Medio 90-an saat hobiis fotografi masih menggunakan kamera SLR analog, Fotomedia mungkin menjadi satu-satunya majalah fotografi yang menjadi referensi paling dicari. Saya sendri belajar banyak dari artikel-artikel di dalamnya.
Artikel yang ditampilkan membantu kami yang masih semangat belajar, untuk terus mencharge ilmu melukis cahaya ini.
Nama-nama macam Ray Bachtiar, Davy Linggar, Oscar Motulloh, Darwis Triadi, Roy Genggam menjad kontributor yang sering wara-wiri pada terbitan tersebut.
Artikel maupun foto yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari ulasan tips dan trik, kritik foto, ulasan budaya, lomba foto bulanan, liputan hunting, liputan pameran hingga kuratorial sebuah foto. Semuanya tampil lengkap.
Waktu berlalu, seiring kehadiran media digital, pada tahun 2004 majalah Fotomedia mulai berganti rupa menjadi terbitan berbentuk buku toturial bersponsor. Saat ini sepertinya majalah ini hanya bisa saya temui di sudut-sudut toko buku bekas di kawasan Shopping Centre, Kompleks Taman Pintar Yogyakarta.
Jumat, 30 Mei 2014
Berayun-ayun di Alun-Alun
Di musim libur lebaran, Alun-Alun Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya ramai oleh pengunjung. Para pedagang bersigap menggelar dagangan, begitu pula dengan penyedia arena bermain anak-anak. Ada yang menggelar komidi putar dan ada pula yang menggelar kolam mini berisi ikan-ikan mainan yang siap dipancing.
Tak jauh dari lokasi kolam pancing mini dan komidi putar, saya menjumpai banyak ayunan yang terbuat dari jalinan tali tambang plastik warna-warni. Ada sekitar 23 buah ayunan yang dipasang melintang dari satu batang pohon ke batang pohon lain. Bahkan beberapa patok batang bambu ditanam untuk mengaitkan ayunan-ayunan ini.
Yang bermain ayunan ternyata tak hanya anak-anak, namun ada pula orang dewasa yang menyewanya untuk sekedar tidur-tidur santai. Harga sewa ayunan hanya sebesar Rp.2000 , sepuasnya tanpa batasan waktu.
Menurut Junaidi, sang pemilik usaha, sebenarnya ia bermaksud menjual ayunan-ayunan tersebut. Penyewaan hanya sebagai bagian dari promosi belaka. "Untuk promosi saja...kalo sudah merasa nyaman memakainya, siapa tahu berminat membeli dan memasangnya di rumah", tutur pria asal Subang ini.
Junaidi memulai usahanya sejak tahun 1994. Pada hari-hari biasa ia hanya diperbolehkan memasang 3 buah ayunan dengan area terbatas hanya di bagian depan Alun-Alun. Pembelianpun hanya berkisar 6-10 buah ayunan perharinya.
Namun, berkah lebaran rupanya turut menghampiri pria berusia 45 tahun ini. Selama lebih dari seminggu libur lebaran ia diperbolehkan memasang 23 buah ayunan dengan menempati bagian dalam aln-alun. Begitupun dengan omzet penjualannya yang meningkat tajam sekitar 25-35 buah ayunan perharinya.
Junaidi bertekad akan terus menekuni usaha ayunannya ini "Alhamdulillah....saya mantap menjalankan usaha ini..", ujarnya.
Tak jauh dari lokasi kolam pancing mini dan komidi putar, saya menjumpai banyak ayunan yang terbuat dari jalinan tali tambang plastik warna-warni. Ada sekitar 23 buah ayunan yang dipasang melintang dari satu batang pohon ke batang pohon lain. Bahkan beberapa patok batang bambu ditanam untuk mengaitkan ayunan-ayunan ini.
Yang bermain ayunan ternyata tak hanya anak-anak, namun ada pula orang dewasa yang menyewanya untuk sekedar tidur-tidur santai. Harga sewa ayunan hanya sebesar Rp.2000 , sepuasnya tanpa batasan waktu.
Menurut Junaidi, sang pemilik usaha, sebenarnya ia bermaksud menjual ayunan-ayunan tersebut. Penyewaan hanya sebagai bagian dari promosi belaka. "Untuk promosi saja...kalo sudah merasa nyaman memakainya, siapa tahu berminat membeli dan memasangnya di rumah", tutur pria asal Subang ini.
Junaidi memulai usahanya sejak tahun 1994. Pada hari-hari biasa ia hanya diperbolehkan memasang 3 buah ayunan dengan area terbatas hanya di bagian depan Alun-Alun. Pembelianpun hanya berkisar 6-10 buah ayunan perharinya.
Namun, berkah lebaran rupanya turut menghampiri pria berusia 45 tahun ini. Selama lebih dari seminggu libur lebaran ia diperbolehkan memasang 23 buah ayunan dengan menempati bagian dalam aln-alun. Begitupun dengan omzet penjualannya yang meningkat tajam sekitar 25-35 buah ayunan perharinya.
Junaidi bertekad akan terus menekuni usaha ayunannya ini "Alhamdulillah....saya mantap menjalankan usaha ini..", ujarnya.
The Sea Turtles Release
There you go....to the ocean...our dear baby sea turtles
Who named Kitty, Spongebob, zombie, princess, and another naming by our children...
I will be on 57 years old and being a grandma when you coming home here...
I heard a king of yours died on 270 years old
What would you be on that times a head?
Will you still coming home?
I wish I could flying in the ocean with you....
Ps. Give my regards to Mr. Flying Dutchman, may he saves you well :)
Who named Kitty, Spongebob, zombie, princess, and another naming by our children...
I will be on 57 years old and being a grandma when you coming home here...
I heard a king of yours died on 270 years old
What would you be on that times a head?
Will you still coming home?
I wish I could flying in the ocean with you....
Ps. Give my regards to Mr. Flying Dutchman, may he saves you well :)
Minggu Pagi Di Alun-Alun Utara
Mengendarai motor, saya mengajak Eda & Nawal sarapan susu segar dan waffel di kawasan Alun-Alun Utara.
Saya memberikan sejumlah uang kepada Eda untuk bertransaksi langsung dengan penjual susu. Mereka bebas memilih rasa susu yag diminati.
Produk susu segar yang ditawarkan di kawasan ini, ada 2 jenis. Yang masih mentah & sudah dipasteurisasi. Yang masih mentah rasanya plain (tawar, karena tidak diberi gula) da dikemas dalam plastik literan. Harga perliternya Rp.3.000.
Pembeli susu tawar mentah ini tidak hanya konsumen langsung namun juga banyak para pedagang susu yang menjualnya kembali di kedai-kedai mereka, atau ada yang menjualnya kembali ke rumah-rumah pelanggan masing-masing, tentu dengan selisih harga tertentu.
Sedangkan susu yang sudah dipateurisasi dikemas dalam gelas cup berukuran 220ml dengan harga Rp. 2.000/cup. Susu jenis ini rasanya manis dan memiliki beberapa aroma pilihan seperti melon, strawberry, vanilla, cokelat & mocca.
Pilihan selanjutnya adalah waffel dengan toping cokelat masak dan taburan keju cheddar plus selai vanilla. Inilah menu yang ditunggu anak-anak di setiap minggu pagi :)
Saya memberikan sejumlah uang kepada Eda untuk bertransaksi langsung dengan penjual susu. Mereka bebas memilih rasa susu yag diminati.
Produk susu segar yang ditawarkan di kawasan ini, ada 2 jenis. Yang masih mentah & sudah dipasteurisasi. Yang masih mentah rasanya plain (tawar, karena tidak diberi gula) da dikemas dalam plastik literan. Harga perliternya Rp.3.000.
Pembeli susu tawar mentah ini tidak hanya konsumen langsung namun juga banyak para pedagang susu yang menjualnya kembali di kedai-kedai mereka, atau ada yang menjualnya kembali ke rumah-rumah pelanggan masing-masing, tentu dengan selisih harga tertentu.
Sedangkan susu yang sudah dipateurisasi dikemas dalam gelas cup berukuran 220ml dengan harga Rp. 2.000/cup. Susu jenis ini rasanya manis dan memiliki beberapa aroma pilihan seperti melon, strawberry, vanilla, cokelat & mocca.
Pilihan selanjutnya adalah waffel dengan toping cokelat masak dan taburan keju cheddar plus selai vanilla. Inilah menu yang ditunggu anak-anak di setiap minggu pagi :)
Icip-icip Tom Yam Ala Resto
ngat Thailand, tentu ingat sup Tom Yam. Ini kuliner andalan Negeri Gajah Putih yag tersohor. Penasaran dengan menu satu ini, saya mengunjungi sebuah kedai sederhana di kawasan Jalan Bugisan, beberapa meter dari perempatan Jl. Sugeng Jeroni- Jl Bugisan, Yogyakarta. Kedai ini dikelola seorang koki sebuah hotel berbintang tiga. Ada 3 jenis menu sup Tom Yam yang ditawarkan yaitu ayam, sapi dan sea food. Saya memilih menu Tom Yam Sea Food yang menjadi andalan kedai ini.
Beberapa saat menanti, akhirnya menu pesanan tersaji di hadapan saya. Ada kejutan kecil yang saya dapatkan.....meski kedai yang saya datangi ini terbilang sederhana namun pemiliknya rupanya serius menberikan layanan bagi pengunjungnya. Sup Tom Yam benar-benar disajikan istimewa...menggunakan panci steam boat mini..... Sebagai pembeli, saya benar-benar merasa diistimewakan....... serasa makan di restoran mahal... :)
Lalu, apa saja isi sup istimewa ini? Ada bayak jenis "flora dan fauna" di sup ini rupanya...ha...ha..... ha... :D Sebut saja macam bakso ikan, udang peci yang kemerahan, sosis, potongan cumi, sawi putih, jamur bokji, jamur merang, jamur tiram......komplit!
Akhirnya tiba saatnya melahap semua kenikmatan yag tersaji panas-panas ini.......Hmmmm rasa asam, asin dan pedas yang menyatu di tambah gurihnya hidangan laut benar-benar memanjakan lidah.
Tom Yam, sebagaimana hidangan Thailand yag lain, memiliki pengaruh dari beberapa kebudayaan di sekitar wilayah tersebut antara lain China dan India. Ini bisa ditelusuri dari rempah yang digunakan. Penggunaan kecap asin dan bawang putih yang merupakan bumbi inti masakan China. Sementara pengaruh kuliner India bisa dilihat dari penggunaan daun ketumbar dan daun jeruk. Pada hidangan aselinya, konon kuah Tom Yam terasa sangat kental akibat penambahan santan, ini mengingatkan pada hidangan kari India.
Hidangan Tom Yang yang saya nikmati ini, komposisinya memang tidak sekental aselinya, tidak menggunakan santan kelapa. Menurut pemiliknya, mereka menyesuaikan dengan cita rasa lidah orang Indonesia, terutama lidah orang Yogya :)
Selain menu utama ini, saya juga dimanjakan dengan minuman juice andalan yaitu healthy Juice berupa paduan sawi putih, nanas, mentimun dan perasan jeruk nipis yang di blender bersama potongan batu es.......Rasanya segar sekali..... :)
Beberapa saat menanti, akhirnya menu pesanan tersaji di hadapan saya. Ada kejutan kecil yang saya dapatkan.....meski kedai yang saya datangi ini terbilang sederhana namun pemiliknya rupanya serius menberikan layanan bagi pengunjungnya. Sup Tom Yam benar-benar disajikan istimewa...menggunakan panci steam boat mini..... Sebagai pembeli, saya benar-benar merasa diistimewakan....... serasa makan di restoran mahal... :)
Lalu, apa saja isi sup istimewa ini? Ada bayak jenis "flora dan fauna" di sup ini rupanya...ha...ha..... ha... :D Sebut saja macam bakso ikan, udang peci yang kemerahan, sosis, potongan cumi, sawi putih, jamur bokji, jamur merang, jamur tiram......komplit!
Akhirnya tiba saatnya melahap semua kenikmatan yag tersaji panas-panas ini.......Hmmmm rasa asam, asin dan pedas yang menyatu di tambah gurihnya hidangan laut benar-benar memanjakan lidah.
Tom Yam, sebagaimana hidangan Thailand yag lain, memiliki pengaruh dari beberapa kebudayaan di sekitar wilayah tersebut antara lain China dan India. Ini bisa ditelusuri dari rempah yang digunakan. Penggunaan kecap asin dan bawang putih yang merupakan bumbi inti masakan China. Sementara pengaruh kuliner India bisa dilihat dari penggunaan daun ketumbar dan daun jeruk. Pada hidangan aselinya, konon kuah Tom Yam terasa sangat kental akibat penambahan santan, ini mengingatkan pada hidangan kari India.
Hidangan Tom Yang yang saya nikmati ini, komposisinya memang tidak sekental aselinya, tidak menggunakan santan kelapa. Menurut pemiliknya, mereka menyesuaikan dengan cita rasa lidah orang Indonesia, terutama lidah orang Yogya :)
Selain menu utama ini, saya juga dimanjakan dengan minuman juice andalan yaitu healthy Juice berupa paduan sawi putih, nanas, mentimun dan perasan jeruk nipis yang di blender bersama potongan batu es.......Rasanya segar sekali..... :)
A Day with Raisya
Siang ini, tanpa terduga sebuah pesan muncul di chat inbox, mengabarkan kawan lama kami tengah berlibur di Yogya. Segera saja saya, Eda dan Nawal meluncur menuju kawasan Taman Pintar.
Kami menemui Raisya, Tante Nova ibunya raisya, Janeta, Riska dan Budenya Raisa di food court kawasan wisata ini. Raisya, gadis kecil berusia 4 tahun ini merupakan teman kedua anak saya, Eda dan Nawal, semasa kami tinggal di Bintara, Bekasi Barat. Keluarga kami bertetangga dekat dengan keluarga Raisya, berada dalam satu kontrakan yang sama. Tepatnya, kami sama-sama berstatus kontraktor, he...he...he...
Awal bertemu, Raisya ruapanya sangat malu, sampai-sampai ia menutup wajah dalam pelukan Budenya. Hal ini berlangsung hampir 1 jam, tepat seperti yang dikatakan ibunya. Usai masa malunya berlalu, ia bersama Nawal bermain di gedung PAUD Timur. Saya sengaja mengajak tamu saya ini ke gedung PAUD Timur dengan beberapa pertimbangan. Anak-anak bisa bermain di dalam beberapa ruangan yag masng-masing memiliki tema berbeda, suasana di dalam ruangan juga terasa sejuk, aman dan yang paling penting adalah orang tua dapat beristirahat di ruang tunggu gedung ini. O,ya orang tua tidak diperkenankan ikut masuk ke dalam ruang bermain, kami hanya diperkenankan berada di ruang tunggu. Kami tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak karena ada pembimbing yang akan mengawasi anak-anak. Selain itu, ada juga kamera cctv yang dihubungkan dengan monitor di ruang tunggu, sehingga orang tua dapat memantau dari ruang tunggu.
Usai melepas lelah di Gedung PAUD Timur, kami bergerak menuju Rumah Gerabah. Di Rumah Gerabah ini anak-anak diberi kesempatan berkreasi membentuk tanah lempung yang disediakan. Nawal membuat patung singa, Eda membuat es krim dan Raisya membuat bakso. Ekspresi serius segera menghiasi wajah mereka, mengiringi konsentrasi salam membentuk tanah-tanah lempung di hadapan mereka.
Waktu yang telah bergulir hingga sore memaksa kami berpisah sebelum malam menjelang. Kami segera mengemas barang dan tentu saja gerabah yang belum usai dibentuk anak-anak. Pembimbing Rumah Gerabah rupnya berbaik hati menyiapkan kantong plastik sebagai wadah pengemas tanah liat dan gerabah yang belum usai terbentuk. Akhirnya sore itu kami berpisah denga membawa buah tangan berupa sekantung tanah liat dari Rumah Gerabah di Taman Pintar. :)
Kami menemui Raisya, Tante Nova ibunya raisya, Janeta, Riska dan Budenya Raisa di food court kawasan wisata ini. Raisya, gadis kecil berusia 4 tahun ini merupakan teman kedua anak saya, Eda dan Nawal, semasa kami tinggal di Bintara, Bekasi Barat. Keluarga kami bertetangga dekat dengan keluarga Raisya, berada dalam satu kontrakan yang sama. Tepatnya, kami sama-sama berstatus kontraktor, he...he...he...
Awal bertemu, Raisya ruapanya sangat malu, sampai-sampai ia menutup wajah dalam pelukan Budenya. Hal ini berlangsung hampir 1 jam, tepat seperti yang dikatakan ibunya. Usai masa malunya berlalu, ia bersama Nawal bermain di gedung PAUD Timur. Saya sengaja mengajak tamu saya ini ke gedung PAUD Timur dengan beberapa pertimbangan. Anak-anak bisa bermain di dalam beberapa ruangan yag masng-masing memiliki tema berbeda, suasana di dalam ruangan juga terasa sejuk, aman dan yang paling penting adalah orang tua dapat beristirahat di ruang tunggu gedung ini. O,ya orang tua tidak diperkenankan ikut masuk ke dalam ruang bermain, kami hanya diperkenankan berada di ruang tunggu. Kami tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak karena ada pembimbing yang akan mengawasi anak-anak. Selain itu, ada juga kamera cctv yang dihubungkan dengan monitor di ruang tunggu, sehingga orang tua dapat memantau dari ruang tunggu.
Usai melepas lelah di Gedung PAUD Timur, kami bergerak menuju Rumah Gerabah. Di Rumah Gerabah ini anak-anak diberi kesempatan berkreasi membentuk tanah lempung yang disediakan. Nawal membuat patung singa, Eda membuat es krim dan Raisya membuat bakso. Ekspresi serius segera menghiasi wajah mereka, mengiringi konsentrasi salam membentuk tanah-tanah lempung di hadapan mereka.
Waktu yang telah bergulir hingga sore memaksa kami berpisah sebelum malam menjelang. Kami segera mengemas barang dan tentu saja gerabah yang belum usai dibentuk anak-anak. Pembimbing Rumah Gerabah rupnya berbaik hati menyiapkan kantong plastik sebagai wadah pengemas tanah liat dan gerabah yang belum usai terbentuk. Akhirnya sore itu kami berpisah denga membawa buah tangan berupa sekantung tanah liat dari Rumah Gerabah di Taman Pintar. :)
ANGKRINGAN UNIK: Angkringan Kedai Panjat
Jumlah angkringan di seantero Yogyakarta bisa jadi mencapai ribuan namun angkringan yang memiliki keunikan tersendiri mungkin tidak banyak jumlahnya.
Salah satu angkringan unik yang sekaligus memiliki fungsi sebagai ruang komunitas adalah Angkringan Kedai Panjat. Di sini, selain bisa menuntaskan rasa lapar dan kongkow-kongkow, terdapat pula fasilitas Panjat Dinding indoor.
Angkringan ini milik sepasang suami istri yang berprofesi sebagai atlet & pelatih panjat dinding, Adhe Gustadi dan istrinya Tutut Gendok.
Terletak di pinggir Jalan Raya Kalasan Yogyakarta, tepatnya di seberang Jembatan Timbang Bogem, awalnya rumah mereka menjadi tempat berlatih teman2 atlet panjat dinding...lalu mereka iseng menyediakan sekedar menu pengganjal perut ala angkringan ini.
Sarana dinding panjat ini sudah mulai "dicicil" sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Kediaman itu juga sempat "nganggur" ketika keduanya menjadi atlet perwakilan Provinsi Jawa Tengah yang memusatkan pelatihan di kota Purwokerto. Sejak sepuluh tahun lalu itu pula, keduanya tetap merajut impian mendirikan sekolah panjat dinding bagi anak2 usia dini sebagai sarana regenerasi atlet olahraga panjat dinding.
Perlu diketahui, olahraga yang memicu adrenalin ini masih terhitung baru di tanah air. Olahraga ini semula ditekuni kalangan mahasiswa pecinta alam di kampus-kampus dan selanjutnya mengalami perkembangan yag cukup signifikan.
Panjat dinding mulai diresmikan menjadi salah satu cabang olahraga sejak PON XVI di Palembang (tahun 2004). Ketika itu, hampir semua atletnya merupakan jebolan mapala-mapala di seluruh Indonesia. Bisa dibilang olahraga ini lahir di kampus.
Salah satu angkringan unik yang sekaligus memiliki fungsi sebagai ruang komunitas adalah Angkringan Kedai Panjat. Di sini, selain bisa menuntaskan rasa lapar dan kongkow-kongkow, terdapat pula fasilitas Panjat Dinding indoor.
Angkringan ini milik sepasang suami istri yang berprofesi sebagai atlet & pelatih panjat dinding, Adhe Gustadi dan istrinya Tutut Gendok.
Terletak di pinggir Jalan Raya Kalasan Yogyakarta, tepatnya di seberang Jembatan Timbang Bogem, awalnya rumah mereka menjadi tempat berlatih teman2 atlet panjat dinding...lalu mereka iseng menyediakan sekedar menu pengganjal perut ala angkringan ini.
Sarana dinding panjat ini sudah mulai "dicicil" sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Kediaman itu juga sempat "nganggur" ketika keduanya menjadi atlet perwakilan Provinsi Jawa Tengah yang memusatkan pelatihan di kota Purwokerto. Sejak sepuluh tahun lalu itu pula, keduanya tetap merajut impian mendirikan sekolah panjat dinding bagi anak2 usia dini sebagai sarana regenerasi atlet olahraga panjat dinding.
Perlu diketahui, olahraga yang memicu adrenalin ini masih terhitung baru di tanah air. Olahraga ini semula ditekuni kalangan mahasiswa pecinta alam di kampus-kampus dan selanjutnya mengalami perkembangan yag cukup signifikan.
Panjat dinding mulai diresmikan menjadi salah satu cabang olahraga sejak PON XVI di Palembang (tahun 2004). Ketika itu, hampir semua atletnya merupakan jebolan mapala-mapala di seluruh Indonesia. Bisa dibilang olahraga ini lahir di kampus.
Jumat, 16 Mei 2014
Pada Sebuah Kapal, Roman dengan Dua Sudut Pandang
Novel yang baru saja selesai saya baca adalah sebuah novel lama yang terbit pertama kali tahun 1985 dan telah mengalami cetak ulang hingga kesembilan kalinya.
Novel ini bercerita tentang kisah percintaan diam-diam seorang perempuan Indonesia bernama Sri dengan seorang perwira kapal laut. Keduanya telah terikat perkawinan dengan pasangan masing-masing.
Sri, seorang perempuan Indonesia menikah dengan laki-laki Perancis yang berprofesi sebagai sorang diplomat ernama Charles Vincent, telah memiliki seorang anak perempuan bernama Lintang. Sementara sang perwira kapal seorang lelaki Perancis bernama Michel Dubanton.
Rangkaian keseluruhan cerita terbilang cukup panjang, dimulai dari masa kecil para tokoh, masa remaja hingga masa dewasa keduanya. Sri, tokoh perempuan dikisahkan dibesarkan dalam buadaya Jawa dan kasih sayang segenap keluarga. Masa kecil Sri juga ditekankan pada akivitasnya sebaai penari yang sangat aktif hingga terpilih menjadi penari istana negara, menunjukkan jati diri tokoh perempuan pada novel ini.
Sementara, tokoh Michel Dubanton juga dikisahkan sebagai seorang anak lelaki yang tumbuh dalam lingkungan kasih sayang keluarga yang demikian baik. Cita-cita Michel Dubanton untuk menjadi seorang pelaut telah ditumbuhkan sejak usianya masih belia.
Hingga dalam perjalanan kehidupan, mereka mengalami ketidakbahagiaan dalam mengarungi rumah tangga masing-masing. Waktu jua yang mempertemukan keduanya dalam sebuah perjalanan laut di atas sebuah kapal. Keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama dan mengalami chemistry. Ada begitu banyak kesamaan yang mereka temui dalam kedekatan selama pejalanan.
Dalam novel ini NH Dini memberikan kejutan yang tak terduga, ia menghadirkan dua segmen cerita, dimana masing-masing segmen menceritakan secara detail kronologis perjalanan hidup kedua tokoh utama, mula dari masa kecil hingga saat hubungan romantika keduanya berlangsung.
Segmen pertama bertajuk "Penari" menceritakan kisah Sri dari sudut pandang Sri sebagai tokoh aku. Bagian ini terasa sangat feminin, unsur kehalusan sangat terasa pada ungkapan-ungkapan perasaan Sri.
Sedangkan segmen kedua berjudul "Pelaut" menceritakan tokoh Michel Dubanton sejak masa kanak-kanak hingga dewasa dari sudut pandang seorang lelaki. Di segmen ini pula, pembaca disuguhi kisah-kisah pergaulan para petualang laut.
Singkat kata, lewat "Pada Sebuah Kapal" NH Dini telah menghadirkan dua novel dalam satu buku. Versi Sri dan versi Michel Dubanton.
Rabu, 31 Juli 2013
Bermain Plastisin di Hari Libur
Mengisi libur sekolah di awal Ramadhan, Rayda dan Nawal
menyibukkan diri dengan bermain plastisin.
Saya menyediakan beberapa warna
yag kemungkinan diperlukan oleh mereka: Merah, merah muda, hijau, hijau
muda, oranye, kuning, ungu dan biru.
Sayangnya saya tidak mendapatkan warna hitam dan putih sebagai pelengkap. Tapi, warna-warna yang ada sudah sangat
lengkap dan memadai sebagai media
bermain dan belajar anak-anak.
Saya turut terlibat dalam aktivitas membentuk karya tiga dimensi ini. Anak-anak saya betaaahhh sekali bermain plastisin. Ini merupakan salah satu
permainan kesukaan mereka sejak masih
berusia 3 tahun.
Beda tingkatan usia maka beda pula bahan plastisin yang saya
gunakan. Ketika anak-anak saya masih
berusia batita, saya membuat sendiri plastisin yang akan digunakan anak-anak. Agar
aman jika tertelan oleh anak-anak, adonan plastisin yang saya sediakan terbuat
dari campuran tepung terigu, air, garam halus dan pewarna makanan. Uleni
semua bahan hingga kalis (tidak lengket di tangan) maka anda akan mendapati
plastisin yang aman bagi batita/balita anda.
Tips Membuat Plastisin
Ada beberapa tips ringan yang perlu diperhatikan dalam
membuat plastisin tepung terigu ini.
Pertama jangan meremehkan peranan garam. Garam merupakan
salah satu elemen penting yang tidak boleh dilupakan dalam membuat adonan
plastisin ini. Kenapa? Karena garam
mempunyai sifat mengikat air maka kekenyalan dan kelembaban adonan plastisin dapat lebih bertahan lama.
Kedua, simpanlah plastisin dalam wadah tertutup rapat jika tidak
digunakan agar plastisin tidak mengering. Penyimpanan sebaiknya dilakukan
secara terpisah antara warna satu dengan warna lain agar tidak terjadi
percampuaran antar warna.
Ketiga, jika plastisin mongering basahi pemukaannya dengan
air, lalu uleni hingga kalis. Plastisin siap digunakan kembali.
Ketika anak-anak saya memasuki usia 5 tahun, mereka mulai
memahami benda-benda mana yang tidak bisa atau tidak boleh dimakan.
Maka saat itulah saya mulai mengganti plastisin dengan bahan yang terbuat dari
lilin malam yang lembut (lilin mainan) dan berwarna-warni.
Tips ringan lain seputar lilin mainan ini, jika plastisin
lilin ini terasa terlalu kaku atau
keras untuk dibentuk oleh anak-anak
sebaiknya dicampur menggunakan krim hand body berbasis minyak (biasanya saya menggunakan
merk Nivea). Ada dua keuntungan
sekaligus yang bisa didapat: kekenyalan lilin plastisin dan keharuman wangi
yang didapat dari krim hand body.
Manfaat Bermain
Plastisin Bagi Anak-Anak
Meski bermain plastisin nampaknya sederhana, namun banyak sekali manfat yang bisa didapat.
Antara lain mengaktifkan motorik kasar dan motorik halus pada jari jemari
anak, pengenalan warna, bermain imajinasi, melatih kesabaran anak, merangsang indera
peraba dan kemampuan kinestetik anak.
Alhasil, setelah lebih dari dua jam asyik bermain, maka tersajilah beberapa karya kecil
dari lilin plastisin. Oya, sebagai panduan membentuk lilin plastisin, saya
menggunakan buku cara menghias cup cake dengan fondant. Selamat mencoba :)
Jumat, 19 Juli 2013
Berburu Hidangan Takjil di Pasar Sore Ramadhan Kauman
Sore ini, Saya dan anak-anak ,Eda & Nawal mengunjungi Pasar Sore Ramadhan di Kampung Kauman. Kunjungan ke Pasar Sore Ramdhan Kauman ini bukan sekedar membeli takjil, tetapi merupakan bonus bagi Eda yang telah menjalani puasa penuh selama 4 hari (selebihnya puasa beduk ).
Kami datang ketika sore hampir menjelang maghrib sehingga pasar kaget ini agak lengang . Keadaan ini membuat kami agak leluasa berbelanja, meski tetap harus bergegas untuk segera pulang.
Berbagai jajan pasar dan lauk pauk untuk hidangan buka puasa ditaewarkan di pasar dadakan yang hanya terselenggara pada Bulan Ramadhan ini. Jajan pasar macam donat, clorot, carang gesing, pempek, martabak, kue lumpur, mie goreng, kolak hingga berbagai minuman segar macam es kelapa, jus buah atau setup buah tersaji di deretan meja-meja penjual.
Bagi pengunjung yang tak mau repot memasak, berbagai lauk pauk juga ditawarkan. Ada mangut lele, iso babat goreng, oseng kikil, bacem tahu tempe, puyuh goreng, ayam kampung garang asem, ayam goreng, oseng usus,balado terong, sambel pete bahkan tersedia pula balado jengkol
Di antara jejeran penjual, ada seorang bapak yang khusus menjual aneka pepes. Sebuat saja pepes ayam, pepes tahu, pepes jamur, pepes teri, pepes udang, pepes cumi, pepes tuna, pepes tenggiri hingga yang agak spektakuler adalah pepes hiu.
Pasar Sore Ramadhan Kampung Kauman ini merupakan Pasar Ramadhan yang cukup legendaris di Kota Yogyakarta. Inilah pelopor bermunculannya pasar-pasar khas Ramadhan di seantero Kota Yogyakarta, maklum saja kegiatan pasar takjil ini telah dimulai sejak tahun 1973. Letaknya sangat strategis, di sisi utara ruas Jalan Ahmad Dahlan, dekat jantung keramaian Yogyakarta, Malioboro .
Jangan membayangkan pasar sore ini seperti pasar-pasar lain ya……pasar sore ini sesebnarnya merupakan deretan penjual yang menggelar dagangan di depan rumah menggunakan meja-meja sederhana saja lhoo. Uniknya, pasar ini sebenarnya merupakan sebuah gang sempit berukuran 2 meter saja. Sisi timur gang ini di isi deretan meja-meja penjual sedangkan sisi barat merupakan jalur keluar masuk pengunjung.
Pasar sore ini mulai digelar sejak pukul 15.00, saat itu pedagang baru menata hidangan di meja-meja dan suasana masih sepi pengunjng. puncak keramaian sekitar pukul 16.00 hingga 17.30. Beberapa menit sebelum azan maghrib, suasana kembali lengang.
Lengang bukan berarti sepi pengunjung, karena ada cukup banyak pengunjung yang memilih berbuka puasa di sini. Di sudut-sudut gang Nampak beberapa rombongan pengunjung tengah berbuka puasa dengan menu yang telah dibeli. Pun para penjual berbuka puasa dan mulai mengemasi dagangan masing-masing.
Hidangan takjil yang kami beli sore itu cukup beragam. Kami membeli donat keju, es kelapa muda dengan sirup cocopandan yang menggoda, tumis udang, pepes teri dan nasi jinggo bali. Usai berbelanja kami bergegas pulang dan menikmati sajian takjil di rumah
Kami datang ketika sore hampir menjelang maghrib sehingga pasar kaget ini agak lengang . Keadaan ini membuat kami agak leluasa berbelanja, meski tetap harus bergegas untuk segera pulang.
Berbagai jajan pasar dan lauk pauk untuk hidangan buka puasa ditaewarkan di pasar dadakan yang hanya terselenggara pada Bulan Ramadhan ini. Jajan pasar macam donat, clorot, carang gesing, pempek, martabak, kue lumpur, mie goreng, kolak hingga berbagai minuman segar macam es kelapa, jus buah atau setup buah tersaji di deretan meja-meja penjual.
Nawal menikmati es kelapa muda dengan sirup cocopandan yang menggoda....
Bagi pengunjung yang tak mau repot memasak, berbagai lauk pauk juga ditawarkan. Ada mangut lele, iso babat goreng, oseng kikil, bacem tahu tempe, puyuh goreng, ayam kampung garang asem, ayam goreng, oseng usus,balado terong, sambel pete bahkan tersedia pula balado jengkol
![]() |
| Lauk Pauk untuk menu makan malam usai takjil, atau sebagai persiapan sahur..... |
Di antara jejeran penjual, ada seorang bapak yang khusus menjual aneka pepes. Sebuat saja pepes ayam, pepes tahu, pepes jamur, pepes teri, pepes udang, pepes cumi, pepes tuna, pepes tenggiri hingga yang agak spektakuler adalah pepes hiu.
![]() |
| Ini dia pedagang spesialis pepes. Harganya mlai Rp.1500 hingga Rp.3500. |
Pasar Sore Ramadhan Kampung Kauman ini merupakan Pasar Ramadhan yang cukup legendaris di Kota Yogyakarta. Inilah pelopor bermunculannya pasar-pasar khas Ramadhan di seantero Kota Yogyakarta, maklum saja kegiatan pasar takjil ini telah dimulai sejak tahun 1973. Letaknya sangat strategis, di sisi utara ruas Jalan Ahmad Dahlan, dekat jantung keramaian Yogyakarta, Malioboro .
Gerbang Pasar Sore Ramadhan Kauman
Jangan membayangkan pasar sore ini seperti pasar-pasar lain ya……pasar sore ini sesebnarnya merupakan deretan penjual yang menggelar dagangan di depan rumah menggunakan meja-meja sederhana saja lhoo. Uniknya, pasar ini sebenarnya merupakan sebuah gang sempit berukuran 2 meter saja. Sisi timur gang ini di isi deretan meja-meja penjual sedangkan sisi barat merupakan jalur keluar masuk pengunjung.
Pasar sore ini mulai digelar sejak pukul 15.00, saat itu pedagang baru menata hidangan di meja-meja dan suasana masih sepi pengunjng. puncak keramaian sekitar pukul 16.00 hingga 17.30. Beberapa menit sebelum azan maghrib, suasana kembali lengang.
Lengang bukan berarti sepi pengunjung, karena ada cukup banyak pengunjung yang memilih berbuka puasa di sini. Di sudut-sudut gang Nampak beberapa rombongan pengunjung tengah berbuka puasa dengan menu yang telah dibeli. Pun para penjual berbuka puasa dan mulai mengemasi dagangan masing-masing.
Jalan Bergelombang di Jalur Yogya-Klaten
Jalur Yogya-Klaten merupakan jalur yang cukup memadai bagi pelintas pemula seperti saya. Jalan raya ini terbilang aman untuk ukuran jalan luar kota, karena adanya pembatas jalan yang membagi jalan menjadi 2 arah.
Pengalaman pertama melintasi jalan Yogya-Klaten adalah rasa ketidaknyamanan karena kondisi fisik jalan yang tidak rata, dimulai ketika melewati kompleks Candi Prambananan. Adanya tambalan-tambalan aspal menjadikan jalan terasa bergelombang, sehingga mengurangi kenyamanan berkendara.
Usai mengosongkan muatan, truk-truk beranjak kembali ke penambangan pasir untuk mengangkut muatan
Aktifitas rutin dari truk-truk pengangkut pasir Merapi rupanya menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan penghubung antar provinsi ini.
Namun menjelang Idul Fitri, Pemda Klaten rupanya sigap berbenah. Sejak beberapa bulan terakhir, dilakukan perbaikan hampir menyeluruh di sepanjang jalur utama arus mudik ini. Pada beberapa titik, terlihat rombongan-rombongan pekerja melapisi jalan raya ini dengan aspal yang cukup tebal.
Alhasil, pertengahan bulan puasa ini, untuk pertama kalinya saya merasa nyaman melaju di Jalan Raya Yogya-Klaten.
Jalan Raya Yogya-Klaten di malam hari
Langganan:
Postingan (Atom)
MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG
Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...
-
Aku mengenal butir-butirnya di dapur rumah, saat ibu melakukan ritual memasak untuk keluarga. Ibu menggerus butir-butir Ketumbar usai meny...
-
"Doa-doa laksana jembatan dunia manusia dan dunia arwah" Pasar Beringharjo pada hari-hari menjelang Bulan Puasa Ramadhan dipenu...










