Jumlah angkringan di seantero Yogyakarta bisa jadi mencapai ribuan namun angkringan yang memiliki keunikan tersendiri mungkin tidak banyak jumlahnya.
Salah satu angkringan unik yang sekaligus memiliki fungsi sebagai ruang komunitas adalah Angkringan Kedai Panjat. Di sini, selain bisa menuntaskan rasa lapar dan kongkow-kongkow, terdapat pula fasilitas Panjat Dinding indoor.
Angkringan ini milik sepasang suami istri yang berprofesi sebagai atlet & pelatih panjat dinding, Adhe Gustadi dan istrinya Tutut Gendok.
Terletak di pinggir Jalan Raya Kalasan Yogyakarta, tepatnya di seberang Jembatan Timbang Bogem, awalnya rumah mereka menjadi tempat berlatih teman2 atlet panjat dinding...lalu mereka iseng menyediakan sekedar menu pengganjal perut ala angkringan ini.
Sarana dinding panjat ini sudah mulai "dicicil" sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Kediaman itu juga sempat "nganggur" ketika keduanya menjadi atlet perwakilan Provinsi Jawa Tengah yang memusatkan pelatihan di kota Purwokerto. Sejak sepuluh tahun lalu itu pula, keduanya tetap merajut impian mendirikan sekolah panjat dinding bagi anak2 usia dini sebagai sarana regenerasi atlet olahraga panjat dinding.
Perlu diketahui, olahraga yang memicu adrenalin ini masih terhitung baru di tanah air. Olahraga ini semula ditekuni kalangan mahasiswa pecinta alam di kampus-kampus dan selanjutnya mengalami perkembangan yag cukup signifikan.
Panjat dinding mulai diresmikan menjadi salah satu cabang olahraga sejak PON XVI di Palembang (tahun 2004). Ketika itu, hampir semua atletnya merupakan jebolan mapala-mapala di seluruh Indonesia. Bisa dibilang olahraga ini lahir di kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar