Sabtu, 12 Maret 2016

MERICA

“Aku nggak mau makan.......supnya pedas!” *************** Saat masih kecil, saya pernah membenci merica karena rasa pedas yang tiba-tiba menggiggit lidah saat menikmati semangkuk sup dan nasi putih. Dan itu berlangsung cukup lama, berbelas tahun. Merica di dapur saya hanya berupa bubuk dalam kemasan instan. Benar-benar hanya sebagai bumbu pelengkap. Baru beberapa tahun belakangan ini, saya menyadari betapa memikatnya aroma dan rasa yang dihadirkan merica. Dan, saya juga baru menyadari bahwa menyajikan merica bubuk akan sangat berbeda sensasinya dengan merica hasil gerusan dari butir-butir yang masih utuh.
Butir-butir utuh merica saat dihaluskan sesaat sebelum diolah akan menghadirkan aroma yang menggugah selera makan, hangat dengan rasa pedas yang kuat. Saya kerap menghidu aroma merica seraya membayangkan, betapa aroma dan rasa pedas yang sama telah memikat begitu banyak manusia dalam kurun waku ribuan tahun. Bahkan, perjalanan bangsa ini turut diwarnai oleh aroma yang sama. Cerita perjalanan merica hampir sama tuanya dengan kisah negeri ini. Tentang bagaimana rempah ini menjadi komoditas yang diperebutkan negeri lain, kisah-kisah persaingan dagang antar negara, penciptaan-penciptaan lahan-lahan baru hingga pada kemewahan-kemewahan kuliner di atas keringat para petani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...