Ketika menyebut nama Affandi, tentu yang terlintas di benak kita adalah seorang lelaki tua dengan penampilan blepotan cat minyak di tangan dan bajunya, serta dengan hasil karya lukisnya yang tak kalah acak-acakan. Meski terlihat acak-acakan, hasil karyanya sangat dihargai masyarakat hingga ke manca negara. Ketika mengunjungi museum lukisnya, saya tak hanya menemukan Affandi sebagai seorang maestro lukis belaka. Saya juga mendapati Affandi sebagai buah hati dalam keluarganya: istri, anak hingga cucunya.
Museum lukis ini sungguh-sungguh sebuah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan antara Affandi dan seluruh anggota keluarganya. Kompleks galeri ini tak hanya sebagai ruang pamer karya seluruh anggota keluarga, namun juga sebagai rumah tinggal, studio lukis hingga menjadi tempat dimana Affandi dan Maryati istrinya dikebumikan. Sebuah passion yang mendarahdaging dalam jiwa seluruh anggota keluarga.
Museum ini terletak di perbatasan kota, tepat di pinggir kali Gajah Wong. Penanda utamanya adalah sebuah pohon Kapuk Randu tua yang berukuran raksasa....tinggi dan besar. Saya menaksir usianya lebih dari seratus tahun.
Saya mengenal sosok Affandi lewat berita-berita di televisi ketika duduk di bangku sekolah dasar. Acara Dunia Dalam Berita di TVRI kerap menayangkan aktivitas pameran seniman lukis itu, termasuk tayangan saat beliau tengah melukis dengan gaya yang unik. Cat lukis diplorotkan dengan sekenanya, lalu disapukan menggunakan jari-jari. Sesekali jari-jarinya mengelap pada bajunya yang sudah blepotan cat minyak. Warna bajunya sudah tidak karuan. Gaya melukisnya unik, ekspresif dan jauh dari kesan artistik.
Sementara Nawal ,puteri saya, mengenalnya lewat pelajaran di sekolahnya. Dia mengenal Affandi disertai sebuah kalimat pelengkap: pelukis terkenal.
Dulu, saya cuma mendengar bahwa Affandi adalah seorang pelukis beraliran abstrak. Karya lukisnya tidak jelas dan berantakan. Maklum saja, ketika itu banyak orang yang membadingkannya dengan gaya lukisan Basuki Abdullah yang terlihat lebih riil dan langsung bisa ditangkap keindahannya. Dikemudian hari, saya menemukan Affandi sebagai pelukis beraliran ekspressionis.
Ketika berkesempatan mengunjungi galeri sekaligus museum karya-karyanya, baru saya paham mengapa karya-karya Affandi dikagumi banyak orang. Melihat secara langsung lukisan-lukisannya, rasanya saya turut merasakan energi di dalamnya, bagaimana passionnya saat mengejawantahkan ide-ide ke permukaan kanvas. Plorotan langsung cat minyak dari tube ke permukaan kanvas, menghasilkan efek tiga dimensi yang kuat. Saya juga sempat menerka-nerka, kira-kira habis berapa banyak cat minyak dengan gaya yang boros ini ya?
![]() |
| Suasana interior Galeri 1 secara keseluruhan yag sangat artistik. Keseluruhan gedung di kompleks musem ini berbentuk melengkung sehingga tampak fotogenik dalam bidikan kamera. Perhatikan mobil kuning yang berada di latar belakang foto, bentuk dinding yang melengkung dan menyudut menampilkan kesan kedalaman dan efek menghilang. Warna cat dinding yang mencolok dan lantai yang bermotif catur mengingatkan pada setting film "Alice in Wonderland" |
Lukisan Affandi ternyata tidak seabstrak yang saya bayangkan ketika masih kecil. Judul lukisan bisa memandu kita dalam memaknai lukisan-lukisan Affandi. Pada beberapa lukisan yang cukup rumit saya mencoba menikmati dengan cara memicingkan kedua mata, hasilnya lumayan.....garis-garis yang terpisah seolah terkesan lebih tegas dan membentuk satu kesatuan yang utuh....seperti pada lukisan berjudul "Tari Kecak".
Secara keseluruhan museum ini terdiri dari 3 galeri utama, 2 galeri tambahan (Studio Gajah Wong 1 dan 2), sebuah kafe yang menyatu dengan rumah tinggal keluarga dan beberapa bangunan penunjang lain.
Destinasi pertama adalah memasuki Galeri 1 yang berisi karya-karya Affandi di awal karirnya. Galeri ini juga merupakan gedung yang pertama kali dibangun oleh beliau di tahun 1960-an. Di dalamnya, selain berisi puluhan karya lukis juga terdapat memorabilia mobil kesayangan dan sepeda milik Affandi. Memorabilia lain adalah alat-alat lukis, berabagai tanda penghargaan dalam dan luar negeri, koleksi pipa cangklong dan beberapa foto dokumentasi.
![]() |
| Koleksi sketsa karya Affandi yag dibuat menggunakan tinta cina dipajang khusus di Galeri 2 |
Selanjutnya, kami memasuki Gedung galeri 2 yang berisi karya-karya sketsa Affandi yang berbahan tinta cina. Tak hanya itu, beberapa karya patung Kartika, puterinya juga turut dipamerkan.
Galeri ke 3 memberi kesan modern dalam tampilan interiornya. Khusus di sini, ditampilkan karya seluruh keluarga. Ada lukisan Ibu Maryati (saya baru tahu, ternyata Maryati juga seorang pelukis), kedua anaknya Kartika dan Rubini. Juga terdapat video dokumenter kehidupan Affandi dan cara melukisnya.
![]() |
| Memasuki ruang Galeri 3 kita akan langsung disambut oleh sebuah lukisan sulam karya Maryati yang menggambarkan suasana Menara Eiffel dan sekitarnya |
![]() |
| Salah satu sudut di ruang Galeri 3 yang menampilkan lukisan-lukisan karya anggota keuarga, dilengkapi jga 3 anak tangga berbentuk setengah lingkaran layaknya sebuah teater arena |
![]() |
| Selain memamerkan lukisan anggota keluarga, di Galeri 3 juga diputar video dokumenter Affandi semasa hidup, termasuk demo saat membuat lukisan yang tergolong unik. |
Selanjutnya kami berkeliling mengitari souvenir shop, perpustakaan. Dan akhirnya sampai pada dua studio tambahan yaitu Studio Out Door Gajah Wong yang sekaligus merupakan sebuah sanggar lukis bagi anak-anak dan dewasa. Selain itu ada juga Studio In Door Gajah Wong yang ditujukan sebagai galeri pameran bagi murid-murid sanggar Gajah wong.
Setelah penat berkeliling, akhirnya saya dan anak-anak melepas lelah di kafe yang letaknya tepat di tenga-tengah kompleks museum. Kami menukar kupon pada tiket masuk dengan sebotol soft drink.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar