“Sejauh-jauh burung terbang, akan kembali ke sarangnya” Sejauh-jauhnya seseorang mengembara pasti akan kembali ke tanah asalnya, setidaknya merindukannya.
Saya tidak tahu, apakah peribahasa itu berlaku bagi masyarakat Jawa di Suriname, sebuah komunitas Jawa nun jauh di Benua Amerika Selatan yang telah bermukim selama beberapa generasi. Pertemuan kami dengan Mas Ruben Karijodinomo, generasi keempat masyarakat Jawa Suriname berlangsung minggu lalu di Angkringan Kobar, Kotabaru Yogyakarta. Sebagian teman merasa kepo (penasaran) seperti apa ‘sedulur’ kami itu? Bagaimana ia bertutur dalam Bahasa Jawa, diksinya, aksennya? Saya membayangkan seolah bertemu dengan teman yang berasal dari masa lalu, semacam pertemuan yang difasilitasi oleh mesin waktu. Meski sering menyaksikan rekaman video di jejaring Youtube tentang komunitas masyarakat Jawa Surinama, tak urung kami tetap menyimpan rasa penasaran. Belum marem kalau belum bertemu secara langsung. Membayangkan seperti apa Bahasa Jawa masa lalu, yang digunakan masyarakat kebanyakan pada masa lebih dari 120 tahun yang lalu. Bahkan seorang teman kami hampir merasakan pupus kepercayaan dirinya untuk menjemput tamu kami tersebut, karena merasa tidak cakap berbahasa Jawa dan Inggris.
Rasa penasaran kami terjawab pada sosok misterius, perbincangan kami cukup lancar dan saling tukar cerita tentang banyak hal, bagaimana ia dan keluarga ternyata telah lama bermukim di Belanda selama kurang lebih 30 tahun. Bagaimana kehidupan pribadinya: bermantukan warga Belanda, berusaha belajar Bahasa Jawa, ternyata ia telah berkunjung ke Indonesia sebanyak 4 kali, keliling sebagian Pulau Jawa dengan menyetir sendiri mobil yang disewanya bersama ibu dan istrinya, menengok sebuah kebun miliknya di Gunung Kidul yang dengan sengaja ditanamnya Pohon Jati. Dalam kesempatan kopdar, kami agak iseng memperkenalkan beberapa kosakata serapan yang populer dalam perbincangan sehari-hari: Jomblo, Kepo, Kopdar hehehe.....
SEJARAH KOMUNITAS JAWA DI SURINAME
Keberadaan Komunitas Jawa di Surname tidak bisa dilepaskan dari pembukaan lahan-ahan perkebunan Pemerintah Kolonial Belanda di Suriname pada paruh akhir abad ke 19, sekitar tahun 1880-an. Masa itu juga bersamaan dengan dihapuskannya perbudakan sehingga pekerja perkebunan yang datang berstatus pekerja kontrak resmi.
Imigran asal Jawa datang ke Suriname dalam beberapa gelombang, mulai dari awal pembukaan lahan sekitar tahun 1880-1890 hingga gelombang akhir datang setelah era Perang Dunia II. Menurut penuturan Mas Ruben, nenek moyangnya termasuk generasi awal migran Jawa yang tiba di Suriname, sehingga ia tak tahu persis nenek moyangnya berasal dari Jawa wilayah mana. Ia sendiri adalah generasi ke-4 dalam silsilah keluarganya. Generasi akhir yang datang pasca PD II, menurutnya lebih mendapat kejelasan daerah asal nenek moyangnya. Bahkan, beberapa sepuh sempat bercerita tentang kehidupan mereka sewaktu masih tinggal di Jawa.
Saat Indonesia meraih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, ada sebagian imigran yang kembali pulang ke Indonesia, sementara sebagian besar memilih menetap di Suriname. Periode berikut saat Suriname merah kemerdekaan dari Belanda di tahun 1975, ada sebagian orang-orang Jawa Suriname yang turut pindah ke negeri Belanda.
DIDI KEMPOT DAN SURINAME
Penyanyi spesialis lagu-lagu Campursari Didi Kempot, mengkin menjadi penyanyi paling top di Suriname, setidaknya di kalangan Orang Jawa Suriname. Lawatannya ke negeri di kawasan Amerika Latin itu tak terbilang dan selalu sukses menenggelamkan orang Jawa Suriname pada keadaan mabuk rindu kampung halaman.
Tengoklah rekaman-rekaman turnya di Suriname pada jejaring Youtube, ramai dengan riuh rendah penonton setianya, menjadikan tanah nun di seberang Lautan Atlantik itu tak ubahnya sebuah desa di Pulau Jawa. Ia secara tiba-tiba menjelma menjadi seorang pangeran dari Tanah Jawa yang datang menghibur saudara-saudaranya di perantauan, lengkap dengan segala atribut fashion khas tradisional Jawa: surjan, batik, blangkon dan tentu saja suara merdunya.
Suaranya yang mendayu-dayu meninabobokan para perindu tanah leluhur lewat sayir mautnya yang tersohor, apalagi kalau bukan tembang “Sewu Kutho”
KOMUNITAS BALUNG PISAH, DIASPORA JAWA DI DUNIA
Kemajuan komunikasi digital, turut memiliki andil meyatukan komunitas Jawa Suriname dengan tanah asal nenek moyang dan komunitas Jawa lain di berbagai belahan dunia lain. Beberapa pertemuan diinisiasi dalam upaya menjalin tali persaudaraan sesama Orang Jawa di perantauan yang sudah lama hilang dan terpisah-pisah menjadi potensi kekuatan yang mampu menjembatani beragama aspirasi untuk kemajuan bersama.
Bahkan, di bulan Agustus 2015 lalu, sebuah konferensi serius dilaksanakan d Yogyakarta bertajuk “Javanese Diaspora 2015, Ngumpulke Balung Pisah” meliputi komunitas orang Jawa di Kaledonia Baru, SIngapura, Malaysia, Belanda dan Suriname.
BAHASA PERSATUAN ADALAH BAHASA JAWA
Pertemuan kami dengan Mas Ruben, dimediasi oleh Bahasa Jawa dalam kadar yang berbeda. Ia nampaknya berusaha memahami Bahasa Jawa versi kami dan kami terutama agak kurang percaya diri dalam memilih kata-kata. Ia sendiri cukup paham sedikit Bahasa Indonesia, dan fasih dalam Bahasa Inggris dan Belanda. Meski perbincangan kami menggunakan bahasa campur-campur, sedikit Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, bahasa utama yang menyatukan perbincangan kami adalah Bahasa Jawa.
Malam itu, kami dipersatukan oleh bahasa yang sama yaitu Bahasa Jawa.






