Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ulang. 1 Januri 2019.
Tahun baru sebenarnya bukan hal menarik buat saya, benar-benar terlewatkan begitu saja. Kebiasaan saya di malam tahun baru adalah tidur, meringkuk di bawah kehangatan selimut karen biasanya malam tahun baru selalu disambut oleh hujan berkepanjangan, gerimis yang awet.
Sependek yang saya ingat, hanya dua kali malam tahun baru yang saya lewati di luar ruang. Malam tahun baru pertama di luar ruang adalah ketika saya diajak beberapa teman untuk hiking di kaki Gunung Merapi. Ada Fajar, Dina, Anik, Dewi Dewok, Ujang, Ito, Bambung, Bambing dan alm. Ronal. Mereka teman kuliah beda fakultas yang sering nongkrong bareng. Saya nggak tahu, hiking di kaki Merapi itu ide siapa. Yang jelas saya agak repot saat harus meninggalkan kamar kost, karena harus mengunci pintu dan jendela kamar kost serapat mungkin agar biawak baru peliharaan saya nggak kabur keluar kamar. Meski nggak keluar kamar, tapi piaraan sayya itu berhasil mengacak-acak seisi kamar karena dia kelaparan. Maklum saya meninggalkannya hampir 24 jam dengan hanya dibekali beberapa ekor ikan lele mentah. Kalau bayangin piaraan saya itu, sebenarnya menyesal juga sih. kenapa kudu piara dia, kasihan. Sumpah. Seharusnya dia hidup di habitatnya.
Kembali ke rencana hiking. Kami berangkat lewat jalur utama: Jalan Kaliurang. Sebuah jalan raya yang membentang sepanjang 20 kilometer sejak dari wilayah kampus hingga kawasan Kaliurang di kaki Merapi. Transportasi umum ke Kaliurang kala itu adalah mobil Colt L300 yang bisa menampung 20-25 penumpang.
Matahari mulai tergelincir ke barat saat kami tiba di Terminal Kaliurang. Beberapa trayek jalur Yogya-Kaliurang nampak parkir. Kami menaiki beberapa undakan batu menuju keda-kedai yang berjajar untuk melepas penat dan lapar..Cukup banyak kedai yang menjajakan Salah Pondoh dan penganan tradisional macam jadah tempe, geplak, bakia hingga keripik tempe.
Usai hilang lelah, kami memasuki kawasan taman wisata Kaliurang, tanpa melewati gerbang utama. Petugas penjaga nampaknya sudah pulang, sehingga kami melenggang begitu saja.
Matahari makin tergelinir saat kami melewati bebeapa wahana permainan anak-anak macam perosotan, ayunan hingga bangku-bangku taman yang bertebaran di taman ini. Kami terus berjalan melewati bangku-bangku taman tempat beberapa pasang kekasih saling menggelayut mesra. Shit! Saya masih jomblo waktu itu. Agak nyebelin sih melihat para penghuni bangku taman itu.
Beberapa perdu mulai menyambut langkah kami. Semain lama, jajaran perdu terasa makin meninggi, berganti pepohonan hutan. Ya, kami memasuki hutan di kaki Merapi. Bukan hutan lebat apalagi rimba, cuma saya nggak tahu tujuan kami mau ke mana. Jalan setapak mulai menanjak dan saya perlahan mulai ngos-ngosan, maklum saya jarang olahraga, bahkan mungkin hampir enggak pernah.
`"Kabarnya, kadang-kadang ada celeng (babi hutan) lewat daerah sini", tiba-tiba Ronal menyeletuk. "Kalau dikejar celeng kita harus bisa lari zig-zag, karena celeng cuma bisa lari lurus thok!". Saya nggak tahu siapa di antra kami yang terkejut, pucat atau cemas dengan lontaran rekan kami itu. Tapi diam-diam, dalam hati, saya mulai mempelajari bagaimana caranya berlari secepat mungkin dengan gaya zig-zag. Lari sambil belok ke kiri dan belok ke kanan bergantian. Secara bersamaan saya juga berdoa agar tak ada babi hutan yang melintas di hadapan kami, cukuplah bayangannya saya yang wira-wiri dalam benak saya. Ha...Ha...Ha...
Hari mulai gelap saat kami melewati hamparan lava yang membatu dengan aliran sungai kecil di sela-sela ceruknya. Gemerisik aliran air, suara jangkrik, desau angin mengasingkan kami dari peradaban. Hanya kami di sini tenggelam dalam senyap ini.
Gerimis menitik, ketika kami memasuki pemukiman penduduk. Saya bersyukur, lagi-lagi dalam hati. Bayangan babi hutan di kepala segera sirna. "Ini rumahnya Mbah Maridjan", salah satu teman menunjuk sebuah rumah jawa dengan halaman asri. Mbah Maridjan merupakan juru kunci Gunung Merapi (info tentang beliau cukup banyak, silahkan googling). Rupanya kami tiba di Desa Kinahrejo, desa paling dekat dari puncak Merapi.
Samar-samar saya mendengar keramaian, alunan musik di kejauhan. Semakin berjalan, semakin mendekat rupanya suara-suaraitu berasal dari kerumunan massa yang mengelilingi sebuah panggung dangdut. "Astagaaa....Kita ada di mana??" teriak saya berusaha mengimbangi alunan musik dangdut yang terasa menggelegar itu. "Kita di Bebeng!" Bebeng? Saya baru menyadari rute yang kami tempuh adalah rute Kaliurang-Bebeng. Dan hiking dengan bayang-bayang babi hutan di kepala akhirnya selesai, tepat di hadapan biduan dangdut yang berdenang di atas panggung.
Begitulah malam tahun baru pertama saya di luar ruang. Kami menyambut malam pergantian tahun bersama indomie rebus, jagung bakar, gerimis dan tentu saja irama dangdut lengkap dengan penonton yang berjoget mengelilingi panggung. Malam tahun baru luar ruang kedua saya terjadi bertahun-tahun kemudian saat telah berkeluarga: bakar ikan bersama tetangga kontrakan.
Malam-malam tahun baru berikutnya, saya kembali melewatkannya di bawah kehangatan selimut di antara bunyi petasan dan terompet.
Minggu, 30 Desember 2018
Senin, 06 Februari 2017
PEKAN BUDAYA TIONGHOA YOGYAKARTA (PBTY) XII: PELANGI YANG SEMAKIN KAYA WARNA
| Seorang pejalan kaki tengah membaca jadwal kegiatan selama berlangsungnya Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XII |
Pagi masih mendung ketika beberapa pejalan kaki tengah melintasi kawasan Kampung Ketandan. Gerbang megah berwarna merah menandai kampung pecinan ini. Seorang pejalan kaki tengah membaca sebuah baliho berisi informasi kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XII, baliho ini dipasang persis di samping gerbangmerah itu.
Sementara itu, di sepanjang Jalan Ketandan, beberapa pekerja tengah mendirikan tiang-tiang tenda di sepanjang jalanitu, tak jauh dari kawasan Malioboro Yogyakarta. Dua truk ukuran sedang berisi tiang-tiang konstruksi tenda tengah parkir di sisi selatan. Beberapa penduduk sekitar terlihat berbenah menyambut perayaan imlek dengan mengecat merah halaman muka rumah mereka. Ya, Ketandan sebuah kawasan Pecinan di Pusat Kota Yogyakarta ini tengah bersiap menyambut Pekan Budaya Tionghoa (PBTY) dalam rangkaian perayaan Imlek. Tahun ini, PBTY yang akan berlangsung pada 5-11 Februari 2017 telah memasuki penyelenggraan ke 12, sejak digelar untuk pertama kalinya pada tahun 2006.
| Truk pengangkut tiang konstruksi tenda tengah parkir di sisi selatan jalan ketanda |
| Beberapa pekerja tengah bekerja memasang tenda |
Adalah Muryati Garjito, seorang pengajar di Fakultas Tekonologi Pertanian Universitas Gadjah Mada yang menginisiasi PBTY. Bermula ketika ia bermaksud menyusun sebuah buku resep masakan Tionghoa di Yogyakarta. Ketika menghubungi masyarakat Tionghoa untuk keperluan penyusuan buku tersebut, Muryati Garjito justru disarankan agar membuat sebuah festival kebudayaan Tionghoa. Festival yang berlangsung selama 5 hari tersebut disepakati bernama Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta. Meski mengusung nama Tionghoa di dalamnya, PBTY justru mengusung semangat pembauran dan akulturasi budaya dengan melibatkan para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk turut serta mementaskan kebudayaan daerah asal masing-masing.
PBTY DAN KETANDAN
PBTY dan Ketandan adalah dua nama yang tak dapat dipisahkan. Di kampung inilah selama 12 tahun rutin digelar perhelatan PBTY. Ada alasan historis kuat yang melatar belakangi mengapa PBTY selalu dilangsungkan di Ketandan. Inilah kampung pecinan pertama di Yogya yang ditandai dengan adanya artefak budaya berupa bangunan kuno dan keterkaitan erat dengan Keraton Yogya.
Di sini pernah bermukin Tan Jin Sing, seorang kapten Tionghoa yang menjadi cikal bakal pemukimam etnis Tionghoa di Yogyakarta. Tan Jin Sing yang memiliki ibu bernama RA Patrawijaya (kuturunan Amangkurat) merupakan tokoh kunci yang menjadi penghubung antara Gubernur Jendral Raffles dan Sultan Hamengku Buwono III. Atas jasanya, ia diangkat sebagai Bupati dengan gelar KRT Secodiningratan. Sultan HB III juga meberikan hadiah tanah kepada Tan Jing Sing dan etnis Tionghoa lainnya di kawasan yang kelak bernama Ketandan.
PBTY kali ini ini mengusung tema “Pelangi Budaya Nusantara” dengan rangkaian acara yang beragam mulai dari pembukaan berupa Karnaval Budaya (5 Februari), Festival Kuliner Nusantara (5-11 Februari), Wayang Potehi (5-11 Februari), Barongsai (5-11 Februari) Lomba Bahasa dan Karaoke Mandarin, Grand Final Pemilihan Koko Cici 2017 (10 Februari), Wushu (10 Februari), Naga LED (11 Februari), Pameran Rumah Budaya Ketandan, Sarasehan dan Demo Batik Peranakan. Yang menarik pada PBTY XII ini adalah tampilnya Shindu Ray seniman tari dari India dan Ai Hasuda seniman tari dari Jepang yang akan memuat PBTY XII ini semakin berwarna (6 Februari).
Beragamnya kebudayaan yang ditampilkan adalah bukti bahwa PBTY bukan sekedar pameran budaya Tionghoa semata. “Kami ingin menunjukkan akulturasi budaya yang sesungguhnya telah berlangsung lama di Yogyakarta”, tutur Tjundaka Prabawa, salah satu tokoh Tionghoa di Kampung Ketandan. Ia juga megungkapkan besarnya animo masyarakat terhadap PBTY, ditandai dengan jumlah pengunjung yang rata-rata bisa mencapai 7000 pengunjung per-harinya. Bahkan, tahun ini PBTY akan berlangsung selama 7 hari, lebih lama 2 hari dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.
Inilah perhelatan terbesar perayaan imlek di Indonesia, berlangsungselama sepekan penuh dan melibatkan perwakilan 34 provinsi dari seluruh Indonesia, menampilkan keregaman budaya nusantara. Inilah semangat akulturasi dan kemajemukan nusantara. Mari merayakan keragaman nusantara, mari berkunjung ke Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XII.
Di sini pernah bermukin Tan Jin Sing, seorang kapten Tionghoa yang menjadi cikal bakal pemukimam etnis Tionghoa di Yogyakarta. Tan Jin Sing yang memiliki ibu bernama RA Patrawijaya (kuturunan Amangkurat) merupakan tokoh kunci yang menjadi penghubung antara Gubernur Jendral Raffles dan Sultan Hamengku Buwono III. Atas jasanya, ia diangkat sebagai Bupati dengan gelar KRT Secodiningratan. Sultan HB III juga meberikan hadiah tanah kepada Tan Jing Sing dan etnis Tionghoa lainnya di kawasan yang kelak bernama Ketandan.
PBTY kali ini ini mengusung tema “Pelangi Budaya Nusantara” dengan rangkaian acara yang beragam mulai dari pembukaan berupa Karnaval Budaya (5 Februari), Festival Kuliner Nusantara (5-11 Februari), Wayang Potehi (5-11 Februari), Barongsai (5-11 Februari) Lomba Bahasa dan Karaoke Mandarin, Grand Final Pemilihan Koko Cici 2017 (10 Februari), Wushu (10 Februari), Naga LED (11 Februari), Pameran Rumah Budaya Ketandan, Sarasehan dan Demo Batik Peranakan. Yang menarik pada PBTY XII ini adalah tampilnya Shindu Ray seniman tari dari India dan Ai Hasuda seniman tari dari Jepang yang akan memuat PBTY XII ini semakin berwarna (6 Februari).
Beragamnya kebudayaan yang ditampilkan adalah bukti bahwa PBTY bukan sekedar pameran budaya Tionghoa semata. “Kami ingin menunjukkan akulturasi budaya yang sesungguhnya telah berlangsung lama di Yogyakarta”, tutur Tjundaka Prabawa, salah satu tokoh Tionghoa di Kampung Ketandan. Ia juga megungkapkan besarnya animo masyarakat terhadap PBTY, ditandai dengan jumlah pengunjung yang rata-rata bisa mencapai 7000 pengunjung per-harinya. Bahkan, tahun ini PBTY akan berlangsung selama 7 hari, lebih lama 2 hari dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya.
Inilah perhelatan terbesar perayaan imlek di Indonesia, berlangsungselama sepekan penuh dan melibatkan perwakilan 34 provinsi dari seluruh Indonesia, menampilkan keregaman budaya nusantara. Inilah semangat akulturasi dan kemajemukan nusantara. Mari merayakan keragaman nusantara, mari berkunjung ke Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XII.
#PBTYXII #PekanBudayaTionghoaYogyakartaXII #PesonaYogyakarta
Senin, 26 Desember 2016
MOANA: NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT
MOANA: NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT
"Pergilah......Laut telah memilihmu..!, bisik sang nenek parau dengan nafas yang payah, seraya memberikan sekeping batu hijau kepada cucunya. Perempuan tua sang penjaga legenda itu tiba di batas akhir kehidupannya.
*** *** ***
Inilah kisah tentang semangat kepercayaan diri, tekad dan energi petualangan yang tak habis yang ditebar demi pencarian jati diri kolektif. Film "Moana" berkisah tentang petualangan seorang gadis belia bernama Moana. Ia adalah puteri seorang kepala suku di sebuah pulau subur bernama Motunui di Lautan Pasifik Selatan. Adegan dimulai dari dongeng sang nenek tentang legenda Te Fiti, dewi kesuburan dan segala kehidupan. Suatu masa, seorang manusia setengah dewa bernama Maui mencuri jantung Te Fiti yang diyakini memiliki keajaiban bagi siapa yang memilikinya. Maui berhasil mencuri jantung Te Fiti, melarikan diri meninggalkan dewi kehidupan Te Fiti yang seketika di ambang kehancuran. Dalam pelariannya, Maui tertimpa sial, kail ajaibnya hilang dan ia dikutuk terpenjara di sebuah pulau terpencil.
Seribu tahun berlalu, dongeng Te Fiti dan Maui diceritakan dari generasi ke generasi. Hingga pada generasi ke sekian, seorang Moana cilik menyimak penuh antusias legenda yang diceritakan sang nenek.
Suatu hari, Moana cilik bermain di tepi pantai dan mendapati dirinya berkenalan dengan laut lewat peristiwa yang unik. Laut memberikannya sekeping batu mulia berwarna hijau yang sesungguhnya merupakan jantung Te Fiti. Malang, batu hijau itu lepas dri genggamannya saat sang ayah meraih tubuhnya dari tepi pantai. Diam-diam sang nenek menyelamatkan dan menyimpan batu itu, jantung Te Fiti.
Ketika Moana beranjak remaja, sebuah bencana menimpa suku Motunui. Mereka mengalami kegagalan panen hasil bumi dan tak ada ikan yang bisa ditangkap dari laut. Sang nenek yang mengetahui apa yang terjadi, membuka sebuah rahasia besar leluhur mereka. Ia menyerahkan batu hijau jantung Te Fiti dan menyampaikan sebuah tugas besar kepada Moana, cucunya. "Laut telah memilihmu, cucuku", ujar sang nenek.
Di usia yang sedemikian muda, Moana diberi kepercayaan besar membimbing masyarakat sukunya dan diamanahi sang nenek agar menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Pencarian jati diri mengarungi lautan itu membuka kotak pandora yang selama ini tertutup rapat, tersembunyi. Moana menemukan kesadaran bahwa ia dan masyarakat sukunya sesungguhnya adalah masyarakat penjelajah lautan. Jati diri suku penjelajah lautan ini sangat terkait dengan muasal cerita ini, Kepulauan Polinesia yang teletak di Lautan Pasifik.
Kisah Moana mengingatkan diri saya pada legenda masa lalu bangsa Indonesia yang konon dikenal sebagai pelaut ulung, Banyak jejak yang membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah pelaut yang tangguh, tengok saja lagu "Nenek Moyangku Orang Pelaut" atau tradisi Kapal Phinisi dari Makassar. Jejak sejarah lain mungkin tak terhitung dan tersebar di beragam situs.
Bahwa nenek moyang kita orang pelaut, itu benar. Tapi kenyataan itu berlangsung jauh di belakang kita, duluuuu sekali. Sekarang, apakah kita juga bangsa pelaut? Negeri yang berlimpah lautan ini, apakah masyarakatnya mengenal laut? Jangankan berenang di laut, di kolam saja mungkin kita cuma ingin main air saja. Kita lebih senang bergembira di wahana permainan air macam water boom ketimbang bersusah payah belajar renang, Atau jangankan menyeberangi lautan, banyak dari kita bersampan saja sudah gemetar dan mabuk laut. Dan, ketimbang menyantap ikan dari laut mungkin kita lebih banyak menyantap Ikan Lele.
Sekali lagi, memang benar nenek moyang kita adalah orang pelaut. Tapi, apakah kita ini orang pelaut juga?
Rabu, 26 Oktober 2016
SERENDIPITY DAN OBITUARI
Kemarin, saya menyimak kembali film Serendipity. Film drama tentang kemungkinan-kemungkinan pertemuan kembali dua orang yang terpisah jarak dan waktu.
Alih-alih terbawa romantisme lakon utama, saya justru tertegun pada fragmen tokoh Dean Kansky (Jeremy Piven). Ia adalah sahabat Jonathan Trager (John Cusack) sekaligus pendamping pria perkawinan John Trager. Ia yang karena rasa setia kawannya itu, turut menemani sahabatnya menelusuri jejak pertemuannya dengan Sara Thomas (Kate Beckinsale).
Penelusuran yang melelahkan dan nampaknya musthil itu membuat Dean Kansky putus asa. Kondisi itu menginspirasinya menulis sebuah obituari untuk Jonathan Trager sahabatnya, meski sahabatnya belum wafat.
Obituari yang ditulisnya diberikan langsung kepada Jonathan Trager. Isinya tentang kenangan baik akan sahabatnya, perjuangan gigih mencari relasi yang terputus dengan Sara Thomas dan disertai satire tragis "kematian" sahabatnya itu.
Obituari, catatan berisi kenangan dan kebaikan akan orang yang mendahului kita. Umumnya selalu penuh kehikmatan di dalamnya. Ditulis dalam rasa yang penuh lompatan-lompatan emosi mendalam.
Saya jadi paham, mengapa saya sering menulis obituari.
Senin, 20 Juni 2016
Bertiga Bukan Dara; Kisah Para Penyintas dalam Menghias Kenyataan Hidup
Malam........ suara jangkrik terdengar samar bersamaan dengan meredupnya matahari.
Lamat-lamat terdengar suara seorang perempuan mengaji dalam keheningan yang demikian khusyuk, ketika secara tiba-tiba terdengar suara benda jatuh mengagetkannya. Tangan kanannya reflek menggenggam sebilah golok yang sedari tadi tergeletak di sampingnya.
“Siapa itu? Mas Wawan?” Tak ada jawaban. Sepi. Sunyi. Ia melanjutkan kembali lantunan ayat-ayat suci di hadapannya.
Sementara itu, di tempat lain dalam sebuah rumah. Di atas sebuah sofa merah, seorang anak perempuan tengah asyik bermain bersama bonekanya seraya membuka-buka sebuah album foto. Tiba-tiba ia tertegun menatap salah satu gambar di hadapannya. Matanya terlihat mencari-cari dan mereka-reka. “Buunn...!!.” Ia memanggil ibunya.
Siang yang terik di barak-barak sebuah pelatihan militer. Tentara berbaris, berlatih fisik.
“Tu..Wa...Ga...Tu...Wa...Ga....” . Seorang perempuan berseragam militer melakukan scout jump. Peluh membasahi tubuhnya. Ia terus berlatih, kali ini melakukan push up. Kembali menghitung dalam ritme yang sama.
Ketiga adegan tersebut menandai awal pementasan Bertiga Bukan Dara; Menghias Kenyataan Hidup. Sebuah pementasan yang menghadirkan tiga naskah berbeda dalam satu panggung. Pentas ini menampilkan realitas keseharian tiga perempuan dewasa. Ketiganya menyaksikan dan mengalami diskriminasi dan ketidakadilan yang berlangsung di sekitarnya.
Lakon “Burung Panglima” yang ditulis Nunung Deni Puspitasari dan Satmoko Budi Santoso mengisahkan sebuah paradoks. Seorang perempuan tentara nekad membeberkan realitas tes keperawanan saat menjalani seleksi masuk dinas ketentaraan. Ia bersiap menghadapi resiko terbesar dari institusi tempatnya mengabdi, lantaran mendapati kenyataan seorang perempuan yang gagal menggapai impian menjadi seorang tentara. Perempuan yang dijumpainya di geladak sebuah kapal, mengalamikekerassan seksual di masa kecil.
Penulis Andy Sri Wahyudi berkisah tentang “Nuning Bacok” . nuning Bacok adalah seorang penyanyi dangdut yang kerap mengalami pelecean akibat profesi yang dijalaninya. Suatu ketika ia hendak diperkosa, namun seorang lelaki bernama Wawan menjadi dewa penolongnya dari kemungkinan tersebut. Kelak mereka menikah setelah mengalami masa saling jatuh cinta yang cukup dalam. Taun berlalu, tanpa disadarinya, sang suami perlahan memanipulasinya sebagai pencari nafkah.
Dalam “Ketika Sasi Bertanya”, Ruwi Meita mengisahkan seorang ibu yang menhadapi kesulitan kala si anak menemukan kenyataan bahwa tanggal kelahirannya hanya berselang 2 bulan dari tanggal perkawinan kedua orang tuanya. Perceraian kedua orang tuanya tidak mengurangi curahan kasih sayang kepada si anak. Sang ibu dihantui rasa gelisah akan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sang anak.
OMNIBUS, TWISTING, ROLLERCOASTER
Ketiga lakon yang sesungguhnya adalah tiga kisah yang berbeda, dipelakukan secara istimewa oleh Forum Aktor Yogya dan Teater Amarta. Ketiga cerita dipilin sedemikian rupa, dijejalkan di atas satu pentas yang sama. Penonton diajak berpetualang dari satu fragmen ke fragmen lain, dari satu emosi ke emosi lain yang terkadang naik, terkadang meluncur turun. Emosi penonton diaduk-aduk persis seperti menumpngi wahana roller coaster di taman-taman hiburan modern.
Sutradara Jamaluddin Latif cukup piawai mengarahkan para aktor Verry Handayani, Nunung Deni Puspitasari dan Lis ImpianStudio untuk tetap memiliki stamina dari awal hingga akhir. Tentu saja, jam terbang para aktor sangat berperan dalam menampilkan pentas antar fragmen ini. Bayangkan saja, saat Lis ImpianStudio baru saja memerankan Nuning Bacok tengah berpentas dangdut dengan kostum ala penyanyi dangdut, seketika ia harus pindah fragmen memerankan seorang ibu. Atau, tengok saja Verry Handayani yang dalam lakon “Ketika Sasi Bertanya”berperan sebagai ibu rumah tangga, di detik berikutnya harus berperan sebagai pemuda pemabuk yang hendak memperkosa Nuning Bacok. Lain lagi dengan Nunung Deni Puspitasari yang peran utamanya adalah sorang perempuan tentara, tiba-tiba harus menerima panggian sebagai MC panggung dangdut tujuh belasan ala kampung-kampung di Indonesia.
Inilah 3 cerita dalam 1 pentas, 3 in 1. Meski persis seperti judul sebuah program kawasan kendaraan di ibukota atau ramuan kopi instant yang berisi kopi, gula dan krimer, namun “Bertiga bukan Dara” bukan sesimple itu. Banyak kisah dan isu yang bisa dijadikan pemantik dalam obrolan tentang kisah-kisah perempuan dalam keseharian kita.
Perempuan-peremuan dalam lakon “Bertiga bukan Dara” ada dan hadir di sekeliling kita. Bukan tidak mungkin mereka adalah kita, kita adalah mereka. Merekalah para penyintas yang terus berupaya bertahan dan mempertahankan hidup dalam keadaan apapun. Penyintas bukan sekedar korban, penyintas adalah para pejuang yang terus berupaya mempertahankan hidupnya dalam segala keterbatasannya.
Senin, 21 Maret 2016
MEMOAR SEORANG BIPOLAR
Membaca memoar Fermy Nurhidayat mengingatkan saya pada NH Dini. Hampir seluruh karya NH Dini didasarkan pada perjalanan kisahnya sendiri. Bahkan, 3 novelnya: La Barka, Pada Sebuah Kapal dan Dari Fontenay ke Meggalianess jika ditilik sesungguhnya berisi kisah yang sama: Kekecewaan seorang istri terhadap suami, dengan menanggung beban 2 orang anak.
Ketiga novel dengan sumber cerita yang sama yaitu kisah hidup sang penulis, menggunakan sudut cerita yang berbeda. Mungkin Fermy Nurhidayat bisa memproduksi karya selanjutnya dengan tetap berpegang pada perjalanan kisah hidupnya dengan menarik berbagai sudut pandang yang berbeda.
Setidaknya, bagi saya, karya pertamanya ini terutama dtujukan bagi teman-teman sesama ODGK (Orang Dengan Gangguan Kejiwaan) dapat memberikan inspirasi dan mengikis stgma negatif yang kadung melekat pada diri ODGK.
Fermy Nurhidayat dalam memoarnya, mengisahkan perjuangan seorang ODGK menggapai mimpi. Ia terhitung pandai, lolos masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Nasib mengantarkannya pada kondisi Drop Out dari fakultas tersebut. Ia tak patah arang, bersekolah kembali ke bangku SMA yang berbeda demi mengikuti UMPTN. Berikutnya ia lolos Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menjadi sajana teknik setelah melewati perjuangan "berdarah-darah" selama sepuluh tahun. Kedukaan dan kelaranestapaannya mampu dituangkan dalam balutan yang serius, bernas dan diselingi canda jenaka. Itulah mengapa memoarnya di beri judul "Bercanda dalam Duka".
Ihwal ilustasi novelnya yang berlatar Gedung Pusat (Baairung) Universitas Gadjah Mada nampaknya dimaksudkan pada perjuangannya menempuh pendidikan yang susah payah dijalaninya. Perihal ini saya sempat berseloroh: "Oalah mas, kamu itu apa mau menyaingi "Cintaku di Kampus Birunya" mas Ashadi Siregar?". Saya mengingatkannya pada sebuah novel yang kadung melegenda dengan latar belakang yang sama, pilar-pilar pada gedung pusat UGM. Ia tertawa cekikian seperti biasa.
"Jangan-jangan......novelmu ini bisa tertukar dengan Buku Alumni yang diterbitkan setiap wisuda". Sebuah buku berisi foto dan data diri alumni-alumni baru juga bergambar foto gedung pusat. Sekali lagi ia cekikikan, persis ringkik kuda yang sering saya dengar di Jalan Malioboro. Hi..hi...hi....
Saat ini, ia menjalani keseharian dengan terus menulis, menulis dan menulis. Kebiasaannya ini telah ditekuninya sejak bangsu SMA, sebuah terapi yang baik bagi upaya kesehatan jiwa.
Rabu, 16 Maret 2016
Paulina del Valle dan Marionetnya
Pada kenyataannya, perempuan yang menarik perhatianku bukanlah Aurora del Valle sang pemeran utama, melainkan Paulina del Valle sang nenek. Paulina del Valle, perempuan perkasa pada zamannya, masa di mana budaya patriarki masih mengakar kuat di tengah keriuhan demam para penambang emas di San Fransisco. Masa-masa paling liar di awal pembentukan sebuah negara bernama Amerika, masa penaklukan para penjelajah atas para pribumi.
Paulina, dianugerahi bakat perniagaan yang cemerlang, meski harus hadir secara in absentia. Buadaya patriarki masih mengharamkan kehadiran perempuan dalam ranah publik terutama ketika harus mengunjungi langsung lokasi-lokasi lahan niaga. Tak terbayangkan perempuan tidak cantik dengan lemak yang melilit sekujur tubuhnya ini mampu menjadikan suaminya seolah boneka marionet, hadir pada pertemuan-pertemuan bisnis untuk mewakili keberadaan dirinya, yang sesungguhnya otak dari segala keberhasilan kerajaan niaga yang menggurita.
Tiba saat suaminya wafat, pintu-pintu segera menutup bagi para janda. Tak ada tempat bagi para janda di ruang publik. Namun, keberuntungan adalah teman setianya. Adalah Frederick William sang pelayan sejati yang menawarkan diri menggantikan posisi mendiang suaminya sebagai jalan pembuka bagi ruang-ruang publik. Lelaki dengan segala ketenangan dan rasionalitasnya yang tetap setia pada pelayanan tanpa berkhianat hingga di akhir hayat Paulina del Valle.
(Portrait in Sephia, Isabel Allende)
Minggu, 13 Maret 2016
PERJALANAN TERAKHIR
Orang-orang kampung tengah menyalatkan jenazahnya, ketika aku tiba bersama suami dan kedua anakku di pagi yang mulai terik. Ia pergi di spre hari sebelumnya. Aku mendapat diriku membaca pesan pendek di layar seluler saat malam telah penuh menutup hari.
Segera saat matahari masih lelap pada dini hari, kami bergegas menempuh perjalanan panjang. Dini hari, kami membelah jalan-jalan ibukota menuju tanah nun di sisi bebukitan berhalimun.
Aku hampir terlewatkan, menatap wajahnya untuk yang terakhir kali. Menekuni wajahnya yang menguning kaku dalam ketenangan yang tak pernah kudapati sebelumnya.
Tahun-tahun terakhir di hidupnya, matahari hampir tak mampu menyentuh kulit kuning langsatnya. Wajahnya begitu cantik dengan kebersihan kulit kuning cerah yang didapatnya dari darah margaTan, sebuah marga dari daratan luas di utara kepulauan ini.
Usai ritual di dalam bangunan mushala, sejumlah tetua memimpin perjalanan terakhir jenazahnya dalam keranda berselimut kain hijau. Aku hanya terdiam, berjalan di samping keranda. Anak-anak berjalan bersisian bersama suamiku.
Sepanjang perjalanan menuju tanah peristirahaannya, aku hanya mampu mengenang dan mengenang segala kebersamaan kami. Hingga tanah merah memeluknya tubuhnya erat tak bersisa, aku hanya terdiam tanpa setetes air matapun jatuh di wajahku.
Aku tak mampu menitikkan air mata, semua sudah habis bertahun lalu sejak matahari tak pernah menyentuh kulit tubuhnya.Yang tersisa pada diriku hanya kenangan dan kenangan dalam benakku.
Kerinduan yang bersisa tak terkira banyaknya ini hanya mampu kulimpahkan pada cermin di kamarku. Aku kerap menyambanginya dalam cermin di kamar, memandang dalam ke dalam mataku.....yang serupa dengan matanya.
POHON SIRSAK, KEMARAU DAN SUMUR YANG MENGERING
Pohon Sirsak kecil itu kutemukan di muka rumahku. Ia tumbuh tepat di atas lahan kosong, tempat aku biasa menyemai beragam biji buah. Rupanya, di antara keping-keping benih yang kusemai, hanya satu yang diam-diam tumbuh dengan segala daya hidupnya.
Sejak kutemukan pada pagi yang mulai terik itu, aku langsung menghujaninya dengan segala cinta yang tersimpan berlimpah dalam gudang-gudang di hatiku. Setiap pagi dan sore hari, selalu kuguyurkan air kesejukan, membasahi segenap permukaan daun, batang hingga pada permukaan tanah dan menelusup pada akar-akarnya yang kehausan.
Hari berganti, pohon mungilku mulai meninggi, jangkung bak remaja yang tumbuh dengan segala pesonanya. Aku tak pernah bosan terpikat padanya, Pohon Sirsak yang tumbuh tiba-tiba di halaman rumahku.
Pada setiap pucuk-pucuk daunnya yang hijau memutih, kutitipkan semua harapanku. Meski, kelak tiap helai daun akan gugur pada masanya atau satu persatu tetangga berdatangan memetiknya, dengan dalih merebusnya untuk obat herbal.
Tidak, hatiku tak pernah patah pada setiap guguran daun yang mengering atau pada setiap petikan jemari pada tetangga. Aku melapangkan keikhlasan pada guguran dan petikan yang datang secara berkala.
Suatu masa, kemarau datang bertamu dan berdiam lama menahun. Aku tetap membasuhkan Pohon Sirsak di pagi dan sore hari namun ia telah meninggi dan membesar. Air yang kubasuhkan tak cukup lagi bagi akar-akarnya yang kian dahaga. Persediaan air dalam sumur di samping rumah mulai menyusut, padahal ia kian membutuhkan lebih banyak air.
Aku tetap menyiramkan air, mula-mula hanya setengah ember, lalu seember....rupanya sember air tak cukup bagi pohon yang kian membesar itu. Kulipatgandakan menjadi dua ember, tak cukup...akar-akarnya meronta kehausan bagai anak kecil yang merengek hendak menyusu pada ibunya. Kuguyurkan lagi air sebanyak tiga, empat, lima, enam....hingga sepuluh ember pada setiap pagi dan sore hari.
Air di dalam sumur sudah tak lagi menyusut, melainkan kering tak bersisa.
Sabtu, 12 Maret 2016
KASUR PEGAS PENINGGALAN BAPAK
Kasur ini berusia separuh umurku yang beberapa bulan lagi genap empat puluh tahun. Ini adalah kasur peninggalan kedua orangtuaku. Bapak membelinya saat mendapat uang tambahan di perusahaan tempatnya bekerja.
Kasur ini adalah jenis kasur berpegas yang merknya terkenal pada masanya. Memilikinya kala itu seperti semacam mimpi. Maklumlah, kasur berpegas kala itu hanya dapat kami saksikan di layar televisi, biasanya dipromosikan sebagai hadiah sebuah acara kuis televisi. Saya dan adik-adik menaiki kasur pegas itu dengan riang, meloncat-loncat di atasnya dengan gaya super norak....rasanya seperti mendadak menjadi OKB.
Selama kurun dua dasawarsa, kasur ini. Telah pasrah menjadi tempat kami melelapkan diri, melepas penat. Semula, benda itu menjadi peraduan di kamar Bapak dan Ibu. Ketika Bapak wafat, saya menemani ibu untuk tidur bersamanya. Terkadang bertiga bersama bayi saya. Tahun berlalu, saya kembali memiliki seorang anak dan ibu menyusul Bapak, berpulang ke hadapanNya. Kasur berpegas itu, berpindah kamar. Kami menggotongnya ke kamar saya. Ia membantu saya meninabobokan anak-anak. Anak-anak saya, sebagimana saya dan adik-adik, kerap melampiaskan keriangan di atas kumpulan pegas itu, melompat-lompat di atas trampolin dadakan itu.
Kini saya perhatikann permukaannya robek di sana-sini, terkadang bau apek dan tua tercium samar. Saya mahfum dengan bau tersamar itu, sebab saat masih bayi, anak-anak saya tak jarang mengompol di atas permukaannya. Kasur berpegas peninggalan Bapak nampaknya telah lelah. Aku hendak membebaskannya dari tugas panjangnya selama ini.
MERICA
“Aku nggak mau makan.......supnya pedas!”
***************
Saat masih kecil, saya pernah membenci merica karena rasa pedas yang tiba-tiba menggiggit lidah saat menikmati semangkuk sup dan nasi putih. Dan itu berlangsung cukup lama, berbelas tahun. Merica di dapur saya hanya berupa bubuk dalam kemasan instan. Benar-benar hanya sebagai bumbu pelengkap.
Baru beberapa tahun belakangan ini, saya menyadari betapa memikatnya aroma dan rasa yang dihadirkan merica. Dan, saya juga baru menyadari bahwa menyajikan merica bubuk akan sangat berbeda sensasinya dengan merica hasil gerusan dari butir-butir yang masih utuh.
Butir-butir utuh merica saat dihaluskan sesaat sebelum diolah akan menghadirkan aroma yang menggugah selera makan, hangat dengan rasa pedas yang kuat. Saya kerap menghidu aroma merica seraya membayangkan, betapa aroma dan rasa pedas yang sama telah memikat begitu banyak manusia dalam kurun waku ribuan tahun. Bahkan, perjalanan bangsa ini turut diwarnai oleh aroma yang sama.
Cerita perjalanan merica hampir sama tuanya dengan kisah negeri ini. Tentang bagaimana rempah ini menjadi komoditas yang diperebutkan negeri lain, kisah-kisah persaingan dagang antar negara, penciptaan-penciptaan lahan-lahan baru hingga pada kemewahan-kemewahan kuliner di atas keringat para petani.
Selasa, 27 Oktober 2015
Sumpah Pemuda Kopdar: Berbahasa Persatuan, Bahasa Jawa
“Sejauh-jauh burung terbang, akan kembali ke sarangnya” Sejauh-jauhnya seseorang mengembara pasti akan kembali ke tanah asalnya, setidaknya merindukannya.
Saya tidak tahu, apakah peribahasa itu berlaku bagi masyarakat Jawa di Suriname, sebuah komunitas Jawa nun jauh di Benua Amerika Selatan yang telah bermukim selama beberapa generasi. Pertemuan kami dengan Mas Ruben Karijodinomo, generasi keempat masyarakat Jawa Suriname berlangsung minggu lalu di Angkringan Kobar, Kotabaru Yogyakarta. Sebagian teman merasa kepo (penasaran) seperti apa ‘sedulur’ kami itu? Bagaimana ia bertutur dalam Bahasa Jawa, diksinya, aksennya? Saya membayangkan seolah bertemu dengan teman yang berasal dari masa lalu, semacam pertemuan yang difasilitasi oleh mesin waktu. Meski sering menyaksikan rekaman video di jejaring Youtube tentang komunitas masyarakat Jawa Surinama, tak urung kami tetap menyimpan rasa penasaran. Belum marem kalau belum bertemu secara langsung. Membayangkan seperti apa Bahasa Jawa masa lalu, yang digunakan masyarakat kebanyakan pada masa lebih dari 120 tahun yang lalu. Bahkan seorang teman kami hampir merasakan pupus kepercayaan dirinya untuk menjemput tamu kami tersebut, karena merasa tidak cakap berbahasa Jawa dan Inggris.
Rasa penasaran kami terjawab pada sosok misterius, perbincangan kami cukup lancar dan saling tukar cerita tentang banyak hal, bagaimana ia dan keluarga ternyata telah lama bermukim di Belanda selama kurang lebih 30 tahun. Bagaimana kehidupan pribadinya: bermantukan warga Belanda, berusaha belajar Bahasa Jawa, ternyata ia telah berkunjung ke Indonesia sebanyak 4 kali, keliling sebagian Pulau Jawa dengan menyetir sendiri mobil yang disewanya bersama ibu dan istrinya, menengok sebuah kebun miliknya di Gunung Kidul yang dengan sengaja ditanamnya Pohon Jati. Dalam kesempatan kopdar, kami agak iseng memperkenalkan beberapa kosakata serapan yang populer dalam perbincangan sehari-hari: Jomblo, Kepo, Kopdar hehehe.....
SEJARAH KOMUNITAS JAWA DI SURINAME
Keberadaan Komunitas Jawa di Surname tidak bisa dilepaskan dari pembukaan lahan-ahan perkebunan Pemerintah Kolonial Belanda di Suriname pada paruh akhir abad ke 19, sekitar tahun 1880-an. Masa itu juga bersamaan dengan dihapuskannya perbudakan sehingga pekerja perkebunan yang datang berstatus pekerja kontrak resmi.
Imigran asal Jawa datang ke Suriname dalam beberapa gelombang, mulai dari awal pembukaan lahan sekitar tahun 1880-1890 hingga gelombang akhir datang setelah era Perang Dunia II. Menurut penuturan Mas Ruben, nenek moyangnya termasuk generasi awal migran Jawa yang tiba di Suriname, sehingga ia tak tahu persis nenek moyangnya berasal dari Jawa wilayah mana. Ia sendiri adalah generasi ke-4 dalam silsilah keluarganya. Generasi akhir yang datang pasca PD II, menurutnya lebih mendapat kejelasan daerah asal nenek moyangnya. Bahkan, beberapa sepuh sempat bercerita tentang kehidupan mereka sewaktu masih tinggal di Jawa.
Saat Indonesia meraih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, ada sebagian imigran yang kembali pulang ke Indonesia, sementara sebagian besar memilih menetap di Suriname. Periode berikut saat Suriname merah kemerdekaan dari Belanda di tahun 1975, ada sebagian orang-orang Jawa Suriname yang turut pindah ke negeri Belanda.
DIDI KEMPOT DAN SURINAME
Penyanyi spesialis lagu-lagu Campursari Didi Kempot, mengkin menjadi penyanyi paling top di Suriname, setidaknya di kalangan Orang Jawa Suriname. Lawatannya ke negeri di kawasan Amerika Latin itu tak terbilang dan selalu sukses menenggelamkan orang Jawa Suriname pada keadaan mabuk rindu kampung halaman.
Tengoklah rekaman-rekaman turnya di Suriname pada jejaring Youtube, ramai dengan riuh rendah penonton setianya, menjadikan tanah nun di seberang Lautan Atlantik itu tak ubahnya sebuah desa di Pulau Jawa. Ia secara tiba-tiba menjelma menjadi seorang pangeran dari Tanah Jawa yang datang menghibur saudara-saudaranya di perantauan, lengkap dengan segala atribut fashion khas tradisional Jawa: surjan, batik, blangkon dan tentu saja suara merdunya.
Suaranya yang mendayu-dayu meninabobokan para perindu tanah leluhur lewat sayir mautnya yang tersohor, apalagi kalau bukan tembang “Sewu Kutho”
KOMUNITAS BALUNG PISAH, DIASPORA JAWA DI DUNIA
Kemajuan komunikasi digital, turut memiliki andil meyatukan komunitas Jawa Suriname dengan tanah asal nenek moyang dan komunitas Jawa lain di berbagai belahan dunia lain. Beberapa pertemuan diinisiasi dalam upaya menjalin tali persaudaraan sesama Orang Jawa di perantauan yang sudah lama hilang dan terpisah-pisah menjadi potensi kekuatan yang mampu menjembatani beragama aspirasi untuk kemajuan bersama.
Bahkan, di bulan Agustus 2015 lalu, sebuah konferensi serius dilaksanakan d Yogyakarta bertajuk “Javanese Diaspora 2015, Ngumpulke Balung Pisah” meliputi komunitas orang Jawa di Kaledonia Baru, SIngapura, Malaysia, Belanda dan Suriname.
BAHASA PERSATUAN ADALAH BAHASA JAWA
Pertemuan kami dengan Mas Ruben, dimediasi oleh Bahasa Jawa dalam kadar yang berbeda. Ia nampaknya berusaha memahami Bahasa Jawa versi kami dan kami terutama agak kurang percaya diri dalam memilih kata-kata. Ia sendiri cukup paham sedikit Bahasa Indonesia, dan fasih dalam Bahasa Inggris dan Belanda. Meski perbincangan kami menggunakan bahasa campur-campur, sedikit Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, bahasa utama yang menyatukan perbincangan kami adalah Bahasa Jawa.
Malam itu, kami dipersatukan oleh bahasa yang sama yaitu Bahasa Jawa.
Jumat, 04 September 2015
ASPAL
Sepasang koin Benggol (10 sen) dari sebuah gang sempit di sudut Pasar Beringharjo. Kedua koin kembar ini lahir pada abad yang berbeda. Koin berwarna hitam kumal lahir pada pertengahan abad 19, detil cetakannya hampir tak terlihat, tertutup debu sejarah panjang yang dilaluinya. Koin di sampingnya, nampaknya lahir 170 tahun kemudian. Koin kedua ini, berwarna cerah, merah tembaga. Usianya masih muda memikat.
The Lord of the Ring
Sebuah cincin bermata satu tergeletak di antara cincin-cincin lain, di dalam sebuah mangkuk. Pendarnya memikat, sejenak melenakan, melupakan hingar bingar gang sempit pasar tua ini.
Entah siapa pemiliknya yang telah tega melemparkannya ke sudut jejeran lapak loakan ini.
"Pinten, Bu?"
"Kaleh doso"
"Sedoso mawon, njih?"
"Njih"
Sedetik kemudian, usai transaksi, cincin itu beralih kepemilikan.
Entah siapa pemiliknya yang telah tega melemparkannya ke sudut jejeran lapak loakan ini.
"Pinten, Bu?"
"Kaleh doso"
"Sedoso mawon, njih?"
"Njih"
Sedetik kemudian, usai transaksi, cincin itu beralih kepemilikan.
Koin untuk Yoyok
"Kami pernah disuguhi air 'panas' oleh seorang Kepala Desa" tuturnya lirih menceritakan pengalaman mengamankan temuan kayu-kayu curian nun di pelosok negeri.
Tak jarang, ia pulang ke rumah hingga lewat tengah malam. Perjuangan yang kerap menyisakan kepenatan mendalam dan udara yang bersembunyi dalam ruang terkecil permukaan tubuhnya.
Di hari yang mulai menguning jingga, dalam temaram matahari sore, kami bertemu usai perpisahan panjang selama hampir 15 tahun. Pertemuan singkat yang menyisakan kekhawatiranku pada jalan hidup yang ditempuhnya.
Kami tak kuasa menahan perpisahan di ujung senja. Aku memberikannya sekeping koin bertuah yang kudapat dari sebuah gang sempit di sebuah pasar tua pagi tadi. Koin ini datang dari pertengahan abad ke 19. Kuharap, koin ini mampu menjaganya dari segala hal yang akan menghalangi perjalanan hidupnya.
Koin itu, koin bertuah, sepanjang hampir 170 tahun merupakan benda keramat bagai jimat yang disimpan hampir sebagian besar keluarga di negeri ini. Koin itu, tersembunyi di sudut-sudut setiap rumah hingga ke pelosok negeri. Inilah koin tua yang tak lekang digerus zaman, mengusir serbuan benda tak kasat mata yang menyerangmu usai lelah berkepanjangan.
Selamat kerikan, Yok!
Selamat kerikan, Yok!
Selasa, 01 September 2015
Berburu Momen
Ide itu datangnya tak pernah diduga. Seperti angin yang bertiup di siang hari, kadang terasa lamabat sepoi-sepoi namun menyejukkan, kadang berupa badai disertai gemuruh, tak jarang ia tak bertiup sama sekali, membiarkan udara lengang tak berangin yang membuat kita gelisah kepanasan.
Tapi, kita tak boleh selamanya hanya menanti ide datang. Ide itu harus dicari dan diburu bak buronan berkelas residivis.
Ide adalah runtutan peristiwa-peristwa yang kita ciptakan dalam benak kita, mengawinkannya dengan peristiwa lain di atas kenangan-kenangan kita sendiri.
Terkadang, untuk menciptakan peritiwa itu kita harus menjemputnya, memburu momen-momen yang berlangsung di hadapan kita, mengawinkannya dengan rencana-rencana liar kita.
Upaya mengawinkan momen nyata dan rencana liar bukan hal mudah, karena kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sering mengejutkan, membelokkan segala rencana yang telah kita susun. Ketika hal itu terjadi, kita harus siap menyusun ulang segala rencana.
Djamaludin, salah satu orang yang menghancurkan rencana-rencana saya di malam saat ia bertemu adiknya, Yuslan. Dimulai saat saya menjemput kedatangannya di Bandara. Saya membayangkan ia akan celingak-celinguk saat mendarat di Bandara untuk pertama kalinya. Maklum, nampaknya itu adalah kali pertama ia bepergian jauh menggunakan moda pesawat udara. Apa daya, justru saya yang terkecoh oleh kealpaan mengolah informasi dari Fermy Nurhidayat. Saya mengira Djamaludin transit di Surabaya, sebelum meneruskan penerbangan menuju Yogyakarta. Maka, justru saya yang harus celingak-celinguk mengamati satu-persatu penumpang yang keluar dari pintu terminal Bandara, memastikan kehadirannya.
Kali kedua, Djamaludin kembali menggagalkan rencana-rencana saya. Usai makan malam, kami menuju rumah sakit tempat adiknya Yuslan dirawat. Nah...ini dia, pikir saya, peristiwa monumental yang harus saya hadiri, pertemuan kedua kakak beradik yang tak bersua setelah lebih dari 16 tahun lamanya. Ini adalah momen epik, pikir saya. Saya membayangkan akan ada pristiwa mengharu-biru, bertabur air mata yang bisa saya saksikan. Dalam hati, sejak kegagalan merekam momen di Bandara, saya mulai menyusun serangkaian kata-kata, merekam langsung lewat kamera pocket dan kemudian menuliskan pertemuan keluarga itu sesampainya di rumah.
Namun, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan, hampir tak air mata di sana, di ruangan berbalut gorden putih itu. Bahkan suara terbata-batapun hampir tak terdeteksi oleh telinga saya. Tak ada peluk kerinduan yang mereka lakukan, sebagaimana layaknya oarang yang belasan tahun memendam kerinduan.
Alik-alih beradegan termehek-mehek, mereka kakak beradik itu malah berjabat tangan layaknya dua sobat yang kerap bertemu. Bahkan, Djamaludin, menawarkan roti kasur yang dibawanya untuk disuapkan kepada adiknya.
Haaa??....Bagaimana ini, bagimana dengan rencana tulisan saya nantinya jika tak ada sedu-sedan di anatar mereka? Kenapa tak ada satupun di antara mereka yang menitikkan air mata? Apakah mereka tidak kasihan kepada saya, yang telah bersusah payah menghadiri pertemuan monumental mereka? di tengah kebingungan atas kejutan yang mereka berikan, saya terpaksa menyusun ulang rencana-rencana tulisan saya itu. Maka, malam harinya, usai kegagalan mendapatkan sebuah momen termehek-mehek, akhirnya saya harus memutar ulang rencana menyusun tulisan tentang pertemuan mereka.
Begitulah ide, gampang-gampang susah dan susah-susah gampang.
Terkadang, untuk menciptakan peritiwa itu kita harus menjemputnya, memburu momen-momen yang berlangsung di hadapan kita, mengawinkannya dengan rencana-rencana liar kita.
Upaya mengawinkan momen nyata dan rencana liar bukan hal mudah, karena kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sering mengejutkan, membelokkan segala rencana yang telah kita susun. Ketika hal itu terjadi, kita harus siap menyusun ulang segala rencana.
Djamaludin, salah satu orang yang menghancurkan rencana-rencana saya di malam saat ia bertemu adiknya, Yuslan. Dimulai saat saya menjemput kedatangannya di Bandara. Saya membayangkan ia akan celingak-celinguk saat mendarat di Bandara untuk pertama kalinya. Maklum, nampaknya itu adalah kali pertama ia bepergian jauh menggunakan moda pesawat udara. Apa daya, justru saya yang terkecoh oleh kealpaan mengolah informasi dari Fermy Nurhidayat. Saya mengira Djamaludin transit di Surabaya, sebelum meneruskan penerbangan menuju Yogyakarta. Maka, justru saya yang harus celingak-celinguk mengamati satu-persatu penumpang yang keluar dari pintu terminal Bandara, memastikan kehadirannya.
Kali kedua, Djamaludin kembali menggagalkan rencana-rencana saya. Usai makan malam, kami menuju rumah sakit tempat adiknya Yuslan dirawat. Nah...ini dia, pikir saya, peristiwa monumental yang harus saya hadiri, pertemuan kedua kakak beradik yang tak bersua setelah lebih dari 16 tahun lamanya. Ini adalah momen epik, pikir saya. Saya membayangkan akan ada pristiwa mengharu-biru, bertabur air mata yang bisa saya saksikan. Dalam hati, sejak kegagalan merekam momen di Bandara, saya mulai menyusun serangkaian kata-kata, merekam langsung lewat kamera pocket dan kemudian menuliskan pertemuan keluarga itu sesampainya di rumah.
Namun, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan, hampir tak air mata di sana, di ruangan berbalut gorden putih itu. Bahkan suara terbata-batapun hampir tak terdeteksi oleh telinga saya. Tak ada peluk kerinduan yang mereka lakukan, sebagaimana layaknya oarang yang belasan tahun memendam kerinduan.
Alik-alih beradegan termehek-mehek, mereka kakak beradik itu malah berjabat tangan layaknya dua sobat yang kerap bertemu. Bahkan, Djamaludin, menawarkan roti kasur yang dibawanya untuk disuapkan kepada adiknya.
Haaa??....Bagaimana ini, bagimana dengan rencana tulisan saya nantinya jika tak ada sedu-sedan di anatar mereka? Kenapa tak ada satupun di antara mereka yang menitikkan air mata? Apakah mereka tidak kasihan kepada saya, yang telah bersusah payah menghadiri pertemuan monumental mereka? di tengah kebingungan atas kejutan yang mereka berikan, saya terpaksa menyusun ulang rencana-rencana tulisan saya itu. Maka, malam harinya, usai kegagalan mendapatkan sebuah momen termehek-mehek, akhirnya saya harus memutar ulang rencana menyusun tulisan tentang pertemuan mereka.
Begitulah ide, gampang-gampang susah dan susah-susah gampang.
Minggu, 30 Agustus 2015
Saya dan Sandal Jepit
Beberapa teman dekat mengidentifikasi saya sebagai pecinta syal, lantaran dalam banyak kesempatan saya kerap mengenakan kain panjang tersebut.
Ya..ya..ya... Saya memang pecinta selendang dan kerabat-kerabatnya itu dan nyaman dengan kehadiran mereka. Namun, tidak banyak yang tahu kalau sesungguhnya saya sering merasa saltum, salah kostum. Di mana letak saltumnya? Letaknya tersembunyi jauh di bawah tubuh saya, mendekati permukaan bumi tepatnya alas kaki he..he..he....
Ya..sebenarnya saya sering merasa salah kostum lantaran alas kaki saya nggak nyambung dengan pakaian. Pangkal masalahnya karena saya ini pecinta sandal jepit akut, jenis alas kaki yang dibuat massif di pabrik-pabrik berbahan baku karet dengan harga yang sangat terjangkau. Sebenarnya, kecintaan saya akan sandal jepit ini biasa-biasa saja sih....bukan sesuatu yang istimewa, toh banyak orang yang memakai sandal jepit di kesehariannya. Persoalannya, saya sering menyesuaikan kostum dengan sandal jepit saya. Padahal seharusnya, alas kaki menyesuaikan dengan pakaian. Nah...itu kemudian menjadi masalah buat saya, setidaknya bagi saya pribadi. Sering saya sudah memakai baju rapih-rapih hendak ke kampus, dandan dikit biar kelihatan agak cakepan dikit....#Eaaa..... Eh...ndilalah....saya melengkapinya dengan sandal jepit. Ajaibnya, saya merasa biasa saja, normal-normal saja...pokoknya pede sajalah.....orang lain yang melihat mungkin cuma melirik melihat ada sedikit keajaiban pada tampilan saya...hehehe... Pokonya biasa saja deh...Easy going wiss...
Persoalan mulai muncul tatkala ujian semester di kampus berlangsung. Lantaran pihak Dekanat sering melihat banyak mahasiswanya bersandal jepit ris di kampus, maka terbitlah sebuah aturan yang terasa menyiksa kami. "Peserta Ujian Wajib Memakai Sepatu", demikian bunyi aturan itu yang seolah menjadi kiamat kecil bagi saya dan komunitas pecinta sandal jepit kampus ini.
dengan segala keterpaksaan, akhirnya saya terpaksa mengeluarkan koleksi sepatu saya yang cuma satu-satunya, memasangnya menutupi kedua kaki saya. Toh, ini hanya akan berlangsung selama ujian semester saja, pikir saya. Dugaan saya agak meleset rupanya, pihak Dekanat mulai memberlakukan kewajiban mengenakan sepatu bagi seluruh peserta perkuliahanAn tepat ketika masa ujian semester berakhir. Wajib!
Terus terang, kenyataan ini sungguh berat bagi saya, terutama bagi kedua kaki saya dari ujung jari hingga setidaknya mata kaki. Ini bagai sebuah tsunami yang menghantam independensi kedua kaki saya. Jika semula mereka bebas merdeka merasakan angin spoi-sepoi saat saya melangkah menuju kampus, kini mereka dipaksa bersembunyi dalam kegelapan sebuah benda bernama sepatu. Alangkah tersiksanya mereka, ketika hampir seharian harus saling berdesakan dalam sebuah ruang tertutup bernama sepatu.
Sebulan sejak kebijakan Dekanat berlaku, kesua kaki saya nampaknya mulai bermasalah. Saya mulai merasa gatal-gatal pada beberapa bagian, terutama di sela-sela jari kaki. Tak hanya itu, bau tajam serupa bumbu dapaur hasil fermentasi udang-uadang kecil mulai menghiasi udara di sekitar mereka. Saya menyadari dengan hati penuh, inilah serangan jamur kaki, sesuatu yang saya khawatirkan selama ini. Maka lengkap sudah penderitaan saya sejak ujian semester sebulan yang lalu itu, sejak kewajiban bersepatu di berlakukan di kampus.
Jumat, 28 Agustus 2015
Bakso dan Para Perantau dari Wonogiri
"Ngebakso, yuk!" Ajakan ini tentu tak asing di telinga kita. Bakso hidangan sepinggan ini sangat akrab di lidah orang Indonesia.
Umumnya bakso terbuat dari daging sapi giling yang dicampur dengan tapioka dan bumbu-bumbu pelengkap, meski adapula yang terbuat dari daging ayam atau ikan. Akar kuliner hidangan ini berasal dari Cina. Dalam Bahasa Hokkian Bak-So artinya daging giling. Secara kasat mata, keseluruhan hidangan ni memang sangat oriental, mulai dari penggunaan bawang putih yang dominan, sup yang bening, penggunaan mie, tahu hingga krupuk pangsit.
Masyarakat Leuwiliang, sebagaimana masyarakat Sunda pada umumnya, sependek pengetahuan saya adalah penggila Bakso.Siang malam panas hujan, hidangan ini selalu diburu. Masih kurang yakin dengan pernyataan saya ini? Coba deh, teman-teman hitung-hitung: Dalam sebulan berapa kali frekwensi kita menyantap bakso.... Hmmmm atau, jika kebetulan singgah dan melewati di sekitaran Pasar LeuwiliNg, sesekali lihatlah berapa banyak pedagang bakso di sana.
Suatu ketika, saya pernah secara sengaja menghitung jumlah pedagang bakso di sekitar Pasar Leuwiliang. Mulai dari Bakso Pak Sadid yang tersohor dengan bonus daging kepala sapinya itu hingga ke kedai Bakso Gian di dekat Mualimin bahkan hingga ke kios Bakso Bom yang ukurannya segede alaihim gambreng itu. Sekitar tahun 2005, lebih 50 pedagang bakso yang saya temui tengah mengais rezeki di sana. Iseng? He..he..he.... Iya benar, ini kerjaan super iseng yang kerap saya lakukan di manapun. Tapi, ini iseng yang serius sih....wahai sist, bro and guys.
Kalau kita menjelajahi Pasar Leuwiliang ini, masuklah ke lorong pasar di sisi barat, maka kita akan menjumpai banyak pedagang daging sapi di dalamnya. Ada pula dua kedai pengolah adonan bakso yang melayani pelanggan tetapnya, para pedagang bakso.
Kronologinya kira-kira begini: Di pagi hari, para pedagang bakso membeli daging sapi, lalu langsung membawanya ke penggilingan. Proses penggilingan ini cukup memakan waktu. Mulai dari mengantri, menggiling daging, pencampuran daging giling dengan tapioka dan bumbu. Meski demikian proses ini cukup membantu meringankan pekerjaan para pedagang bako. Adonan siap masak ini selanjutnya dibawa pulang dan siap diolah.
Kenapa pedagang bakso di Leuwiliang banyak sekali ya? Bisa jadi karena masyarakatnya, seperti yang saya singgung di atas memang penggila Bakso. Begitulah Hukum Permintaan yang berlaku, ada permintaan maka ada penjual. Padahal, tidak semua pedagang bakso itu warga pribumi lho. Bahkan kalau dicermati, sebenarnya banyak sekali warga pedatang yang mengais rezeki di sana dengan berprofesi sebagai pedagang bakso.
Berdasarkan hasil obrolan dan pengamatan super iseng saya......ditengarai pedagang bakso di Pasar Leuwiliang ini sebagian merupakan pendatang dari Wonogiri. Nah, sist, bro and guys sekalian mungkin sekali waktu bisa memperhatikan dialek para pedagang ini ketika melayani pembelinya. Ada dua dialek utama yang dapat dikenali: Dialek Sunda atau Jawa. Jika si pedagang mengunakan dialek Jawa, besar kemungkinan ia berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.
Wonogiri di Jawa Tengah dan Malang di Jawa Timur merupakan dua wilayah yang terkenal sebagai sumber persebaran para pedagang baso. Kedua jenis bakso dari kedua tempat ini berbeda sekali. Jika menelisik penampakan bakso di kedai-kedai Bakso di Leuwilang, dapat dikatakan merupakan jenis bakso dari Wonogiri.
Ini jelas fenomena yang cukup mengerikan guys......! (Ups....jangan serius yaa.....Seklai lagi, saya sedang iseengg banget smile emotikon )
Jangan bicara soal imperialisme ya...kalau masyarakat Leuwiliang sendiri tidak sadar telah dijajah oleh masyarakat Wonogiri. Kegilaan akan bakso tanpa disadari merupakan bentuk penjajahan, invasi kuliner yang melenakan indera pengecap kita. Bayangkan.....para perantau Wonogiri itu telah berhasil menciptakan ketergantungan akut masyarakat Leuwiliang akan hidangan bernama bakso, he..he...he...
Jangan bicara soal imperialisme ya...kalau masyarakat Leuwiliang sendiri tidak sadar telah dijajah oleh masyarakat Wonogiri. Kegilaan akan bakso tanpa disadari merupakan bentuk penjajahan, invasi kuliner yang melenakan indera pengecap kita. Bayangkan.....para perantau Wonogiri itu telah berhasil menciptakan ketergantungan akut masyarakat Leuwiliang akan hidangan bernama bakso, he..he...he...
Tapi begitulah kuliner...bakso tetaplah bakso. Sebuah hidangan gurh dan lezat yang mampu mengusir rasa lapar, mencairkan suasana dan mengakraban sebuah perbincangan di sebuah kedai bakso.
Nah temans, sudahkah makan bakso hari ini?
Catatan "Ngobrol Produktif dengan Praktisi"
![]() |
| credit foto: Iving A Chevny |
"Kantor Pos bablas ngulon...."
Demikian pesan pendek Iwan J Prasetyo di inbox FB saya, membantu memberi petunjuk lokasi diskusi yang akan kami hadiri. Akhirnya saya menemukan lokasi pertemuan kami, setelah menjelajahi hampir separuh kampung Jomegatan lantaran urusan nomor rumah yang ternyata acak-acakan di kawasan ini.
Demikian pesan pendek Iwan J Prasetyo di inbox FB saya, membantu memberi petunjuk lokasi diskusi yang akan kami hadiri. Akhirnya saya menemukan lokasi pertemuan kami, setelah menjelajahi hampir separuh kampung Jomegatan lantaran urusan nomor rumah yang ternyata acak-acakan di kawasan ini.
Undangan diskusi terbatas yang digagas mas Iving A Chevny sungguh menggiurkan: "Ngobrol Produktif dengan Praktisi" . Iming-iming bahasannya juga tak kalah menggemaskan (he..he..he): Berbagi ilmu cara brand terkenal memproduksi sepatu, Berbagi ilmu tentang berbagai jenis bahan garmen(tas, sepatu), Berbagi ilmu tentang bagaimana cara kerja desainer dan product developer menghasilkan sebuah produk yg bagus dan berkualitas, Berbagi ilmu seluk beluk tentang foto produk, Berbagi ilmu tentang web, e commerce dll, Berbagi ilmu tentang packaging, yg mampu memberikan nilai lebih bagi sebuah product. Opo ra edan kuwi!
Dalam diskusi ini, hadir mas Iving A Chevny (wirausahan nasional), kang Diki Kusmayadi (Product Development), mas Imam Syafei (prakisi UMKM), mas Iwan J Pasetyo (Praktisi IT), mbak Destina Kawanti (BNN) dan komunitas Geluk Design (sekumpulan anak muda yang tekun berkarya dalam dunia komunikasi visual).
INTRO
INTRO
Tepat 1 Januari 2015, kawasan ASEAN akan memasuki babak baru, sebuah era diberlakukannya sistem ekonomi integral antar negara anggota ASEAN Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailan, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar. Sebuah sistem perdagangan bebas antar negara ASEAN akan menghilangkan berbagai sekat wilayah, termasuk berbagai kebijakan yang bisanya menjadi pengendali dalam sebuah negara. Sistem bea cukai akan lebih sederhana, adanya sistem self certification. Sistem kompetisi langsung ini memiliki resiko yang cukup serius dengan membanjirnya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia. Ini mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas dan tak jarang jauh lebih murah. Kondisi kompetisi langsung ini kemungkinan akan membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit.
Ilustrasi singkatnya begini: Pedagang Singapura atau Malaysia dapat leluasa berdagang di Indonesia, demikian juga sebaliknya Pedagang asal Indonesia dapat membuka kedai di Thailand atau Vietnam, tanpa disibukkan dengan berbagai regulasi.
MEA dan Tantangan UKM Indonesia
Mas Iving A Chevny mengawali diskusi dengan mengetengahkan dua isu penting yaitu pendapat pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsi terkait keberadaan UKM di era MEA (Masyarakat ekonomi ASEAN) dan pernyataan Jusuf Kalla terkait rencana dikucurkannya kredir untuk UKM. Kedua isu ini meski bukan isu baru namun merupakan isu yang cukup penting di kalangan pelaku bisnis UMKM.
Nah, bagaimana pelaku usaha d indonesia sendiri? Ini adalah tantangan luar biasa bagi pelaku usaha kita, terutama pelaku usaha UMKM? Apakah siap menghadapai "tamu-tamu" dari berbagai negara tetangga ini, di tengah hadirnya tantangan krisis moneter dunia yang melorotkan nilau tukar rupiah?
Sekedar pengingat, krisis tahun 1998 sesungguhnya UMKM telah menjadi tulang punggung bagi perekonomian bangsa kita, menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan lebih jauh. Di saat begitu banyak pelaku usaha kelas kakap yang kocar-kacir, UMKM mampu bertahan, meski tak sedikit yang gulung tikar.
Tantangan saat ini mungkin tak kalah dahsyat dengan badai ekonomi tahun 1998 yang lalu. Bagaimana pelaku UMKM menyikapinya? Apakah masih harus menunggu uluran tangan dari pemerintah terus? Bagaimana memenangkan persaingan usaha dengan pelaku UMKM dari negara serumpun?
Mas Imam Syafei mengemukakan bahwa sesungguhnya ada banyak kelebihan dan kelemahan UMKM kita dalam sejarah perjalanannya. Apa kelebihannya? Sebenarnya produk Indonesia itu mampu lho bersaing dengan produk dari luar negeri, bahan untuk standar Eropa yang membutuhkan banyak syarat dan kontrol kualitas yang ketat. Ini dibuktikan dengan banyaknya produk ekspor yang banyak memenuhi pasar dunia. Tak jarang banyak pula pesanan produksi yang mampu dipenuhi dengan spesifikasi tinggi.
Kalau produknya sudah mampu bersaing, kenapa UMKM kita sepertinya masih jalan di tempat? Ini dia kelemahan yang harus kita cermati: Masalah etos kerja. persoalan utama adalag pada komitmen saat menerima permintaan klien. Tak jarang, saat menerima order, banyak UMKM yang tak mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati alias mangkir. Komitmennya bukan soal waktu yang molor dari jadwal, terkadang demi meraih keuntung lebih spesifikasi bahan baku malah di bawah standar yang disepakai.
Faktor lain juga terkait pengetahuan. Pengetahuan akan pasar yang dituju, kemampuan membaca trend dan tentu saja saat yang tepat ketika meluncurkan produk. Saat ini, tengah dirintis sebuah institusi untuk mendampingi pelaku UMKM mengembangkan usahanya yaitu Rumah Branding Yogya
Salah satu contoh produk yang mampu memenuhi pesanan dengan standar Eropa adalah produk ikat pinggang sederhana dari bahan webbing (?) dengan merk Fret Free (http://www.fret-free.com/).
PENGEMBANGAN PRODUK DAN KONSUMEN
Di sessi ini juga dipaparkan betapa rumitnya merancang sebuah produk dalam menghadapi kompetitor. Kang Diki Kusmayadi berbagi cerita pengalamannya sebagai seorang Product Development untuk sebuah brand asal Autralia, mulai dari soal kompetisi antar produk, kualitas bahan, kualitas produksi hingga soal prosuk yang harus presisi satu sama lain. Terkait tugas utamanya seorang Product Development selain harus menguasai hal-hal teknis produksi, ia juga wajib membuka mata dan telinga terhadap perkembangan trend fashion terkini, menjawab keinginan pasar, mecari tahu perkembangan kompetitor. Semua itu adalah upaya yang terintegrasi satu sama lain dalam membangun dan mempertahankan brand dan tentu saja ekspansi pasar yang lebih luas.
Sebagai ilustrasi, brand Rip Curl sangat massif di Bali hingga terkesan menjadi brand yang generik (http://asia.ripcurl.com/). Di sudut manapun di pulau Dewata ini, kita akan dengan mudah menemukan logo Rip Curl. Ini berbeda sekali dengan kondisi di Jakarta, brand ini ternyata kurang populer. Perbedaan signifikan ini tentu saja sangat dipengaruhi kondisi pasar. Bali yang identik dengan destinasi wisata, termasuk aktivitas surfing, sementara Jakarta adalah kota metropolitan yang tak ada aktivitas surfing. Karakteristik pantai dan laut Jakarta berbeda dengan Bali, kondisi geografis ini adalah yang mendasari perbedaan pasar kedua kawasan ini. Jakarta justru lekat dengan aktivitas skateboard, sebuah jenis olahraga urban yang jauh dari kawasan pantai. Maka brand lain yang menjadi kompetitor lebih mampu bersaing di kawasan Jakarta. Istilah Rip Curl sendiri (atau Rip Current) berasal dari istilah kondisi akumulasi dua atau lebih arus balikgelomang laut yang cukup mematikan yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut.
Sekedar pengingat, krisis tahun 1998 sesungguhnya UMKM telah menjadi tulang punggung bagi perekonomian bangsa kita, menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan lebih jauh. Di saat begitu banyak pelaku usaha kelas kakap yang kocar-kacir, UMKM mampu bertahan, meski tak sedikit yang gulung tikar.
Tantangan saat ini mungkin tak kalah dahsyat dengan badai ekonomi tahun 1998 yang lalu. Bagaimana pelaku UMKM menyikapinya? Apakah masih harus menunggu uluran tangan dari pemerintah terus? Bagaimana memenangkan persaingan usaha dengan pelaku UMKM dari negara serumpun?
Mas Imam Syafei mengemukakan bahwa sesungguhnya ada banyak kelebihan dan kelemahan UMKM kita dalam sejarah perjalanannya. Apa kelebihannya? Sebenarnya produk Indonesia itu mampu lho bersaing dengan produk dari luar negeri, bahan untuk standar Eropa yang membutuhkan banyak syarat dan kontrol kualitas yang ketat. Ini dibuktikan dengan banyaknya produk ekspor yang banyak memenuhi pasar dunia. Tak jarang banyak pula pesanan produksi yang mampu dipenuhi dengan spesifikasi tinggi.
Kalau produknya sudah mampu bersaing, kenapa UMKM kita sepertinya masih jalan di tempat? Ini dia kelemahan yang harus kita cermati: Masalah etos kerja. persoalan utama adalag pada komitmen saat menerima permintaan klien. Tak jarang, saat menerima order, banyak UMKM yang tak mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati alias mangkir. Komitmennya bukan soal waktu yang molor dari jadwal, terkadang demi meraih keuntung lebih spesifikasi bahan baku malah di bawah standar yang disepakai.
Faktor lain juga terkait pengetahuan. Pengetahuan akan pasar yang dituju, kemampuan membaca trend dan tentu saja saat yang tepat ketika meluncurkan produk. Saat ini, tengah dirintis sebuah institusi untuk mendampingi pelaku UMKM mengembangkan usahanya yaitu Rumah Branding Yogya
Salah satu contoh produk yang mampu memenuhi pesanan dengan standar Eropa adalah produk ikat pinggang sederhana dari bahan webbing (?) dengan merk Fret Free (http://www.fret-free.com/).
PENGEMBANGAN PRODUK DAN KONSUMEN
Di sessi ini juga dipaparkan betapa rumitnya merancang sebuah produk dalam menghadapi kompetitor. Kang Diki Kusmayadi berbagi cerita pengalamannya sebagai seorang Product Development untuk sebuah brand asal Autralia, mulai dari soal kompetisi antar produk, kualitas bahan, kualitas produksi hingga soal prosuk yang harus presisi satu sama lain. Terkait tugas utamanya seorang Product Development selain harus menguasai hal-hal teknis produksi, ia juga wajib membuka mata dan telinga terhadap perkembangan trend fashion terkini, menjawab keinginan pasar, mecari tahu perkembangan kompetitor. Semua itu adalah upaya yang terintegrasi satu sama lain dalam membangun dan mempertahankan brand dan tentu saja ekspansi pasar yang lebih luas.
Sebagai ilustrasi, brand Rip Curl sangat massif di Bali hingga terkesan menjadi brand yang generik (http://asia.ripcurl.com/). Di sudut manapun di pulau Dewata ini, kita akan dengan mudah menemukan logo Rip Curl. Ini berbeda sekali dengan kondisi di Jakarta, brand ini ternyata kurang populer. Perbedaan signifikan ini tentu saja sangat dipengaruhi kondisi pasar. Bali yang identik dengan destinasi wisata, termasuk aktivitas surfing, sementara Jakarta adalah kota metropolitan yang tak ada aktivitas surfing. Karakteristik pantai dan laut Jakarta berbeda dengan Bali, kondisi geografis ini adalah yang mendasari perbedaan pasar kedua kawasan ini. Jakarta justru lekat dengan aktivitas skateboard, sebuah jenis olahraga urban yang jauh dari kawasan pantai. Maka brand lain yang menjadi kompetitor lebih mampu bersaing di kawasan Jakarta. Istilah Rip Curl sendiri (atau Rip Current) berasal dari istilah kondisi akumulasi dua atau lebih arus balikgelomang laut yang cukup mematikan yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut.
E-COMMERCE
Iwan J Prasetyo, praktisi IT, mengingatkan bahwa kunci e-commerce terletak pada keberadaan sebuah produk itu sendiri. Kuncinya da di produk, bukan pada brand. MEA sendiri merupakan replika dari dunia e-commerce. Selanjutnya, metode apa yang akan dipakai? Branding atau Cloning? Contoh kasus adalah xiaomi yang merupakan kloning dari I-phone.
Iwan J Prasetyo, praktisi IT, mengingatkan bahwa kunci e-commerce terletak pada keberadaan sebuah produk itu sendiri. Kuncinya da di produk, bukan pada brand. MEA sendiri merupakan replika dari dunia e-commerce. Selanjutnya, metode apa yang akan dipakai? Branding atau Cloning? Contoh kasus adalah xiaomi yang merupakan kloning dari I-phone.
Start up aktivitas e-commerce bisa dilakukan dengan menumpang jual pada toko-toko online terkemuka seperti Lazada, Tokopdia, blibli, bhineka dan lain-lain. Jika telah mapan makaa bisa melakukan penjualan sendiri lewat situs sendiri.
Saat ini komoditi bukan lagi berupa produk degan tingkat kadaluarsa yang tinggi, tahan lama seperti fashion, peralatan rumah tangga, elektronik dan lain sebagainya. Bisnis e-commerce juga mulai merambah lahan kuliner, sebuah komoditi yang membuthkan waktu pengiriman cepat, dengan resiko besar, masa kadaluarsa yang singkat bahka dalam hitungan jam. Mas Iwan menceritakan pengalamannya memesan menu ayam ingkung dari sebuah grup pecinta kuliner, dan ia menerima pengiriman menu tersebut dalam waktu 3 jam saja, dengan kondisi menu dalam keadaan hangat. (https://www.facebook.com/groups/kulinus/)
Saat ini komoditi bukan lagi berupa produk degan tingkat kadaluarsa yang tinggi, tahan lama seperti fashion, peralatan rumah tangga, elektronik dan lain sebagainya. Bisnis e-commerce juga mulai merambah lahan kuliner, sebuah komoditi yang membuthkan waktu pengiriman cepat, dengan resiko besar, masa kadaluarsa yang singkat bahka dalam hitungan jam. Mas Iwan menceritakan pengalamannya memesan menu ayam ingkung dari sebuah grup pecinta kuliner, dan ia menerima pengiriman menu tersebut dalam waktu 3 jam saja, dengan kondisi menu dalam keadaan hangat. (https://www.facebook.com/groups/kulinus/)
PERILAKU KONSUMEN
"Hasrat itu munculnya dari mata", demikian mas Iving menuturkan quote tokoh psikopat Hannibal Lecter dan lakon Silence of the Lamb. Menurutnya, visualisasi yang ditangkap mata mampu mendorong konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Indra visual dianggap mampu mendominasi indra peraba untuk mempengaruhi perilaku konsumen dalam transaksi e-commerce ini. Dalam hal ini, peranan desain grafis sangat besar untuk menampilkan image produk, antara lain berupa desain kemasan yang menarik.
Meski hal tersebut benar adanya,namun tak dapat dipungkiri bahwa term of experince dan term refference sesungguhnya juga mempunyai peran dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
TENAGA KERJA DAN MESIN
Masalah tenaga kerja juga menjadi bahasan singkat dalam diskusi ini. Mbak Destina Kawanti dari BNN berbagi cerita tentang upaya rehabilitasi eks pengguna narkoba agar bisa dilatih menjadi tenaga yang lebh produktif.
Industri digital memasuki babak baru dengan kehadiran mesinm-mesin produksi digital yang dapat dioperasikan di rumah-rumah. sebut saja mulai dari printer sablon digital hingga printer 3 dimensi. Mesin CNC (Computer Numerically Controlled), sebuah mesin yang dikontrol penuh lewat sistem komputerisasi dan semula hanya beredar di kalangan terbatas ini, kini diproduksi massal dan dpat diakses oleh banyak orang dengan harga yang lebih terjangkau. Bayangkan bisa ukiran-ukiran kayu Jepara yang semula dikejakan oleh tenaga perajin ukir, kini cukup dioperasikan oleh mesin cnc di bawah kendali sistem digital. Melalui mesin ini, kayu ukir dapat diproduksi massif, presisi satu sama lain, tanpa ongkos pekerja, bahkan waktu produksi juga dapat dirancang sejak awal produksi.
Kehadiran secara massif mesin-mesin digital rumahan ini apakah mereduksi ruangan pabrik hanya menjadi seukuran ruang tidur, mereduksi besar-besaran tenaga pekerja? Lalu, bagaimana nasib tenaga kerja manusia?
GOJEK
Tidak afdol rasanya, mendiskusikan e-commerce tanpa melirik Gojek, bisnis e-commerce yang saat ini sedang happening atau meminjam istilah para enterpreneur sedang "moncer" :) Gojek, layanan antar jemput menggunakan moda kendaraan roda dua yang terintegrasi dengan sistem online ini diinisiasi Nadiem Makarim, masuk dalam kategori bisnis logistik: mengantarkan (biasa penumpang, bisa juga barang).
Sistem yang digunakan Gojek: Driver mendapatkan tool berupa gadget dengan program aplikasi yg tertanam di dalamnya, termasuk kelengkapan berkendara: Jaket driver dan 2 helm (untuk driver dan penumpang). Sistem pembayaran juga dilakukan secara online. Penumpang wajib melakukan registrasi dan membeli voucher, maka pembayaran tidak dilakukan secara tunai, secara otomatis deposit uang pada akun penumpang akan dipotong sesuai jarak tempuh. Sementara Driver akan menerima gaji dari Manajemen Gojek, sesuai akumulasi pada akunnya. (http://www.go-jek.com/)
PADA AKHIRNYA SEMUA ADALAH IDE
Jika semua elemen dasar industri direduksi, mulai dari regulasi, jarak, tenaga kerja, alat produksi...apa yang tersisa bagi manusia? hanya ide yang tak bisa direduksi, tak bisa digantikan. Ide adalah sumber daya tak akan pernah habis, semakin digali akan semakin cemerlang. Ide bisa datang dari manapun, kapanpun, oleh siapapun dan untuk siapapun. Eureka!
GOJEK
Tidak afdol rasanya, mendiskusikan e-commerce tanpa melirik Gojek, bisnis e-commerce yang saat ini sedang happening atau meminjam istilah para enterpreneur sedang "moncer" :) Gojek, layanan antar jemput menggunakan moda kendaraan roda dua yang terintegrasi dengan sistem online ini diinisiasi Nadiem Makarim, masuk dalam kategori bisnis logistik: mengantarkan (biasa penumpang, bisa juga barang).
Sistem yang digunakan Gojek: Driver mendapatkan tool berupa gadget dengan program aplikasi yg tertanam di dalamnya, termasuk kelengkapan berkendara: Jaket driver dan 2 helm (untuk driver dan penumpang). Sistem pembayaran juga dilakukan secara online. Penumpang wajib melakukan registrasi dan membeli voucher, maka pembayaran tidak dilakukan secara tunai, secara otomatis deposit uang pada akun penumpang akan dipotong sesuai jarak tempuh. Sementara Driver akan menerima gaji dari Manajemen Gojek, sesuai akumulasi pada akunnya. (http://www.go-jek.com/)
PADA AKHIRNYA SEMUA ADALAH IDE
Jika semua elemen dasar industri direduksi, mulai dari regulasi, jarak, tenaga kerja, alat produksi...apa yang tersisa bagi manusia? hanya ide yang tak bisa direduksi, tak bisa digantikan. Ide adalah sumber daya tak akan pernah habis, semakin digali akan semakin cemerlang. Ide bisa datang dari manapun, kapanpun, oleh siapapun dan untuk siapapun. Eureka!
Langganan:
Postingan (Atom)
MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG
Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...
-
Aku mengenal butir-butirnya di dapur rumah, saat ibu melakukan ritual memasak untuk keluarga. Ibu menggerus butir-butir Ketumbar usai meny...
-
"Doa-doa laksana jembatan dunia manusia dan dunia arwah" Pasar Beringharjo pada hari-hari menjelang Bulan Puasa Ramadhan dipenu...







