Sabtu, 27 Desember 2014

Kalau Kepepet, Apa Boleh Buat


Berwisata di ALun-ALun Utara memang menyenangkan sekali, mulai dari ruang terbuka yang luas, pedagang makanan yang ramah, deretan pohon beringin di sisi jalan, bahkan arena Sekaten yang digelar setiap tahun menambah daya tarik kawasan ini.
Namun, semuanya buyar ketika secara tiba-tiba tubuh kita diserang sindrom pipis mendadak atau yang lebih parah harus BAB. Kawasan wisata yang tersohor ini tidak dilengkapi dengan fasilitas toilet yang memadai.
Minggu pagi, saya sering membawa anak-anak nongkrong-nongkrong di sisi barat ALun-ALun Utara untuk menikmati susu segar, wafel cokelat keju, roti goreng atau jajanan lain. Tak jarang, mereka mendadak ingin buang air kecil dan lokasi toilet terdekat adalah di sudut pertigaan jalan Pekapalan dan Jl. Ibu Ruswo, tepat di seberang outlet Dagadu. Di sini ada sebuah toilet yang tampaknya sudah cukup tua. Toilet ini terbuat dari lempeng besi dan berdiri di atas roda dan tiang. Pada beberapa bagian toilet ini serangan karat nampak mengerogoti dengan ganas. Nampaknya, toilet ini dulu merupakan mobile toilet yang digunakan berkeliling sebagai sarana pendudukung kegiatan outdoor.
Meski terlihat mengerikan, apa boleh buat, terpaksa kami menumpang buang hajat di toilet tersebut. Meski merasa agak was-was, saya tetap bersyukur dengan keberadaan toilet tersebut.



Kadang saya bertanya-tanya sendiri, sampai berapa lama ya.... toilet itu bertahan di sana? Atau, kapan ya.... toilet ini direvitalisasi, diganti dengan bangunan yang lebih baru dan permanen sehingga kami bisa memanfaatkanya tanpa perasaan deg-degan?

Selasa, 09 Desember 2014

Pasar-Pasar Kota Yogya dan Kamis Pahingan

Berbelanjalah dengan hati senang dan dapatkan nuansa yang berbeda di setiap Kamis Pahing di Pasar-Pasar Kota Yogya.




Kemarin, sesuatu yang berbeda hadir di pasar-pasar Kota Yogya. Para pedagang di seantero Pasar Kota ini mengenakan busaa tradisional, kebaya,jarik, lurik, blangkon. Semuanya terlihat cantik dan bagus dengan sunggingan senyum sumringah di wajah mereka.
Hari Kamis Pahing, sebagaimana para siswa sekolah, ada anjuran mengenakan busana tradisional. Maka pagi tadi, saya malah gagal berbelanja...gantinya, saya menjadi sibuk memotret mereka.
Hari Kamis Pahing dipilih berdasarkan weton pasaran lahirnya Keraton Yogyakarta sejak dipindah dari Pesanggarahan Ambar Ketawang. Sedangkan himbauan penggunaan pakaian tradisional ditujukan untuk mendukung penggunaan pakaian tradisional sebagai pakaian sehari-hari



Menjelajahi pasar di pagi ini, rasanya seperti memasuki lokasi syutng sinetron bersetting cerita kolosal, semacam Saur Sepuh gitu deh... ha...ha...ha...
Tercatat tiga pasar yag saya jelajahi: Pasar Legi, Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo....Niat banget'kan..he..he..he..















Pagi ini, para pedagang benar-benar menjelma menjadi para juragan

Jeruk Nipis

Saya tidak tahu pasti sejak kapan saya jatuh cinta pada Jeruk Nipis. Saya menyukainya sejak lama, berbelas tahun saya menikmatinya lewat tegukan-tegukan segar es teh manis yang kerap saya bubuhi perasan irisan Jeruk Nipis. Yang jelas, akarnya bermula dari kesukaan buah masa kecil saya, Jeruk. Ya, sejak kecil saya suka buah satu ini. Bahkan saya mengkonsumsi Jeruk beserta ampasnya, padahal untuk anak kecil ampas Jeruk tergolong pahit.
Jeruk Nipis, buah yang juga menjadi bagian dari bumbu dapur ini hampir selalu menjadi perhatian saya kala berbelanja di pasar tradisional. Mata saya kerap menjelajahi keranjang-keranjang pedagang yang berisi Jeruk Nipis. Saya mencari-cari butiran yang berukuran besar dan berwarna kekuningan, pertanda buah yang matang dan sarat cairan asam di dalamnya.
Sering kali, saat menyinggahi kedai-kedai soto, saya mencuri-curi kesempatan menekuk seiris Jeruk Nipis di atas gelas es teh manis. Hasilnya, segelas es lemon tea berhasil menemani santap soto saya.
Di dapur, saya melumuri daging ayam dan ikan yang hendak dimasak. Perpaduan asinnya garam dan asamnya perasan Jeruk Nipis membantu mengurangi lendir, bau amis pada daging ayam dan ikan yang hendak diolah. Pada ikan yang hendak digoreng, lumuran garam dan air Jeruk Nipis sudah merupakana bumbu yang cukup praktis. Air Jeruk Nipis menggantikan peran Asam Jawa yang terkadang membuat noda gosong pada ikan goreng.
Tak hanya berfungsi menghilangkan anyir pada ikan, Jeruk Nipis juga bisa mneghilangkan bau langu pada Pepaya dan Wortel. Seringkali saya menghadirkan jus Wortel yang diberi perasan air Jeruk Nipis, hasilnya jus Wortel saya tanda tak bersisa. Sementara pada buah Pepaya, saya menghidangkan dalan bentuk potongan-potongan kecil sekali makan yang ditaburi gula pasir dan perasan air Jeruk Nipis. Dan, tentu saja hasilnya juga habis dilahap anak-anak 
Lain waktu, saya menikmati Infused Water dengan perpaduan irisan Mentiun dan sedikit perasan air Jeruk Nipis. Rasanya? Segaaarrrr sekali........
Semalam saya menemukan resep baru: selai olesan roti dari wortel dan jeruk nipis. Hmm...nampaknya patut dicoba nih... 



Jumat, 05 Desember 2014

Menikmati Jeruk Peras di Sepanjang Tahun

Buah Jeruk hadir di hampir sepanjang tahun, seperti tak mengenal musim. Saya sering menghidangkannya dalam bentuk jus, hasil perasan buah Jeruk Peras yang saya beli di pasar tradisional dekat rumah. Perpaduan rasa dan aroma asam segar dengan manisnya sedikit gula sangat disukai anak-anak.
Saat udara panas, saya menghidangkan dengan sedikit campuran air dingin. Namun, saat cuaca sedang dingin seperti musim hujan ini, saya menhidangkan dalam keadaan hangat.

Milona dan Kopdar-Kopdar yang Menyertainya

Ona, demikia ia kerap disapa. Saya mengenalnya lewat foto-foto lini masa grup alumni Gajah Mada. Hingga suatu masa, di akhir 2012 saya berkesempatan berkenalan secara langsung dalam sebuah jumpa darat di Legend Cafe, Kotabaru.
Sebelumnya, saya sempat penasaran setengah mati dengan Ona. Bagaimana tidak, ia hadir di banyak acara kopdar dengan lokasi berbeda, kota yang berbeda bahkan terkadang beda provinsi dan beda pulau. Eksistensinya di jagad pertemanan alumni sungguh tak terbantahkan. Di mana ada kopdar maka di situ ada Ona. Hingga sebuah mahkota sempat dianugerahkan kepadanya: Ratu Kopdar.
Saya kurang tahu pasti siapa yang menyematkan gelar bergengsi itu kepadanya. Lain waktu, muncul pula sebuah idiom "Kopdar Tanpa Ona bagai Sayur tanpa Garam". Ini sebuah gejala ketergatungan akut akan kehadirannya dalam gelaran kopdar-kopdar di kalangan warga kampung.
Bagi yang pernah bertemu dengannya, pasti tahu pasti bagaimana perawakannya. Ia bertubuh mungil (bukan muka ngiler ya.....! Mohon dicermati). Namun penampakan tubuh kecilnya itu sepertinya mengecoh banyak orang. Banyak yang tidak tahu bahwa ia penggemar kuliner yang parah. Bahkan ada pula yang menjulukinya : Body Sedan Muatan Tronton.
Namun demikian, jangan meragukan kesetiaannya sebagai seorang teman. Suatu hari saya pernah hampir mati kelaparan, sungguh-sungguh kelaparan dalam sebuah perjalanan antar kabupaten. Saya baru saja menjalankan tugas dalam persiapan sebuah perhelatan kesenian. Demi menemui anak-anak di rumah, saya memaksakan diri pulang dalam keadaan tak memiliki uang dan bensin pas-pasan di jalan. Lokasi terdekat saya adalah kediaman kost Ona. Maka saya nekad menemuinya, menceritakan nasib apes itu. Ia meminjamkan saya uang untuk bekal perjalanan kembali ke rumah. Tak lupa ia mentraktir saya makan siang, hingga perut saya kenang tak terkira dan saya selamat dari kemungkinan mati kelaparan hari itu. Rupanya Ona tahu, saya kelaparan hari itu.
Belum sempat saya ganti mentraktirnya, ia sudah mentraktir saya lagi dalam kesempatan ulang tahunnya yang bersamaan dengan waktu kegiatan Idul Kurban grup Kampung.
Sebagai teman yang baik, saya mendoakannya lekas merampungkan tugas belajarnya. Namun itu adalah suatu dilema, jika ia lulus maka kemungkinan besar ia akan pulang kampung. Artinya, kopdar-kopdar akan terasa sunyi tanpa kehadirannya.
Dan saya juga mendoakannya lekas melepaskan status jomblonya itu, tentu saja dengan kekasih hati yang se-asoy dirinya. Saya sih yakin seyakin-yakinnya Ona adalah seorang jomblo yang baik hati, peramah dan sopan. Ia adalah seorang Single Happy.

Selasa, 02 Desember 2014

Panen Mangga di Musim Penghujan

Musim penghujan sudah tiba, banyak kebaikan didapat di musim ini: air yang melimpah, udara yang sejuk, pucuk-pucuk pohon yang membunga dan tentu saja panen buah. Salah satu buah yang tengah melimpah pada musim ini adalah Buah Mangga.
Meski pohon Mangga di pekarangan belakang rumah kami telah ditebang akibat usia yang menua, tetapi kelezatan Buah Mangga masih tetap dapat kami nikmati. Kini kami memanennya di pasar dekat rumah...ups tepatnya membeli  Tak hanya itu, beberapa rekan dengan senang hati mengundang dalam perayaan kecil panen buah Mangga di kediaman mereka. Ini tentu saja undangan yang sangat menyenangkan, memetik dan menikmatinya bersama dalam sebuah keriangan 
Buah berwarna kekuningan ini bernama asli Malayalam Maanga konon berasal dari wilayah di perbatasan India dengan Burma. Di masa kolonial, orang-orang Portugis mengenalkan buah ini ke daratan Eropa dan dikenal sebagai Manga dalam Bahasa Portugis dan Mango dalam Bahasa Inggris.
Buah Mangga yang saya beli di pasar adalah enis Mangga Harum Manis, jenis yang sangat popuper dan ikonik di antara jenis lainnya. Sedangkan pohon Mangga yang dulu pernah hadir di pekarang rumah kami merupakan jenis Mangga Madu. Mangga Madu adalah jenis Mangga yang daging buahnya sangat manis. Mangga ini harus dipetik dalam kondisi mengkal, jika dalam kondisi telah matang maka kita aan mendapati daging buah yang sudah terlalu matang, kondisinya bisa dikatankan hampir 'bonyok'. Jenis lain yang cukup populer adalah Mangga Cengkir Indramayu yang berdaging tebal, harumnya khas dan memiliki kandungan karbohidrat lebih banyak.


Panen Buah Mangga diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan buan Desember. Pasar-pasar akan dipenuhi dengan keranjang-keranjang berisi Buah Mangga, demikian pula pinggiran jalan raya akan diisi penual Mangga dadakan yang datang dari berbagai daerah.
Sudahkah temans menikmati Buah Mangga hari ini?

Senin, 01 Desember 2014

Lelang Buku yang Muram


Buku-buku di atas meja ini adalah sedikit dari keselruhan buku yang dicucigudangkan di Karta Pustaka Yogyakarta. Lembaga kebudayaan ini akan tutup. Ini kabar yang tak mengenakkan.
Lembaga ini berdiri sejak 1967, salah satu pendirinya adalah Romo Dick Hartoko. Ibu Anggi Minarni merupakan nahkoda terakhir yang memimpin Karta Pustaka.

Saya bukan bagian orang yang kerap mengunjungi Karta Pustaka, tercatat hanya dua kali menyinggahinya. Pertama di tahun 1995 saat masih berlokasi di Jl. Suroto. Kedua, ya hari ini, saat mendengar kabar lembaga ini akan tutup. Saya juga pernah menyaksikan resital biola seorang musisi Belanda yang diselenggarakan Karta Pustaka.


Kata Pustaka harus diakui telah menjadi bagian dinamika perjalanan kebudayaan Kota Yogyakarta. Hari ini saya membawa pulang dua buku dari sana: otobiografi "Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan" dan sebuah buku lama keluaran Depdikbud "Upacara Tradisional Sekaten DIY"

Minggu, 30 November 2014

Selamat Hari Guru






Tanggal 25 November 2014 Doodle menyajikan ilustrasi peringatan Hari Guru Nasional....besok anak-anak juga libur sekolah untuk peringatan Hari PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia.
Temans, masih ingatkah kenangan saat menyimak pengetahuan di bangku sekolah? Saya teringat seorang guru di masa sekolah menengah pertama,

Ibu Holiyati Gumay, guru Bahasa Inggris saya di SMP mengajar dengan cara yang menyenangkan sekali. Di sela-sela pelajaran, beliau sering cerita pengalaman-pengalman nakal saat masih sekolah. Bagaimana ia mencuri waktu utuk mengendarai motor ayahnya, menyamar sebagai seorang pemuda. Jauh dari kesan jaim deh..... Atau saat ia ikut gerak jalan dan tak mau berhenti karena gengsi akibantnya selama seminggu kakinya bengkak-bengkak. Nah....setelah cerita pengalman kembelingannya itu.....lalu beliau memberi nasihat..... "Makanya kalian jangan seperti ibu ya... akibatnya begitu tuh"....

Lain waktu, Ibu Holy pernah memberikan tugas latihan Bahasa Inggris kepada kami. Beliau hapal sekali kalau anak-anak di kelas kami ini hobi berisik, ribut bak ayam berkotek. Maka, beliau membeaskan kami mengerjakan tugas di mana saja di luar kelas. Kami bersorak kegirangan bak kuda lepas dari kandang. Alhasil, semua tempat di luar kelas kami jelajahi. Ada yang nangkring di kantin jajan sambil mengerjakan tugas. Ada yang di taman sekolah, selasar sekolah......bahkan ada yang gelar tikar di kebun singkong belakang sekolah.. Hi..hi..hi....

Ajaibnya semua tugas langsung terkumpul tepat waktu meski ada beberapa buku yang kotor terkena noda minyak atau tanah merah. Nah... yang terkena noda minyak itu kemungkinan yang nagkring di kantin, mungkin lupa melap tangan sehabis makan gorengan he..he...he...

Atau, yang bukunya kotor akibat noda tanah, sepertinya yang gelar tikar di kebun singkong itu...... Kalau tikarnya sih pinjam ke penjaga sekolah.
Hmm.... Ibu Holy apa kabarnya ya sekarang? 

Gorengan


Tahu, pisang, tempe....bisa masuk kategori bahan makanan yang akan nikmat bila dicampur tepung dan menjadi menu gorengan. Gorengan adalah jenis penganan khas merakyat di Indonesia. Nikmat disajikan di pagi, siang, sore bahkan malam hari juga OK. Apalagi di saat cuaca dingin hujan yang menderas.
Sist, jangan lupa ya.......perhatikan minyak yang ada di wajan penggorengan.....apakah sudah berwarna hitam sehitam jelaga di balik wajannya? Jangan lupa juga ya.... bahwa resep jitu membuat gorengan jadi renyah mak kriuk adalah mencampurkan plastik kemasan minyak ke dalam wajannya. Resep ini sebenarnya rahsia dapur para pedagang gorengan, tapi sepertinya sudah menjadi rahasia umum...... atau tepatnya Rahasia Dapur Umum, he..he...he....
Sebagaimana lezat dan kriuknya gorengan abang-abang penjual gorengan, begitu pula informasi di dunia virtual, wahai sist, bro and guys......
Informasi yang tersaji di depan monitor gadget dan lappie nggak bisa langsung ditelan mentah-mentah. Kira-kira seperti gorengan di kaki lima, kita juga wajib menelusuri asal-usul info yang sebenarnya. Cross check kebenaran berita dan gambarnya.....
1. Foto/Gambar Untuk berita kita bisa pakai bah google. Untuk foto, ini dia triknya: Gunakan klik kanan pada mouse, nanti ada menu "Telusuri Google untuk gambar ini" . Maka....beberapa foto sejenis akan terpampang dan ketahuan deh, dari mana foto-foto itu berasal.

2. Artikel. copy 2-3 paragraf kemudian paste di google. kesamaan kalimat akan muncul dr bbrp website.

3. Situs yang Hilang. Google mengcopy semua laman yang pernah singgah. Pada nama situs yang muncul di google, klik tombol cached, maka kita bisa menelusuri artikel yang telah dihapus.

Masih ngobrolin soal gorengan..... Jangan lupa ya.... Sist, mas bro and guys.... Profesi Tukang Gorengan itu nggak cuma ada di pinggir jalan lho...... Di dunia virtual ini banyak bahkan ratusan ribu profesi serupa yang dapat kita jumpai... Bahkan tak sedikit Tukang Gorenga Virtual yang mendadak jadi selebriti.... Hi..hi..hi...

Udah dulu ya.... saya mau cari gorengan dulu... Eits kalau yang ini beneran cari jajanan gorengan lho.... 



Gravity dan Cita-Cita Masa Kecil yang Kubatalkan


Sewaktu kecil saya pernah bercita-cita menjadi seorang astronot lantaran senang melihat bintang. Itu cita-cita jangka panjang. Cita-cita jangka pendek saya adalah mengintip bintang di Observatorium Bosscha, Bandung. Kedua cita-cita itu tak pernah terlaksana.
Saya urung menjadi astronot karena rasa takut yang berlebihan, sebuah ketakutan yang mungkin menghinggapi semua orang. Saya takut jika menjadi astronot akan melayang dan menghilang di tengah kegelapan luar angkasa. Cita-cita saya yang lain juga urung terlaksana, setidaknya belum. Sampai tulisan ini dibuat saya belum pernah menginjakkan kaki ke Observatorium Bosscha, apalagi meneropong bintang-bintang.
Sutradara Alfonso Cuaron menghadirkan mimpi buruk saya di masa lalu. Ia mengirim George Clooney dan Sandra Bullock ke luar Angkasa lewat film besutannya yang dilansir tahun lalu, Gravity.
Saya hadir secara tiba-tiba ketika suami dan anak-anak memutarnya di ruang keluarga. Saya hadir saat adegan Dr. Ryan Stone, yang diperankan Sandra Bullock, terlepas dari tali kendali yang menghubungkannya dengan wahana Teleskop Hubble yang tengah diperbaikinya. Tubuhnya tak henti berputar tanpa bisa dikendalikannya. HIngga akhirnya, rekannya Matt Kowalsi (George Clooney) berhasil menangkapnya.
Saya meninggalkan adegan di televisi, berpindah ke ruang lain. Saya tidak tahan menahan degup jantung demi menahan ketegangan itu. Terus terang ya....ini bukan soal alay atau bukan.....rasanya kok saya seperti nonton film G30S/PKI-nya Arifin C Noer yang tersohor itu..... 




Hari berikutnya, saya memutar film itu kembali, mencoba menyaksikan utuh. Akhirnya saya berhasil menyaksikan film ini secara utuh setelah melewati semua ketegangan yang menyertainya.



Jumat, 28 November 2014

Tongsis Gak Cuma Untuk Selfie


Jika menyebut Tongsis maka yang terlintas di benak kita adalah sebuah tongkat panjang yang ujungnya dipasang gadget lalu... jepret! Maka terekamlah foto kita bersama teman-teman.
Hai..hai.... sesungguhnya apa sih Tongsis itu?
Tongsis (Tongkat Narsis) sesungguhnya hanyalah sebuah perpanjangan fungsi dari alat bantu fotografi. Nama sebenarnya adalah monopod, yaitu alat bantu berkaki tunggal yang digunakan untuk menopang dudukan kamera untuk mengurangi getaran pada saat proses pemotretan.
Dalam perkembangannya, seiring dengan maraknya aksi selfie maka monopod juga mengalami perkembangan dan modifikasi sebagai penunjang aksi selfie bareng-bareng atau dikenal dengan istilah groufie.
Apakah tongsis hanya bisa digunakan untuk selfie dan groufie saja? Kita juga bisa lhooo memanfaatkan tongsis untuk mengambil objek foto yang tak terjangkau tangan.
Nah...foto di bawah ini adalah salah satu manfaat lain tongsis....
Lihatlah orang di latar depan. Ia memanfaatkan tongsis untuk memotret prosesi upacara bendara tujuh belas agustus di Gedung Agung Malioboro.



Perpaduan ketinggan dan lensa wide angle akan mengasilkan gambar yang bisa menyapu keseluruhan objek foto, sehingga akan lebih banyak info yang didapatkan.

Rabu, 12 November 2014

Lokomotif Itu Bernama Kuldesak

Sebelum film  Ada Apa Dengan Cinta booming, empat sutradara muda Indonesia telah menyemai bibit melalui sebuah film indie. Kuldesak, inilah lokomotif kebangkitan kembali film Indonesia. Sebuah film hasil kerja gotong royong berbagai pihak, mulai dari produser, sutradara, bintang utama, penulis skenario dan seluruh kru yang kerja bakti demi menyambung sebuah mata rantai yang terputus, mata rantai sinema Indonesia.
Film ini berisi empat cerita pendek yang satu sama lain tak berhubungan sama sekali, masing-masing film disutradari oleh Mira Lesmana, Nan T achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani. Meski benak penonton dipenuhi teka-teki dalam mencari benang merah antar cerita, tetapi tak mengurangi antrian penonton di loket-loket gedung bioskop. Kami, para anak muda yang memenuhi antrian itu merasa terhibur dengan sajian film-film ala video klip ini. Ya....satu-satunya benang merah antara film ini dengan para penontonnya adalah keindahan adegan yang bak video klip sebuah lagu. Kronologi cerita sudah bukan masalah lagi kala itu, bahkan anggapan bahwa Kuldesak mengambil ide film Four Rooms juga bukan hal penting.
Dalam sebuah talkshow di Fakultas Sastra UGM, Mira Lesmana mengungkapkan sebuah misi: Keuntungan film ini akan digunakan untuk produksi film berikutnya, demikian seterusnya ia berharap ada efek domino yang menjalar dari proyek percobaan serius mereka ini.
Tahun-tahun berikutnya, saya mendapati Rizal Mantovani yang sukses dengan Jailangkung, Nan T Achnas dengan Pasr Berbisik dan Bendera, Mira Lesmana memproduseri film Petualangan Sherina, Gie, Ada Apa Denga Cinta, trilogi Laskar Pelangi. Tak ketinggalan Riri Riza yang menyutradarai Petualangan Sherina, Eliana Eliana.

Sejak itu, kereta perfilman Indonesia mulai melintasi rel waktu, menyinggahi stasiun-stasiun. Gerbong-gerbongnya mempersilahkan diri dimasuki para penonton yang hendak turut dalam petualangan kereta ini.




Minggu, 26 Oktober 2014

Septic Tank yang Baik Menjaga Kualitas Air Tanah




“Aduuhhh….perutku sakit sekali…..rasanya kayak melilit….sudah lima kali bolak-balik ke toilet…… badanku lemas sekali…”
Kejadian itu pernah saya alami lima belas tahun yang lalu saat indekost di wilayah Pogung. Tubuh saya sudah lemas akibat  diare yag menyerang.  Tak hanya sekali, tercatat tiga kali saya mengalami diare akut yang membuat tubuh saya kekurangan cairan cukup banyak.  Menurut dokter, diare yang saya alami diakibatkan oleh bakteri e-coli yang masuk melalui makanan, air minum atau air di kamar mandi. Karena diare yang saya alami telah berulang tiga kali maka dokter menyarankan agar saya memeriksa sumber air di tempat tinggal saya.
Beberapa waktu usai tubuh saya membaik, disertai rasa penasaran yang cukup tinggi, saya memeriksa  letak sumur dan septic tank di kos. Ternyata jarak antara sumur dan septic tank cukup jauh, kurang lebih 12 meter. Sumur berada diujung  bagian dalam kos sedangkan septic tank berada di halaman depan bangunan kos. Hmmm……menurut saya jarak dan lokasi keduanya  cukup ideal.

Masih berbekal rasa penasaran, saya iseng ngobrol dengan pemilik kos.  Istilah kerennya saya melakukan investigasi kecil-kecilan. Dengan bangga, ibu kos saya  berkata,  “Septic tank saya itu ndak pernah bermasalah mbak…. Sudah dua puluh tahun lebih sejak dibuat… belum pernah disedot lho!”
Apaa? Dua puluh tahun lebih septic tank itu tidak pernah disedot? Waduh!! Jangan-jangan sumur di kos sudah tercemar  limbah tinja dari septic tank  dan mungkin gara-gara itu saya kena diare..….
Namun, saya masih penasaran soal penyebab sakit saya ini. Esoknya saya melanjutkan investigasi.  Saya memeriksa rumah sekitar yang berbatasan langsung dengan kos-kosan. Alhasil, saya  mendapati letak septic tank yang berada tak sampai tiga meter  lokasi sumur di kos saya.
Pengalaman saya menjadi sebuah pelajaran berharga bagaimana sebuah pengelolaan sistem pembuangaan limbah  biologis manusia harus diperhatikan secara serius. Idealnya, selain memperhatikan jarak antara sumur dengan septic tank, perlu juga dicermati lokasi septic tank milik tetangga serta pengurasan septic tank secara berkala.
Septic tank sendiri merupakan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pengolah dan pengurai limbah tinja manusia. Bangunan septic tank ini harus kedap air sehingga air yang berada di dalam   septic tank tidak akan meresap ke dalam tanah tetapi akan mengalir keluar melalui sebuah saluran tersendiri.   Sebenarnya air yang telah keluar  melalui pipa saluran tersebut masih tidak aman bagi lingkungan sekitar sehingga masih di perlukan  unit pengolahan lain  berupa sebuah bidang resapan, sumur resapan dan  filter aliran ke atas yang menggunakan pasir dan kerikil.

Don’t just built  a septic tank, think first!  
Jangan  membuat septic tank sembarangan, kita harus mempertimbangan banyak hal mlai dari jarak sumur dengan septic tank jumah penghuni rumah, pengurasan hingga tidak membuang benda lain ke lubang toilet.
Selain septic tank konvensional yang dibuat dari bahan batu bata dan semen, kini telah muncul berbagai jenis septic tank  dengan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Septic tanc jenis ini umumnya terbuat dari fiber glass dan memiliki bentuk bermacam-macam.  Septic tank ramah lingkungan ini terdiri dari  3 kompartemen dan 1 talang air.
·         Kompartemen 1 merupakan saringan awal (bar screen) tempat dimana tinja dan urine masuk pertama kalinya. Kompartemen ini berfungsi untuk memisahkan limah organic dan anorganik. Selanjutnya  limbah tinja dan urine masuk ke Kompartemen 2 secara over flow.
·         Kompartemen 2 memiliki media filter mega cell yang berfungsi sebagai tembah tumbuh kembang bakteri pengurai  limbah tinja.  Media filter ini dibuat secara dinamis dan akan berputar-putar apabila ada arus air dari  bawah. Perputaran  pada kompartemen ini membuat sebuah rotasi peguraian  limbah tinja,  tinja yang berada di bawah akan terangkat ke atas  sehingga tidak terjadi pengendapan. Penguraian akan berlangsung secara merata dan menghasilkan air yang mulai baik untuk elanjutkan masuk ke kompartemen ketiga.
·         Pada Kompatemen 3  terdapat media filter sedimentasi yang juga berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya bakteri pengurai sebagaimana pada kompartemen  2.  Fungsi bakteri pengurai  pada kedua kompartemen masih sama hanya saja pada kompartemen 3 lebih pada penyaring apabila masih ada bakteri yang lolos dari kompartemen 2. Selanjutnya air akan naik menuju Talang Air.
·         Talang Air berfungsi sebagai filter terakhir apabila dalam aliran air masih terdapat bakteri pathogen yag lolos. Kandunan desinfectan chlorine pada Talang Air akan membunuh bakteri patogen yang lolos dari ketiga kompartemen sebelumnya. Air yang keluar dari Talang Air ini terhitung sudah ramah lingkungan  dan tidak mencemari air tanah di lingkungan sekitar.

Septic tank ramah lingkungan ini memiliki kelebihan yang tak dimiliki septic tank konvensional  karena tidak memerlukan lahan luas sehingga bisa digunakan pada pemukinan padat penduduk. Selain itu pemasangannya lebih mudah dan cepat. Bahkan septic tank ini juga bisa dimanfaatkan pada unit toilet berjalan. Karena memiliki system rotasi maka tidak terjadi endapan lumpur tinja maka tidak diperlukan pengurasan/penyedotan, cukup memasukkan bubuk bakteri pada lubang toilet.
Nah….pemilihan jenis septic tank yang tepat  dan disertai perawatan yang baik akan membantu mengurangi pencemaran air tanah di lingkungan sekitar kita dan secara tidak lagsung kita telah   melakukan  aktivitas #KonsumsiHijau.

Air tanah yang tidak tercemar akan membantu menjaga kesehatan tubuh kita agar bisa beraktivitas dengan baik sehingga harapan menuju  #JogjaHijau  bukanlah sebuah impian belaka. Dengan demikian kita  bisa memiliki kualitas hidup lebih baik.

Kamis, 23 Oktober 2014

Dunia yang Paralel

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika teknologi virtual mampu membawa kita menjalani  kehidupan paralel dalam keseharian. Sebuah dunia yag dahulu hanya bisa kita saksikan dalam film atau kita baca dalam  novel, sebuah karya rekaan imajinatif seorang penulis naskah.


Kini, saat sedang menjalani kehidupan nyata kita juga menjalani kehidupan lain di dunia virtual secara bersamaan. Seorang ibu rumah tangga yang melakukan rutinitas kerumahtanggaan, secara bersamaan bisa menyandang profesi ganda. Profesi virtual yang disandang bisa berupa online marketer, online writer, online designer, buzzer dan aktivitas lain. 

Atau tengoklah kegiatan sederhana lainnya: chatting online dijalankan bersamaan dengan perbincanga langsung dengan teman di samping kita. Tak hanya itu, pebincangan online juga terkadang dilakukan dalam beberapa kanal secara bersamaan.

Seraya menulis catatan ini, sayapun tak henti  beraktivitas di dapur untuk memasak. Maka, selain menghasilkan artikel singkat ini, sayapun  sukses menyajikan menu makan siang. Menu makan siang kali ini ikan asin, sambal bawang dan lalapan bokcoy rebus. Mari makan..... :) 






Batik dan Iwan Tirta

Sejak Unesco menganugerahkan Batik sebagai Karya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia Oktober 2009 maka Bulan oktober dinobatkan menjadi Bulan Batik. Penganugerahan ini adalah buah kerja panjang banyak pihak mulai pelaku industri, pekerja industri, desainer dan seniman batik hingga masyarakat umum penggunanya.

Salah satu pejuang gigih Batik adalah desainer Iwan Tirta. Meski berlatar pendidikan ilmu hukum, ketertarikannya yang luar biasa terhadap Batik menjadikannya seorang yang gigih mengembangkan batik khas Indonesia. Ia tak hanya merancang namun juga melakukan upaya pendidikan, penelitian bahkan pengembangan filosofi Batik Indonesia.

Saya mengenal Iwan Tirta pada periode akhir 80-an lewat halaman-halaman mode majalah perempuan koleksi mendiang nenek saya, seorang penjahit. Kala itu saya tidak terlalu 'ngeh' dengan artikel-artikel pada halaman fashion tersebut, saya hanya membaca sambil lalu.

Sebagai maestro, kejelian Iwan Tirta mengolah motif-motif batik dalam kesan modern dan kualitas yang tinggi membuat karya-karyanya tak mudah diduplikasi. Keistimewaan karyanya terletak pada detail proses yang bisa mengalami pewarnaan tiga hingga empat kali, bahkan motifnya dibuat dua sisi, bolak-balik. Semua itu mampu menghasilkan paduan dan struktur warna yang indah dan seakan nyata.




Salah satu milestone dalam perjalanan karya Iwan Tirta adalah saat mempersembahkan rancangan batik pada perhelatan KTT APEC di Istana Bogor tahun 1994. Seluruh kepala negara peserta forum tersebut mengenakan pakaian tradisional batik dalam bentuk kemeja.

Seorang Nelson Mandela pertama kali jatuh cinta justru pada batik karya Iwan Tirta dan sejak itu mengenakan batik dalam kesehariannya. Bahkan di Afrika Selatan, kemeja motif batik mendapat julukan baru "Madiba Shirt". Konon mantan Presiden Soeharto pernah menghadiahkan satu kontainer batik rancangan Iwan Tirta kepada Mandela.

Hingga saat wafatnya di tahun 2010, Iwan Tirta telah mewariskan tak kurang dari 10 ribu motif batik berikut pakem dan filosofi. Pemikiran-pemikirannya juga dituangkan dalam sebuah buku berjudul Batik Sebuah Lakon.

Di balik semua prestasi yang cemerlang, sang maestro tetap berendah hati dengan menolak batik sebagai karya cipataannya. Ia mengaku hanya berupaya untuk menjaga dan melestarikannya saja. "I didn't create batik, but I preserved and nurtured it like a caretaker" - Iwan Tirta



FaceBook dan Peta yang Hilang


Kehadiran Zuckerberg ke Indonesia, mau tak mau membuat saya mengunjungi laman internet.org. Di laman tersebut saya menjumpai sebuah peta dunia berwarna ungu. Sebuah peta yang aneh karena peta ini tidak utuh, ada sebuah negara yang menghilang, China.
Hampir seluruh rakyat China tak bersolialisasi menggunakan media sosial populer. Negara ini memblokir media-media sosial mainstream macam FaceBook, Twitter bahkan mesin pencari Google. China memilih mengembangkan sendiri aplikasi-aplikasi media sosial buatan anak negeri.




Jumlah penduduk China yang lebih dari 1,3 milyar memang pasar potensial yang sayang untuk dilewatkan. Berapa milyar Yuan yang harus melayang ke luar China, jika FaceBook, Twitter atau Google beroperasi di negara itu?


Soekarno dan Peter Sie


Tampilan seorang kepala negara tak bisa dilepaskan dari busana yang dikenakannya. Soekarno, presiden pertama republik ini dikenang dengan gaya busananya yang khas. Model jas yang dikenakannya merepresentasikan kharisma yang dibutuhkan rakyat ndonesia kala itu. Rakyat membutuhkan figur yang bisa memimpin mereka, Soekarno menjawab kebutuhan itu dan melengkapinya dengan model busananya. Soekarno, tercatat sebagai Presiden Indonesia yang paling fashionable.

Namun siapakah di balik gaya fashion Soekarno? Adalah Peter Sie, seorang perancang busana Indonesia kelahiran Bekasi 28 Desember 1929 yang dengan tangan dinginnya merancang dan menjahitkan pakaian-pakaian resmi Soekarno.


Peter Sie adalah pelopor Haute Couture di industri fashion Indonesia. Haute Couture atau kerap disebut adibusana merupakan sebuah teknik pembuatan busana tingkat tinggi yang dibuat khusus untuk pemesannya, menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik, biasanya dihiasi detail, dikerjakan dengan tangan, dan pembuatannya memakan waktu lama.
Peter Sie wafat pada 1 April 2011, sepanjang hidupnya telah memberikan banyak kontribusi bagi perkembangan dunia fashion di tanah air. Kalangan industri fashion mengakuinya sebagai Bapak Haute Couture Indonesia.

Tangan dingin Peter Sie telah membantu mengantarkan Soekarno sebagai ikon pemimpin revolusi rakyat Indonesia di awal kemerdekaan, bahkan hingga saat ini.

Jomblo


Kosakata Jomblo menjadi kata yang hampir tak terpisahkan dari kamus gaul anak muda jaman sekarang apalagi ditambah kata galau. Maka semakin komplit menjadi Jomblo Galau.
Saya mengenal kata "Jomblo" saat masih menjadi anak kos di Jatinangor sekitar tahun 1994. Kala itu kata Jomblo populer di kalangan teman-teman kuliah dan menjadi bahan ejekan bagi yang belum punya pacar.
Kata Jomblo berasal dari Bahasa Sunda, artinya kira-kira "anak gadis yang terlambat menikah" alias "perawan tua"
Grup band Gigi punya andil menasionalisasi kosa kata ini lewat singel berjudul sama. Maka, makna kata "Jomblo" menjadi lebih luas tak hanya bagi anak gadis, anak-anak muda laki-lakipun secara terbuka menjuluki dirinya Jomblo manakala belum memiliki pacar.

Selasa, 07 Oktober 2014

Museum Affandi, Sebuah Lambang Cinta Keluarga


Ketika menyebut nama Affandi, tentu yang terlintas di benak kita adalah seorang  lelaki tua  dengan penampilan blepotan cat minyak di tangan dan bajunya, serta dengan hasil karya lukisnya yang tak kalah acak-acakan. Meski  terlihat acak-acakan, hasil karyanya sangat dihargai masyarakat hingga ke manca negara. Ketika mengunjungi museum lukisnya,  saya tak hanya menemukan Affandi  sebagai seorang maestro lukis belaka. Saya juga mendapati Affandi sebagai buah hati dalam keluarganya: istri, anak hingga cucunya.
Museum lukis ini sungguh-sungguh sebuah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan antara Affandi  dan seluruh anggota keluarganya. Kompleks galeri ini tak hanya sebagai  ruang pamer karya seluruh anggota keluarga, namun juga sebagai rumah tinggal, studio lukis hingga menjadi tempat dimana Affandi dan Maryati istrinya dikebumikan. Sebuah passion yang mendarahdaging dalam jiwa seluruh anggota keluarga.


Tiket Masuk Museum. Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan ne
gara asal. Tiket untuk turis mancanegara Rp.50.000,-  Tiket domestik dewasa Rp.20.000,- Tiket untuk anak di atas 8 tahun Rp.10.000,- Sedangkan anak-anak hingga usia 8 tahun bebas bay
Tiket Masuk Museum. Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan ne
ar.

Museum ini terletak di perbatasan kota, tepat di pinggir kali Gajah Wong. Penanda utamanya adalah sebuah pohon Kapuk Randu tua yang berukuran raksasa....tinggi dan besar. Saya menaksir usianya lebih dari seratus tahun.

Saya mengenal sosok Affandi lewat berita-berita di televisi ketika duduk di bangku sekolah dasar. Acara Dunia Dalam Berita di TVRI kerap menayangkan aktivitas pameran seniman lukis itu, termasuk tayangan saat beliau tengah melukis dengan gaya yang unik. Cat lukis diplorotkan dengan sekenanya, lalu disapukan menggunakan jari-jari. Sesekali jari-jarinya mengelap pada bajunya yang sudah blepotan cat minyak. Warna bajunya sudah tidak karuan. Gaya melukisnya unik, ekspresif dan jauh dari kesan artistik.
Sementara Nawal ,puteri saya, mengenalnya lewat pelajaran di sekolahnya. Dia mengenal Affandi disertai sebuah kalimat pelengkap: pelukis terkenal.
Dulu, saya cuma mendengar bahwa Affandi adalah seorang pelukis beraliran abstrak. Karya lukisnya tidak jelas dan berantakan. Maklum saja, ketika itu banyak orang yang membadingkannya dengan gaya lukisan Basuki Abdullah yang terlihat lebih riil dan langsung bisa ditangkap keindahannya. Dikemudian hari, saya menemukan Affandi sebagai pelukis beraliran ekspressionis.
Ketika berkesempatan mengunjungi galeri sekaligus museum karya-karyanya, baru saya paham mengapa karya-karya Affandi dikagumi banyak orang. Melihat secara langsung lukisan-lukisannya, rasanya saya turut merasakan energi di dalamnya, bagaimana passionnya saat mengejawantahkan ide-ide ke permukaan kanvas. Plorotan langsung cat minyak dari tube ke permukaan kanvas, menghasilkan efek tiga dimensi yang kuat. Saya juga sempat menerka-nerka, kira-kira habis berapa banyak cat minyak dengan gaya yang boros ini ya?

Suasana interior Galeri 1 secara keseluruhan yag sangat artistik. Keseluruhan gedung di kompleks musem ini berbentuk melengkung sehingga tampak fotogenik dalam bidikan kamera. Perhatikan mobil kuning yang berada di latar belakang foto, bentuk dinding yang melengkung dan menyudut menampilkan kesan kedalaman dan efek menghilang. Warna cat dinding yang mencolok dan lantai yang bermotif catur mengingatkan pada setting film "Alice in Wonderland"
Lukisan Affandi ternyata tidak seabstrak yang saya bayangkan ketika masih kecil. Judul lukisan bisa memandu kita dalam memaknai lukisan-lukisan Affandi. Pada beberapa lukisan yang cukup rumit saya mencoba menikmati dengan cara memicingkan kedua mata, hasilnya lumayan.....garis-garis yang terpisah seolah terkesan lebih tegas dan membentuk satu kesatuan yang utuh....seperti pada lukisan berjudul "Tari Kecak".

Secara keseluruhan museum ini terdiri dari 3 galeri utama, 2 galeri tambahan (Studio Gajah Wong 1 dan 2), sebuah kafe yang menyatu dengan rumah tinggal keluarga dan beberapa bangunan penunjang lain.
Destinasi pertama adalah memasuki Galeri 1 yang berisi karya-karya Affandi di awal karirnya. Galeri ini juga merupakan gedung yang pertama kali dibangun oleh beliau di tahun 1960-an. Di dalamnya, selain berisi puluhan karya lukis juga terdapat memorabilia mobil kesayangan dan sepeda milik Affandi. Memorabilia lain adalah alat-alat lukis, berabagai tanda penghargaan dalam dan luar negeri, koleksi pipa cangklong dan beberapa foto dokumentasi.

Koleksi sketsa karya Affandi yag dibuat menggunakan tinta cina dipajang khusus di Galeri 2

Selanjutnya, kami memasuki Gedung galeri 2 yang berisi karya-karya sketsa Affandi yang berbahan tinta cina. Tak hanya itu, beberapa karya patung Kartika, puterinya juga turut dipamerkan.
Galeri ke 3 memberi kesan modern dalam tampilan interiornya. Khusus di sini, ditampilkan karya seluruh keluarga. Ada lukisan Ibu Maryati (saya baru tahu, ternyata Maryati juga seorang pelukis), kedua anaknya Kartika dan Rubini. Juga terdapat video dokumenter kehidupan Affandi dan cara melukisnya.

Memasuki ruang Galeri 3 kita akan langsung disambut oleh sebuah lukisan sulam karya Maryati yang menggambarkan suasana Menara Eiffel dan sekitarnya

Salah satu sudut di ruang Galeri 3 yang menampilkan lukisan-lukisan karya anggota keuarga, dilengkapi jga 3 anak tangga berbentuk setengah lingkaran layaknya sebuah teater arena

Selain memamerkan lukisan anggota keluarga, di Galeri 3 juga diputar video dokumenter Affandi semasa hidup, termasuk demo saat membuat lukisan yang tergolong unik.



Selanjutnya kami berkeliling mengitari souvenir shop, perpustakaan. Dan akhirnya sampai pada dua studio tambahan yaitu Studio Out Door Gajah Wong yang sekaligus merupakan sebuah sanggar lukis bagi anak-anak dan dewasa. Selain itu ada juga Studio In Door Gajah Wong yang ditujukan sebagai galeri pameran bagi murid-murid sanggar Gajah wong.

Setelah penat berkeliling, akhirnya saya dan anak-anak melepas lelah di kafe yang letaknya tepat di tenga-tengah kompleks museum. Kami menukar kupon pada tiket masuk dengan sebotol soft drink.

Jumat, 30 Mei 2014

JASMERAH

Bulan Mei ini, 16 tahun yang lalu...... kami mengumpulkan berita dari segenap penjuru kota, mengabarkannya kembali ke segenap penjuru kota..... 

Melewati hari-hari yang penuh tanda tanya: Adakah jadwal unjuk rasa hari ini?
Menjumpai begitu banyak orang muda berpeluh, memenuhi titik-titik perteuan dengan sepasukan aparat yang barangkali terpaksa hadir karena tugas memanggil mereka
Menjumpai begitu banyak pedagang minuman beraroma jamu yang muncul secara massif..... ah, sejak kapan di kota ini dibangun pabrik minuman ringan itu?
Di sudut kota, secara tiba-tiba becak-becak lengkap dengan pengayuhnya tidak pernah pulang kandang..... mereka memilih terlelap di sudut-sudut jalan yang sepi penumpang.... hingga tengah malam...

Semua bersiap menghadapi sesuatu yang besar......
Yang tak pernah terbayangkan sebelumnya....

Kami beruntung, karena sesuatu yang ditunggu-tunggu akhrnya terjadi....
Kulihat tayangan di televisi, Pemimpin Besar membacakan sebuah pidato tertulis....
Ia mengundurkan diri.....

DOODLE HARI INI: RUBIK's CUBE

Google, selain menyediakan layanan pencarian informasi, juga membuat aplikasi interaktif Doodle. Sebuah modifikasi dari logo Goggle yang didedikasikan bagi berbagai peringatan hari bersejarah bagi banyak pencapaian di seluruh dunia.
Doodle memiliki sebuah tim desain grafis khusus yang bekerja menelurkan ide-ide keatif. Dipimpin Dennis Hwang yang dibantu oleh Michael Lopez, Ryan Germick, Susie Sahim dan Jennifer Hom, tim ini juga membuat kompetisi Doodle di seluruh dunia yang rancang bagi anak-anak.

Hari ini, Doodle menampilkan logo interaktif Rubik dalam peringatan 40 tahn kelahiran permainan kubus berwarna tersebut. Rubik merupakan sebuah permainan teka-teki mekanis berbentuk kubus berwarna-warni. Elem-elemen warna pada Rubik terdiri dari enam warna yang di sajikan secara acak untuk di susun secara sistematis berdasarkan kelompok warna yang sama. Secara mekanis, Rubik terdiri dari 26 bagian kecil yang berputar pada tiap porosnya. Permainan otak ini didesain oleh Erno Rubik, seorang pengajar pada Department of Interior Design at the Academy of Applied Arts and Crafts di Budapest.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...