ekitar tahun 2006, ketika saya mengontrak rumah di wilayah Sunter Jaya, Jakarta Utara, saya bertetangga dengan komunitas perantau dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Sebagian masih hidup membujang dan sebagian lagi sudah berkeluarga, keluarga muda tentunya. Keluarga muda ini, sebagaimana saya dan suami yang baru memiliki seorang anak, umumnya memiliki bayi atau balita.
Salah seorang tetangga Flores bernama Mama Yessy, memiliki anak berusia 7 bulan bernama Glenn, sebaya dengan anak pertama saya. Setiap hari kami memiliki aktivitas serupa, memasak, mencuci baju, mencuci piring, momong anak dan macam-macam rutinitas kami, sebagai seorang ibu rumah tangga. Bertetangga dan beraktifitas bersama hampir setiap hari, membuat saya menjadi tahu pola asuh anak ala Flores, paling tidak ala Mama Yessy ini. Mulai dari cara menggendong anak, pola komunikasi yang intensif dan menu lauk pauk.
Jika pada umumnya seorang ibu menggendong bayi dengan posisi tubuh di depan atau menyamping, maka Mama Yessy memiliki cara tersendiri. Ia menggendong anaknya dengan posisi sang anak berada di punggungnya, sehingga ketika terpaksa harus memasak sambil menggendong bayi, sang bayi akan aman dari cipratan minyak goreng yang panas. Beberapakali saya mencoba menerapkan cara menggendong seperti itu, namun elalu mengalami kegagalan meski Mama Yessy dengan sabar berusaha mengajari saya.
Tidak seperti anggapan banyak orang tentang pola komunikasi masyarakat pedesaan yang kurang intens, Mama Yessy yang berasal dari sebuah desa di Kecamatan Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur merupakan seorang ibu muda yang sangat komunikatif terhadap anaknya. Setiap hari, ia selalu bercakap-cakap dengan bayinya. Terkadang ia menyanyikan lagu-lagu riang dalam bahasa Flores, yang saya sama sekali tidak mengerti artinya.
Soal menu makanan, Mama Yessy hampir setiap hari masak menu ikan dan sayur. Kebetulan harga ikan di wilayah Sunter lumayan murah, bisa jadi karena jarak antara wilayah Sunter dengan Pasar Ikan Muara Karang tidak terlalu jauh. Menurut Mama Yessy, di kampungnya mereka memang terbiasa mengkonsumsi ikan laut. Bisa jadi karena ketersediaan yang hasil laut melimpah ditambah harga yang masih murah di Flores sana.
Ada cerita menarik tentang menu yang hampir setiap hari juga dimasak dan dikonsumsi oleh Mama Yessy dan keluarga, termasuk komunitasnya. Bila bagi sebagian besar ibu menyusui, daun katuk diyakini berkahasiat memperbanyak ASI, lain halnya dengan Mama Yessy. Beliau lebih banyak memasak sayur daun singkong sebagai pengganti Daun Katuk. Menurut penuturannya Daun Katuk terbilang langka di wilayah Flores. “Susah sekali mendapatkan daun katuk. Jadi kami lebih sering menggantinya dengan daun singkong” tutur Ibu Yessy.
Beberapa kali saya terlibat masak bersama dengan Mama Yessy. saya jadi tahu persis menu sayur istimewanya ini. Pertama-tama daun singkong direbus, air rebusan dibuang. Daun singkong hasil rebusan diiris-iris lalu di tumis bersama irisan bawang merah, bawang putih dan sedikit penyedap rasa. Terkadang, ia menambahkan segengam kacang hijau sebagai bagian dari bahan baku sayur daun singkong.
Penasaran dengan efek pada ketersediaan ASI, saya pernah mencoba mengkonsumsi sayur Daun Singkong sehari penuh, tentu dengan menu lengkap lauk ikan, nasi dan sayur. Sedari pagi, siang, sore hingga alam hari, saya makan sebanak mungkin dengan menu yang sama. Terus terang, seharian dengan menu yang sama membuat saya bosan bukan kepalang, rasanya mau memuntahkan isi perut saya. Tapi, saya memaksakan diri melakukan eksperimen ini.
Keesokan hari, sebuah keajaiban tiba-tiba muncul. Dada saya kembali membengkak seperti saat di awal-awal persalinan. Ketika menyusui anak saya, ASI mengucur deras…. mengenyangkan perut anak saya hingga siang hari ia terlelap puas. Saya juga puas telah membuktikan kepada diri sendiri bahwa pola makan lengkap nasi, lauk dan sayur (dengan jenis sayur apapun) ditambah susu adalah cara paling mudah mempertahanan ketersediaan ASI di masa menyusui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar