Senin, 22 Juni 2015

Djamaludin dan Adiknya

Djamaludin membakar sebatang rokok. Ia menghembuskan asap dari rokok yang dihisapnya dengan mata nanar, menerawang mengingat kampung halamannya.

"Kami ada sedikit kebun untuk kehidupan sehari-hari, jadi kalau saya lama di sini menjaga adik saya, tidak apa-apa. Istri saya mengikhlaskan saya menjaga adik saya. Katanya, jika orang lain saja mau menjaga adik maka kita juga wajib menjaganya"

Lelaki berusia 45 tahun itu bercerita tentang tabungannya yang telah habis untuk membiayai sekolah adiknya. Ia dan mendiang ibunya bahu membahu membiayai sang adik nun di rantau. Namun demikian, ia mengikhlaskannya dan berharap bisa membawa adiknya pulang ke kampung halamannya.

"Saya tidak ingin dia tinggal di sini lagi. Kalau dia hilang lagi, bagaimana? Yogya ini luas sekali. Kalau di Bacan sana, semua saling kenal dan tempatnya tidak seluas ini. Jadi dia tidak mungkin hilang lagi"

Dari sinar matanya, saya merasakan betapa hati Djamaludin patah dengan sungguh jika ia harus kehilangan sang adik untuk kedua kalinya.

Buku-buku jari yang menebal, kulit yang menghitam terbakar matahari dan raut wajah yang keras itu tak mampu menutupi kegelisahan hati seorang kakak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...