Pohon Sirsak kecil itu kutemukan di muka rumahku. Ia tumbuh tepat di atas lahan kosong, tempat aku biasa menyemai beragam biji buah. Rupanya, di antara keping-keping benih yang kusemai, hanya satu yang diam-diam tumbuh dengan segala daya hidupnya.
Sejak kutemukan pada pagi yang mulai terik itu, aku langsung menghujaninya dengan segala cinta yang tersimpan berlimpah dalam gudang-gudang di hatiku. Setiap pagi dan sore hari, selalu kuguyurkan air kesejukan, membasahi segenap permukaan daun, batang hingga pada permukaan tanah dan menelusup pada akar-akarnya yang kehausan.
Hari berganti, pohon mungilku mulai meninggi, jangkung bak remaja yang tumbuh dengan segala pesonanya. Aku tak pernah bosan terpikat padanya, Pohon Sirsak yang tumbuh tiba-tiba di halaman rumahku.
Pada setiap pucuk-pucuk daunnya yang hijau memutih, kutitipkan semua harapanku. Meski, kelak tiap helai daun akan gugur pada masanya atau satu persatu tetangga berdatangan memetiknya, dengan dalih merebusnya untuk obat herbal.
Tidak, hatiku tak pernah patah pada setiap guguran daun yang mengering atau pada setiap petikan jemari pada tetangga. Aku melapangkan keikhlasan pada guguran dan petikan yang datang secara berkala.
Suatu masa, kemarau datang bertamu dan berdiam lama menahun. Aku tetap membasuhkan Pohon Sirsak di pagi dan sore hari namun ia telah meninggi dan membesar. Air yang kubasuhkan tak cukup lagi bagi akar-akarnya yang kian dahaga. Persediaan air dalam sumur di samping rumah mulai menyusut, padahal ia kian membutuhkan lebih banyak air.
Aku tetap menyiramkan air, mula-mula hanya setengah ember, lalu seember....rupanya sember air tak cukup bagi pohon yang kian membesar itu. Kulipatgandakan menjadi dua ember, tak cukup...akar-akarnya meronta kehausan bagai anak kecil yang merengek hendak menyusu pada ibunya. Kuguyurkan lagi air sebanyak tiga, empat, lima, enam....hingga sepuluh ember pada setiap pagi dan sore hari.
Air di dalam sumur sudah tak lagi menyusut, melainkan kering tak bersisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar