Jumat, 04 September 2015

ASPAL


Sepasang koin Benggol (10 sen) dari sebuah gang sempit di sudut Pasar Beringharjo. Kedua koin kembar ini lahir pada abad yang berbeda. Koin berwarna hitam kumal lahir pada pertengahan abad 19, detil cetakannya hampir tak terlihat, tertutup debu sejarah panjang yang dilaluinya. Koin di sampingnya, nampaknya lahir 170 tahun kemudian. Koin kedua ini, berwarna cerah, merah tembaga. Usianya masih muda memikat. 


The Lord of the Ring

Sebuah cincin bermata satu tergeletak di antara cincin-cincin lain, di dalam sebuah mangkuk. Pendarnya memikat, sejenak melenakan, melupakan hingar bingar gang sempit pasar tua ini.
Entah siapa pemiliknya yang telah tega melemparkannya ke sudut jejeran lapak loakan ini.
"Pinten, Bu?"
"Kaleh doso"
"Sedoso mawon, njih?"
"Njih"
Sedetik kemudian, usai transaksi, cincin itu beralih kepemilikan.

Koin untuk Yoyok

"Kami pernah disuguhi air 'panas' oleh seorang Kepala Desa" tuturnya lirih menceritakan pengalaman mengamankan temuan kayu-kayu curian nun di pelosok negeri.
Tak jarang, ia pulang ke rumah hingga lewat tengah malam. Perjuangan yang kerap menyisakan kepenatan mendalam dan udara yang bersembunyi dalam ruang terkecil permukaan tubuhnya.
Di hari yang mulai menguning jingga, dalam temaram matahari sore, kami bertemu usai perpisahan panjang selama hampir 15 tahun. Pertemuan singkat yang menyisakan kekhawatiranku pada jalan hidup yang ditempuhnya.

Saya kerap trenyuh dengan kisah-kisahnya dalam upaya mengamankan hutan-hutan Konawe dari serbuan para pencuri kayu, perambah yang tak kenal rasa belas kasihan. Terima kasih telah  menjaga hutan-hutan di Konawe, kami di sini hanya bisa berupaya menjaga pohon-pohon di sekitar kediaman kami agar tetap bertumbuh di tempatnya.

Kami tak kuasa menahan perpisahan di ujung senja. Aku memberikannya sekeping koin bertuah yang kudapat dari sebuah gang sempit di sebuah pasar tua pagi tadi. Koin ini datang dari pertengahan abad ke 19. Kuharap, koin ini mampu menjaganya dari segala hal yang akan menghalangi perjalanan hidupnya.
Koin itu, koin bertuah, sepanjang hampir 170 tahun merupakan benda keramat bagai jimat yang disimpan hampir sebagian besar keluarga di negeri ini. Koin itu, tersembunyi di sudut-sudut setiap rumah hingga ke pelosok negeri. Inilah koin tua yang tak lekang digerus zaman, mengusir serbuan benda tak kasat mata yang menyerangmu usai lelah berkepanjangan.
Selamat kerikan, Yok! 

Selasa, 01 September 2015

Berburu Momen

Ide itu datangnya tak pernah diduga. Seperti angin yang bertiup di siang hari, kadang terasa lamabat sepoi-sepoi namun menyejukkan, kadang berupa badai disertai gemuruh, tak jarang ia tak bertiup sama sekali, membiarkan udara lengang tak berangin yang membuat kita gelisah kepanasan. 

Tapi, kita tak boleh selamanya hanya menanti ide datang. Ide itu harus dicari dan diburu bak buronan berkelas residivis.
Ide adalah runtutan peristiwa-peristwa yang kita ciptakan dalam benak kita, mengawinkannya dengan peristiwa lain di atas kenangan-kenangan kita sendiri.

Terkadang, untuk menciptakan peritiwa itu kita harus menjemputnya, memburu momen-momen yang berlangsung di hadapan kita, mengawinkannya dengan rencana-rencana liar kita.
Upaya mengawinkan momen nyata dan rencana liar bukan hal mudah, karena kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sering mengejutkan, membelokkan segala rencana yang telah kita susun. Ketika hal itu terjadi, kita harus siap menyusun ulang segala rencana.

Djamaludin, salah satu orang yang menghancurkan rencana-rencana saya di malam saat ia bertemu adiknya, Yuslan. Dimulai saat saya menjemput kedatangannya di Bandara. Saya membayangkan ia akan celingak-celinguk saat mendarat di Bandara untuk pertama kalinya. Maklum, nampaknya itu adalah kali pertama ia bepergian jauh menggunakan moda pesawat udara. Apa daya, justru saya yang terkecoh oleh kealpaan mengolah informasi dari Fermy Nurhidayat. Saya mengira Djamaludin transit di Surabaya, sebelum meneruskan penerbangan menuju Yogyakarta. Maka, justru saya yang harus celingak-celinguk mengamati satu-persatu penumpang yang keluar dari pintu terminal Bandara, memastikan kehadirannya.

Kali kedua, Djamaludin kembali menggagalkan rencana-rencana saya. Usai makan malam, kami menuju rumah sakit tempat adiknya Yuslan dirawat. Nah...ini dia, pikir saya, peristiwa monumental yang harus saya hadiri, pertemuan kedua kakak beradik yang tak bersua setelah lebih dari 16 tahun lamanya. Ini adalah momen epik, pikir saya. Saya membayangkan akan ada pristiwa mengharu-biru, bertabur air mata yang bisa saya saksikan. Dalam hati, sejak kegagalan merekam momen di Bandara, saya mulai menyusun serangkaian kata-kata, merekam langsung lewat kamera pocket dan kemudian menuliskan pertemuan keluarga itu sesampainya di rumah.

Namun, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan, hampir tak air mata di sana, di ruangan berbalut gorden putih itu. Bahkan suara terbata-batapun hampir tak terdeteksi oleh telinga saya. Tak ada peluk kerinduan yang mereka lakukan, sebagaimana layaknya oarang yang belasan tahun memendam kerinduan.

Alik-alih beradegan termehek-mehek, mereka kakak beradik itu malah berjabat tangan layaknya dua sobat yang kerap bertemu. Bahkan, Djamaludin, menawarkan roti kasur yang dibawanya untuk disuapkan kepada adiknya.

Haaa??....Bagaimana ini, bagimana dengan rencana tulisan saya nantinya  jika tak ada sedu-sedan di anatar mereka? Kenapa tak ada satupun di antara mereka yang menitikkan air mata? Apakah mereka tidak kasihan kepada saya, yang telah bersusah payah menghadiri pertemuan monumental mereka? di tengah kebingungan atas kejutan yang mereka berikan, saya terpaksa menyusun ulang rencana-rencana tulisan saya itu. Maka, malam harinya, usai kegagalan mendapatkan sebuah momen termehek-mehek, akhirnya saya harus memutar ulang rencana menyusun tulisan tentang pertemuan mereka.

Begitulah ide, gampang-gampang susah dan susah-susah gampang.

Minggu, 30 Agustus 2015

Saya dan Sandal Jepit




Beberapa teman dekat mengidentifikasi saya sebagai pecinta syal, lantaran dalam banyak kesempatan saya kerap mengenakan kain panjang tersebut. 

Ya..ya..ya... Saya memang pecinta selendang dan kerabat-kerabatnya itu dan nyaman dengan kehadiran mereka. Namun, tidak banyak yang tahu kalau sesungguhnya saya sering merasa saltum, salah kostum. Di mana letak saltumnya? Letaknya tersembunyi jauh di bawah tubuh saya, mendekati permukaan bumi tepatnya alas kaki he..he..he.... 

Ya..sebenarnya saya sering merasa salah kostum lantaran alas kaki saya nggak nyambung dengan pakaian. Pangkal masalahnya karena saya ini pecinta sandal jepit akut, jenis alas kaki yang dibuat massif di pabrik-pabrik berbahan baku karet dengan harga yang sangat terjangkau. Sebenarnya, kecintaan saya akan sandal jepit ini biasa-biasa saja sih....bukan sesuatu yang istimewa, toh banyak orang yang memakai sandal jepit di kesehariannya. Persoalannya, saya sering menyesuaikan kostum dengan sandal jepit saya. Padahal seharusnya, alas kaki menyesuaikan dengan pakaian. Nah...itu kemudian menjadi masalah buat saya, setidaknya bagi saya pribadi. Sering saya sudah memakai baju rapih-rapih hendak ke kampus, dandan dikit biar kelihatan agak cakepan dikit....#Eaaa..... Eh...ndilalah....saya melengkapinya dengan sandal jepit. Ajaibnya, saya merasa biasa saja, normal-normal saja...pokoknya pede sajalah.....orang lain yang melihat mungkin cuma melirik melihat ada sedikit keajaiban pada tampilan saya...hehehe... Pokonya biasa saja deh...Easy going wiss... 

Persoalan mulai muncul tatkala ujian semester di kampus berlangsung. Lantaran pihak Dekanat sering melihat banyak mahasiswanya bersandal jepit ris di kampus, maka terbitlah sebuah aturan yang terasa menyiksa kami. "Peserta Ujian Wajib Memakai Sepatu", demikian bunyi aturan itu yang seolah menjadi kiamat kecil bagi saya dan komunitas pecinta sandal jepit kampus ini. 
dengan segala keterpaksaan, akhirnya saya terpaksa mengeluarkan koleksi sepatu saya yang cuma satu-satunya, memasangnya menutupi kedua kaki saya. Toh, ini hanya akan berlangsung selama ujian semester saja, pikir saya. Dugaan saya agak meleset rupanya, pihak Dekanat mulai memberlakukan kewajiban mengenakan sepatu bagi seluruh peserta perkuliahanAn tepat ketika masa ujian semester berakhir. Wajib! 

Terus terang, kenyataan ini sungguh berat bagi saya, terutama bagi kedua kaki saya dari ujung jari hingga setidaknya mata kaki. Ini bagai sebuah tsunami yang menghantam independensi kedua kaki saya. Jika semula mereka bebas merdeka merasakan angin spoi-sepoi saat saya melangkah menuju kampus, kini mereka dipaksa bersembunyi dalam kegelapan sebuah benda bernama sepatu. Alangkah tersiksanya mereka, ketika hampir seharian harus saling berdesakan dalam sebuah ruang tertutup bernama sepatu. 

Sebulan sejak kebijakan Dekanat berlaku, kesua kaki saya nampaknya mulai bermasalah. Saya mulai merasa gatal-gatal pada beberapa bagian, terutama di sela-sela jari kaki. Tak hanya itu, bau tajam serupa bumbu dapaur hasil fermentasi udang-uadang kecil mulai menghiasi udara di sekitar mereka. Saya menyadari dengan hati penuh, inilah serangan jamur kaki, sesuatu yang saya khawatirkan selama ini. Maka lengkap sudah penderitaan saya sejak ujian semester sebulan yang lalu itu, sejak kewajiban bersepatu di berlakukan di kampus.

Jumat, 28 Agustus 2015

Bakso dan Para Perantau dari Wonogiri



"Ngebakso, yuk!" Ajakan ini tentu tak asing di telinga kita. Bakso hidangan sepinggan ini sangat akrab di lidah orang Indonesia.
Umumnya bakso terbuat dari daging sapi giling yang dicampur dengan tapioka dan bumbu-bumbu pelengkap, meski adapula yang terbuat dari daging ayam atau ikan. Akar kuliner hidangan ini berasal dari Cina. Dalam Bahasa Hokkian Bak-So artinya daging giling. Secara kasat mata, keseluruhan hidangan ni memang sangat oriental, mulai dari penggunaan bawang putih yang dominan, sup yang bening, penggunaan mie, tahu hingga krupuk pangsit.
Masyarakat Leuwiliang, sebagaimana masyarakat Sunda pada umumnya, sependek pengetahuan saya adalah penggila Bakso.Siang malam panas hujan, hidangan ini selalu diburu. Masih kurang yakin dengan pernyataan saya ini? Coba deh, teman-teman hitung-hitung: Dalam sebulan berapa kali frekwensi kita menyantap bakso.... Hmmmm atau, jika kebetulan singgah dan melewati di sekitaran Pasar LeuwiliNg, sesekali lihatlah berapa banyak pedagang bakso di sana.
Suatu ketika, saya pernah secara sengaja menghitung jumlah pedagang bakso di sekitar Pasar Leuwiliang. Mulai dari Bakso Pak Sadid yang tersohor dengan bonus daging kepala sapinya itu hingga ke kedai Bakso Gian di dekat Mualimin bahkan hingga ke kios Bakso Bom yang ukurannya segede alaihim gambreng itu. Sekitar tahun 2005, lebih 50 pedagang bakso yang saya temui tengah mengais rezeki di sana. Iseng? He..he..he.... Iya benar, ini kerjaan super iseng yang kerap saya lakukan di manapun. Tapi, ini iseng yang serius sih....wahai sist, bro and guys.
Kalau kita menjelajahi Pasar Leuwiliang ini, masuklah ke lorong pasar di sisi barat, maka kita akan menjumpai banyak pedagang daging sapi di dalamnya. Ada pula dua kedai pengolah adonan bakso yang melayani pelanggan tetapnya, para pedagang bakso.
Kronologinya kira-kira begini: Di pagi hari, para pedagang bakso membeli daging sapi, lalu langsung membawanya ke penggilingan. Proses penggilingan ini cukup memakan waktu. Mulai dari mengantri, menggiling daging, pencampuran daging giling dengan tapioka dan bumbu. Meski demikian proses ini cukup membantu meringankan pekerjaan para pedagang bako. Adonan siap masak ini selanjutnya dibawa pulang dan siap diolah.
Kenapa pedagang bakso di Leuwiliang banyak sekali ya? Bisa jadi karena masyarakatnya, seperti yang saya singgung di atas memang penggila Bakso. Begitulah Hukum Permintaan yang berlaku, ada permintaan maka ada penjual. Padahal, tidak semua pedagang bakso itu warga pribumi lho. Bahkan kalau dicermati, sebenarnya banyak sekali warga pedatang yang mengais rezeki di sana dengan berprofesi sebagai pedagang bakso.
Berdasarkan hasil obrolan dan pengamatan super iseng saya......ditengarai pedagang bakso di Pasar Leuwiliang ini sebagian merupakan pendatang dari Wonogiri. Nah, sist, bro and guys sekalian mungkin sekali waktu bisa memperhatikan dialek para pedagang ini ketika melayani pembelinya. Ada dua dialek utama yang dapat dikenali: Dialek Sunda atau Jawa. Jika si pedagang mengunakan dialek Jawa, besar kemungkinan ia berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.
Wonogiri di Jawa Tengah dan Malang di Jawa Timur merupakan dua wilayah yang terkenal sebagai sumber persebaran para pedagang baso. Kedua jenis bakso dari kedua tempat ini berbeda sekali. Jika menelisik penampakan bakso di kedai-kedai Bakso di Leuwilang, dapat dikatakan merupakan jenis bakso dari Wonogiri.
Ini jelas fenomena yang cukup mengerikan guys......! (Ups....jangan serius yaa.....Seklai lagi, saya sedang iseengg banget smile emotikon )
Jangan bicara soal imperialisme ya...kalau masyarakat Leuwiliang sendiri tidak sadar telah dijajah oleh masyarakat Wonogiri. Kegilaan akan bakso tanpa disadari merupakan bentuk penjajahan, invasi kuliner yang melenakan indera pengecap kita. Bayangkan.....para perantau Wonogiri itu telah berhasil menciptakan ketergantungan akut masyarakat Leuwiliang akan hidangan bernama bakso, he..he...he...
Tapi begitulah kuliner...bakso tetaplah bakso. Sebuah hidangan gurh dan lezat yang mampu mengusir rasa lapar, mencairkan suasana dan mengakraban sebuah perbincangan di sebuah kedai bakso.
Nah temans, sudahkah makan bakso hari ini?

Catatan "Ngobrol Produktif dengan Praktisi"

credit foto: Iving A Chevny




"Kantor Pos bablas ngulon...."

Demikian pesan pendek Iwan J Prasetyo di inbox FB  saya, membantu memberi petunjuk lokasi diskusi yang akan kami hadiri. Akhirnya saya menemukan lokasi pertemuan kami, setelah menjelajahi hampir separuh kampung Jomegatan lantaran urusan nomor rumah yang ternyata acak-acakan di kawasan ini.
Undangan  diskusi terbatas yang digagas mas Iving A Chevny sungguh menggiurkan:  "Ngobrol Produktif dengan Praktisi" . Iming-iming bahasannya juga tak kalah menggemaskan (he..he..he):  Berbagi ilmu cara brand terkenal memproduksi sepatu, Berbagi ilmu tentang berbagai jenis bahan garmen(tas, sepatu),  Berbagi ilmu tentang bagaimana cara kerja desainer dan product developer menghasilkan sebuah produk  yg bagus dan berkualitas, Berbagi ilmu seluk beluk tentang foto produk, Berbagi ilmu tentang web, e commerce dll, Berbagi ilmu tentang packaging, yg mampu memberikan nilai lebih bagi sebuah product. Opo ra edan kuwi!
Dalam diskusi ini, hadir mas Iving A Chevny (wirausahan nasional), kang Diki Kusmayadi (Product Development), mas Imam Syafei (prakisi UMKM), mas Iwan J Pasetyo (Praktisi IT), mbak Destina Kawanti (BNN) dan komunitas Geluk Design (sekumpulan anak muda yang tekun berkarya dalam dunia komunikasi visual).

INTRO
Tepat 1 Januari 2015, kawasan ASEAN akan memasuki babak baru, sebuah era diberlakukannya sistem ekonomi integral antar negara anggota ASEAN Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailan, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar. Sebuah sistem perdagangan bebas antar negara ASEAN akan menghilangkan berbagai sekat wilayah, termasuk berbagai kebijakan yang bisanya menjadi pengendali dalam sebuah negara. Sistem bea cukai akan lebih sederhana, adanya sistem self certification. Sistem kompetisi langsung ini memiliki resiko yang cukup serius dengan membanjirnya  barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia. Ini mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas dan tak jarang jauh lebih murah. Kondisi kompetisi langsung ini   kemungkinan akan membuat neraca perdagangan   Indonesia menjadi defisit.
Ilustrasi singkatnya  begini: Pedagang Singapura atau Malaysia dapat leluasa berdagang di Indonesia, demikian juga sebaliknya Pedagang asal Indonesia  dapat membuka kedai di Thailand atau Vietnam, tanpa disibukkan dengan berbagai regulasi.  



MEA dan Tantangan UKM Indonesia
Mas Iving A Chevny mengawali diskusi dengan mengetengahkan dua isu penting  yaitu pendapat pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsi terkait keberadaan UKM di era MEA (Masyarakat ekonomi ASEAN) dan pernyataan Jusuf Kalla terkait rencana dikucurkannya kredir untuk UKM. Kedua isu ini meski bukan isu baru namun merupakan isu yang cukup penting di kalangan pelaku bisnis UMKM.
Nah, bagaimana pelaku usaha d indonesia sendiri? Ini adalah tantangan luar biasa bagi pelaku usaha kita, terutama pelaku usaha UMKM? Apakah siap menghadapai "tamu-tamu" dari berbagai negara tetangga ini, di tengah hadirnya tantangan krisis moneter dunia yang melorotkan nilau tukar rupiah?
Sekedar pengingat, krisis tahun 1998 sesungguhnya UMKM  telah menjadi tulang punggung bagi perekonomian bangsa kita, menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan lebih jauh. Di saat begitu banyak pelaku usaha kelas kakap yang kocar-kacir, UMKM mampu bertahan, meski tak sedikit yang gulung tikar.
Tantangan saat ini mungkin tak kalah dahsyat dengan badai ekonomi tahun 1998 yang lalu. Bagaimana pelaku UMKM menyikapinya? Apakah masih harus menunggu uluran tangan dari pemerintah terus? Bagaimana memenangkan persaingan usaha dengan pelaku UMKM dari negara serumpun?

Mas Imam Syafei mengemukakan bahwa sesungguhnya ada banyak kelebihan dan kelemahan UMKM  kita dalam  sejarah perjalanannya. Apa kelebihannya? Sebenarnya produk  Indonesia itu mampu lho bersaing dengan produk dari luar negeri, bahan untuk standar Eropa yang membutuhkan banyak syarat dan kontrol kualitas yang ketat. Ini dibuktikan dengan banyaknya produk ekspor yang banyak memenuhi pasar dunia. Tak jarang banyak pula pesanan produksi yang mampu dipenuhi dengan spesifikasi tinggi.

Kalau produknya sudah mampu bersaing, kenapa UMKM kita sepertinya masih jalan di tempat? Ini dia kelemahan yang harus kita cermati: Masalah etos kerja.  persoalan utama adalag pada komitmen saat menerima permintaan klien. Tak jarang, saat menerima order, banyak UMKM yang tak mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati alias mangkir. Komitmennya bukan soal waktu yang molor dari jadwal, terkadang demi meraih keuntung lebih  spesifikasi bahan baku  malah di bawah standar yang disepakai.
Faktor lain juga terkait pengetahuan. Pengetahuan akan pasar yang dituju,  kemampuan membaca trend  dan  tentu saja saat yang tepat ketika meluncurkan produk. Saat ini, tengah dirintis sebuah institusi untuk mendampingi pelaku UMKM mengembangkan usahanya yaitu Rumah Branding Yogya

Salah satu contoh produk yang mampu memenuhi pesanan dengan standar Eropa adalah  produk ikat pinggang sederhana dari bahan webbing (?) dengan merk Fret Free (http://www.fret-free.com/).

PENGEMBANGAN PRODUK DAN KONSUMEN

Di sessi ini juga dipaparkan  betapa rumitnya merancang sebuah produk dalam menghadapi kompetitor.  Kang Diki Kusmayadi berbagi cerita pengalamannya sebagai seorang  Product Development untuk  sebuah brand asal Autralia, mulai dari soal kompetisi antar produk, kualitas bahan, kualitas produksi hingga soal prosuk yang harus presisi satu sama lain.  Terkait tugas utamanya  seorang Product Development selain harus menguasai  hal-hal teknis produksi, ia juga wajib membuka mata dan telinga terhadap perkembangan trend fashion terkini, menjawab keinginan pasar, mecari tahu perkembangan kompetitor. Semua itu adalah upaya  yang terintegrasi satu sama lain dalam membangun dan mempertahankan brand  dan tentu saja ekspansi pasar yang lebih luas.

Sebagai ilustrasi, brand Rip Curl sangat massif di Bali hingga terkesan menjadi brand yang generik (http://asia.ripcurl.com/). Di sudut manapun di pulau Dewata ini, kita akan dengan mudah menemukan logo Rip Curl. Ini berbeda sekali dengan kondisi di Jakarta, brand ini  ternyata kurang populer. Perbedaan signifikan ini tentu saja sangat dipengaruhi kondisi pasar. Bali yang identik  dengan destinasi wisata, termasuk aktivitas surfing, sementara Jakarta adalah kota metropolitan yang tak ada aktivitas surfing. Karakteristik pantai dan laut Jakarta berbeda dengan Bali, kondisi geografis ini adalah yang mendasari perbedaan pasar kedua kawasan ini.  Jakarta justru lekat dengan aktivitas skateboard, sebuah jenis olahraga urban yang jauh dari kawasan pantai. Maka brand lain yang menjadi kompetitor lebih mampu bersaing di kawasan Jakarta.  Istilah  Rip Curl sendiri (atau Rip Current) berasal dari istilah kondisi akumulasi dua atau lebih arus balikgelomang laut yang cukup mematikan  yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut. 

E-COMMERCE
Iwan J Prasetyo, praktisi IT, mengingatkan bahwa kunci e-commerce terletak pada keberadaan sebuah produk itu sendiri. Kuncinya da di produk, bukan pada brand. MEA sendiri merupakan replika dari dunia e-commerce. Selanjutnya, metode apa yang akan dipakai? Branding atau Cloning?  Contoh kasus adalah xiaomi yang merupakan kloning dari I-phone.
Start up aktivitas e-commerce bisa dilakukan dengan  menumpang jual pada toko-toko online terkemuka seperti Lazada, Tokopdia, blibli, bhineka dan lain-lain. Jika telah mapan makaa bisa melakukan penjualan sendiri lewat situs sendiri.
Saat ini komoditi bukan lagi berupa produk degan tingkat kadaluarsa yang tinggi, tahan lama seperti fashion, peralatan rumah tangga, elektronik dan lain sebagainya. Bisnis e-commerce juga mulai merambah lahan kuliner, sebuah komoditi yang  membuthkan waktu pengiriman cepat, dengan resiko besar, masa kadaluarsa yang singkat bahka dalam hitungan jam. Mas Iwan menceritakan pengalamannya memesan menu ayam ingkung dari sebuah grup pecinta kuliner, dan ia menerima pengiriman menu tersebut dalam waktu 3 jam saja, dengan kondisi menu dalam keadaan hangat. (https://www.facebook.com/groups/kulinus/)

PERILAKU KONSUMEN

"Hasrat itu munculnya dari mata", demikian mas Iving menuturkan quote tokoh psikopat Hannibal Lecter dan lakon Silence of the Lamb. Menurutnya, visualisasi yang ditangkap mata mampu mendorong konsumen untuk melakukan keputusan pembelian.  Indra visual dianggap mampu mendominasi indra peraba untuk mempengaruhi perilaku konsumen dalam transaksi e-commerce ini. Dalam hal ini, peranan desain grafis sangat besar untuk menampilkan image produk, antara lain berupa desain kemasan yang menarik.
Meski hal tersebut benar adanya,namun tak dapat dipungkiri bahwa term of experince dan term refference sesungguhnya juga mempunyai peran  dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. 

TENAGA KERJA  DAN MESIN 


Masalah tenaga kerja juga menjadi bahasan singkat dalam diskusi ini. Mbak Destina Kawanti dari BNN berbagi cerita tentang upaya rehabilitasi eks pengguna narkoba  agar bisa dilatih menjadi tenaga yang lebh produktif.
Industri digital memasuki babak baru dengan kehadiran mesinm-mesin produksi digital  yang dapat dioperasikan di rumah-rumah. sebut saja mulai dari printer sablon digital hingga  printer 3 dimensi. Mesin CNC (Computer Numerically Controlled), sebuah mesin yang dikontrol penuh lewat sistem komputerisasi dan semula hanya beredar di kalangan terbatas ini, kini diproduksi massal dan dpat diakses oleh banyak orang dengan harga yang lebih terjangkau. Bayangkan bisa ukiran-ukiran kayu Jepara yang semula dikejakan oleh tenaga perajin ukir, kini cukup dioperasikan oleh mesin cnc di bawah kendali sistem digital. Melalui mesin ini, kayu ukir dapat diproduksi massif, presisi satu sama lain, tanpa ongkos pekerja, bahkan waktu produksi juga dapat dirancang sejak awal produksi. 

Kehadiran secara massif mesin-mesin digital rumahan ini  apakah  mereduksi ruangan pabrik hanya menjadi seukuran  ruang tidur, mereduksi besar-besaran tenaga pekerja?  Lalu, bagaimana nasib tenaga kerja manusia?

GOJEK
Tidak afdol rasanya, mendiskusikan  e-commerce  tanpa melirik Gojek, bisnis e-commerce yang saat ini sedang happening atau meminjam istilah para enterpreneur sedang "moncer" :) Gojek, layanan antar jemput menggunakan moda kendaraan roda dua yang terintegrasi dengan sistem online ini diinisiasi Nadiem Makarim, masuk dalam kategori bisnis logistik: mengantarkan  (biasa penumpang, bisa juga barang).

Sistem yang digunakan Gojek: Driver mendapatkan tool berupa gadget dengan program aplikasi  yg tertanam di dalamnya, termasuk kelengkapan berkendara: Jaket driver dan  2 helm (untuk driver dan penumpang). Sistem pembayaran juga dilakukan secara online. Penumpang wajib melakukan registrasi dan membeli voucher, maka pembayaran tidak dilakukan secara tunai, secara otomatis deposit uang pada akun penumpang akan dipotong sesuai jarak tempuh. Sementara Driver akan menerima gaji dari Manajemen Gojek, sesuai akumulasi pada akunnya. (http://www.go-jek.com/)

PADA AKHIRNYA SEMUA ADALAH IDE

Jika semua elemen dasar industri direduksi, mulai dari regulasi, jarak, tenaga kerja, alat produksi...apa yang tersisa bagi manusia? hanya ide  yang tak bisa direduksi, tak bisa digantikan. Ide adalah sumber daya tak akan pernah habis, semakin digali akan semakin cemerlang. Ide bisa datang dari manapun, kapanpun, oleh siapapun dan untuk siapapun. Eureka!


Kamis, 27 Agustus 2015

Kelas Gerbong Kereta Toto-Chan

Melihat foto tumpukan bangkai gerbong kereta di stasiun Purwakarta ini, saya langsung teringat sebuah novel tentang anak kecil yang bersekolah di kelas-kelas gerbong kereta. Nama anak itu Toto-Chan. Gadis kecil ini ditolak belajar di beberapa sekolah lantaran memiliki kebiasan yang berbeda dibanding teman-teman lainnya.

Beruntungnya, Toto-Chan memiliki seorang ibu yang sabar dan memahami dirinya. Setelah beberapa kali pindah sekolah, tiba saatnya ia dan ibunya mendaftar di sebuah sekolah yang bisa memahami karakter anak-anak seperti dirinya.

Pertama memasuki pelataran sekolah barunya, gadis kecil ini sungguh takjub lantaran mendapati sekolah dengan bentuk fisik yang tidak seperti biasanya. MUlai dari lokasi yang berada di antara rerimbunan pohon, gerbang sekolah yang terdiri dari dua batang pohon dan masih memunculkan dedaunan hingga kelas-kelas belajar yang terbuat dari gerbong-gerbong kereta bekas. Yang tak kalah menarik adalah saat perkenalan dengan Kepala Sekolah, dimana sang Kepala Sekolah yang bijaksana itu mendengarkan dengan tekun dan antusias cerita gadis kecil ini selama 4 jam penuh, tanpa rasa kantuk atau bosan.

Episode lain yang tak kalah menarik dari novel ini adalah pengalaman Toto-Chan dan teman-teman sekolah saat berkemah di sekolah. Kemah kali ini bukan kemah sembarangan. Anak-anak ini berkemah bersama di sekolah untuk menyambut kedatangan gerbong kereta baru.

Sejak siang hari ketika terdengar kabar akan ada gerbong baru, mereka luar biasa antusias dan penasaran. Sambil membentuk kerumunan kecil, mereka menduga-duga bagaimana cara gerbong kereta akan diangkut ke sekolah mereka. Ada yang menduga diangkut menggunakan gerobak, atau ada pula yang menduga akan dibangun rel baru menuju sekolah.
Untuk menjawab rasa penasaran mereka, Kepala Sekolah mengizinkan mereka berkemah di sekolah untuk menyaksikan bagaimana gerbong kereta diangkut ke sekolah.

Saya terkesima dengan cerita-cerita dalam novel ini. Saya membayangkan seandainya bangkai-bangkai gerbong ini dimanfaatkan menjadi kelas-kelas sekolah dengan Kepala Sekolah yang sama bijaknya sebagaimana dalam novel tersebut, tentu akan ada anak-anak yang mengalami masa kecil tak terlupakan.



Selasa, 28 Juli 2015

Pohon Besar dan Daun-Daun Berlidah Api





"Huuhh...panas sekali udara hari ini......." 

Aku mengipas-ngipaskan selembar koran menghalau rasa gerah dan peluh yang mengucur deras di sekujur tubuh. Aku tak habis pikir, kenapa udara panas tak segera hilang meski aku tengah berada di bawah pohon besar yang rindang ini, yang kerimbunannya jelas telah menghalangi sinar matahari jatuh di permukaan tanah. Biasanya kalau matahari seterik ini, aku akan berleha-leha di bawah pohon besar ini, lalu tertidur dalam belaian angin sepoi-sepoi yang meninabobokanku. 

Pohon besar ini, sependek yang kuketahui telah ada sejak mendiang kakekku berusia belia...kalau meminjam bahasa anak muda masa kini istilahnya abege. Kutaksir usianya lebih dari seabad, karena menurut mendiang nenek, ia dan kakek menikah saat masa pendudukan kolonial Belanda, ketika pemuda-pemuda bumiputera tengah berkumpul. Kuperkirakan pristiwa yang dimaksud nenek mungkin Kongres Pemuda pada 1928 sebab nampaknya hanya peristiwa itu yang gaungnya bergema kemana-mana, cetar membahana kala itu. Mungkin mendiang kakek lahir di awal abad ke-dua puluh, sedangkan kini aku telah memasuki abad 21, pada dekade pertamanya. Haduuh....hitung-hitungan usia pohon besar besar ini sungguh ruwet, yang jelas usianya sudah tuaaa sekali....... 


Diameter batang pohon ini mungkin lebih dari tiga meter. Bayangkan saja, untuk memeluk batangnya dibutuhkan lima orang dewasa yang mengelilingi lingkar batangnya. Sungguh sebuah penopang yang luar biasa bagi sebuah pohon dengan cabang, ranting dan daun-daun yang rimbun ini. Ini tentu didukung oleh akar tunjag pohon yang tak kalah kokoh menghujam ke bawah, dan tentu saja juga berdahan, meranting dengan kelengkapan bulu-bulu halus tudung akar yang siap menyedot segala intisari di dalam lahan yang gembur. 

Daunnya? Kau tahu bagaimana daun-daun yang berjumlah ribuan ini menjadi ujung tombak bagi proses fotosintesis, mengeksekusi segala intisari dari lahan gebur yang dialirkan melalui saluran-saluran panjang pembuluh xylem. Pada dedaunan inilah, lahan di sekitar pohon besar ini membuktikan kesuburannya. Entahlah..padahal menurut ibu, pohon itu tak pernah disiram atau diberi pupuk. Dibiarkan begitu saja. 

Yang mengherankan tentu saja warna pada permukaan daun-daunnya, meski terlihat berwarna hijau dan nampak sejuk di mata namun jika kau perhatikan daun-daun itu tak sungguh-sungguh berwarna hijau, melainkan berwarna oranye kemerahan....ya...mirip dengan arang yang kau bakar saat kau membakar satai daging kambing di hari raya kurban. Kira-kira seperti itulah.....Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan sebuah warna yang mewakili rasa panas namun tetap diliputi rasa riang gembira. Sebab, demikian juga dengan daun-daun pohon besar ini, terkadang menimbulkan sebuah keriangan karena warna hijaunya yang teduh, namun jika kupandangi dengan seksama nyata sekali warna bukan hijau...ya..itu tadi sepeti arang yang kau bakar dalam sebuah keriangan hari raya. 

Seperti siang ini, tiba-tiba warna daun-daun itu merah menyala di bawah terik matahari dan tentu saja membuatku merana dalam cuaca tropis yang sedemikian kering ini. 

Kulirik arloji,pukul 12 siang. Bayangan hitam tubuhku telah memendek dalam ukuran yang hampir menyamai selop-selop kakiku. Baiklah...ini memang pukul12 siang dan matahari menggeram dengan garang tepat di atas ubun-ubun kepalaku. Panas yang terasa menusuk itu seolah ujung-ujung lidah api matahari telah sampai ke permukaan bumi, menjilat-jilat permukaan kulit kepalaku. Tajam dan panas. 

Pandanganku berkunang hampir gelap....tiba-tiba kulihat ujung rambutku menguning jingga....beberapa ujung daun pohon besar ini menggapai kepalaku tanpa kusadari. Rasa panas terbakar itu menjalar perlahan memasuki tubuhku.....Dahan dan ranting-ranting yang berwarna laksana bara itu perlahan memanjang, menjulurkan ujung-ujung daunnya serupa lidah api.....berusaha menggapai seluruh tubuhku. Otot-otot tubuhku mengejang, kaku. 

Samar-samar kulihat mendiang kakek, nenek, Bapak, Ibu dan para tetua yang telah berpulang menarik tubuhku beramai-ramai......mengerahkan segala kekuatan yang tersisa dari arwah-arwah mereka.....menjauhkanku dari lilitan pohon besar yang berubah menjingga itu. 

Aku terlempar jauh dan terhempas di atas rumput-rumput liar dan ilalang yang berselimut embun di siang terik, bukan pada pagi seperti biasa. Dari kejauhan, pohon besar itu menarik kembali ranting-ranting dan daun-daunnya pada posisi semula dan kembali berwarna hijau serupa hijaunya rumput dan ilalang tempatku bersimpuh. 
Di kemudian hari, aku mendapat sebuah cerita mistis tentang daun-daun serupa bara api itu. Konon daun-daun itu sesungguhnya hendak membawaku ke surga, sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan. Aku mendengarnya tak lama setelah aku tehempas dan terkapar di antara rerumputan dan ilalang. 

Samar-samar aku mendengar bisik-bisik halus nun dari balik tanah tempatku terkapar. Rupanya akar-akar pohon besar tengah berbincang satu sama lain. Akar-akar yang telah menjalar hingga jauh melampaui jarak yg tak pernah kubayangkan, menjalar jauh melebihi jangkauan daun-daun pada ranting terluar pohon itu. 

Yogyakarta, 27 Juli 2015. 

Sabtu, 11 Juli 2015

Robohnya Rumah Kami (Afnan Malay)

Cuma beberapa menit setelah gempa ikut melindas Bantul pun Klaten, saya mengirim pesan singkat kepada Syaifudin Gani. Ia mantan aktivis Walhi Medan. Kepadanya saya sampaikan, "Bung, rumahku baru saja dihantam gempa hebat. Tampaknya Jogja segera habis." Begitu sepenggal kisah yang sempat saya kirimkan. Nyaris, saya, istri, kedua anak lelaki kami, dan ibu mertua—yang baru berani mengunjungi kami dari Semarang setelah Merapi tensinya mereda—hanya tinggal nama.
Sungguh, semula jawaban Gani bagi saya terkesan dingin, "Aku ikut dukacita, kudoakan semoga kamu setabah orang Aceh". Benar, tanah kelahiran kawan saya itu telah menjadi asosiasi untuk setidaknya dua hal: pertama, puncaknya malapetaka; kedua, tangguhnya kesabaran. Saya segera membalas, "Soal ketabahan, Aceh tidak tertandingi Bung! Sebetulnya ingin saya tambahkan, melihat dahsyatnya bencana, jangan melulu dihitung seberapa banyak korban jiwa. Tetapi, tanpa imbuhan itu pun, ia telah sedemikian gelisah. Lalu, membalas berkali-kali sesuai dengan perkembangan yang dilaporkan. Bagi saya itu semacam permakluman. Ternyata gempa Sabtu akhir Mei silam yang berpusat di Laut Selatan tidak main-main.
Menghadapi gempa merupakan hal baru bagi kami yang bermukim di Jawa. Hanya saja, mungkin bagaimana melawan kedukaan di mana pun tidak jauh berbeda. Kami sepertinya dipagari cukup kesabaran. Kalau dulu ada slogan kampanye SBY-Kalla, "Bersama Kita Bisa". Kami plesetkan menjadi bersama kita (jangan) binasa. Makanya, gempa kami "manipulasi" layaknya acara kumpul-kumpul bersama. Dapur umum seadanya digelar di hampir semua sudut jalan. Seolah-olah kami sedang menghadirkan nostalgia pramuka.
Ketika malam tiba, saat itulah teror sesungguhnya menggedor-gedor seberapa tebal kepasrahan—religiositas atau spiritualitas, bukan nrimo dalam artian fatalistik—yang kami punya. Dalam gelap berkawankan dingin, kami awas mencermati setiap geliat gempa susulan yang berkali-kali tidak sungkan ikut menyelinap berdesakan persis di tubuh-tubuh kami. Memang tidak ada isak tangis, lebih dari itu, kami sebetulnya tengah menyambut kematian. Sambil tetap menunggu akhir teka-teki: sanggup bertahan!
Kalau saja tidak ada interaksi dengan peristiwa di luar kami, mungkin kami lulus berguru kepada orang Aceh soal ilmu tabah. Nyatanya, kami "diganggu" jurnalisme yang heboh, terutama jurnalisme >small 2small 0
Sebenarnya, tidak kurang para jurnalis membuat interupsi, bahkan "unjuk rasa", merekam suara para korban bahwa bantuan yang melimpah itu baru sekadar realitas media, bukan realitas yang menyapa korban. Artinya, korban sama sekali tidak tersentuh. Solidaritas kita sebagai anak bangsa tidak terbantahkan. Tetapi, negara seperti sedang cuti: kecuali frekuensi rapat bertambah dan teknik koordinasi terus disusun. Kalau kami seolah "menikmati" pramuka-pramukaan, di radius nol kilometer, di Istana Gedung Agung, mungkin yang terhormat Tuan Presiden bersama para menterinya nostalgia beneran dan menyempatkan mendengar lantunan lembut Katon, "Nikmati bersama suasana Jogja…."
Mudah-mudahan mereka juga bisa "masuk" menghikmati suasana Jogja kini. Setidaknya, melalui pintu kesaksian Musidah (39), yang tinggal di Puton, beberapa ratus meter sebelah barat jembatan Karang Semut yang ketika dibangun arsiteknya bernama Djoko Kirmanto (kini Menteri Pekerjaan Umum). Ia adalah guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) dan kebetulan mengajar Rumi Rayhan Pekerti (5), anak saya yang bungsu.
Sore pada hari kedua bencana, saya tergerak mengunjunginya. Berbagi cerita sesama korban. Seperti juga rumah-rumah menuju ke perumahan kami—Perumnas Bumi Trimulyo Permai—di Kembang Songo, semua rumah di dusun tempat tinggalnya roboh. Mencoba berempati, saya katakan kepadanya, "Kita sama-sama korban Bu. Rumah saya juga rusak berat, memang tidak hancur lebur, tetapi saya takut memasukinya. Atapnya mau runtuh." Musidah menyambar cepat, sambil tersenyum getir, "Kalau saya tidak akan pernah takut lagi." Lalu, mengunci kepasrahannya, "Karena, saya sudah tidak punya rumah!"
Merasa masygul, saya alihkan topik soal bantuan. Jawabnya, seperti dugaan. Bahkan, Supermi pun belum ada. Silakan keliling ngecek pintanya. Saya hanya anggut-anggut, mungkin persis para birokrat kita ketika mendengarkan keluhan rakyat. Setelah itu segera saya layangkan pesan singkat kepada. Kali ini kepada seseorang dari jajaran nomor satu di negeri ini, jubir presiden, Andi Mallarangeng. Soal manajemen bantuan bencana yang tertumbuk birokrasi yang menuhankan prosedur. Soal tenda dan Supermi yang harus mengantre ke kantor bupati. Soal rakyat yang antre harus ber->small 2small 0
Orang yang saya SMS tadi menjawab dengan santun sambil menekankan, "Saat ini konsentrasi pada mereka yang telah mendahului kita!" Saya mungkin berlebihan ketika menjawab, "Bung yang mati sedang menemui Tuhan. Lha, yang bertahan hidup menemui siapa?"
Banyak yang bahagia menilai kuatnya solidaritas di antara kita. Anda pun agaknya begitu. Bahkan, saya bisa jamin di lapangan, solidaritas lebih terasa betapa kentalnya. Melampaui dari yang bisa kita ungkapan: dari rakyat untuk rakyat; dari yang terhindar bencana kepada para korban, pun sesama korban (yang tidak parah ke yang mengenaskan).
Tetapi, ingatkah kita bahwa kita hidup di rumah yang sama: Republik Indonesia. Lihatlah >small 2small 0<, bacalah koran. Bukankah presiden, wakil presiden, dan para menteri sibuk "mengurusi" rakyatnya? Kesigapan mereka tidak setara dengan operasionalisasi birokrasi. Apa yang dapat kita katakan kalau faktanya: Bantul dan Klaten hanya "beberapa senti" saja dari pusat kekuasaan: dan kekuasaan itu telah pula berumah di Gedung Agung, medannya tanpa rintangan sama sekali, tidak ada yang terisolasi. Tetap saja negara macet entah di mana.
Kepada mantan aktivis 1980-an, yang sehari-hari dekat dengan SBY, saya layangkan pesan singkat, "Ayo Bung, Presiden cekatan betul di media. Tetapi, ucapannya buntu menghadapi realitas: bantuan menumpuk di kantor kabupaten." Jawabnya, "Ini zaman otonomi kawan. Presiden gak bisa main perintah semaunya!" Ha-ha-ha, maafkan, jawaban kawan saya itu jelas kambing hitam atau dia sedang tidak serius.
Saya cuma mengelus dada berkali-kali. Ya, berkali-kali. Rumah-rumah kami, para korban gempa Bantul-Klaten, roboh. Mayoritas dari mereka pastilah tidak seberuntung saya. Di tengah bencana masih sempat melayangkan pesan singkat dari yang merasakan betul tabahnya saudara kita di Aceh hingga ke seseorang dari jajaran petinggi negeri. Saya masih bisa curhat ke mana-mana, ngomel kepada banyak kawan, tapi Musidah dan rakyat di Bantul pun di Klaten: kawan curhatnya paling jauh dalam hitungan radius lima kilometer. Atau telah berpulang. Bahagiakah saya, kalau boleh jujur: tidak! Kalau ada pilihan, saya tidak akan pernah melayangkan pesan singkat, terutama kepada jajaran petinggi dan aktivis 1980-an sahabatnya SBY itu. Saya tentu bangga bila pagi-pagi pemerintah bisa langsung dalam pelukan kami. Kalau gempa datang setelah subuh, kenapa negara begitu lelet?
Robohnya rumah kami, sekalipun kami iringi duka mendalam, toh solusinya digaransi Jusuf Kalla. Melalui Bakornas, pemerintah akan bantu membangunnya kembali. Tetapi, robohnya "rumah kita"? Ufh, maafkan saya. Jangan, jangan sampai itu terjadi, sekalipun benihnya kadang terasa. Tuhan, cukup rumah kami saja yang roboh!
Afnan Malay, Korban Gempa, Warga Perumnas Trimulyo Permai, Jetis, Bantul, DIY.

Dari saya:

Tulisan di atas adalah milik mas Afnan Malay yang diterbitkan di Harian Kompas
, Minggu, 4 juni 2006
Terima kasih kepada beliau yang telah menyalin ulang tulisan ini kepada saya. Saya menerbit ulang tulisan ini karena telah mendeskripsikan kepada saya kondisi gempa saat itu, sebuah kondisi bencana yang tak bisa saya bayangkan. 

Senin, 22 Juni 2015

Celana Panjang Suamiku

Suami saya termasuk kategori lelaki berperawakan kurus, meski tak bisa dibilang ceking. Sejak pertama bertemu, rasanya tak ada perubahan yang signifikan pada tampilannya, setidaknya jika menilik pada bobot tubuhnya yang tak pernah beranjak dari kisaran angka 50 dalam satuan kilogram. Berbeda dengan saya yang makin hari nampaknya makin melar ke samping dan ini dibuktikan dengan perbedaan bobot kami yang berselisih hingga di angka 20 pada satuan berat yang sama (Ehmmm....). Ia juga bukan tipe lelaki metroseksual yang gemar berdandan, fashionnya jenis casual sederhana: T'shirt dan selana pendek selutut. That's all.

Kondisi statis pada bobot dan tampilan suami saya membuat berbagai kelengkapan sandang yang dikenakannya menjadi awet dan efisien selama bertahun-tahun, setidaknya dalam kurun satu dasawarsa usia permikahan kami. Celana panjangnya  bahkan hampir sama usianya dengan usia pernikahan kami, meski jarang sekali dipakai. Suami saya lebih sering mengenakan kostum kebesarannya: t'shirt dan celana pendek selutut (atau beken dengan sebutan celana Hawaii), maklumlah dia jenis pekerja dengan prinsip SOHO (Small Office Home Office) alias ngantor di rumah alias ngantor di laptop.

Waktu berlalu, saking terlalu terbuai dengan kostum kebesarannya tersebut, suatu ketika hendak kopdar dengan teman-teman seprofesi ia mendapati celana-celana panjang sudah terlalu sesak untuk dikenakan.  Saya membayangkan ia harus menahan lengkung perut dan membatasi hidangan saat pertemuan berlangsung demi menahan lingkar pinggang celana panjangnya. Alternatif lain mungkin harus membuka kait linkar pingang agar lebih leluasa menikmati canda tawa dalam pertemuan tersebut, yang tentu saja harus terus waspada agar celana panjangnya tidak kedodoran.

Kejadian itu tak lantas mebuatnya berangkat untuk membeli celana panjang baru, ia tetap setia dengan celana pendeknya. Ia meminta saya membelikan celana panjang dengan ukuran tertentu yang elah diperkirakannya sesuai dengan lingkar pinggangnya. Dan tentu saja, celana yang dipesannya tetap tak mencukupi  dan ia tetap dalam kondisi tak memiliki celana panjang yang layak pakai.

Pagi ini, dua kerabat kami datang dari Sorong, Papua. Suami saya tentu mau tak mau harus bersikap sebagai tuan rumah yang baik  untuk menemui tamu kami. Wajahnya terlihat bingung karena harus mebayangkan mengulangi siksa diri lagi.  Namun, sehelai sarung menyelamatkannya dari kemungkinan kondisi yang menyiksanya. Alih-alih bercelana Hawaii atau mengenakan celana panjang yang kesempitan, ia mengenakan sehelai sarung layaknya hendak shalat. Maka ia kemudian tampak terlihat santun dan siap menjadi tuan rumah yang baik bagi kerabat kami.

Kesuksesan sehelai sarung menggantikan fungsi celana panjang, saya harap tidak melenakannya. Saya harap ia mengeyahkan keengganan untuk pergi menyambangi deretan toko atau mall sekalipun untuk mencari celana panjang baru, memastikan ukuran yang tepat dan membawanya pulang untuk disimpan sebagai amunisi jika pertemuan-pertemuan luar rumah berlangsung.  Saya juga berharap untuk benda yang satu ini, ia tidak membelinya secara online sebagaimana kebiasaannya selama ini. Hayyoo...suamiku...langkahkan kakimu ke toko-toko itu.....barang satu jam saja.....!!! :D

#NulisRandom2015
#Day22

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...