Dalam beberapa minggu ini saya harus fokus pada beberapa hal dan hasilnya menyenangkan. Namun sayangnya, kreatifitas menulis cerpen dan novel sedikit terhambat. Beberapa kali mencoba untuk "nyambi" menulis di sela-sela kesibukan. Ealahh..ternyata ide gak bisa keluar. Dialog yang saya susun terasa kaku dan dipaksakan. Saya jadi makin mengerti, mengapa menulis fiksi disebut sebagai proses kreatif.
*** *** ***
Paragraf di atas saya comot dari status seorang teman yang saya yakin adalah seorang penulis fiksi handal, mampu mendeskripsikan kisah fiksi dari benaknya yang seolah hadir nyata. Kisah-kisah yang disampaikannya kerap membuat saya dan teman-teman penyimak lain kerap cengar-cengir bahkan tertawa terbahak-bahak. Tak jarang kami sering menggelar tikar bersama demi menyimak kisah-kisah fiksinya, tentu semua kami lakukan bersama dalam jagad virtual. "Nggelar Kloso" demikian kami kerap memberi komen untuk ritual menyimak bersama itu dan tentu dengan disertai foto selembar tikar yang tergelar para penyimak.
Lebih lanjut, teman saya itu berkata bahwa menulis fiksi sangat berbeda dengan menulis artikel ilmiah populer yang tergantung pada data-data empiris dan teori yang sudah dibakukan. Tentu saja berbeda karena fiksi memang melulu megandalkan kemampuankita dalam berimajinasi. Dan, menrut hemat saya, imajinasi juga haru dibarengi logika. Fiksi harus logis, masuk akal. Bukan tidak mungkin kita bercerita tentang gajah yang bisa terbang, sebagaimana kita mendapati banyak cerita tentang kuda bersayap yang juga bisa terbang. Di sinilah penulis fiksi menghadapi tantangan bagaimana menampilkan gajah terbang sama logisnya dengan kuda terbang.
Fiksi adalah juga melulu tentang bagaimana kita menajamkan sensitivitas segenap indera yang kita miliki. Bagaimana kita membaui aroma, mengecap rasa, meraba bentuk, mendengar suara, melihat bentuk. Semua senitivitas yang ditangkap indera kita harus diterjemahkan ke dalam kata-kata, ke dalam gaya bahasa yag mampu mewakili indera-indera kita. Kita harus mampu menyampaikan pesan kepada pembaca hingga indera-inera pembaca juga mampu merasakan apa yang kita rasakan.
Maka saya hanya bisa nyengir ketika ada yang berpendapat bahwa menulis fiksi itu gampang! Maka saya masih perlu belajar banyak....Latihan, latihan dan latihan, begitu saran teman saya yang lain. Untuk apa latihan terus menerus? Tak lain untuk melemaskan bahasa tulis, gaya bahasa yang kita gunakan akan mempengaruhi hasil akhir fiksi yag kita tulis, sehingga kita mampu menyampaikan pesan kita ke pembaca.
Jadi, saya masih harus banyak latihan, latihan dan latihan.
#NulisRandom2015
#Day12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar