Senin, 22 Juni 2015

Celana Panjang Suamiku

Suami saya termasuk kategori lelaki berperawakan kurus, meski tak bisa dibilang ceking. Sejak pertama bertemu, rasanya tak ada perubahan yang signifikan pada tampilannya, setidaknya jika menilik pada bobot tubuhnya yang tak pernah beranjak dari kisaran angka 50 dalam satuan kilogram. Berbeda dengan saya yang makin hari nampaknya makin melar ke samping dan ini dibuktikan dengan perbedaan bobot kami yang berselisih hingga di angka 20 pada satuan berat yang sama (Ehmmm....). Ia juga bukan tipe lelaki metroseksual yang gemar berdandan, fashionnya jenis casual sederhana: T'shirt dan selana pendek selutut. That's all.

Kondisi statis pada bobot dan tampilan suami saya membuat berbagai kelengkapan sandang yang dikenakannya menjadi awet dan efisien selama bertahun-tahun, setidaknya dalam kurun satu dasawarsa usia permikahan kami. Celana panjangnya  bahkan hampir sama usianya dengan usia pernikahan kami, meski jarang sekali dipakai. Suami saya lebih sering mengenakan kostum kebesarannya: t'shirt dan celana pendek selutut (atau beken dengan sebutan celana Hawaii), maklumlah dia jenis pekerja dengan prinsip SOHO (Small Office Home Office) alias ngantor di rumah alias ngantor di laptop.

Waktu berlalu, saking terlalu terbuai dengan kostum kebesarannya tersebut, suatu ketika hendak kopdar dengan teman-teman seprofesi ia mendapati celana-celana panjang sudah terlalu sesak untuk dikenakan.  Saya membayangkan ia harus menahan lengkung perut dan membatasi hidangan saat pertemuan berlangsung demi menahan lingkar pinggang celana panjangnya. Alternatif lain mungkin harus membuka kait linkar pingang agar lebih leluasa menikmati canda tawa dalam pertemuan tersebut, yang tentu saja harus terus waspada agar celana panjangnya tidak kedodoran.

Kejadian itu tak lantas mebuatnya berangkat untuk membeli celana panjang baru, ia tetap setia dengan celana pendeknya. Ia meminta saya membelikan celana panjang dengan ukuran tertentu yang elah diperkirakannya sesuai dengan lingkar pinggangnya. Dan tentu saja, celana yang dipesannya tetap tak mencukupi  dan ia tetap dalam kondisi tak memiliki celana panjang yang layak pakai.

Pagi ini, dua kerabat kami datang dari Sorong, Papua. Suami saya tentu mau tak mau harus bersikap sebagai tuan rumah yang baik  untuk menemui tamu kami. Wajahnya terlihat bingung karena harus mebayangkan mengulangi siksa diri lagi.  Namun, sehelai sarung menyelamatkannya dari kemungkinan kondisi yang menyiksanya. Alih-alih bercelana Hawaii atau mengenakan celana panjang yang kesempitan, ia mengenakan sehelai sarung layaknya hendak shalat. Maka ia kemudian tampak terlihat santun dan siap menjadi tuan rumah yang baik bagi kerabat kami.

Kesuksesan sehelai sarung menggantikan fungsi celana panjang, saya harap tidak melenakannya. Saya harap ia mengeyahkan keengganan untuk pergi menyambangi deretan toko atau mall sekalipun untuk mencari celana panjang baru, memastikan ukuran yang tepat dan membawanya pulang untuk disimpan sebagai amunisi jika pertemuan-pertemuan luar rumah berlangsung.  Saya juga berharap untuk benda yang satu ini, ia tidak membelinya secara online sebagaimana kebiasaannya selama ini. Hayyoo...suamiku...langkahkan kakimu ke toko-toko itu.....barang satu jam saja.....!!! :D

#NulisRandom2015
#Day22

Tubuh dan Kenangan-Kenangan di Dalamnya

"Tubuh kita sesungguhnya terdiri dari kenangan-kenangan yang saling menjalin dan membenak"

Apa yang kita santap setiap hari adalah kenangan. Sarapan apa hari ini? Apa menu makan siang dan makan malammu? Setangkup roti selai cokelat? Sepinggan nasi dan ikan bakar? Semangkuk sup jagung hangat? 

Bagaimana dengan lidahmu? Apa yang kaucecap hari ini? Rasa asam sebutir buah jeruk, rasa manis gula, asinnya garam......Semua adalah kenangan sepanjang hidup.  Aneka rasa yang membentuk tubuhmu kini.

Dengarkan desau angin di sore hari, pernahkah kau mendengarnya sebelum ini? Dingin udara berkabut yang menggiggilkan tubuh seolah kau mengalami demam berhari-hari......Mengapa kau menyebutnya demam?

Lihatlah matahari yang tak henti terbit dan tenggelam.......Mengapa tak henti berulang?

Apa yang kau lihat, kau rasakan, kau hayati, kau dengar.....semua tak lebih dari repetisi sepanjang hidup.

#NulisRandom2015
#Day19

Ketumbar

Aku mengenal butir-butirnya di dapur rumah, saat ibu  melakukan ritual memasak untuk keluarga. Ibu menggerus butir-butir Ketumbar usai menyangrainya, membubuknya dan menambahkan bumbu lain ke dalam lumpang batu hitam tua peninggalan nenek.

Unggas-unggas di pekarangan belakang rumah telah selesai disembelih, dibersihkan dan siap menerima baluran berbagai bumbu rempah yang telah luluh lantak dalam lumpang batu itu.  Bau tajam Ketumbar masih tercium di hidungku, saat daging-daging unggas itu mulai memasuki belanga. Rutinitas ritual dapur adalah pertemuan-pertemuan intensku dengan Ketumbar.

Nun, bertahun-tahun kemudian, aku mengenal Ketumbar dengan lebih intim. Persalinan pertamaku membawa keintiman itu. Usai melewati perjuangan semalam penuh dengan segala peluh, ibu membawakanku ramuan kering  berisi aneka rempah, daun-daun hutan, akar-akar tanaman hutan hingga beberapa bumbu dari dapur termasuk bau itu, bau Ketumbar. Seorang paraji desa telah menjelajah hutan mencari berbagai dedaunan dan akar, menyangrainya dengan berbagai bumbu dapur, menumbuknya hingga halus. Mereka menyebutnya Jamu Peluntur, jamu bubuk kering bagi seorang perempuan yang telah rampung berjuang sepertiku.

Dan, kini....aku menyangrai butir-butir itu....mejumput beberapa butirnya, menggigit dalam getas geligi. Aku menikmati dengan sungguh butir-butirnya, mengunyah dan mencecap rasa gurih getir di dalam rongga mulut. Mencecap segala perjumpaan kami dalam berbagai peristiwa.

#NulisRandom2015
#Day18

Bunga dan Doa

"Doa-doa laksana jembatan dunia manusia dan dunia arwah"
Pasar Beringharjo pada hari-hari menjelang Bulan Puasa Ramadhan dipenuhi wangi bunga. Berjalan di Jalan Papringan, sisi selatan pasar ini, pada sepanjang ruasnya, kau akan menjumpai aneka bunga: mawar, melati, kenanga, kanthil yang menebar wangi dan membuatmu ingin menghirupnya lebih dalam.

Pasar Beringharjo menjelang Bulan Puasa Ramadhan, para petani bunga memetik bunga-bunga di ladang, mengirimnya ke pasar ini melalui para pedagang bunga.

Pasar Beringharjo menjalang Bulan Puasa Ramadhan: Segenap anak, cucu, kerabat, teman dan handai taulan orang-orang yang telah berpulang akan memenuhi keranjang-keranjang mereka dengan bunga-bunga semerbak ini.

Pada ziarah-ziarah beruntai bunga, segala doa akan dipanjatkan bagi yang telah berpulang. Menuntaskan rindu yang tak pernah tuntas, mengenang yang mampu dikenang, mengulang doa yang selalu berulang.

#NulisRandom2015
#Day15

Fiksi adalah Latihan, Latihan dan Latihan

Dalam beberapa minggu ini saya harus fokus pada beberapa hal dan hasilnya menyenangkan. Namun sayangnya, kreatifitas menulis cerpen dan novel sedikit terhambat. Beberapa kali mencoba untuk "nyambi" menulis di sela-sela kesibukan. Ealahh..ternyata ide gak bisa keluar. Dialog yang saya susun terasa kaku dan dipaksakan. Saya jadi makin mengerti, mengapa menulis fiksi disebut sebagai proses kreatif.

                                                                                                        ***   *** ***

Paragraf di atas saya comot dari status seorang teman yang saya yakin adalah seorang penulis fiksi handal, mampu mendeskripsikan kisah fiksi dari benaknya yang seolah hadir nyata. Kisah-kisah yang disampaikannya kerap membuat saya dan teman-teman penyimak lain kerap cengar-cengir bahkan tertawa terbahak-bahak. Tak jarang kami sering menggelar tikar bersama demi menyimak kisah-kisah fiksinya, tentu semua kami lakukan bersama dalam jagad virtual. "Nggelar Kloso" demikian kami kerap memberi komen untuk ritual menyimak bersama itu dan tentu dengan disertai foto selembar tikar yang tergelar para penyimak.

Lebih lanjut, teman saya itu berkata bahwa menulis fiksi sangat berbeda dengan menulis artikel ilmiah populer yang tergantung pada data-data empiris dan teori yang sudah dibakukan. Tentu saja berbeda karena fiksi memang melulu megandalkan kemampuankita dalam berimajinasi. Dan, menrut hemat saya, imajinasi juga haru dibarengi logika. Fiksi harus logis, masuk akal. Bukan tidak mungkin kita bercerita tentang gajah yang bisa terbang, sebagaimana kita mendapati banyak cerita tentang kuda bersayap yang juga bisa terbang. Di sinilah penulis fiksi menghadapi tantangan bagaimana menampilkan gajah terbang sama logisnya dengan kuda terbang.

Fiksi adalah juga melulu tentang bagaimana kita menajamkan sensitivitas segenap indera yang kita miliki. Bagaimana kita membaui aroma, mengecap rasa, meraba bentuk, mendengar suara, melihat bentuk. Semua senitivitas yang ditangkap indera kita harus diterjemahkan ke dalam kata-kata, ke dalam gaya bahasa yag mampu mewakili indera-indera kita. Kita harus mampu menyampaikan pesan kepada pembaca hingga indera-inera pembaca juga mampu merasakan apa yang kita rasakan.

Maka saya hanya bisa nyengir ketika ada yang berpendapat bahwa menulis fiksi itu gampang! Maka saya masih perlu belajar banyak....Latihan, latihan dan latihan, begitu saran teman saya yang lain. Untuk apa latihan terus menerus? Tak lain untuk melemaskan bahasa tulis, gaya bahasa yang kita gunakan akan mempengaruhi hasil akhir fiksi yag kita tulis, sehingga kita mampu menyampaikan pesan kita ke pembaca.

Jadi, saya masih harus banyak latihan, latihan dan latihan.

#NulisRandom2015
#Day12

Rumahku, Istanaku

Seorang teman mengunggah foto rumahnya dalam akun media sosialnya dengan disertai sebuah tagline: Rumahku, Istanaku.  Foto itu berisi sebuah rumah mngil di perumahan yang nampaknya cukup sederhana,  yang dibangun secara massif oleh sebuah badan usaha milik pemerintah khusus dalam bidang perumahan. Teman saya itu, dengan lugunya menyertakan batang-batang bambu di halaman rumahnya, lengkap dengan jemuran-jemuran yang menghiasi muka rumah tersebut. 

Ahasil, posting yang sesungguhnya sederhana itu ramai oleh berbagai komen rekan-rekannya.
"Haaa....Ramayana dah buka" celetuk komentator pertama seorang perempuan berambut panjang dengan kacamata bertengger di wajahnya
"BIG SALE" Seorang perempuan berhijab ungu dengan kacamata hitam dan nampaknya alumni sebuah perguran tinggi populer di ibukota, turut megomentari, dan menimpali kembali degan gaya bahasa seperti seorag pedagang kaki lima menawarkan barang dagangan "dipeleh..dipeleh...dipeleh..."
Seorang lelaki berkaus garis-garis tak mau kalah, berceloteh "Pasar apa mall?"
Atau lelaki lain dengan profile picture tengah asyik merokok  turut nimbrung "Cuci gudang nich..he he he"

Begitulah sebuah rumah, terasa seperti istana meski berbagai jemuran menghiasi rumah kita serupa bendera-bendera yang meramaikan sebuah karnaval. Sesederhana apapun, semungil apapun rumah yang kita diami, akan terasa bak sebuah istana jika kita merasa nyaman  di dalamnya.

Sebuah rumah adalah sebuah istana, terutama jika kita memilikinya denga segala daya usaha. Sebuah rumah juga bisa kita rasakan bak istana meski kita hanya mengontrak. Rasa kepemilikan bak istana itu  kita rasakan meski setiap bulan rasa itu harus diperpanjang dengan menyetor uang sewa, jadi rasa itu tergantung bagaimana rutinitas kelancaran uang sewanya. Tak apa, jika kita baru mampu sebatas menyewa, selama kita nyaman maka rumah sewa itu adalah istana kita untuk sebulan ke depan.

Rumahku istanaku.....sangat terasa betul ketika kita mengalami sebuah diare berkepanjangan. Ini sebuah bencana yang membutuhkan kenyamanan sebuah rumah. Bayangkan jika kita buang hajat secara terus menerus di toilet umum berbayar. Katakanlah, kita harus lima kali bolak-balik ke toilet tersebut, coba dikalikan seribu rupiah maka uang sebesar lima ribu rupiah harus kita relakan untuk memenuhi hasrat buang air yang menyiksa itu. Belum lagi, gerutuan kesal para pengantri yang turut membutuhkan layanan toilet tersebut.

Bayangkan jika diare yang kita alami itu berlangsung di rumah kita sendiri, alangkah bebasnya perasaan kita, bebas bolak-balik toilet, bebas membayar, bebas mengantri, bebas dari rasa malu. Meski mungkin, bau pesing dan bau-bau lain tak berbeda dengan yang tercium di toilet umum berbayar. Toh.. rasa nyaman buang hajat di toilet rumah kita tak akan mungkin bisa tersaingi oleh toilet umum berbayar manapun. Kalian percaya bukan?

Maka begitulah sebuah rumah jika dimaknai sebagai sebuah istana, itulah tempat di mana kita merasa nyaman saat diare menyerang kita tanpa permisi.

#NulisRandom2015
#Day11

Yogya Hari Ini: Berimajinasilah!

Yogya hari ini adalah pesta siang malam pasukan crane dan traktor yang  tak henti menyusun kubikal-kubikal beton, yang nampaknya sama mudahnya seperti anak-anak menyusun kotak-kotak korek api  hingga menjulang. Sebegitu tingginya hingga cahaya matahari kelak tak mampu menerobos gubuk-gubuk tersisa. Sebegitu tingginya hingga kelak, kau hanya bisa memandang keindanhan merapi hanya lewat baliho-baliho yang tak kalah menjulang.


"Hahh...apa asyiknya menyaksikan keindahan gunug lewat sebuah baliho?" Ah...kau ini sungguh tidak  kreatif, gunakan imajinasimu....sekali lagi imajinasi! Kau harus tahu, hidup tanpa imajinasi itu sungguh menyedihkan. Begini..tentang Merapi yang tak dapat kau nikmati lewat imajinasimu itu: Bukankah kau juga memandang Merapi hanya dari kejauhan? Bukankah kau nyaris tak pernah menyentuhnya secara langsung? Nah....apa bedanya antara memandangnya dari kejauhan dengan memandangnya lewat sebuah baliho? Bukankah kau akan mendapatkan pemandangan yang sama indahnya? Imajinasi, teman...sekali lagi imajinasi.

Begitulah cara kami bertahan di Yogya. Berimajinasilah, teman!

#NulisRandom2015
#Day9 

Balada Rocker Gondrong

Aku tahu pada siapa kau tergila-gila.....pada lelaki rocker itu bukan? Yang rambut gondrongnya masih belum dipangkasnya sejak ia masih muda belia, rocker yang hingga menjelang usia setengah abadnya masih energik dan memikat banyak perempuan dan grupies-grupies di sekelilingnya.  

Begini ya......kuceritakan padamu kisah lamaku. Dulupun aku tergila-gila pada rocker gaek itu. Dulu sekali...saat usiakupun masih belasan tahun dan ia belum setua sekarang. Mungkin kau benar-benar tak tahu dulu aku adalah anggota sebuah grupies bagi band rock si tua itu. Meski saat itu aku hanya ikut-ikutan saja, namun harus kuakui aku sangat membanggakan diriku yang memiliki kesempatan langka masuk dalam grupies itu.

Hingga suatu hari, saat grup rock dan si tua itu singgah di kotaku, aku dan grupiesku segera memburu rocker pujaan kami. Kami mengnvestigasi kemungkinan-kemungkinan di mana rocker pujaan kami itu menginap. Pada suatu malam sehari sebelum pementasan besar mereka, kami menyogok manajer pertunjukan  mereka untuk menghamburkan diri ke kamar-kamar  tempat seluruh anggota band menginap.

Kau tahu, satu persatu anggota grupiesku mengasingkan diri dengan masing-masing anggota band rock itu, termasuk aku. Kau tentu tak menyangka dengan siapa aku mengisolasi diri? Siapa sangka  rocker pujaan kami ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama padaku, yang anak bawang di grupies ini, ya setidaknya begitulah menurut pengakuan rocker itu.

Lelaki rocker itu nampaknya memang tergila-gila padaku, ia memandangku tak putus-putus dan seperti seekor serigala lapar yang telah berpuasa tak makan dan tak minum selama berbulan-bulan. Ia membelai rambutku dengan mesra dan entah kenapa matanya menjadi terlihat sayu merayu.

Aku tak kalah mesra, balas membelai rambut gondrongnya yang memepesona itu. AKu tak mempedulikan bau tengik rambutnya yang nampaknya jarang dikeramas itu. Saat itu, bau tengik yang menusuk-nusuk hidung itu merupakan bagian dari segala pesona kebintangannya. Apalah arti secuil bau tengik itu jika dibandingkan hatiku yang bunggah, dapat bertemu rocker yang digila-gilai jutaan fansnya.

Hingga suatu ketika......sesuatu membuatku terperangah.....sesuatu yang berwarna hitam..kecil dan nampak merayap-rayap....di antara sulur-sulur rambutnya.....nampaknya tak hanya satu ada dua...tiga..empat..lima...enam..tujuh...delapan,,sembilan,,sepuluh......dua puluh..tiga puluh.....

Astaga, aku tak mampu menghitungnya.......puluhan serangga kecil merayap-rayap di seluruh batang rambutnya menyambut belaian tanganku dengan keriangan yang aneh. Astaga....laki-laki rocker pujaanku ini membiakan puluhan kutu rambut di kepalanya. Seketika bulu romaku berdiri....merinding  dan bergidik.

Aku segera melepaskan diri dari pelukan lelaki rocker itu, menerobos pintu keluar dan berlari sekencang-kencangnya.

Jadi, bukan aku tak menyukai rocker pujaanmu itu, aku hanya agak mual membayangkan kutu-kutu di kepalanya yang memenuhi sulur-sulur rambutnya yang telah memutih itu.

Kau tidak bisa membayangkan  betapa serangga-serangga penghisap darah itu memenuhi segala penjuru kepalanya, bukan?

#NulisRandom2015
#Day8 

Bersin-Bersin dan Segelas Teh Panas

"Hatsyi...!!! Hatsyi...!!!"

Kepalaku  terangguk-angguk hebat dan mengeluarkn suara keras,

"Hatsyii...!!.....Hatsyii...!!"Alih-alih menyeruput teh dalam gelas di hadapanku, aku malah meniupnya tak sabar. Bapak tua pemilik kedai nampaknya tak cukup cermat mengamati pesananku. Aku memesan teh hangat dan ia menerjemahkannya dengan menuangkan air mendidih ke dalam gelas berisi daun teh kering yang lengkap dengan batang-batang tua di dalamnya.

Sesungguhnya keinginanku sederhana saja, aku ingin menyeruput segelas teh hangat untuk meredakan bersin-bersin yang menyerang hidungku pagi ini. Minggu pagi, usai  berolahraga yang hanya bisa kulakukan seminggu sekali ini, tiba-tiba aku diserang bersin-bersin tak berkesudahan. Serangan ini cukup mengganggu dan segera saja aku menghampiri kedai kecil itu untuk memesan segelas teh hangat. Butuh waktu cukup lama bagi rongga mulutku untuk menerima kehangatan dari seduhan teh itu. "Hatsyii...!!...Hatsyii...!!!" Sementara menunggu panasnya reda di dalam gelas besar itu, aku mengedarkan pandangan ke sekililingku. Kedai Bapak tua ini bukan satu-satunya kedai makanan di sini. Kedai ini bersama sekitar delapan kedai lainnya berada dalam satu naungan sebuah pendopo besar terbuka berukuran 10 meter persegi. Hampir seluruh kedai di sini menyajikan jajan pasar dan hidangan sarapan tradisional Jawa, serta tentu saja minuman  teh dan kopi dalam dua pilhan panas dan dingin. Minuman hangat, seperti yang kupesan, nampak masuk dalam kategori minuman panas yang secara harfiah bersuhu hampir mendekati suhu air mendidih. Ramuan yang kuanggap mampu meredakan bersin di hidungku, setidaknya dalam beberapa jam ke depan.

Perubahan suhu dalam gelas di hadapanku ini membutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa kunikmati untuk menghangatkan dinding rongga hidung bagian bawahku yang terhubung dengan rongga mulut.  Serangan bersinku mereda, gatal-gatal di rongga hidungku berkurang.

#NulisRandom2015
#Day10

Jogging dan Dua Mangkuk Soto

Aku terus menggerakkan kaki, berlari-lari kecil mengitari jogging tack ini. Sungguh mati, otot-otot kakiku seperti mengeras, kejang dan membeku. Jogging track yang kilintasi ini rasanya seperti lintasan keliling bumi......panjang sekali, maklumlah jogging track ini mengelilingi sebuah lapangan sepak bola sungguhan...bukan lapangan futsal yang sekarang sedang marak itu.


Ya..ya.....minggu pagi ini, aku mulai berolahraga kembali...setelah sekian tahun tak menggerakkan tubuh dengan sebaik-baiknya. Usai kepergian sepeda lipatku yang hilang mendadak dicuri orang tak bertanggung jawab tiga tahun silam, mungkin inilah pertamakalinya aku berolahraga kembali. Kau tahu bagaimana rasanya berjogging  setelah sekian tahun tak pernah menggerakkan tubuh? Tubuhku rasanya seperti barang rongsokan yang teronggok dengan karat-karat yang menggerogoti secara perlahan namun pasti.


Sebenarnya, targetku pagi ini sangat sederhana......aku akan berlari sekitar hanya 1-2 putaran lintasan lari ini saja...paling banyak mungkin hanya tiga putaran. AKu akan berhenti berlari jika pedagang lontong sayur langgananku datang dan menggelar dagangannya, tepat di pojok barat daya lapangan sepak bola ini.  Sialnya, hingga menjelang akhir putaran ketiga pedagang lontong sayur itu tak kunjung datang dan menggelar dagangannya. Akhirnya aku tetap melanjutkan berlari-lari kecil.....memasuki lintasan keempat......hingga mulai melintasi jogging track ini ke lima kalinya.

Pada putaran ke lima inilah.....rasanya kakiku mulai membeku.....rasa haus menyerang kerongkonganku.....Aku beberapa kali hampir tersungkur mencium balok-balok semen di sepanjang lintasan. Aku menyerah pada akhir putaran  ke lima saat menyadari bahwa pedagang lontong sayur yang kutunggu nampaknya tak akan datang hari ini. Mungkin ia mengalami demam hingga harus beristirahat, mungkin ia butuh berlibur bersama kekasihnya di hari minggu atau mungkin saja ia juga tengah berjogging-ria sepertiku di jalanan atau lintasan jogging track di bagian lain kota ini. Masak seorang pedagang lontong sayur tidak boleh bersenang-senang di hari minggu? Aku mencoba menghibur diri dengan segala kemungkinan itu.


Aku berupaya tidak tersungkur, sebuah kemungkinan yang membuat malu di minggu pagi. AKhirnya aktvitas olahraga ini harus kuhentikan. AKu lapar dan haus setengah mati. Aku menjumpai sorang pedagang soto dan melampiaskan rasa lapar. Hingga dua mangkuk soto dan dua gelas teh manis tandas tak bersisa diiringi senyum kebahagiaan di wajahku.

Ini sungguh kisah yang payah untuk kuceritakan....sebuah kegagalan.....Ya..sudahlah......Minggu depan, semoga aku bisa  lebih tabah dan kuat menghadapi godaan kuliner di depan mataku :)

#NulisRandom2015
#Day7

Kepada Budi Santi

Entah kenapa, semalam aku merindukanmu dengan tiba-tiba. Malam yang penuh dengan peluh di sekujur kulit lantaran cuaca berganti musim. Malam yang melelahkan semua orang yang terlelap. Dan tentu saja malam yang aneh, karena wajahmu tiba-tiba hadir dalam benakku.

Entah kenapa, semalam aku membayangkanmu bercakap-cakap denganku di sore yang basah oleh gerimis berkepanjangan. Sore yang dingin menggigilkan kulit kita hingga selembar jaket mungkin tak cukup untuk kita kenakan.Kita berjalan dalam sebuah gedung pertokoan tua yang menawarkan barang-barang usang yang tak menarik hati. Satu-satunya yang menarik hanya perbincangan kita. Perbincangan kisahmu dan kisahku.  

Tentang perburuan berita yang harus kau geluti sepanjang hari. Tentang kegilaanmu chatting sepanjang malam dengan  lelaki pelautmu nun di seberang Atlantik. Pertemuanmu dengan sang Pelaut saat kapalnya berlabuh di teluk itu. Bahkan ketika akhirnya kau kecewa padanya. Semua masih ada di telingaku, masih tersimpan rapi.

Kau tahu, kau menjadi salah satu penyemangatku ketika aku harus menghadapi ketakutanku yang menggila, saat menghadapi persalinan pertamaku. Pesan-pesan pendekmu sampai di layar hapeku, penuh bahasa penyemangat  meski aku tetap tergugu dalam ketakutan yang sangat itu. Meski pada akhirnya aku hanya bisa pasrah menghadapi ketakutan itu. Ada satu kegembiraan yang harus kulewati bersamamu dan beberapa teman. Ajakanmu berkeliling kota demi merayakan peluncuran awal bis-bis kota yang kala itu tak berbayar, sungguh harus kuabaikan. Padahal, sungguh-sungguh aku tergiur untuk berkeliling kota bersamamu dan teman-teman lain, dengan perut  hamilku yang gendut itu......pasti menyenangkan.

Kau tahu, anakku yang saat kelahirannya kau iringi dengan semangat yang sungguh-sungguh itu kini telah berusia 10 tahun, hari ini. Mungkin ia tak mengenalmu, seorang teman lama ibunya yang dengan hati penuh telah mendoakan kehadirannya ke dunia.

Entah kenapa, semalam aku tak bisa melelapkan diri meski kantuk menyerangku sedemikian rupa. Mungkin kau hadir dengan tiba-tiba dalam perayaan senyap kelahiran anak pertamaku itu.

Entah kenapa, tiba-tiba aku merindukanmu...........

#NulisRandom2015
#Day5 

Buah Kersen

Setiap kali melewati pohon-pohon Buah Kersen yang bercabang melebar bak payung yang menaungi panas matahari, saya selalu mengalami deja vu.
Sepersekian detik, saya memasuki masa kanak-kanak......seperti sebuah layar putih besar yang terkembang dan disoroti lampu proyektor yang menghadirkan sebuah film berulang-ulang. 

Pohon Kersen, sebuah situs sejarah masa kecil  saya hadir di banyak tempat dan bisa saya temui setiap waktu sesering saya inginkan. Mencecapnya dalam rasa manis di lidah adalah buah dari sedikit kekeraskepalaan saya. Ya...saya selalu berkeras untuk menaiki cabang-cabang pohonnya, menggapai surga kecil kemerahan itu pada setiap pucuk rantingnya. 

Saya tidak pernah peduli dengan permukaan daun hijaunya yang kerap menempel di baju saya dan meninggalkan noda getah kehijauan. Bagi saya, noda daun yang lengket itu sungguh sepadan dengan keriangan mendaki puncak  Kersen.

Begitulah masa kecil, mendaki dan menaiki pepohonan, mendapatkan noda getah, mencecap manis buah kecil yang merah meranum. Itu semacam satu paket petualangan kecil kanak-kanak saya.

#NulisRandom2015
#Day4 

Sebuah Lukisan Petani yang Menyenangkan

Sebuah lukisan berisi petani dan sawahnya hadir di hadapan saya, tepatnya di monitor laptop saya. Lukisan ini dibuat oleh anak seorang teman. Buat saya, melihat lukisan tersebut  rasanya seperti mendapat sebuah kabar baik yang mengobati  keguncangan kami. Ya..minggu lalu saya dan banyak teman mengalami keguncangan hati  yang dalam atas kepergian seorang teman lama. Padahal saya belum lagi bertemu dengannya sejak tiga belas tahun yang lalu. 

Kembali kepada lukisan tadi. Anak-anak, meski kita sering abai akan mereka, disadari atau tidak ternyata menjadi agen pembawa kabar baik yang sangat ampuh. Mereka tanpa menyadarinya sendiri, menjadi penghibur yang sulit untuk ditandingi. Lukisan yang saya singgung di  awal, entah mengapa menenangkan hati saya atas keguncangan kami itu.

Temanya sesungguhnya sangat sederhana dan generik: Petani dan sawah. Lantas apa istimewanya? Umumnya, tema yang secara harfiah sangat generik yang sering dijumpai pada lukisan anak-anak adalah gambar gunung  di kiri-kanan, dengan matahari pagi yang mengintip pada latar belakang dan tentu saja hamparan sawah di latar depan. Entah sejak kapan  gambar seperti itu mewabah di dunia gambar- menggambar anak-anak. Seingat saya, sejak saya bersekolah dasar wabah itu turut menghinggapi saya.

Nah, lukisan anak teman saya itu sungguh-sungguh istimewa. Lukisan itu menghadirkan seorang petani sebagai objek utama, ia berdiri 

Djamaludin dan Adiknya

Djamaludin membakar sebatang rokok. Ia menghembuskan asap dari rokok yang dihisapnya dengan mata nanar, menerawang mengingat kampung halamannya.

"Kami ada sedikit kebun untuk kehidupan sehari-hari, jadi kalau saya lama di sini menjaga adik saya, tidak apa-apa. Istri saya mengikhlaskan saya menjaga adik saya. Katanya, jika orang lain saja mau menjaga adik maka kita juga wajib menjaganya"

Lelaki berusia 45 tahun itu bercerita tentang tabungannya yang telah habis untuk membiayai sekolah adiknya. Ia dan mendiang ibunya bahu membahu membiayai sang adik nun di rantau. Namun demikian, ia mengikhlaskannya dan berharap bisa membawa adiknya pulang ke kampung halamannya.

"Saya tidak ingin dia tinggal di sini lagi. Kalau dia hilang lagi, bagaimana? Yogya ini luas sekali. Kalau di Bacan sana, semua saling kenal dan tempatnya tidak seluas ini. Jadi dia tidak mungkin hilang lagi"

Dari sinar matanya, saya merasakan betapa hati Djamaludin patah dengan sungguh jika ia harus kehilangan sang adik untuk kedua kalinya.

Buku-buku jari yang menebal, kulit yang menghitam terbakar matahari dan raut wajah yang keras itu tak mampu menutupi kegelisahan hati seorang kakak.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...