"Makan..e...kakak bawakan kau roti dari Bacan. Enak.."
Tangan Djamaludin merobek plastik pembungkus roti kasur di hadapannya. Sepotong roti dicuilnya untuk disuapkan kepada Yuslan, adiknya.
Tangan Djamaludin merobek plastik pembungkus roti kasur di hadapannya. Sepotong roti dicuilnya untuk disuapkan kepada Yuslan, adiknya.
Momen pertemuan ini tak sedramatik yang saya bayangkan. Tak ada linang air mata dipelupuk mata kedua kakak beradik yang telah terpisah selama lebih dari 16 tahun. Djamaludin dan Yuslan telah melewati hari-hari keras di sepanjang hidup mereka, sehingga hampir tak tertangkap irama kesedihan di wajah mereka.
Saya tak habis fikir, apa istimewanya roti yang dibawa Djamaludin jauh-jauh dari Bacan itu? Roti itu terlihat biasa-biasa saja dan saya sudah bisa menebak rasanya juga pasti biasa saja. Hanya jenis roti pengganjal perut dalam keadaan lapar.
Namun, bagi Djamaludin tampaknya roti ini adalah media penyampai isi hatinya kepada Yuslan. Roti dari Bacan dianggap penawar kerinduan akan kampung halaman. Ketidaksabaran tangannya merobek plastik pembungkus roti adalah kekhawatirannya jikalau adiknya lapar belum makan. Suapan tangannya mewakili isi hatinya betapa ia ingin mendekap adiknya.
Barangkali demikian, sepotong roti sudah lebih dari cukup untuk mewakili adegan dramatik yang penuh airmata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar