Jumat, 04 September 2015

Koin untuk Yoyok

"Kami pernah disuguhi air 'panas' oleh seorang Kepala Desa" tuturnya lirih menceritakan pengalaman mengamankan temuan kayu-kayu curian nun di pelosok negeri.
Tak jarang, ia pulang ke rumah hingga lewat tengah malam. Perjuangan yang kerap menyisakan kepenatan mendalam dan udara yang bersembunyi dalam ruang terkecil permukaan tubuhnya.
Di hari yang mulai menguning jingga, dalam temaram matahari sore, kami bertemu usai perpisahan panjang selama hampir 15 tahun. Pertemuan singkat yang menyisakan kekhawatiranku pada jalan hidup yang ditempuhnya.

Saya kerap trenyuh dengan kisah-kisahnya dalam upaya mengamankan hutan-hutan Konawe dari serbuan para pencuri kayu, perambah yang tak kenal rasa belas kasihan. Terima kasih telah  menjaga hutan-hutan di Konawe, kami di sini hanya bisa berupaya menjaga pohon-pohon di sekitar kediaman kami agar tetap bertumbuh di tempatnya.

Kami tak kuasa menahan perpisahan di ujung senja. Aku memberikannya sekeping koin bertuah yang kudapat dari sebuah gang sempit di sebuah pasar tua pagi tadi. Koin ini datang dari pertengahan abad ke 19. Kuharap, koin ini mampu menjaganya dari segala hal yang akan menghalangi perjalanan hidupnya.
Koin itu, koin bertuah, sepanjang hampir 170 tahun merupakan benda keramat bagai jimat yang disimpan hampir sebagian besar keluarga di negeri ini. Koin itu, tersembunyi di sudut-sudut setiap rumah hingga ke pelosok negeri. Inilah koin tua yang tak lekang digerus zaman, mengusir serbuan benda tak kasat mata yang menyerangmu usai lelah berkepanjangan.
Selamat kerikan, Yok! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...