"Ngebakso, yuk!" Ajakan ini tentu tak asing di telinga kita. Bakso hidangan sepinggan ini sangat akrab di lidah orang Indonesia.
Umumnya bakso terbuat dari daging sapi giling yang dicampur dengan tapioka dan bumbu-bumbu pelengkap, meski adapula yang terbuat dari daging ayam atau ikan. Akar kuliner hidangan ini berasal dari Cina. Dalam Bahasa Hokkian Bak-So artinya daging giling. Secara kasat mata, keseluruhan hidangan ni memang sangat oriental, mulai dari penggunaan bawang putih yang dominan, sup yang bening, penggunaan mie, tahu hingga krupuk pangsit.
Masyarakat Leuwiliang, sebagaimana masyarakat Sunda pada umumnya, sependek pengetahuan saya adalah penggila Bakso.Siang malam panas hujan, hidangan ini selalu diburu. Masih kurang yakin dengan pernyataan saya ini? Coba deh, teman-teman hitung-hitung: Dalam sebulan berapa kali frekwensi kita menyantap bakso.... Hmmmm atau, jika kebetulan singgah dan melewati di sekitaran Pasar LeuwiliNg, sesekali lihatlah berapa banyak pedagang bakso di sana.
Suatu ketika, saya pernah secara sengaja menghitung jumlah pedagang bakso di sekitar Pasar Leuwiliang. Mulai dari Bakso Pak Sadid yang tersohor dengan bonus daging kepala sapinya itu hingga ke kedai Bakso Gian di dekat Mualimin bahkan hingga ke kios Bakso Bom yang ukurannya segede alaihim gambreng itu. Sekitar tahun 2005, lebih 50 pedagang bakso yang saya temui tengah mengais rezeki di sana. Iseng? He..he..he.... Iya benar, ini kerjaan super iseng yang kerap saya lakukan di manapun. Tapi, ini iseng yang serius sih....wahai sist, bro and guys.
Kalau kita menjelajahi Pasar Leuwiliang ini, masuklah ke lorong pasar di sisi barat, maka kita akan menjumpai banyak pedagang daging sapi di dalamnya. Ada pula dua kedai pengolah adonan bakso yang melayani pelanggan tetapnya, para pedagang bakso.
Kronologinya kira-kira begini: Di pagi hari, para pedagang bakso membeli daging sapi, lalu langsung membawanya ke penggilingan. Proses penggilingan ini cukup memakan waktu. Mulai dari mengantri, menggiling daging, pencampuran daging giling dengan tapioka dan bumbu. Meski demikian proses ini cukup membantu meringankan pekerjaan para pedagang bako. Adonan siap masak ini selanjutnya dibawa pulang dan siap diolah.
Kenapa pedagang bakso di Leuwiliang banyak sekali ya? Bisa jadi karena masyarakatnya, seperti yang saya singgung di atas memang penggila Bakso. Begitulah Hukum Permintaan yang berlaku, ada permintaan maka ada penjual. Padahal, tidak semua pedagang bakso itu warga pribumi lho. Bahkan kalau dicermati, sebenarnya banyak sekali warga pedatang yang mengais rezeki di sana dengan berprofesi sebagai pedagang bakso.
Berdasarkan hasil obrolan dan pengamatan super iseng saya......ditengarai pedagang bakso di Pasar Leuwiliang ini sebagian merupakan pendatang dari Wonogiri. Nah, sist, bro and guys sekalian mungkin sekali waktu bisa memperhatikan dialek para pedagang ini ketika melayani pembelinya. Ada dua dialek utama yang dapat dikenali: Dialek Sunda atau Jawa. Jika si pedagang mengunakan dialek Jawa, besar kemungkinan ia berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.
Wonogiri di Jawa Tengah dan Malang di Jawa Timur merupakan dua wilayah yang terkenal sebagai sumber persebaran para pedagang baso. Kedua jenis bakso dari kedua tempat ini berbeda sekali. Jika menelisik penampakan bakso di kedai-kedai Bakso di Leuwilang, dapat dikatakan merupakan jenis bakso dari Wonogiri.
Ini jelas fenomena yang cukup mengerikan guys......! (Ups....jangan serius yaa.....Seklai lagi, saya sedang iseengg banget smile emotikon )
Jangan bicara soal imperialisme ya...kalau masyarakat Leuwiliang sendiri tidak sadar telah dijajah oleh masyarakat Wonogiri. Kegilaan akan bakso tanpa disadari merupakan bentuk penjajahan, invasi kuliner yang melenakan indera pengecap kita. Bayangkan.....para perantau Wonogiri itu telah berhasil menciptakan ketergantungan akut masyarakat Leuwiliang akan hidangan bernama bakso, he..he...he...
Jangan bicara soal imperialisme ya...kalau masyarakat Leuwiliang sendiri tidak sadar telah dijajah oleh masyarakat Wonogiri. Kegilaan akan bakso tanpa disadari merupakan bentuk penjajahan, invasi kuliner yang melenakan indera pengecap kita. Bayangkan.....para perantau Wonogiri itu telah berhasil menciptakan ketergantungan akut masyarakat Leuwiliang akan hidangan bernama bakso, he..he...he...
Tapi begitulah kuliner...bakso tetaplah bakso. Sebuah hidangan gurh dan lezat yang mampu mengusir rasa lapar, mencairkan suasana dan mengakraban sebuah perbincangan di sebuah kedai bakso.
Nah temans, sudahkah makan bakso hari ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar