Suami saya termasuk kategori lelaki berperawakan kurus, meski tak bisa dibilang ceking. Sejak pertama bertemu, rasanya tak ada perubahan yang signifikan pada tampilannya, setidaknya jika menilik pada bobot tubuhnya yang tak pernah beranjak dari kisaran angka 50 dalam satuan kilogram. Berbeda dengan saya yang makin hari nampaknya makin melar ke samping dan ini dibuktikan dengan perbedaan bobot kami yang berselisih hingga di angka 20 pada satuan berat yang sama (Ehmmm....). Ia juga bukan tipe lelaki metroseksual yang gemar berdandan, fashionnya jenis casual sederhana: T'shirt dan selana pendek selutut. That's all.
Kondisi statis pada bobot dan tampilan suami saya membuat berbagai kelengkapan sandang yang dikenakannya menjadi awet dan efisien selama bertahun-tahun, setidaknya dalam kurun satu dasawarsa usia permikahan kami. Celana panjangnya bahkan hampir sama usianya dengan usia pernikahan kami, meski jarang sekali dipakai. Suami saya lebih sering mengenakan kostum kebesarannya: t'shirt dan celana pendek selutut (atau beken dengan sebutan celana Hawaii), maklumlah dia jenis pekerja dengan prinsip SOHO (Small Office Home Office) alias ngantor di rumah alias ngantor di laptop.
Waktu berlalu, saking terlalu terbuai dengan kostum kebesarannya tersebut, suatu ketika hendak kopdar dengan teman-teman seprofesi ia mendapati celana-celana panjang sudah terlalu sesak untuk dikenakan. Saya membayangkan ia harus menahan lengkung perut dan membatasi hidangan saat pertemuan berlangsung demi menahan lingkar pinggang celana panjangnya. Alternatif lain mungkin harus membuka kait linkar pingang agar lebih leluasa menikmati canda tawa dalam pertemuan tersebut, yang tentu saja harus terus waspada agar celana panjangnya tidak kedodoran.
Kejadian itu tak lantas mebuatnya berangkat untuk membeli celana panjang baru, ia tetap setia dengan celana pendeknya. Ia meminta saya membelikan celana panjang dengan ukuran tertentu yang elah diperkirakannya sesuai dengan lingkar pinggangnya. Dan tentu saja, celana yang dipesannya tetap tak mencukupi dan ia tetap dalam kondisi tak memiliki celana panjang yang layak pakai.
Pagi ini, dua kerabat kami datang dari Sorong, Papua. Suami saya tentu mau tak mau harus bersikap sebagai tuan rumah yang baik untuk menemui tamu kami. Wajahnya terlihat bingung karena harus mebayangkan mengulangi siksa diri lagi. Namun, sehelai sarung menyelamatkannya dari kemungkinan kondisi yang menyiksanya. Alih-alih bercelana Hawaii atau mengenakan celana panjang yang kesempitan, ia mengenakan sehelai sarung layaknya hendak shalat. Maka ia kemudian tampak terlihat santun dan siap menjadi tuan rumah yang baik bagi kerabat kami.
Kesuksesan sehelai sarung menggantikan fungsi celana panjang, saya harap tidak melenakannya. Saya harap ia mengeyahkan keengganan untuk pergi menyambangi deretan toko atau mall sekalipun untuk mencari celana panjang baru, memastikan ukuran yang tepat dan membawanya pulang untuk disimpan sebagai amunisi jika pertemuan-pertemuan luar rumah berlangsung. Saya juga berharap untuk benda yang satu ini, ia tidak membelinya secara online sebagaimana kebiasaannya selama ini. Hayyoo...suamiku...langkahkan kakimu ke toko-toko itu.....barang satu jam saja.....!!! :D
#NulisRandom2015
#Day22