Membaca memoar Fermy Nurhidayat mengingatkan saya pada NH Dini. Hampir seluruh karya NH Dini didasarkan pada perjalanan kisahnya sendiri. Bahkan, 3 novelnya: La Barka, Pada Sebuah Kapal dan Dari Fontenay ke Meggalianess jika ditilik sesungguhnya berisi kisah yang sama: Kekecewaan seorang istri terhadap suami, dengan menanggung beban 2 orang anak.
Ketiga novel dengan sumber cerita yang sama yaitu kisah hidup sang penulis, menggunakan sudut cerita yang berbeda. Mungkin Fermy Nurhidayat bisa memproduksi karya selanjutnya dengan tetap berpegang pada perjalanan kisah hidupnya dengan menarik berbagai sudut pandang yang berbeda.
Setidaknya, bagi saya, karya pertamanya ini terutama dtujukan bagi teman-teman sesama ODGK (Orang Dengan Gangguan Kejiwaan) dapat memberikan inspirasi dan mengikis stgma negatif yang kadung melekat pada diri ODGK.
Fermy Nurhidayat dalam memoarnya, mengisahkan perjuangan seorang ODGK menggapai mimpi. Ia terhitung pandai, lolos masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Nasib mengantarkannya pada kondisi Drop Out dari fakultas tersebut. Ia tak patah arang, bersekolah kembali ke bangku SMA yang berbeda demi mengikuti UMPTN. Berikutnya ia lolos Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menjadi sajana teknik setelah melewati perjuangan "berdarah-darah" selama sepuluh tahun. Kedukaan dan kelaranestapaannya mampu dituangkan dalam balutan yang serius, bernas dan diselingi canda jenaka. Itulah mengapa memoarnya di beri judul "Bercanda dalam Duka".
Ihwal ilustasi novelnya yang berlatar Gedung Pusat (Baairung) Universitas Gadjah Mada nampaknya dimaksudkan pada perjuangannya menempuh pendidikan yang susah payah dijalaninya. Perihal ini saya sempat berseloroh: "Oalah mas, kamu itu apa mau menyaingi "Cintaku di Kampus Birunya" mas Ashadi Siregar?". Saya mengingatkannya pada sebuah novel yang kadung melegenda dengan latar belakang yang sama, pilar-pilar pada gedung pusat UGM. Ia tertawa cekikian seperti biasa.
"Jangan-jangan......novelmu ini bisa tertukar dengan Buku Alumni yang diterbitkan setiap wisuda". Sebuah buku berisi foto dan data diri alumni-alumni baru juga bergambar foto gedung pusat. Sekali lagi ia cekikikan, persis ringkik kuda yang sering saya dengar di Jalan Malioboro. Hi..hi...hi....
Saat ini, ia menjalani keseharian dengan terus menulis, menulis dan menulis. Kebiasaannya ini telah ditekuninya sejak bangsu SMA, sebuah terapi yang baik bagi upaya kesehatan jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar