Libur akhir tahun, kami membawa Eda dan Nawal ke Pantai Parang Kusumo. Sebelumnya kami mengunjungi Raisya, Janeta dan Tante Nova di kediaman Mbah Puterinya di Kretek.
Semula kami ingin bersama-sama Raisya berwisata ke Pantai Depok, namun karena kerepotan mamanya dengan adik Janeta maka kami berharap ada kesempatan di lain waktu untuk berwisata bersama.
Dalam perjalanan, akhirnya kami memutuskan ke Pantai Parang Kusumo untuk bersliding-ria.
Hamparan gumuk pasir yang luas membuat kami serasa berada di gurun sahara. Gumuk pasir merupakan satu-satunya gurun pasir yang ada di Indonesia, kawasan ini membentang sejauh 15,7 km dari hulu Sungai Opak hingga Pantai Parang Tritis. Sedangkan sepanjang garis pantai membentai sepanjang 2 km.
Saat kami tiba, hamparan pasir ini basah usai hujan deras pada pagi hari disusul gerimis sepanjang hari. Eda dan Nawal segera bergegas berlari ke tengah-tengah bebukitan gumuk pasir. Saat menemukan sebuah puncak gumuk pasir, ayah langsung main perosotan srrrrttttt........... Selanjutnya Eda dan Nawal tak henti ikut bermain seluncur, walau semula takut-takut namun akhirnya ketagihan....he...he...he.. Srrrtttt......... bolak-balik ke atas lalu meluncur kebawah.....
Gumuk pasir ini rupanya membuat anak-anak takjub, mereka berlari ke sana kemari, naik turun bukit pasir ini....demi mencari sesuatu yang baru yang bisa mereka temukan.
Beberapa kali Nawal memisahkan diri seolah tengah menyelidiki sesuatu....... Saya menanyakan apa yang sedang dicarinya.... "Nawal mencari bulu babi..."
Ha..ha..ha... Rupanya Nawal penasaran sekali, apakah bulu babi ada di sekitar gumuk pasir ini. Eda dan Nawal selalu mengidentikan bahwa di setiap pantai pasti ada bulu babi, sebagimana pengalaman mereka ketika menemukan bulu babi di Pantai Indrayanti, Gunung Kidul. Ditambah dengan ingatan mereka saat menyaksikan tayangan Si Bolang di Trans7 tentang anak-anak yang berburu hewan Bulu Babi untuk dimakan.
Usai puas bermain perosotan, naik-turun bukit, berlari-lari........kami menuju destinasi selanjutnya ke arah timur.....
Ya! Kami menuju Pantai Parang Tritis.
Di Pantai Parang Tritis ini kami menyaksikan banyaknya pengunjung yang akan menghabiskan sisa waktu akhir tahun. Banyak yang memilih menggelar tikar di hamparan pasir sambil menikmati jagung bakar, minum air kelapa muda, nyanyi bersama dan ada juga yang mendirikan tenda untuk camping di malam hari. Bahkan beberapa pengunjung memeriahkan suasana dengan menyalakan beberapa kembang api.
Sebagian pengunjung juga ada yang asyik bermain air di antara debur ombak laut selatan. Ada yang asyik menimati tubuhnya dihantam ombak, bermain bola, hingga ada juga yang asyik surfing jauh ke arah kumpulan ombak yang berkejaran saling menggulung.
Di tepi pantai, kami menikmati sedikit sensasi ketika ombak menepi hingga jauh menjorok ke daratan.....Eda dan Nawal semula panik bukan main ketika sisa-sisa deburan ombak menggenangi kaki mereka hinga setinggi betis. Kami menenangkan dan mengingatkan mereka agar tidak panik, tidak berlari....cukup berdiam diri saja hingga air kembali surut.
Sia-sisa debur ombak yang kembali ke laut membuat kita seolah-olah digiring ke arah laut.......jadi semacam hipnotis alamiah, kenyataannya kaki kita tetap berpijak pada lokasi yang sama,
Saat hari beranjak malam, kami meninggalkan pantai untuk makan malam di kedai-kedai sekitar pantai ini. Tidak lupa saya membeli sedikit cemilan khas laut berupa keripik rumput laut dan peyek undur-undur.
Pukul 19.30, kami begegas kembali pulang ke rumah......menghabiskan malam pergantian tahun dengan istirahat di dalam rumah yang hangat. Selamat Tahun Baru 2014!
Semula kami ingin bersama-sama Raisya berwisata ke Pantai Depok, namun karena kerepotan mamanya dengan adik Janeta maka kami berharap ada kesempatan di lain waktu untuk berwisata bersama.
Dalam perjalanan, akhirnya kami memutuskan ke Pantai Parang Kusumo untuk bersliding-ria.
Hamparan gumuk pasir yang luas membuat kami serasa berada di gurun sahara. Gumuk pasir merupakan satu-satunya gurun pasir yang ada di Indonesia, kawasan ini membentang sejauh 15,7 km dari hulu Sungai Opak hingga Pantai Parang Tritis. Sedangkan sepanjang garis pantai membentai sepanjang 2 km.
Saat kami tiba, hamparan pasir ini basah usai hujan deras pada pagi hari disusul gerimis sepanjang hari. Eda dan Nawal segera bergegas berlari ke tengah-tengah bebukitan gumuk pasir. Saat menemukan sebuah puncak gumuk pasir, ayah langsung main perosotan srrrrttttt........... Selanjutnya Eda dan Nawal tak henti ikut bermain seluncur, walau semula takut-takut namun akhirnya ketagihan....he...he...he.. Srrrtttt......... bolak-balik ke atas lalu meluncur kebawah.....
Gumuk pasir ini rupanya membuat anak-anak takjub, mereka berlari ke sana kemari, naik turun bukit pasir ini....demi mencari sesuatu yang baru yang bisa mereka temukan.
Beberapa kali Nawal memisahkan diri seolah tengah menyelidiki sesuatu....... Saya menanyakan apa yang sedang dicarinya.... "Nawal mencari bulu babi..."
Ha..ha..ha... Rupanya Nawal penasaran sekali, apakah bulu babi ada di sekitar gumuk pasir ini. Eda dan Nawal selalu mengidentikan bahwa di setiap pantai pasti ada bulu babi, sebagimana pengalaman mereka ketika menemukan bulu babi di Pantai Indrayanti, Gunung Kidul. Ditambah dengan ingatan mereka saat menyaksikan tayangan Si Bolang di Trans7 tentang anak-anak yang berburu hewan Bulu Babi untuk dimakan.
Usai puas bermain perosotan, naik-turun bukit, berlari-lari........kami menuju destinasi selanjutnya ke arah timur.....
Ya! Kami menuju Pantai Parang Tritis.
Di Pantai Parang Tritis ini kami menyaksikan banyaknya pengunjung yang akan menghabiskan sisa waktu akhir tahun. Banyak yang memilih menggelar tikar di hamparan pasir sambil menikmati jagung bakar, minum air kelapa muda, nyanyi bersama dan ada juga yang mendirikan tenda untuk camping di malam hari. Bahkan beberapa pengunjung memeriahkan suasana dengan menyalakan beberapa kembang api.
Sebagian pengunjung juga ada yang asyik bermain air di antara debur ombak laut selatan. Ada yang asyik menimati tubuhnya dihantam ombak, bermain bola, hingga ada juga yang asyik surfing jauh ke arah kumpulan ombak yang berkejaran saling menggulung.
Di tepi pantai, kami menikmati sedikit sensasi ketika ombak menepi hingga jauh menjorok ke daratan.....Eda dan Nawal semula panik bukan main ketika sisa-sisa deburan ombak menggenangi kaki mereka hinga setinggi betis. Kami menenangkan dan mengingatkan mereka agar tidak panik, tidak berlari....cukup berdiam diri saja hingga air kembali surut.
Sia-sisa debur ombak yang kembali ke laut membuat kita seolah-olah digiring ke arah laut.......jadi semacam hipnotis alamiah, kenyataannya kaki kita tetap berpijak pada lokasi yang sama,
Saat hari beranjak malam, kami meninggalkan pantai untuk makan malam di kedai-kedai sekitar pantai ini. Tidak lupa saya membeli sedikit cemilan khas laut berupa keripik rumput laut dan peyek undur-undur.
Pukul 19.30, kami begegas kembali pulang ke rumah......menghabiskan malam pergantian tahun dengan istirahat di dalam rumah yang hangat. Selamat Tahun Baru 2014!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar