Rabu, 16 Maret 2016

Paulina del Valle dan Marionetnya

Pada kenyataannya, perempuan yang menarik perhatianku bukanlah Aurora del Valle sang pemeran utama, melainkan Paulina del Valle sang nenek. Paulina del Valle, perempuan perkasa pada zamannya, masa di mana budaya patriarki masih mengakar kuat di tengah keriuhan demam para penambang emas di San Fransisco. Masa-masa paling liar di awal pembentukan sebuah negara bernama Amerika, masa penaklukan para penjelajah atas para pribumi.
Paulina, dianugerahi bakat perniagaan yang cemerlang, meski harus hadir secara in absentia. Buadaya patriarki masih mengharamkan kehadiran perempuan dalam ranah publik terutama ketika harus mengunjungi langsung lokasi-lokasi lahan niaga. Tak terbayangkan perempuan tidak cantik dengan lemak yang melilit sekujur tubuhnya ini mampu menjadikan suaminya seolah boneka marionet, hadir pada pertemuan-pertemuan bisnis untuk mewakili keberadaan dirinya, yang sesungguhnya otak dari segala keberhasilan kerajaan niaga yang menggurita.
Tiba saat suaminya wafat, pintu-pintu segera menutup bagi para janda. Tak ada tempat bagi para janda di ruang publik. Namun, keberuntungan adalah teman setianya. Adalah Frederick William sang pelayan sejati yang menawarkan diri menggantikan posisi mendiang suaminya sebagai jalan pembuka bagi ruang-ruang publik. Lelaki dengan segala ketenangan dan rasionalitasnya yang tetap setia pada pelayanan tanpa berkhianat hingga di akhir hayat Paulina del Valle. (Portrait in Sephia, Isabel Allende)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...