Senin, 21 Maret 2016

MEMOAR SEORANG BIPOLAR

Membaca memoar Fermy Nurhidayat mengingatkan saya pada NH Dini. Hampir seluruh karya NH Dini didasarkan pada perjalanan kisahnya sendiri. Bahkan, 3 novelnya: La Barka, Pada Sebuah Kapal dan Dari Fontenay ke Meggalianess jika ditilik sesungguhnya berisi kisah yang sama: Kekecewaan seorang istri terhadap suami, dengan menanggung beban 2 orang anak.
Ketiga novel dengan sumber cerita yang sama yaitu kisah hidup sang penulis, menggunakan sudut cerita yang berbeda. Mungkin Fermy Nurhidayat bisa memproduksi karya selanjutnya dengan tetap berpegang pada perjalanan kisah hidupnya dengan menarik berbagai sudut pandang yang berbeda.
Setidaknya, bagi saya, karya pertamanya ini terutama dtujukan bagi teman-teman sesama ODGK (Orang Dengan Gangguan Kejiwaan) dapat memberikan inspirasi dan mengikis stgma negatif yang kadung melekat pada diri ODGK.
Fermy Nurhidayat dalam memoarnya, mengisahkan perjuangan seorang ODGK menggapai mimpi. Ia terhitung pandai, lolos masuk Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Nasib mengantarkannya pada kondisi Drop Out dari fakultas tersebut. Ia tak patah arang, bersekolah kembali ke bangku SMA yang berbeda demi mengikuti UMPTN. Berikutnya ia lolos Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, menjadi sajana teknik setelah melewati perjuangan "berdarah-darah" selama sepuluh tahun. Kedukaan dan kelaranestapaannya mampu dituangkan dalam balutan yang serius, bernas dan diselingi canda jenaka. Itulah mengapa memoarnya di beri judul "Bercanda dalam Duka".
Ihwal ilustasi novelnya yang berlatar Gedung Pusat (Baairung) Universitas Gadjah Mada nampaknya dimaksudkan pada perjuangannya menempuh pendidikan yang susah payah dijalaninya. Perihal ini saya sempat berseloroh: "Oalah mas, kamu itu apa mau menyaingi "Cintaku di Kampus Birunya" mas Ashadi Siregar?". Saya mengingatkannya pada sebuah novel yang kadung melegenda dengan latar belakang yang sama, pilar-pilar pada gedung pusat UGM. Ia tertawa cekikian seperti biasa.
"Jangan-jangan......novelmu ini bisa tertukar dengan Buku Alumni yang diterbitkan setiap wisuda". Sebuah buku berisi foto dan data diri alumni-alumni baru juga bergambar foto gedung pusat. Sekali lagi ia cekikikan, persis ringkik kuda yang sering saya dengar di Jalan Malioboro. Hi..hi...hi....
Saat ini, ia menjalani keseharian dengan terus menulis, menulis dan menulis. Kebiasaannya ini telah ditekuninya sejak bangsu SMA, sebuah terapi yang baik bagi upaya kesehatan jiwa.

Rabu, 16 Maret 2016

Paulina del Valle dan Marionetnya

Pada kenyataannya, perempuan yang menarik perhatianku bukanlah Aurora del Valle sang pemeran utama, melainkan Paulina del Valle sang nenek. Paulina del Valle, perempuan perkasa pada zamannya, masa di mana budaya patriarki masih mengakar kuat di tengah keriuhan demam para penambang emas di San Fransisco. Masa-masa paling liar di awal pembentukan sebuah negara bernama Amerika, masa penaklukan para penjelajah atas para pribumi.
Paulina, dianugerahi bakat perniagaan yang cemerlang, meski harus hadir secara in absentia. Buadaya patriarki masih mengharamkan kehadiran perempuan dalam ranah publik terutama ketika harus mengunjungi langsung lokasi-lokasi lahan niaga. Tak terbayangkan perempuan tidak cantik dengan lemak yang melilit sekujur tubuhnya ini mampu menjadikan suaminya seolah boneka marionet, hadir pada pertemuan-pertemuan bisnis untuk mewakili keberadaan dirinya, yang sesungguhnya otak dari segala keberhasilan kerajaan niaga yang menggurita.
Tiba saat suaminya wafat, pintu-pintu segera menutup bagi para janda. Tak ada tempat bagi para janda di ruang publik. Namun, keberuntungan adalah teman setianya. Adalah Frederick William sang pelayan sejati yang menawarkan diri menggantikan posisi mendiang suaminya sebagai jalan pembuka bagi ruang-ruang publik. Lelaki dengan segala ketenangan dan rasionalitasnya yang tetap setia pada pelayanan tanpa berkhianat hingga di akhir hayat Paulina del Valle. (Portrait in Sephia, Isabel Allende)

Minggu, 13 Maret 2016

PERJALANAN TERAKHIR

Orang-orang kampung tengah menyalatkan jenazahnya, ketika aku tiba bersama suami dan kedua anakku di pagi yang mulai terik. Ia pergi di spre hari sebelumnya. Aku mendapat diriku membaca pesan pendek di layar seluler saat malam telah penuh menutup hari. Segera saat matahari masih lelap pada dini hari, kami bergegas menempuh perjalanan panjang. Dini hari, kami membelah jalan-jalan ibukota menuju tanah nun di sisi bebukitan berhalimun. Aku hampir terlewatkan, menatap wajahnya untuk yang terakhir kali. Menekuni wajahnya yang menguning kaku dalam ketenangan yang tak pernah kudapati sebelumnya. Tahun-tahun terakhir di hidupnya, matahari hampir tak mampu menyentuh kulit kuning langsatnya. Wajahnya begitu cantik dengan kebersihan kulit kuning cerah yang didapatnya dari darah margaTan, sebuah marga dari daratan luas di utara kepulauan ini. Usai ritual di dalam bangunan mushala, sejumlah tetua memimpin perjalanan terakhir jenazahnya dalam keranda berselimut kain hijau. Aku hanya terdiam, berjalan di samping keranda. Anak-anak berjalan bersisian bersama suamiku. Sepanjang perjalanan menuju tanah peristirahaannya, aku hanya mampu mengenang dan mengenang segala kebersamaan kami. Hingga tanah merah memeluknya tubuhnya erat tak bersisa, aku hanya terdiam tanpa setetes air matapun jatuh di wajahku. Aku tak mampu menitikkan air mata, semua sudah habis bertahun lalu sejak matahari tak pernah menyentuh kulit tubuhnya.Yang tersisa pada diriku hanya kenangan dan kenangan dalam benakku. Kerinduan yang bersisa tak terkira banyaknya ini hanya mampu kulimpahkan pada cermin di kamarku. Aku kerap menyambanginya dalam cermin di kamar, memandang dalam ke dalam mataku.....yang serupa dengan matanya.

POHON SIRSAK, KEMARAU DAN SUMUR YANG MENGERING

Pohon Sirsak kecil itu kutemukan di muka rumahku. Ia tumbuh tepat di atas lahan kosong, tempat aku biasa menyemai beragam biji buah. Rupanya, di antara keping-keping benih yang kusemai, hanya satu yang diam-diam tumbuh dengan segala daya hidupnya.
Sejak kutemukan pada pagi yang mulai terik itu, aku langsung menghujaninya dengan segala cinta yang tersimpan berlimpah dalam gudang-gudang di hatiku. Setiap pagi dan sore hari, selalu kuguyurkan air kesejukan, membasahi segenap permukaan daun, batang hingga pada permukaan tanah dan menelusup pada akar-akarnya yang kehausan.
Hari berganti, pohon mungilku mulai meninggi, jangkung bak remaja yang tumbuh dengan segala pesonanya. Aku tak pernah bosan terpikat padanya, Pohon Sirsak yang tumbuh tiba-tiba di halaman rumahku.
Pada setiap pucuk-pucuk daunnya yang hijau memutih, kutitipkan semua harapanku. Meski, kelak tiap helai daun akan gugur pada masanya atau satu persatu tetangga berdatangan memetiknya, dengan dalih merebusnya untuk obat herbal.
Tidak, hatiku tak pernah patah pada setiap guguran daun yang mengering atau pada setiap petikan jemari pada tetangga. Aku melapangkan keikhlasan pada guguran dan petikan yang datang secara berkala.
Suatu masa, kemarau datang bertamu dan berdiam lama menahun. Aku tetap membasuhkan Pohon Sirsak di pagi dan sore hari namun ia telah meninggi dan membesar. Air yang kubasuhkan tak cukup lagi bagi akar-akarnya yang kian dahaga. Persediaan air dalam sumur di samping rumah mulai menyusut, padahal ia kian membutuhkan lebih banyak air.
Aku tetap menyiramkan air, mula-mula hanya setengah ember, lalu seember....rupanya sember air tak cukup bagi pohon yang kian membesar itu. Kulipatgandakan menjadi dua ember, tak cukup...akar-akarnya meronta kehausan bagai anak kecil yang merengek hendak menyusu pada ibunya. Kuguyurkan lagi air sebanyak tiga, empat, lima, enam....hingga sepuluh ember pada setiap pagi dan sore hari. Air di dalam sumur sudah tak lagi menyusut, melainkan kering tak bersisa.

Sabtu, 12 Maret 2016

KASUR PEGAS PENINGGALAN BAPAK

Kasur ini berusia separuh umurku yang beberapa bulan lagi genap empat puluh tahun. Ini adalah kasur peninggalan kedua orangtuaku. Bapak membelinya saat mendapat uang tambahan di perusahaan tempatnya bekerja.
Kasur ini adalah jenis kasur berpegas yang merknya terkenal pada masanya. Memilikinya kala itu seperti semacam mimpi. Maklumlah, kasur berpegas kala itu hanya dapat kami saksikan di layar televisi, biasanya dipromosikan sebagai hadiah sebuah acara kuis televisi. Saya dan adik-adik menaiki kasur pegas itu dengan riang, meloncat-loncat di atasnya dengan gaya super norak....rasanya seperti mendadak menjadi OKB.
Selama kurun dua dasawarsa, kasur ini. Telah pasrah menjadi tempat kami melelapkan diri, melepas penat. Semula, benda itu menjadi peraduan di kamar Bapak dan Ibu. Ketika Bapak wafat, saya menemani ibu untuk tidur bersamanya. Terkadang bertiga bersama bayi saya. Tahun berlalu, saya kembali memiliki seorang anak dan ibu menyusul Bapak, berpulang ke hadapanNya. Kasur berpegas itu, berpindah kamar. Kami menggotongnya ke kamar saya. Ia membantu saya meninabobokan anak-anak. Anak-anak saya, sebagimana saya dan adik-adik, kerap melampiaskan keriangan di atas kumpulan pegas itu, melompat-lompat di atas trampolin dadakan itu.
Kini saya perhatikann permukaannya robek di sana-sini, terkadang bau apek dan tua tercium samar. Saya mahfum dengan bau tersamar itu, sebab saat masih bayi, anak-anak saya tak jarang mengompol di atas permukaannya. Kasur berpegas peninggalan Bapak nampaknya telah lelah. Aku hendak membebaskannya dari tugas panjangnya selama ini.

MERICA

“Aku nggak mau makan.......supnya pedas!” *************** Saat masih kecil, saya pernah membenci merica karena rasa pedas yang tiba-tiba menggiggit lidah saat menikmati semangkuk sup dan nasi putih. Dan itu berlangsung cukup lama, berbelas tahun. Merica di dapur saya hanya berupa bubuk dalam kemasan instan. Benar-benar hanya sebagai bumbu pelengkap. Baru beberapa tahun belakangan ini, saya menyadari betapa memikatnya aroma dan rasa yang dihadirkan merica. Dan, saya juga baru menyadari bahwa menyajikan merica bubuk akan sangat berbeda sensasinya dengan merica hasil gerusan dari butir-butir yang masih utuh.
Butir-butir utuh merica saat dihaluskan sesaat sebelum diolah akan menghadirkan aroma yang menggugah selera makan, hangat dengan rasa pedas yang kuat. Saya kerap menghidu aroma merica seraya membayangkan, betapa aroma dan rasa pedas yang sama telah memikat begitu banyak manusia dalam kurun waku ribuan tahun. Bahkan, perjalanan bangsa ini turut diwarnai oleh aroma yang sama. Cerita perjalanan merica hampir sama tuanya dengan kisah negeri ini. Tentang bagaimana rempah ini menjadi komoditas yang diperebutkan negeri lain, kisah-kisah persaingan dagang antar negara, penciptaan-penciptaan lahan-lahan baru hingga pada kemewahan-kemewahan kuliner di atas keringat para petani.

Selasa, 27 Oktober 2015

Sumpah Pemuda Kopdar: Berbahasa Persatuan, Bahasa Jawa


“Sejauh-jauh burung terbang, akan kembali ke sarangnya” Sejauh-jauhnya seseorang mengembara pasti akan kembali ke tanah asalnya, setidaknya merindukannya. Saya tidak tahu, apakah peribahasa itu berlaku bagi masyarakat Jawa di Suriname, sebuah komunitas Jawa nun jauh di Benua Amerika Selatan yang telah bermukim selama beberapa generasi. Pertemuan kami dengan Mas Ruben Karijodinomo, generasi keempat masyarakat Jawa Suriname berlangsung minggu lalu di Angkringan Kobar, Kotabaru Yogyakarta. Sebagian teman merasa kepo (penasaran) seperti apa ‘sedulur’ kami itu? Bagaimana ia bertutur dalam Bahasa Jawa, diksinya, aksennya? Saya membayangkan seolah bertemu dengan teman yang berasal dari masa lalu, semacam pertemuan yang difasilitasi oleh mesin waktu. Meski sering menyaksikan rekaman video di jejaring Youtube tentang komunitas masyarakat Jawa Surinama, tak urung kami tetap menyimpan rasa penasaran. Belum marem kalau belum bertemu secara langsung. Membayangkan seperti apa Bahasa Jawa masa lalu, yang digunakan masyarakat kebanyakan pada masa lebih dari 120 tahun yang lalu. Bahkan seorang teman kami hampir merasakan pupus kepercayaan dirinya untuk menjemput tamu kami tersebut, karena merasa tidak cakap berbahasa Jawa dan Inggris. Rasa penasaran kami terjawab pada sosok misterius, perbincangan kami cukup lancar dan saling tukar cerita tentang banyak hal, bagaimana ia dan keluarga ternyata telah lama bermukim di Belanda selama kurang lebih 30 tahun. Bagaimana kehidupan pribadinya: bermantukan warga Belanda, berusaha belajar Bahasa Jawa, ternyata ia telah berkunjung ke Indonesia sebanyak 4 kali, keliling sebagian Pulau Jawa dengan menyetir sendiri mobil yang disewanya bersama ibu dan istrinya, menengok sebuah kebun miliknya di Gunung Kidul yang dengan sengaja ditanamnya Pohon Jati. Dalam kesempatan kopdar, kami agak iseng memperkenalkan beberapa kosakata serapan yang populer dalam perbincangan sehari-hari: Jomblo, Kepo, Kopdar hehehe..... SEJARAH KOMUNITAS JAWA DI SURINAME Keberadaan Komunitas Jawa di Surname tidak bisa dilepaskan dari pembukaan lahan-ahan perkebunan Pemerintah Kolonial Belanda di Suriname pada paruh akhir abad ke 19, sekitar tahun 1880-an. Masa itu juga bersamaan dengan dihapuskannya perbudakan sehingga pekerja perkebunan yang datang berstatus pekerja kontrak resmi. Imigran asal Jawa datang ke Suriname dalam beberapa gelombang, mulai dari awal pembukaan lahan sekitar tahun 1880-1890 hingga gelombang akhir datang setelah era Perang Dunia II. Menurut penuturan Mas Ruben, nenek moyangnya termasuk generasi awal migran Jawa yang tiba di Suriname, sehingga ia tak tahu persis nenek moyangnya berasal dari Jawa wilayah mana. Ia sendiri adalah generasi ke-4 dalam silsilah keluarganya. Generasi akhir yang datang pasca PD II, menurutnya lebih mendapat kejelasan daerah asal nenek moyangnya. Bahkan, beberapa sepuh sempat bercerita tentang kehidupan mereka sewaktu masih tinggal di Jawa. Saat Indonesia meraih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, ada sebagian imigran yang kembali pulang ke Indonesia, sementara sebagian besar memilih menetap di Suriname. Periode berikut saat Suriname merah kemerdekaan dari Belanda di tahun 1975, ada sebagian orang-orang Jawa Suriname yang turut pindah ke negeri Belanda.
DIDI KEMPOT DAN SURINAME Penyanyi spesialis lagu-lagu Campursari Didi Kempot, mengkin menjadi penyanyi paling top di Suriname, setidaknya di kalangan Orang Jawa Suriname. Lawatannya ke negeri di kawasan Amerika Latin itu tak terbilang dan selalu sukses menenggelamkan orang Jawa Suriname pada keadaan mabuk rindu kampung halaman. Tengoklah rekaman-rekaman turnya di Suriname pada jejaring Youtube, ramai dengan riuh rendah penonton setianya, menjadikan tanah nun di seberang Lautan Atlantik itu tak ubahnya sebuah desa di Pulau Jawa. Ia secara tiba-tiba menjelma menjadi seorang pangeran dari Tanah Jawa yang datang menghibur saudara-saudaranya di perantauan, lengkap dengan segala atribut fashion khas tradisional Jawa: surjan, batik, blangkon dan tentu saja suara merdunya. Suaranya yang mendayu-dayu meninabobokan para perindu tanah leluhur lewat sayir mautnya yang tersohor, apalagi kalau bukan tembang “Sewu Kutho” KOMUNITAS BALUNG PISAH, DIASPORA JAWA DI DUNIA Kemajuan komunikasi digital, turut memiliki andil meyatukan komunitas Jawa Suriname dengan tanah asal nenek moyang dan komunitas Jawa lain di berbagai belahan dunia lain. Beberapa pertemuan diinisiasi dalam upaya menjalin tali persaudaraan sesama Orang Jawa di perantauan yang sudah lama hilang dan terpisah-pisah menjadi potensi kekuatan yang mampu menjembatani beragama aspirasi untuk kemajuan bersama. Bahkan, di bulan Agustus 2015 lalu, sebuah konferensi serius dilaksanakan d Yogyakarta bertajuk “Javanese Diaspora 2015, Ngumpulke Balung Pisah” meliputi komunitas orang Jawa di Kaledonia Baru, SIngapura, Malaysia, Belanda dan Suriname.
BAHASA PERSATUAN ADALAH BAHASA JAWA
Pertemuan kami dengan Mas Ruben, dimediasi oleh Bahasa Jawa dalam kadar yang berbeda. Ia nampaknya berusaha memahami Bahasa Jawa versi kami dan kami terutama agak kurang percaya diri dalam memilih kata-kata. Ia sendiri cukup paham sedikit Bahasa Indonesia, dan fasih dalam Bahasa Inggris dan Belanda. Meski perbincangan kami menggunakan bahasa campur-campur, sedikit Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, bahasa utama yang menyatukan perbincangan kami adalah Bahasa Jawa. Malam itu, kami dipersatukan oleh bahasa yang sama yaitu Bahasa Jawa.

Jumat, 04 September 2015

ASPAL


Sepasang koin Benggol (10 sen) dari sebuah gang sempit di sudut Pasar Beringharjo. Kedua koin kembar ini lahir pada abad yang berbeda. Koin berwarna hitam kumal lahir pada pertengahan abad 19, detil cetakannya hampir tak terlihat, tertutup debu sejarah panjang yang dilaluinya. Koin di sampingnya, nampaknya lahir 170 tahun kemudian. Koin kedua ini, berwarna cerah, merah tembaga. Usianya masih muda memikat. 


The Lord of the Ring

Sebuah cincin bermata satu tergeletak di antara cincin-cincin lain, di dalam sebuah mangkuk. Pendarnya memikat, sejenak melenakan, melupakan hingar bingar gang sempit pasar tua ini.
Entah siapa pemiliknya yang telah tega melemparkannya ke sudut jejeran lapak loakan ini.
"Pinten, Bu?"
"Kaleh doso"
"Sedoso mawon, njih?"
"Njih"
Sedetik kemudian, usai transaksi, cincin itu beralih kepemilikan.

Koin untuk Yoyok

"Kami pernah disuguhi air 'panas' oleh seorang Kepala Desa" tuturnya lirih menceritakan pengalaman mengamankan temuan kayu-kayu curian nun di pelosok negeri.
Tak jarang, ia pulang ke rumah hingga lewat tengah malam. Perjuangan yang kerap menyisakan kepenatan mendalam dan udara yang bersembunyi dalam ruang terkecil permukaan tubuhnya.
Di hari yang mulai menguning jingga, dalam temaram matahari sore, kami bertemu usai perpisahan panjang selama hampir 15 tahun. Pertemuan singkat yang menyisakan kekhawatiranku pada jalan hidup yang ditempuhnya.

Saya kerap trenyuh dengan kisah-kisahnya dalam upaya mengamankan hutan-hutan Konawe dari serbuan para pencuri kayu, perambah yang tak kenal rasa belas kasihan. Terima kasih telah  menjaga hutan-hutan di Konawe, kami di sini hanya bisa berupaya menjaga pohon-pohon di sekitar kediaman kami agar tetap bertumbuh di tempatnya.

Kami tak kuasa menahan perpisahan di ujung senja. Aku memberikannya sekeping koin bertuah yang kudapat dari sebuah gang sempit di sebuah pasar tua pagi tadi. Koin ini datang dari pertengahan abad ke 19. Kuharap, koin ini mampu menjaganya dari segala hal yang akan menghalangi perjalanan hidupnya.
Koin itu, koin bertuah, sepanjang hampir 170 tahun merupakan benda keramat bagai jimat yang disimpan hampir sebagian besar keluarga di negeri ini. Koin itu, tersembunyi di sudut-sudut setiap rumah hingga ke pelosok negeri. Inilah koin tua yang tak lekang digerus zaman, mengusir serbuan benda tak kasat mata yang menyerangmu usai lelah berkepanjangan.
Selamat kerikan, Yok! 

Selasa, 01 September 2015

Berburu Momen

Ide itu datangnya tak pernah diduga. Seperti angin yang bertiup di siang hari, kadang terasa lamabat sepoi-sepoi namun menyejukkan, kadang berupa badai disertai gemuruh, tak jarang ia tak bertiup sama sekali, membiarkan udara lengang tak berangin yang membuat kita gelisah kepanasan. 

Tapi, kita tak boleh selamanya hanya menanti ide datang. Ide itu harus dicari dan diburu bak buronan berkelas residivis.
Ide adalah runtutan peristiwa-peristwa yang kita ciptakan dalam benak kita, mengawinkannya dengan peristiwa lain di atas kenangan-kenangan kita sendiri.

Terkadang, untuk menciptakan peritiwa itu kita harus menjemputnya, memburu momen-momen yang berlangsung di hadapan kita, mengawinkannya dengan rencana-rencana liar kita.
Upaya mengawinkan momen nyata dan rencana liar bukan hal mudah, karena kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sering mengejutkan, membelokkan segala rencana yang telah kita susun. Ketika hal itu terjadi, kita harus siap menyusun ulang segala rencana.

Djamaludin, salah satu orang yang menghancurkan rencana-rencana saya di malam saat ia bertemu adiknya, Yuslan. Dimulai saat saya menjemput kedatangannya di Bandara. Saya membayangkan ia akan celingak-celinguk saat mendarat di Bandara untuk pertama kalinya. Maklum, nampaknya itu adalah kali pertama ia bepergian jauh menggunakan moda pesawat udara. Apa daya, justru saya yang terkecoh oleh kealpaan mengolah informasi dari Fermy Nurhidayat. Saya mengira Djamaludin transit di Surabaya, sebelum meneruskan penerbangan menuju Yogyakarta. Maka, justru saya yang harus celingak-celinguk mengamati satu-persatu penumpang yang keluar dari pintu terminal Bandara, memastikan kehadirannya.

Kali kedua, Djamaludin kembali menggagalkan rencana-rencana saya. Usai makan malam, kami menuju rumah sakit tempat adiknya Yuslan dirawat. Nah...ini dia, pikir saya, peristiwa monumental yang harus saya hadiri, pertemuan kedua kakak beradik yang tak bersua setelah lebih dari 16 tahun lamanya. Ini adalah momen epik, pikir saya. Saya membayangkan akan ada pristiwa mengharu-biru, bertabur air mata yang bisa saya saksikan. Dalam hati, sejak kegagalan merekam momen di Bandara, saya mulai menyusun serangkaian kata-kata, merekam langsung lewat kamera pocket dan kemudian menuliskan pertemuan keluarga itu sesampainya di rumah.

Namun, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan, hampir tak air mata di sana, di ruangan berbalut gorden putih itu. Bahkan suara terbata-batapun hampir tak terdeteksi oleh telinga saya. Tak ada peluk kerinduan yang mereka lakukan, sebagaimana layaknya oarang yang belasan tahun memendam kerinduan.

Alik-alih beradegan termehek-mehek, mereka kakak beradik itu malah berjabat tangan layaknya dua sobat yang kerap bertemu. Bahkan, Djamaludin, menawarkan roti kasur yang dibawanya untuk disuapkan kepada adiknya.

Haaa??....Bagaimana ini, bagimana dengan rencana tulisan saya nantinya  jika tak ada sedu-sedan di anatar mereka? Kenapa tak ada satupun di antara mereka yang menitikkan air mata? Apakah mereka tidak kasihan kepada saya, yang telah bersusah payah menghadiri pertemuan monumental mereka? di tengah kebingungan atas kejutan yang mereka berikan, saya terpaksa menyusun ulang rencana-rencana tulisan saya itu. Maka, malam harinya, usai kegagalan mendapatkan sebuah momen termehek-mehek, akhirnya saya harus memutar ulang rencana menyusun tulisan tentang pertemuan mereka.

Begitulah ide, gampang-gampang susah dan susah-susah gampang.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...