Senin, 20 Juni 2016

Bertiga Bukan Dara; Kisah Para Penyintas dalam Menghias Kenyataan Hidup

Malam........ suara jangkrik terdengar samar bersamaan dengan meredupnya matahari. Lamat-lamat terdengar suara seorang perempuan mengaji dalam keheningan yang demikian khusyuk, ketika secara tiba-tiba terdengar suara benda jatuh mengagetkannya. Tangan kanannya reflek menggenggam sebilah golok yang sedari tadi tergeletak di sampingnya. “Siapa itu? Mas Wawan?” Tak ada jawaban. Sepi. Sunyi. Ia melanjutkan kembali lantunan ayat-ayat suci di hadapannya. Sementara itu, di tempat lain dalam sebuah rumah. Di atas sebuah sofa merah, seorang anak perempuan tengah asyik bermain bersama bonekanya seraya membuka-buka sebuah album foto. Tiba-tiba ia tertegun menatap salah satu gambar di hadapannya. Matanya terlihat mencari-cari dan mereka-reka. “Buunn...!!.” Ia memanggil ibunya.
Siang yang terik di barak-barak sebuah pelatihan militer. Tentara berbaris, berlatih fisik. “Tu..Wa...Ga...Tu...Wa...Ga....” . Seorang perempuan berseragam militer melakukan scout jump. Peluh membasahi tubuhnya. Ia terus berlatih, kali ini melakukan push up. Kembali menghitung dalam ritme yang sama.
Ketiga adegan tersebut menandai awal pementasan Bertiga Bukan Dara; Menghias Kenyataan Hidup. Sebuah pementasan yang menghadirkan tiga naskah berbeda dalam satu panggung. Pentas ini menampilkan realitas keseharian tiga perempuan dewasa. Ketiganya menyaksikan dan mengalami diskriminasi dan ketidakadilan yang berlangsung di sekitarnya.
Lakon “Burung Panglima” yang ditulis Nunung Deni Puspitasari dan Satmoko Budi Santoso mengisahkan sebuah paradoks. Seorang perempuan tentara nekad membeberkan realitas tes keperawanan saat menjalani seleksi masuk dinas ketentaraan. Ia bersiap menghadapi resiko terbesar dari institusi tempatnya mengabdi, lantaran mendapati kenyataan seorang perempuan yang gagal menggapai impian menjadi seorang tentara. Perempuan yang dijumpainya di geladak sebuah kapal, mengalamikekerassan seksual di masa kecil.
Penulis Andy Sri Wahyudi berkisah tentang “Nuning Bacok” . nuning Bacok adalah seorang penyanyi dangdut yang kerap mengalami pelecean akibat profesi yang dijalaninya. Suatu ketika ia hendak diperkosa, namun seorang lelaki bernama Wawan menjadi dewa penolongnya dari kemungkinan tersebut. Kelak mereka menikah setelah mengalami masa saling jatuh cinta yang cukup dalam. Taun berlalu, tanpa disadarinya, sang suami perlahan memanipulasinya sebagai pencari nafkah.
Dalam “Ketika Sasi Bertanya”, Ruwi Meita mengisahkan seorang ibu yang menhadapi kesulitan kala si anak menemukan kenyataan bahwa tanggal kelahirannya hanya berselang 2 bulan dari tanggal perkawinan kedua orang tuanya. Perceraian kedua orang tuanya tidak mengurangi curahan kasih sayang kepada si anak. Sang ibu dihantui rasa gelisah akan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sang anak.
OMNIBUS, TWISTING, ROLLERCOASTER
Ketiga lakon yang sesungguhnya adalah tiga kisah yang berbeda, dipelakukan secara istimewa oleh Forum Aktor Yogya dan Teater Amarta. Ketiga cerita dipilin sedemikian rupa, dijejalkan di atas satu pentas yang sama. Penonton diajak berpetualang dari satu fragmen ke fragmen lain, dari satu emosi ke emosi lain yang terkadang naik, terkadang meluncur turun. Emosi penonton diaduk-aduk persis seperti menumpngi wahana roller coaster di taman-taman hiburan modern.
Sutradara Jamaluddin Latif cukup piawai mengarahkan para aktor Verry Handayani, Nunung Deni Puspitasari dan Lis ImpianStudio untuk tetap memiliki stamina dari awal hingga akhir. Tentu saja, jam terbang para aktor sangat berperan dalam menampilkan pentas antar fragmen ini. Bayangkan saja, saat Lis ImpianStudio baru saja memerankan Nuning Bacok tengah berpentas dangdut dengan kostum ala penyanyi dangdut, seketika ia harus pindah fragmen memerankan seorang ibu. Atau, tengok saja Verry Handayani yang dalam lakon “Ketika Sasi Bertanya”berperan sebagai ibu rumah tangga, di detik berikutnya harus berperan sebagai pemuda pemabuk yang hendak memperkosa Nuning Bacok. Lain lagi dengan Nunung Deni Puspitasari yang peran utamanya adalah sorang perempuan tentara, tiba-tiba harus menerima panggian sebagai MC panggung dangdut tujuh belasan ala kampung-kampung di Indonesia.
Inilah 3 cerita dalam 1 pentas, 3 in 1. Meski persis seperti judul sebuah program kawasan kendaraan di ibukota atau ramuan kopi instant yang berisi kopi, gula dan krimer, namun “Bertiga bukan Dara” bukan sesimple itu. Banyak kisah dan isu yang bisa dijadikan pemantik dalam obrolan tentang kisah-kisah perempuan dalam keseharian kita.
Perempuan-peremuan dalam lakon “Bertiga bukan Dara” ada dan hadir di sekeliling kita. Bukan tidak mungkin mereka adalah kita, kita adalah mereka. Merekalah para penyintas yang terus berupaya bertahan dan mempertahankan hidup dalam keadaan apapun. Penyintas bukan sekedar korban, penyintas adalah para pejuang yang terus berupaya mempertahankan hidupnya dalam segala keterbatasannya.


1 komentar:

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...