Minggu, 30 Agustus 2015

Saya dan Sandal Jepit




Beberapa teman dekat mengidentifikasi saya sebagai pecinta syal, lantaran dalam banyak kesempatan saya kerap mengenakan kain panjang tersebut. 

Ya..ya..ya... Saya memang pecinta selendang dan kerabat-kerabatnya itu dan nyaman dengan kehadiran mereka. Namun, tidak banyak yang tahu kalau sesungguhnya saya sering merasa saltum, salah kostum. Di mana letak saltumnya? Letaknya tersembunyi jauh di bawah tubuh saya, mendekati permukaan bumi tepatnya alas kaki he..he..he.... 

Ya..sebenarnya saya sering merasa salah kostum lantaran alas kaki saya nggak nyambung dengan pakaian. Pangkal masalahnya karena saya ini pecinta sandal jepit akut, jenis alas kaki yang dibuat massif di pabrik-pabrik berbahan baku karet dengan harga yang sangat terjangkau. Sebenarnya, kecintaan saya akan sandal jepit ini biasa-biasa saja sih....bukan sesuatu yang istimewa, toh banyak orang yang memakai sandal jepit di kesehariannya. Persoalannya, saya sering menyesuaikan kostum dengan sandal jepit saya. Padahal seharusnya, alas kaki menyesuaikan dengan pakaian. Nah...itu kemudian menjadi masalah buat saya, setidaknya bagi saya pribadi. Sering saya sudah memakai baju rapih-rapih hendak ke kampus, dandan dikit biar kelihatan agak cakepan dikit....#Eaaa..... Eh...ndilalah....saya melengkapinya dengan sandal jepit. Ajaibnya, saya merasa biasa saja, normal-normal saja...pokoknya pede sajalah.....orang lain yang melihat mungkin cuma melirik melihat ada sedikit keajaiban pada tampilan saya...hehehe... Pokonya biasa saja deh...Easy going wiss... 

Persoalan mulai muncul tatkala ujian semester di kampus berlangsung. Lantaran pihak Dekanat sering melihat banyak mahasiswanya bersandal jepit ris di kampus, maka terbitlah sebuah aturan yang terasa menyiksa kami. "Peserta Ujian Wajib Memakai Sepatu", demikian bunyi aturan itu yang seolah menjadi kiamat kecil bagi saya dan komunitas pecinta sandal jepit kampus ini. 
dengan segala keterpaksaan, akhirnya saya terpaksa mengeluarkan koleksi sepatu saya yang cuma satu-satunya, memasangnya menutupi kedua kaki saya. Toh, ini hanya akan berlangsung selama ujian semester saja, pikir saya. Dugaan saya agak meleset rupanya, pihak Dekanat mulai memberlakukan kewajiban mengenakan sepatu bagi seluruh peserta perkuliahanAn tepat ketika masa ujian semester berakhir. Wajib! 

Terus terang, kenyataan ini sungguh berat bagi saya, terutama bagi kedua kaki saya dari ujung jari hingga setidaknya mata kaki. Ini bagai sebuah tsunami yang menghantam independensi kedua kaki saya. Jika semula mereka bebas merdeka merasakan angin spoi-sepoi saat saya melangkah menuju kampus, kini mereka dipaksa bersembunyi dalam kegelapan sebuah benda bernama sepatu. Alangkah tersiksanya mereka, ketika hampir seharian harus saling berdesakan dalam sebuah ruang tertutup bernama sepatu. 

Sebulan sejak kebijakan Dekanat berlaku, kesua kaki saya nampaknya mulai bermasalah. Saya mulai merasa gatal-gatal pada beberapa bagian, terutama di sela-sela jari kaki. Tak hanya itu, bau tajam serupa bumbu dapaur hasil fermentasi udang-uadang kecil mulai menghiasi udara di sekitar mereka. Saya menyadari dengan hati penuh, inilah serangan jamur kaki, sesuatu yang saya khawatirkan selama ini. Maka lengkap sudah penderitaan saya sejak ujian semester sebulan yang lalu itu, sejak kewajiban bersepatu di berlakukan di kampus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...