Sejak Unesco menganugerahkan Batik sebagai Karya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia Oktober 2009 maka Bulan oktober dinobatkan menjadi Bulan Batik. Penganugerahan ini adalah buah kerja panjang banyak pihak mulai pelaku industri, pekerja industri, desainer dan seniman batik hingga masyarakat umum penggunanya.
Salah satu pejuang gigih Batik adalah desainer Iwan Tirta. Meski berlatar pendidikan ilmu hukum, ketertarikannya yang luar biasa terhadap Batik menjadikannya seorang yang gigih mengembangkan batik khas Indonesia. Ia tak hanya merancang namun juga melakukan upaya pendidikan, penelitian bahkan pengembangan filosofi Batik Indonesia.
Saya mengenal Iwan Tirta pada periode akhir 80-an lewat halaman-halaman mode majalah perempuan koleksi mendiang nenek saya, seorang penjahit. Kala itu saya tidak terlalu 'ngeh' dengan artikel-artikel pada halaman fashion tersebut, saya hanya membaca sambil lalu.
Sebagai maestro, kejelian Iwan Tirta mengolah motif-motif batik dalam kesan modern dan kualitas yang tinggi membuat karya-karyanya tak mudah diduplikasi. Keistimewaan karyanya terletak pada detail proses yang bisa mengalami pewarnaan tiga hingga empat kali, bahkan motifnya dibuat dua sisi, bolak-balik. Semua itu mampu menghasilkan paduan dan struktur warna yang indah dan seakan nyata.
Salah satu milestone dalam perjalanan karya Iwan Tirta adalah saat mempersembahkan rancangan batik pada perhelatan KTT APEC di Istana Bogor tahun 1994. Seluruh kepala negara peserta forum tersebut mengenakan pakaian tradisional batik dalam bentuk kemeja.
Seorang Nelson Mandela pertama kali jatuh cinta justru pada batik karya Iwan Tirta dan sejak itu mengenakan batik dalam kesehariannya. Bahkan di Afrika Selatan, kemeja motif batik mendapat julukan baru "Madiba Shirt". Konon mantan Presiden Soeharto pernah menghadiahkan satu kontainer batik rancangan Iwan Tirta kepada Mandela.
Hingga saat wafatnya di tahun 2010, Iwan Tirta telah mewariskan tak kurang dari 10 ribu motif batik berikut pakem dan filosofi. Pemikiran-pemikirannya juga dituangkan dalam sebuah buku berjudul Batik Sebuah Lakon.
Di balik semua prestasi yang cemerlang, sang maestro tetap berendah hati dengan menolak batik sebagai karya cipataannya. Ia mengaku hanya berupaya untuk menjaga dan melestarikannya saja. "I didn't create batik, but I preserved and nurtured it like a caretaker" - Iwan Tirta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar