Melihat foto tumpukan bangkai gerbong kereta di stasiun Purwakarta ini, saya langsung teringat sebuah novel tentang anak kecil yang bersekolah di kelas-kelas gerbong kereta. Nama anak itu Toto-Chan. Gadis kecil ini ditolak belajar di beberapa sekolah lantaran memiliki kebiasan yang berbeda dibanding teman-teman lainnya.
Beruntungnya, Toto-Chan memiliki seorang ibu yang sabar dan memahami dirinya. Setelah beberapa kali pindah sekolah, tiba saatnya ia dan ibunya mendaftar di sebuah sekolah yang bisa memahami karakter anak-anak seperti dirinya.
Pertama memasuki pelataran sekolah barunya, gadis kecil ini sungguh takjub lantaran mendapati sekolah dengan bentuk fisik yang tidak seperti biasanya. MUlai dari lokasi yang berada di antara rerimbunan pohon, gerbang sekolah yang terdiri dari dua batang pohon dan masih memunculkan dedaunan hingga kelas-kelas belajar yang terbuat dari gerbong-gerbong kereta bekas. Yang tak kalah menarik adalah saat perkenalan dengan Kepala Sekolah, dimana sang Kepala Sekolah yang bijaksana itu mendengarkan dengan tekun dan antusias cerita gadis kecil ini selama 4 jam penuh, tanpa rasa kantuk atau bosan.
Episode lain yang tak kalah menarik dari novel ini adalah pengalaman Toto-Chan dan teman-teman sekolah saat berkemah di sekolah. Kemah kali ini bukan kemah sembarangan. Anak-anak ini berkemah bersama di sekolah untuk menyambut kedatangan gerbong kereta baru.
Sejak siang hari ketika terdengar kabar akan ada gerbong baru, mereka luar biasa antusias dan penasaran. Sambil membentuk kerumunan kecil, mereka menduga-duga bagaimana cara gerbong kereta akan diangkut ke sekolah mereka. Ada yang menduga diangkut menggunakan gerobak, atau ada pula yang menduga akan dibangun rel baru menuju sekolah.
Untuk menjawab rasa penasaran mereka, Kepala Sekolah mengizinkan mereka berkemah di sekolah untuk menyaksikan bagaimana gerbong kereta diangkut ke sekolah.
Saya terkesima dengan cerita-cerita dalam novel ini. Saya membayangkan seandainya bangkai-bangkai gerbong ini dimanfaatkan menjadi kelas-kelas sekolah dengan Kepala Sekolah yang sama bijaknya sebagaimana dalam novel tersebut, tentu akan ada anak-anak yang mengalami masa kecil tak terlupakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar