Jumat, 28 Agustus 2015

Catatan "Ngobrol Produktif dengan Praktisi"

credit foto: Iving A Chevny




"Kantor Pos bablas ngulon...."

Demikian pesan pendek Iwan J Prasetyo di inbox FB  saya, membantu memberi petunjuk lokasi diskusi yang akan kami hadiri. Akhirnya saya menemukan lokasi pertemuan kami, setelah menjelajahi hampir separuh kampung Jomegatan lantaran urusan nomor rumah yang ternyata acak-acakan di kawasan ini.
Undangan  diskusi terbatas yang digagas mas Iving A Chevny sungguh menggiurkan:  "Ngobrol Produktif dengan Praktisi" . Iming-iming bahasannya juga tak kalah menggemaskan (he..he..he):  Berbagi ilmu cara brand terkenal memproduksi sepatu, Berbagi ilmu tentang berbagai jenis bahan garmen(tas, sepatu),  Berbagi ilmu tentang bagaimana cara kerja desainer dan product developer menghasilkan sebuah produk  yg bagus dan berkualitas, Berbagi ilmu seluk beluk tentang foto produk, Berbagi ilmu tentang web, e commerce dll, Berbagi ilmu tentang packaging, yg mampu memberikan nilai lebih bagi sebuah product. Opo ra edan kuwi!
Dalam diskusi ini, hadir mas Iving A Chevny (wirausahan nasional), kang Diki Kusmayadi (Product Development), mas Imam Syafei (prakisi UMKM), mas Iwan J Pasetyo (Praktisi IT), mbak Destina Kawanti (BNN) dan komunitas Geluk Design (sekumpulan anak muda yang tekun berkarya dalam dunia komunikasi visual).

INTRO
Tepat 1 Januari 2015, kawasan ASEAN akan memasuki babak baru, sebuah era diberlakukannya sistem ekonomi integral antar negara anggota ASEAN Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailan, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar. Sebuah sistem perdagangan bebas antar negara ASEAN akan menghilangkan berbagai sekat wilayah, termasuk berbagai kebijakan yang bisanya menjadi pengendali dalam sebuah negara. Sistem bea cukai akan lebih sederhana, adanya sistem self certification. Sistem kompetisi langsung ini memiliki resiko yang cukup serius dengan membanjirnya  barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia. Ini mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas dan tak jarang jauh lebih murah. Kondisi kompetisi langsung ini   kemungkinan akan membuat neraca perdagangan   Indonesia menjadi defisit.
Ilustrasi singkatnya  begini: Pedagang Singapura atau Malaysia dapat leluasa berdagang di Indonesia, demikian juga sebaliknya Pedagang asal Indonesia  dapat membuka kedai di Thailand atau Vietnam, tanpa disibukkan dengan berbagai regulasi.  



MEA dan Tantangan UKM Indonesia
Mas Iving A Chevny mengawali diskusi dengan mengetengahkan dua isu penting  yaitu pendapat pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsi terkait keberadaan UKM di era MEA (Masyarakat ekonomi ASEAN) dan pernyataan Jusuf Kalla terkait rencana dikucurkannya kredir untuk UKM. Kedua isu ini meski bukan isu baru namun merupakan isu yang cukup penting di kalangan pelaku bisnis UMKM.
Nah, bagaimana pelaku usaha d indonesia sendiri? Ini adalah tantangan luar biasa bagi pelaku usaha kita, terutama pelaku usaha UMKM? Apakah siap menghadapai "tamu-tamu" dari berbagai negara tetangga ini, di tengah hadirnya tantangan krisis moneter dunia yang melorotkan nilau tukar rupiah?
Sekedar pengingat, krisis tahun 1998 sesungguhnya UMKM  telah menjadi tulang punggung bagi perekonomian bangsa kita, menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan lebih jauh. Di saat begitu banyak pelaku usaha kelas kakap yang kocar-kacir, UMKM mampu bertahan, meski tak sedikit yang gulung tikar.
Tantangan saat ini mungkin tak kalah dahsyat dengan badai ekonomi tahun 1998 yang lalu. Bagaimana pelaku UMKM menyikapinya? Apakah masih harus menunggu uluran tangan dari pemerintah terus? Bagaimana memenangkan persaingan usaha dengan pelaku UMKM dari negara serumpun?

Mas Imam Syafei mengemukakan bahwa sesungguhnya ada banyak kelebihan dan kelemahan UMKM  kita dalam  sejarah perjalanannya. Apa kelebihannya? Sebenarnya produk  Indonesia itu mampu lho bersaing dengan produk dari luar negeri, bahan untuk standar Eropa yang membutuhkan banyak syarat dan kontrol kualitas yang ketat. Ini dibuktikan dengan banyaknya produk ekspor yang banyak memenuhi pasar dunia. Tak jarang banyak pula pesanan produksi yang mampu dipenuhi dengan spesifikasi tinggi.

Kalau produknya sudah mampu bersaing, kenapa UMKM kita sepertinya masih jalan di tempat? Ini dia kelemahan yang harus kita cermati: Masalah etos kerja.  persoalan utama adalag pada komitmen saat menerima permintaan klien. Tak jarang, saat menerima order, banyak UMKM yang tak mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati alias mangkir. Komitmennya bukan soal waktu yang molor dari jadwal, terkadang demi meraih keuntung lebih  spesifikasi bahan baku  malah di bawah standar yang disepakai.
Faktor lain juga terkait pengetahuan. Pengetahuan akan pasar yang dituju,  kemampuan membaca trend  dan  tentu saja saat yang tepat ketika meluncurkan produk. Saat ini, tengah dirintis sebuah institusi untuk mendampingi pelaku UMKM mengembangkan usahanya yaitu Rumah Branding Yogya

Salah satu contoh produk yang mampu memenuhi pesanan dengan standar Eropa adalah  produk ikat pinggang sederhana dari bahan webbing (?) dengan merk Fret Free (http://www.fret-free.com/).

PENGEMBANGAN PRODUK DAN KONSUMEN

Di sessi ini juga dipaparkan  betapa rumitnya merancang sebuah produk dalam menghadapi kompetitor.  Kang Diki Kusmayadi berbagi cerita pengalamannya sebagai seorang  Product Development untuk  sebuah brand asal Autralia, mulai dari soal kompetisi antar produk, kualitas bahan, kualitas produksi hingga soal prosuk yang harus presisi satu sama lain.  Terkait tugas utamanya  seorang Product Development selain harus menguasai  hal-hal teknis produksi, ia juga wajib membuka mata dan telinga terhadap perkembangan trend fashion terkini, menjawab keinginan pasar, mecari tahu perkembangan kompetitor. Semua itu adalah upaya  yang terintegrasi satu sama lain dalam membangun dan mempertahankan brand  dan tentu saja ekspansi pasar yang lebih luas.

Sebagai ilustrasi, brand Rip Curl sangat massif di Bali hingga terkesan menjadi brand yang generik (http://asia.ripcurl.com/). Di sudut manapun di pulau Dewata ini, kita akan dengan mudah menemukan logo Rip Curl. Ini berbeda sekali dengan kondisi di Jakarta, brand ini  ternyata kurang populer. Perbedaan signifikan ini tentu saja sangat dipengaruhi kondisi pasar. Bali yang identik  dengan destinasi wisata, termasuk aktivitas surfing, sementara Jakarta adalah kota metropolitan yang tak ada aktivitas surfing. Karakteristik pantai dan laut Jakarta berbeda dengan Bali, kondisi geografis ini adalah yang mendasari perbedaan pasar kedua kawasan ini.  Jakarta justru lekat dengan aktivitas skateboard, sebuah jenis olahraga urban yang jauh dari kawasan pantai. Maka brand lain yang menjadi kompetitor lebih mampu bersaing di kawasan Jakarta.  Istilah  Rip Curl sendiri (atau Rip Current) berasal dari istilah kondisi akumulasi dua atau lebih arus balikgelomang laut yang cukup mematikan  yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut. 

E-COMMERCE
Iwan J Prasetyo, praktisi IT, mengingatkan bahwa kunci e-commerce terletak pada keberadaan sebuah produk itu sendiri. Kuncinya da di produk, bukan pada brand. MEA sendiri merupakan replika dari dunia e-commerce. Selanjutnya, metode apa yang akan dipakai? Branding atau Cloning?  Contoh kasus adalah xiaomi yang merupakan kloning dari I-phone.
Start up aktivitas e-commerce bisa dilakukan dengan  menumpang jual pada toko-toko online terkemuka seperti Lazada, Tokopdia, blibli, bhineka dan lain-lain. Jika telah mapan makaa bisa melakukan penjualan sendiri lewat situs sendiri.
Saat ini komoditi bukan lagi berupa produk degan tingkat kadaluarsa yang tinggi, tahan lama seperti fashion, peralatan rumah tangga, elektronik dan lain sebagainya. Bisnis e-commerce juga mulai merambah lahan kuliner, sebuah komoditi yang  membuthkan waktu pengiriman cepat, dengan resiko besar, masa kadaluarsa yang singkat bahka dalam hitungan jam. Mas Iwan menceritakan pengalamannya memesan menu ayam ingkung dari sebuah grup pecinta kuliner, dan ia menerima pengiriman menu tersebut dalam waktu 3 jam saja, dengan kondisi menu dalam keadaan hangat. (https://www.facebook.com/groups/kulinus/)

PERILAKU KONSUMEN

"Hasrat itu munculnya dari mata", demikian mas Iving menuturkan quote tokoh psikopat Hannibal Lecter dan lakon Silence of the Lamb. Menurutnya, visualisasi yang ditangkap mata mampu mendorong konsumen untuk melakukan keputusan pembelian.  Indra visual dianggap mampu mendominasi indra peraba untuk mempengaruhi perilaku konsumen dalam transaksi e-commerce ini. Dalam hal ini, peranan desain grafis sangat besar untuk menampilkan image produk, antara lain berupa desain kemasan yang menarik.
Meski hal tersebut benar adanya,namun tak dapat dipungkiri bahwa term of experince dan term refference sesungguhnya juga mempunyai peran  dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. 

TENAGA KERJA  DAN MESIN 


Masalah tenaga kerja juga menjadi bahasan singkat dalam diskusi ini. Mbak Destina Kawanti dari BNN berbagi cerita tentang upaya rehabilitasi eks pengguna narkoba  agar bisa dilatih menjadi tenaga yang lebh produktif.
Industri digital memasuki babak baru dengan kehadiran mesinm-mesin produksi digital  yang dapat dioperasikan di rumah-rumah. sebut saja mulai dari printer sablon digital hingga  printer 3 dimensi. Mesin CNC (Computer Numerically Controlled), sebuah mesin yang dikontrol penuh lewat sistem komputerisasi dan semula hanya beredar di kalangan terbatas ini, kini diproduksi massal dan dpat diakses oleh banyak orang dengan harga yang lebih terjangkau. Bayangkan bisa ukiran-ukiran kayu Jepara yang semula dikejakan oleh tenaga perajin ukir, kini cukup dioperasikan oleh mesin cnc di bawah kendali sistem digital. Melalui mesin ini, kayu ukir dapat diproduksi massif, presisi satu sama lain, tanpa ongkos pekerja, bahkan waktu produksi juga dapat dirancang sejak awal produksi. 

Kehadiran secara massif mesin-mesin digital rumahan ini  apakah  mereduksi ruangan pabrik hanya menjadi seukuran  ruang tidur, mereduksi besar-besaran tenaga pekerja?  Lalu, bagaimana nasib tenaga kerja manusia?

GOJEK
Tidak afdol rasanya, mendiskusikan  e-commerce  tanpa melirik Gojek, bisnis e-commerce yang saat ini sedang happening atau meminjam istilah para enterpreneur sedang "moncer" :) Gojek, layanan antar jemput menggunakan moda kendaraan roda dua yang terintegrasi dengan sistem online ini diinisiasi Nadiem Makarim, masuk dalam kategori bisnis logistik: mengantarkan  (biasa penumpang, bisa juga barang).

Sistem yang digunakan Gojek: Driver mendapatkan tool berupa gadget dengan program aplikasi  yg tertanam di dalamnya, termasuk kelengkapan berkendara: Jaket driver dan  2 helm (untuk driver dan penumpang). Sistem pembayaran juga dilakukan secara online. Penumpang wajib melakukan registrasi dan membeli voucher, maka pembayaran tidak dilakukan secara tunai, secara otomatis deposit uang pada akun penumpang akan dipotong sesuai jarak tempuh. Sementara Driver akan menerima gaji dari Manajemen Gojek, sesuai akumulasi pada akunnya. (http://www.go-jek.com/)

PADA AKHIRNYA SEMUA ADALAH IDE

Jika semua elemen dasar industri direduksi, mulai dari regulasi, jarak, tenaga kerja, alat produksi...apa yang tersisa bagi manusia? hanya ide  yang tak bisa direduksi, tak bisa digantikan. Ide adalah sumber daya tak akan pernah habis, semakin digali akan semakin cemerlang. Ide bisa datang dari manapun, kapanpun, oleh siapapun dan untuk siapapun. Eureka!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...