nyatanya, kami "diganggu" jurnalisme yang heboh, terutama jurnalisme >small 2small 0
Sebenarnya, tidak kurang para jurnalis membuat interupsi, bahkan "unjuk rasa", merekam suara para korban bahwa bantuan yang melimpah itu baru sekadar realitas media, bukan realitas yang menyapa korban. Artinya, korban sama sekali tidak tersentuh. Solidaritas kita sebagai anak bangsa tidak terbantahkan. Tetapi, negara seperti sedang cuti: kecuali frekuensi rapat bertambah dan teknik koordinasi terus disusun. Kalau kami seolah "menikmati" pramuka-pramukaan, di radius nol kilometer, di Istana Gedung Agung, mungkin yang terhormat Tuan Presiden bersama para menterinya nostalgia beneran dan menyempatkan mendengar lantunan lembut Katon, "Nikmati bersama suasana Jogja…."
Mudah-mudahan mereka juga bisa "masuk" menghikmati suasana Jogja kini. Setidaknya, melalui pintu kesaksian Musidah (39), yang tinggal di Puton, beberapa ratus meter sebelah barat jembatan Karang Semut yang ketika dibangun arsiteknya bernama Djoko Kirmanto (kini Menteri Pekerjaan Umum). Ia adalah guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) dan kebetulan mengajar Rumi Rayhan Pekerti (5), anak saya yang bungsu.
Sore pada hari kedua bencana, saya tergerak mengunjunginya. Berbagi cerita sesama korban. Seperti juga rumah-rumah menuju ke perumahan kami—Perumnas Bumi Trimulyo Permai—di Kembang Songo, semua rumah di dusun tempat tinggalnya roboh. Mencoba berempati, saya katakan kepadanya, "Kita sama-sama korban Bu. Rumah saya juga rusak berat, memang tidak hancur lebur, tetapi saya takut memasukinya. Atapnya mau runtuh." Musidah menyambar cepat, sambil tersenyum getir, "Kalau saya tidak akan pernah takut lagi." Lalu, mengunci kepasrahannya, "Karena, saya sudah tidak punya rumah!"
Merasa masygul, saya alihkan topik soal bantuan. Jawabnya, seperti dugaan. Bahkan, Supermi pun belum ada. Silakan keliling ngecek pintanya. Saya hanya anggut-anggut, mungkin persis para birokrat kita ketika mendengarkan keluhan rakyat. Setelah itu segera saya layangkan pesan singkat kepada. Kali ini kepada seseorang dari jajaran nomor satu di negeri ini, jubir presiden, Andi Mallarangeng. Soal manajemen bantuan bencana yang tertumbuk birokrasi yang menuhankan prosedur. Soal tenda dan Supermi yang harus mengantre ke kantor bupati. Soal rakyat yang antre harus ber->small 2small 0
Orang yang saya SMS tadi menjawab dengan santun sambil menekankan, "Saat ini konsentrasi pada mereka yang telah mendahului kita!" Saya mungkin berlebihan ketika menjawab, "Bung yang mati sedang menemui Tuhan. Lha, yang bertahan hidup menemui siapa?"
Banyak yang bahagia menilai kuatnya solidaritas di antara kita. Anda pun agaknya begitu. Bahkan, saya bisa jamin di lapangan, solidaritas lebih terasa betapa kentalnya. Melampaui dari yang bisa kita ungkapan: dari rakyat untuk rakyat; dari yang terhindar bencana kepada para korban, pun sesama korban (yang tidak parah ke yang mengenaskan).
Tetapi, ingatkah kita bahwa kita hidup di rumah yang sama: Republik Indonesia. Lihatlah >small 2small 0<, bacalah koran. Bukankah presiden, wakil presiden, dan para menteri sibuk "mengurusi" rakyatnya? Kesigapan mereka tidak setara dengan operasionalisasi birokrasi. Apa yang dapat kita katakan kalau faktanya: Bantul dan Klaten hanya "beberapa senti" saja dari pusat kekuasaan: dan kekuasaan itu telah pula berumah di Gedung Agung, medannya tanpa rintangan sama sekali, tidak ada yang terisolasi. Tetap saja negara macet entah di mana.
Kepada mantan aktivis 1980-an, yang sehari-hari dekat dengan SBY, saya layangkan pesan singkat, "Ayo Bung, Presiden cekatan betul di media. Tetapi, ucapannya buntu menghadapi realitas: bantuan menumpuk di kantor kabupaten." Jawabnya, "Ini zaman otonomi kawan. Presiden gak bisa main perintah semaunya!" Ha-ha-ha, maafkan, jawaban kawan saya itu jelas kambing hitam atau dia sedang tidak serius.
Saya cuma mengelus dada berkali-kali. Ya, berkali-kali. Rumah-rumah kami, para korban gempa Bantul-Klaten, roboh. Mayoritas dari mereka pastilah tidak seberuntung saya. Di tengah bencana masih sempat melayangkan pesan singkat dari yang merasakan betul tabahnya saudara kita di Aceh hingga ke seseorang dari jajaran petinggi negeri. Saya masih bisa curhat ke mana-mana, ngomel kepada banyak kawan, tapi Musidah dan rakyat di Bantul pun di Klaten: kawan curhatnya paling jauh dalam hitungan radius lima kilometer. Atau telah berpulang. Bahagiakah saya, kalau boleh jujur: tidak! Kalau ada pilihan, saya tidak akan pernah melayangkan pesan singkat, terutama kepada jajaran petinggi dan aktivis 1980-an sahabatnya SBY itu. Saya tentu bangga bila pagi-pagi pemerintah bisa langsung dalam pelukan kami. Kalau gempa datang setelah subuh, kenapa negara begitu lelet?
Robohnya rumah kami, sekalipun kami iringi duka mendalam, toh solusinya digaransi Jusuf Kalla. Melalui Bakornas, pemerintah akan bantu membangunnya kembali. Tetapi, robohnya "rumah kita"? Ufh, maafkan saya. Jangan, jangan sampai itu terjadi, sekalipun benihnya kadang terasa. Tuhan, cukup rumah kami saja yang roboh!
Afnan Malay, Korban Gempa, Warga Perumnas Trimulyo Permai, Jetis, Bantul, DIY.

Dari saya:

Tulisan di atas adalah milik mas Afnan Malay yang diterbitkan di Harian Kompas
, Minggu, 4 juni 2006
Terima kasih kepada beliau yang telah menyalin ulang tulisan ini kepada saya. Saya menerbit ulang tulisan ini karena telah mendeskripsikan kepada saya kondisi gempa saat itu, sebuah kondisi bencana yang tak bisa saya bayangkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...