Seorang teman mengunggah foto rumahnya dalam akun media sosialnya dengan disertai sebuah tagline: Rumahku, Istanaku. Foto itu berisi sebuah rumah mngil di perumahan yang nampaknya cukup sederhana, yang dibangun secara massif oleh sebuah badan usaha milik pemerintah khusus dalam bidang perumahan. Teman saya itu, dengan lugunya menyertakan batang-batang bambu di halaman rumahnya, lengkap dengan jemuran-jemuran yang menghiasi muka rumah tersebut.
Ahasil, posting yang sesungguhnya sederhana itu ramai oleh berbagai komen rekan-rekannya.
"Haaa....Ramayana dah buka" celetuk komentator pertama seorang perempuan berambut panjang dengan kacamata bertengger di wajahnya
"BIG SALE" Seorang perempuan berhijab ungu dengan kacamata hitam dan nampaknya alumni sebuah perguran tinggi populer di ibukota, turut megomentari, dan menimpali kembali degan gaya bahasa seperti seorag pedagang kaki lima menawarkan barang dagangan "dipeleh..dipeleh...dipeleh...
Seorang lelaki berkaus garis-garis tak mau kalah, berceloteh "Pasar apa mall?"
Atau lelaki lain dengan profile picture tengah asyik merokok turut nimbrung "Cuci gudang nich..he he he"
Begitulah sebuah rumah, terasa seperti istana meski berbagai jemuran menghiasi rumah kita serupa bendera-bendera yang meramaikan sebuah karnaval. Sesederhana apapun, semungil apapun rumah yang kita diami, akan terasa bak sebuah istana jika kita merasa nyaman di dalamnya.
Sebuah rumah adalah sebuah istana, terutama jika kita memilikinya denga segala daya usaha. Sebuah rumah juga bisa kita rasakan bak istana meski kita hanya mengontrak. Rasa kepemilikan bak istana itu kita rasakan meski setiap bulan rasa itu harus diperpanjang dengan menyetor uang sewa, jadi rasa itu tergantung bagaimana rutinitas kelancaran uang sewanya. Tak apa, jika kita baru mampu sebatas menyewa, selama kita nyaman maka rumah sewa itu adalah istana kita untuk sebulan ke depan.
Rumahku istanaku.....sangat terasa betul ketika kita mengalami sebuah diare berkepanjangan. Ini sebuah bencana yang membutuhkan kenyamanan sebuah rumah. Bayangkan jika kita buang hajat secara terus menerus di toilet umum berbayar. Katakanlah, kita harus lima kali bolak-balik ke toilet tersebut, coba dikalikan seribu rupiah maka uang sebesar lima ribu rupiah harus kita relakan untuk memenuhi hasrat buang air yang menyiksa itu. Belum lagi, gerutuan kesal para pengantri yang turut membutuhkan layanan toilet tersebut.
Bayangkan jika diare yang kita alami itu berlangsung di rumah kita sendiri, alangkah bebasnya perasaan kita, bebas bolak-balik toilet, bebas membayar, bebas mengantri, bebas dari rasa malu. Meski mungkin, bau pesing dan bau-bau lain tak berbeda dengan yang tercium di toilet umum berbayar. Toh.. rasa nyaman buang hajat di toilet rumah kita tak akan mungkin bisa tersaingi oleh toilet umum berbayar manapun. Kalian percaya bukan?
Maka begitulah sebuah rumah jika dimaknai sebagai sebuah istana, itulah tempat di mana kita merasa nyaman saat diare menyerang kita tanpa permisi.
#NulisRandom2015
#Day11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar