Rabu, 31 Juli 2013

Bermain Plastisin di Hari Libur

Mengisi libur sekolah di awal Ramadhan, Rayda dan Nawal menyibukkan diri dengan bermain plastisin.  Saya menyediakan beberapa warna  yag kemungkinan diperlukan oleh mereka: Merah, merah muda, hijau, hijau muda, oranye, kuning, ungu  dan biru. Sayangnya saya tidak mendapatkan warna hitam dan putih sebagai pelengkap.  Tapi, warna-warna yang ada sudah sangat lengkap dan memadai  sebagai media bermain dan belajar anak-anak.

Saya turut terlibat dalam aktivitas membentuk  karya tiga dimensi ini. Anak-anak  saya betaaahhh sekali  bermain plastisin. Ini merupakan salah satu permainan  kesukaan mereka sejak masih berusia  3 tahun.  

Beda tingkatan usia maka beda pula bahan plastisin yang saya gunakan.  Ketika anak-anak saya masih berusia batita, saya membuat sendiri plastisin yang akan digunakan anak-anak. Agar aman jika tertelan oleh anak-anak, adonan plastisin yang saya sediakan terbuat dari campuran tepung terigu, air, garam halus dan pewarna makanan.   Uleni semua bahan hingga kalis (tidak lengket di tangan) maka anda akan mendapati plastisin yang aman bagi batita/balita anda.



Tips Membuat Plastisin

Ada beberapa tips ringan yang perlu diperhatikan dalam membuat plastisin tepung terigu ini.
Pertama jangan meremehkan peranan garam. Garam merupakan salah satu elemen penting yang tidak boleh dilupakan dalam membuat adonan plastisin ini. Kenapa?  Karena garam mempunyai sifat mengikat air maka kekenyalan dan kelembaban  adonan plastisin dapat lebih bertahan lama.   

Kedua, simpanlah plastisin dalam wadah tertutup rapat jika tidak digunakan agar plastisin tidak mengering. Penyimpanan sebaiknya dilakukan secara terpisah antara warna satu dengan warna lain agar tidak terjadi percampuaran antar warna.

Ketiga, jika plastisin mongering basahi pemukaannya dengan air, lalu uleni hingga kalis. Plastisin siap digunakan kembali.

Ketika anak-anak saya  memasuki usia 5 tahun,  mereka mulai  memahami benda-benda mana yang tidak bisa atau tidak boleh dimakan. Maka saat itulah saya mulai mengganti plastisin dengan bahan yang terbuat dari lilin malam yang lembut (lilin mainan) dan berwarna-warni.   

Tips ringan lain seputar lilin mainan ini, jika plastisin lilin ini  terasa terlalu kaku atau keras  untuk dibentuk oleh anak-anak sebaiknya dicampur menggunakan krim hand body berbasis minyak (biasanya saya menggunakan merk Nivea).  Ada dua keuntungan sekaligus yang bisa didapat: kekenyalan lilin plastisin dan keharuman wangi yang didapat dari  krim hand body.


Manfaat Bermain Plastisin Bagi Anak-Anak

Meski bermain plastisin nampaknya sederhana, namun  banyak sekali manfat yang bisa didapat. Antara lain mengaktifkan motorik kasar dan motorik halus pada jari jemari anak,  pengenalan warna,  bermain imajinasi,  melatih kesabaran anak, merangsang indera peraba dan kemampuan kinestetik anak.

Alhasil, setelah lebih dari dua jam asyik bermain, maka  tersajilah beberapa karya  kecil  dari lilin plastisin. Oya, sebagai panduan membentuk lilin plastisin, saya menggunakan buku cara menghias cup cake dengan fondant. Selamat mencoba :)





















Jumat, 19 Juli 2013

Berburu Hidangan Takjil di Pasar Sore Ramadhan Kauman

Sore ini, Saya dan anak-anak ,Eda & Nawal mengunjungi Pasar Sore Ramadhan di Kampung Kauman. Kunjungan ke Pasar Sore Ramdhan Kauman ini bukan sekedar membeli takjil, tetapi merupakan bonus bagi Eda yang telah menjalani puasa penuh selama 4 hari (selebihnya puasa beduk ).

Kami datang ketika sore hampir menjelang maghrib sehingga pasar kaget ini agak lengang . Keadaan ini membuat kami agak leluasa berbelanja, meski tetap harus bergegas untuk segera pulang. 

Berbagai jajan pasar dan lauk pauk untuk hidangan buka puasa ditaewarkan di pasar dadakan yang hanya terselenggara pada Bulan Ramadhan ini. Jajan pasar macam donat, clorot, carang gesing, pempek, martabak, kue lumpur, mie goreng, kolak hingga berbagai minuman segar macam es kelapa, jus buah atau setup buah tersaji di deretan meja-meja penjual. 



Nawal menikmati es kelapa muda dengan sirup cocopandan yang menggoda....


Bagi pengunjung yang tak mau repot memasak, berbagai lauk pauk juga ditawarkan. Ada mangut lele, iso babat goreng, oseng kikil, bacem tahu tempe, puyuh goreng, ayam kampung garang asem, ayam goreng, oseng usus,balado terong, sambel pete bahkan tersedia pula balado jengkol 


Lauk Pauk untuk menu makan malam usai takjil, atau sebagai persiapan sahur.....



Di antara jejeran penjual, ada seorang bapak yang khusus menjual aneka pepes. Sebuat saja pepes ayam, pepes tahu, pepes jamur, pepes teri, pepes udang, pepes cumi, pepes tuna, pepes tenggiri hingga yang agak spektakuler adalah pepes hiu.


Ini dia pedagang spesialis pepes. Harganya mlai Rp.1500 hingga Rp.3500.


Pasar Sore Ramadhan Kampung Kauman ini merupakan Pasar Ramadhan yang cukup legendaris di Kota Yogyakarta. Inilah pelopor bermunculannya pasar-pasar khas Ramadhan di seantero Kota Yogyakarta, maklum saja kegiatan pasar takjil ini telah dimulai sejak tahun 1973. Letaknya sangat strategis, di sisi utara ruas Jalan Ahmad Dahlan, dekat jantung keramaian Yogyakarta, Malioboro . 



Gerbang Pasar Sore Ramadhan Kauman


Jangan membayangkan pasar sore ini seperti pasar-pasar lain ya……pasar sore ini sesebnarnya merupakan deretan penjual yang menggelar dagangan di depan rumah menggunakan meja-meja sederhana saja lhoo. Uniknya, pasar ini sebenarnya merupakan sebuah gang sempit berukuran 2 meter saja. Sisi timur gang ini di isi deretan meja-meja penjual sedangkan sisi barat merupakan jalur keluar masuk pengunjung. 

Pasar sore ini mulai digelar sejak pukul 15.00, saat itu pedagang baru menata hidangan di meja-meja dan suasana masih sepi pengunjng. puncak keramaian sekitar pukul 16.00 hingga 17.30. Beberapa menit sebelum azan maghrib, suasana kembali lengang. 

Lengang bukan berarti sepi pengunjung, karena ada cukup banyak pengunjung yang memilih berbuka puasa di sini. Di sudut-sudut gang Nampak beberapa rombongan pengunjung tengah berbuka puasa dengan menu yang telah dibeli. Pun para penjual berbuka puasa dan mulai mengemasi dagangan masing-masing. 


Hidangan takjil yang kami beli sore itu cukup beragam. Kami membeli donat keju, es kelapa muda dengan sirup cocopandan yang menggoda, tumis udang, pepes teri dan nasi jinggo bali. Usai berbelanja kami bergegas pulang dan menikmati sajian takjil di rumah

Jalan Bergelombang di Jalur Yogya-Klaten


Bekerja di luar kota memberikan saya kesempatan mengamati banyak hal. Salah satunya adalah menikmati sensasi berkendaraan di jalur antar kota (meski masih skala kecil).

Jalur Yogya-Klaten merupakan jalur yang cukup memadai bagi pelintas pemula seperti saya. Jalan raya ini terbilang aman untuk ukuran jalan luar kota, karena adanya pembatas jalan yang membagi jalan menjadi 2 arah.

Pengalaman pertama melintasi jalan Yogya-Klaten adalah rasa ketidaknyamanan karena kondisi fisik jalan yang tidak rata, dimulai ketika melewati kompleks Candi Prambananan. Adanya tambalan-tambalan aspal menjadikan jalan terasa bergelombang, sehingga mengurangi kenyamanan berkendara.





Usai mengosongkan muatan, truk-truk beranjak kembali ke penambangan pasir untuk mengangkut muatan



Aktifitas rutin dari truk-truk pengangkut pasir Merapi rupanya menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan penghubung antar provinsi ini. 

Namun menjelang Idul Fitri, Pemda Klaten rupanya sigap berbenah. Sejak beberapa bulan terakhir, dilakukan perbaikan hampir menyeluruh di sepanjang jalur utama arus mudik ini. Pada beberapa titik, terlihat rombongan-rombongan pekerja melapisi jalan raya ini dengan aspal yang cukup tebal. 

Alhasil, pertengahan bulan puasa ini, untuk pertama kalinya saya merasa nyaman melaju di Jalan Raya Yogya-Klaten.



Jalan Raya Yogya-Klaten di malam hari

Selasa, 25 Juni 2013

Umbul Kapilaler, Love at The First Sight

Pukul dua siang matahari masih bersinar garang, udara terasa panas dan gerah. Tapi itu tidak berlaku di Umbul Kapilaler. Umbul ini diapit oleh dua beringin tua yang menjulang tinggi melindungi dari terik matahari. Akar-akarnya menjuntai, menjura hingga mencapai permukaan air menambah eksotika telaga ini.



Umbul Kapilaler adalah salah satu dari sekian banyak sumber mata air di kawasan Polanharjo Klaten. Umbul Kapilaler ‘bertetangga’ dengan Umbul Sigedang yang lebih dulu populer lantaran menjadi sumber air bagi sebuah perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) terbesar di negeri ini.

Siang ini saya menikmati menonton beberapa anak tengah menangkap ikan-ikan kecil di Umbul Kapilaler. Anak-anak ini cukup mahir berenang, mungkin karena hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan dengan berenang di umbul ini. 






‘Amunisi’ yang mereka siapkan untuk menangkap ikan antara lain jaring ikan, baskom saring dan kantong plastik. Awalnya anak-anak ini beriringan di sisi umbul, bekerjasama menggiring dan manghalau ikan-ikan agar masuk perangkap jaring dan baskom. Beberapa ekor ikan berhasil masuk jaring dan segera saja dipindahkan ke dalam kantung plastik. 


Tak berapa lama, kelompok kecil ini mulai terpisah-pisah karena kasyikan masing-masing. Ada yang memilih berenang-renang sambil menyelam, ada yang sibuk mengurusi ikan hasil tangkapan namun yang tetap berkonsentrasi menangkapi ikan-ikan masih tetap banyak. 







Sesekali satu atau dua di antara mereka yang kebetulan melihat serombongan ikan akan berteriak memberi pertunjuk pada teman-temannya “Hei…kae..kae..ning kono..!” (Hei…itu..tuh..di sana..!). Saya yang sedari tadi menyaksikan ‘perburuan’ kecil ini turut berteriak menunjuk-nunjuk . Segera saja beberapa anak akan berenang mengikuti petunjuk. Beberapa ikan yang terjebak di antara bebatuan menjadi sasaran paling empuk untuk ditangkapi. 













Keceriaan ini tentu saja dihiasi dengan begitu banyak gelombang dan deburan-deburan air segar. Beberapa percikan kecil air telaga ini mendarat di wajah saya, seketika rasa sejuk mengalir ke seluruh tubuh saya. Waktu benar-benar membeku di telaga eksotis ini, padahal matahari mulai merendah bersiap tenggelam. 

Dalam perjalanan pulang, kesejukan air Umbul Kapilaler masih saya rasakan. Pun sesampai di rumah ketika tulisan ini hendak saya rampungkan. Saya jatuh cinta pada Umbul Kapilaler

Kamis, 06 Juni 2013

Dongeng Pengantar Tidur


Inilah ritual pengantar tidur terbaik bagi anak-anak, penutup rangkaian aktivitas sepanjang hari

Mendongeng dipopulerkan oleh hampir semua ibu di berbagai belahan dunia. 
Meski tidak semua ibu memiliki ketrampilan mendongeng, namun kedekatan emosi antar ibu dan anak nyatanya mampu menepiskan kekurangan itu.

Saya termasuk golongan ibu yang tidak memiliki ketrampilan mendongeng yang fasih. 
Meski mendiang ibu saya  menyisihkan sebagian malamnya untuk mendongeng bagi kami, anak-anaknya, namun  kefasihan itu tidak serta merta menular kepada saya. 
Di samping fabel popular Kancil dan Buaya, kisah-kisah dari Negeri Seribu Satu Malam mendominasi  tema  dongeng saya di masa kecil, terutama kisah kecerdikan Abunawas. 

Saya sempat mengalami kegelisahan karena rasa ketidakmampuan mendongeng. 
Rasanya ada yang hilang ketika saya tidak bisa mendongeng bagi anak-anak saya.  
Hingga suatu ketika, saya membeli beberapa buku kecil kumpulan cerita pendek  bagi anak-anak, karya Enid Blyton. Saya membelinya dalam sebuah kesempatan bazaar buku di Gramedia, seharga Rp. 5000/buku  (senangnya....dapat buku bagus dengan harga semurah itu... :) ...)

Semula buku tersebut saya peruntukkan bagi Eda, puteri sulung saya, agar ia lebih rajin membaca.  Nawal yang belum bisa membaca merengek kepada saya agar membacakan cerita-cerita di buku kecil itu.  Maka dimulailah  ‘karir mendongeng’  saya.

Hampir setiap malam, menjelang tidur, Nawal selalu meminta dibacakan cerita. Ia menyodorkan buku kecil kumpulan cerpen karya Enid Blyton tersebut. 
Ia akan memilih cerpen mana yang malam itu ingin didengarnya. 
Bahkan, terkadang Rayda yang sudah bisa membaca turut meminta dibacakan salah satu judul cerpen.  

Buku-buku inilah yang setiap malam wajib saya bacakan.  Betapapun lelah,  saya berusaha mengabulkan keinginan mereka. Rayda dan Nawal menyimak betul  cerita-cerita yang saya bacakan. 

Berikutnya saya mulai menambah pilihan buku yang akan saya bacakan. Koleksi lama yang teronggok di rak buku anak-anak mulai saya bongkar. Hasilnya saya menemukan beragam harta terpendam yang selama beberapa waktu menganggur. 




Buku Kumpulan Cerita Pendek Karya Enid Blyton


Bagi saya membacakan cerita menjelang tidur  sangat penting karena saya yakin mampu mendorong imajinasi  dan kreativitas anak-anak. .
Proses mendengar cerita membuat mereka berimajinasi, membayangkan  suasana /ilustrasi  jalan cerita dalam benak masing-masing, bagaimana raut wajah dan mimik tokoh  dalam cerita.  Jika diminta menuangkan imajinasi tersebut ke dalam bentuk gambar maka hasil imajinasi tiap anak pasti berbeda.

Lewat mendongeng dan pembacaan cerita pula, stimulasi kecerdasan berbahasa anak-anak akan berkembang dan memperkaya perbendaharaan kosa kata mereka.

Awal membacakan cerita, lafal dan intonasi yang saya bawakan sungguh payah. 
Saya membacakan cerita cepat-cepat  tanpa memperhatikan  titik, koma bahkan intonasi. 
Ada rasa ingin segera menyudahi  cerita.  Rayda dan Nawal protes dan meminta saya mengulangi kembali.  

Beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari kekeliruan saya.  Lalu mulai memperhatikan tanda-tanda baca , ritme dan intonasi.  Saya mulai membacakan cerita sambil bermain imajinasi, membayangkan betul-betul kejadian yang ada dalam cerita tersebut. Jika tokoh dalam cerita tertawa terbahak-bahak, maka saya akan turut tertawa terbahak-bahak pula……  
Atau jika tokoh lain berkata dalam nada sinis, saya  akan bertutur pula dalam nada sinis seraya memonyongkan mulut.  Anak-anak mengikuti mimik muka saya, tertawa, melotot, monyong , marah-marah......

Saya mulai menikmati membacakan cerita. Saat cerita berakhir  anak-anak mulai tertidur, sayapun rupanya turut terlelap......meninggalkan piring dan gelas-gelas kotor yang terlewat untuk dicuci.....  :)

Sejak menikmati karir baru saya ini, saya mulai percaya bahwa setiap ibu adalah pendongeng yang hebat bagi anak-anaknya.













Kamis, 30 Mei 2013

Workshop Menggambar Figur Fiksi Untuk Anak

Ketika saya mengabarkan Rayda tentang Workshop Menggambar Figur Fiksi Untuk Anak bersama Charlotte Schleiffert, seorang seniman asal Belanda, dia sangat antusias. 


Rayda yang kadang sulit dibangunkan pada pagi hari, tiba-tiba membangunkan diri pada dini hari pukul 05.00. 
Ia langsung mandi dan sarapan dengan sendirinya (biasanya harus diseret-seret sama ibunya :p). 

Pukul 08.30 kami sudah tiba di Rumah Seni Cemeti, kegiatan berlangsung 1 jam kemudian. 
Walaupun kegiatan workshop belum dimulai, anak-anak berkesempatan melihat-lihat sejumlah karya seni di ruang pamer. 


Saya was-was dengan tur mandiri yang dilakukan anak-anak saya, membayangkan tangan-tangan mereka yang penasaran dan memegang karya-karya seni ....lalu....gubrakkk!!....
Untunglak bayangan jelek itu tidak menjadi kenyataan. 

Kira-kira pukul 09.30 Mbak Sita membuka workshop dengan memperkenalkan Charlotte Schleiffert dan sedikit gambaran tentang workshop. 
Perkenalan

Sebanyak 20 anak digiring ke ruangan besar berukuran kira2 10x10m (kira-kira aja nih...luasnya bisa untuk acara tahlilan 100 orang). 


Pertama-tama, anak-anak diperlihatkan menggambar figur secara langsung dari ukuran tubuh manusia yang sebenarnya. 
Seorang kakak asisten residensi menjadi relawan untuk penggambaran langsung ini. 
Kakak ini tidur terlentang di atas media gambar dari karton berukuran 3x0,5m. 
Lalu Charlotte menggambar outline keseluruhan tubuh kakak relawan ini menggunakan pensil. 


Membuat outline figur langsung dari ukuran tubuh sebenarnya


Selanjutnya anak-anak peserta workshop langsung mempraktekkannya dengan teman di sebelahnya masing-masing. 
Mereka saling bergantian menggambar outline tubuh temannya. 
Usai membuat outline sebagai dasar melukis figur, selanjutnya masing-msing anak diberikan topeng tradisional sebagai referensi menggambar karakter wajah figur. 

Maka dimulailah petualangan warna pada pagi itu. 
Rayda & Nawal bolak-balik memberi warana pada lukisan figur masing-masing, mencelup warna merah, hijau, biru, kuning, hitam dan mengulasnya pada karton putih. 
Nawal melukis figur plus topeng

Iya....poles-poles.....apapun hasilnya.....

Colak colek cat akrilik

sebelum mencolek warna lain, kuas harus dibersihkan pakai air dulu

Rayda full konsen di tengah suasana workshop

wajah topeng figur mulai terlihat

Saatnya mewarnai tangan

Ternyata Rayda mewarnai tangan figur dengan cara meliuk-liuk seperti pita

Keseluruhan figur karya Rayda

Keseluruhan figur karya Nawal



Membentuk figur-figur imajinasi mereka. 
Tak puas mengulas warna, anak-anak diberikan kesempatan menggunting aneka kertas dan menempelkannya pada media lukis. 

Usai workshop, setiap anak bisa membawa pulang topeng yang telah mereka lukis, namun hasil lukisan yang masih basah baru bisa diambil sore harinya



Inilah hasil karyaku.....

PEMANDU WISATA CILIK

Ketika berwisata ke Kebun Binatang Gembira Loka, petugas loket memberikan selembar peta petunjuk. 
Nawal segera mengambil alih peta tersebut. 
Maka sejak itu, ia menjadi pemandu jalan kami. 


Peta Petunjuk Gembira Loka Zoo


mereka-reka letak kandang orang utan


Sepanjang perjalanan ia kerap berhenti tiba-tiba dan dengan penuh konsentrasi menunjuk pada gambar di peta, mencocokkan dengan keadaan di sekitarnya. 


Kakak Eda konsen memotret kura-kura, Adik Nawal konsen pada peta 


Saat tiba di kandang Orang Utan, ia akan menunjukkan peta pada gambar orang utan, 
"Ini lho....kita sudah ada di sini....di tempat Orang Utan". 



Sambil jalan, mata Nawal tidak lepas dari peta


Memasuki kompleks kecil satwa Reptil, ia juga akan mengingatkan kami pada peta petunjuk itu. 
Bahkan tak segan ia akan menggelar peta itu di sembarang tempat, di tengah jalan sekalipun...



Akhirnya gelaran di tengah jalan 


Menunjuk pada peta,  letak kandang rusa yang tepat di depan mata


Ayah tak luput untuk diajaknya berdiskusi tentang lokasi kami saat ini atau hendak ke arah mana kami selanjutnya...


Berdiskusi bersama ayah.....mencari jalan pulang......

Jumat, 26 April 2013

Menikmati Wisata Cahaya di Alun-Alun Selatan Yogyakarta


Apa yang membuat malam hari menjadi begitu hidup? Jawabnya adalah cahaya. 
Gemerlap warna-warni lampu hias, dalam berbagai bentuk dan warna, akan menghidupkan malam yang gelap, bahkan terkadang terasa melebihi siang hari.

Mengunjungi Yogyakarta di malam hari, ternyata tidak melulu harus menghabiskan waktu denngan duduk dan makan gudeg di lesehan-lesehan pinggir jalan. Ada cara baru menikmati malam di Yogyakarta. Datanglah ke Alun-Alun Selatan yang terletak di sisi selatan Keraton Yogyakarta. Anda akan terkesima dengan kemeriahan suasana di ruang terbuka yang satu ini.

Selama bertahun-tahun sebelumnya, wisata utama yang ada di sini adalah Masangin. Masangin adalah berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin yang ada di tengah Alun-Alun. Mitos yang berkembang, jika kita berhasil berjalan lurus melewati dua beringin kembar tersebut, maka segala keinginan kita akan terkabul.

Suasana malam yang semula syahdu dan terkesan hening, kini berubah 1800. Kehadiran puluhan odong-odong dan sepeda tandem yang di hiasi dengan lampu-lampu hias warna-warni dan ditingkahi alunan berbagai musik mampu mengubah suasana hening menjadi hingar-bingar. Bak konser musik di malam hari.

Ada beberapa cara menikmati wisata cahaya di sini. Pilihan utama, anda yang kebetulan datang dengan keluarga atau teman dapat mengelilingi Alun-Alun Selatan dengan menyewa wahana odong-odong. Odong-odong adalah semacam kereta beroda terbuat dari rangka besi yang memiliki desain aneka bentuk dan rupa. Mulai dari odong-odong yang bergambar Dora Emon, Petruk, Angsa, Mickey Mouse, Kuda Terbang hingga Angry Bird.

Rata-rata harga sewa untuk 1 trip perjalanan adalah Rp.35.000,- Eits, jangan membayangkan anda hanya duduk santai berkeliling ya…. harga sewa odong-odong ini tidak termasuk jasa pengemudi lho! Secara bersama-sama, tiap penumpang harus mengayuh sendiri wahana ini, dengan 1 orang berada di kursi kemudi.



Jenis odong-odong  bertingkat dengan kapasitas 6 penumpang


Ada banyak sekali pilihan odong-odong yang disesuaikan dengan selera dan kebutuhan jumlah penumpang. Dari odong-odong berkapasitas untuk 3-4 orang hingga odong-odong bertingkat yang berkapasitas 6-8 orang.

Pilihan kedua adalah berkeliling menggunakan sepeda tandem. Bagi Anda yang hanya pergi berdua dengan pasangan, bisa mencoba sepeda tandem berkapasitas dua penumpang. Atau bagi anda yang datang dengan kelompok kecil rombongan dapat mencoba sepeda tandem berkapasitas empat orang. Harga sewa sepeda tandem ini Rp. 15.000 untuk 1 kali trip.




Sepeda tandem dengan kapasitas 2 penumpang


Pengunjung anak-anak tak kalah dimanjakan, ada banyak pedagang yang menjajakan gelembung sabun tiup. Ada pula Kitir-kitir berlampu yang bila diterbangkan ke langit akan terlihat laksana kumpulan ubur-ubur terbang.

Penat mengayuh odong-odong dan sepeda tandem, Anda dapat beristirahat sambil mengisi perut yang lapar. Di sekeliling pinggir jalan area Alun-Alun Selatan ini, puluhan penjual makanan siap menyajikan hidangan makan malam pilihan. Sambil makan malam ala lesehan, Anda tetap dapat menikmati hiruk-pikuk suasana.

Ingin merasakan suasana sensasional ini? Ada pilihan waktu yang harus di perhatikan jika hendak berwisata ke tempat ini. Anda yang tidak terlalu suka keramaian dapat memilih hari-hari dimana area ini sepi pengunjung. Hari-hari sepi pengunjung antara lain Senin hingga Kamis malam. Tapi jika Anda menyukai keramaian dan kemeriahan suasana maka datanglah pada Jumat hingga Minggu malam. Terlebih jika datang pada musim liburan, dijamin suasana akan sangat cetar membahana! :)



Yk, 24 April 2013

Kucing dan Tai Kucing




Kucing merupakan hewan yang memiliki adaptasi paling tinggi dalam kehidupan manusia. Bahkan, meski tergolong karnivora, kucing ternyata mampu mengkonsumsi makanan dari tumbuhan, semisal nasi.


Pukul lima dini hari, seperti biasa saya bangun mempersiapkan aktivitas pagi: Memasak air panas untuk mandi, air panas untuk kopi, teh dan susu. Saat saya melangkah dari kamar tidur menuju dapur, tiba-tiba langkah kaki saya terhenti, kening mengernyit, hidung mengendus dan mata terbelalak. Sekonyong-konyong semua indera pada tubuh saya memberikan peringatan, menunjukkan pada saya seonggok benda yang tergeletak di lantai dapur: Tai Kucing!

Rupanya semalam seekor kucing telah buang hajat di dapur. Ini bukan kali pertama seonggok tai kucing menyambut pagi saya. Saya tidak dapat menduga kucing mana yag telah buang hajat karena ada beberapa ekor kucing yang berkeliaran bebas di sekitar kediaman kami.

Kucing bukanlah hewan asing bagi manusia, termasuk keluarga kami. Eda dan Nawal ,kedua anak saya, hampir setiap pulang sekolah menemui kucing-kucing kecil di kebun belakang. Dari sekedar menonton anak-anak kucing yang tengah menyusu pada induknya, mengelus-elus, menggendong hingga mengejar anak-anak kucing. Mereka tidak berhenti berman-main dengan anak-anak kucing itu meski sudah berulang-ulang saya melarangnya. Berulang-ulang pula saya mengingatkan anak-anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun setiap selesai bermain dengan kucing-kucing.

Bertahun-tahun silam jauh sebelum anak-anak saya mengenal kucing, saya telah lebih dulu mengakrabi hewan ini ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya dan dua orang adik saya memelihara seekor kucing yang kami beri nama Koneng. Koneng berasal dari bahasa Sunda yang berarti kuning, karena kucing kami memang berwarna kuning jingga. Aktifitas memeluk, menggendong bahkan menciumi si Koneng menjadi keseharian kami dalam mencintai si Koneng.

Memelihara seekor hewan di dalam rumah bukan tanpa resiko. Berkali-kali tangan saya berdarah terkena cakaran si Koneng. Tak jarang si Koneng buang hajat atau muntah di dalam rumah, bahkan di karpet kesayangan ibu saya. Ibupun ngomel-ngomel karena ia adalah orang yang membersihkan segala output organik si Koneng. Perlahan saya mulai menjauhi si Koneng, karena tidak tahan dengan bau dari output organiknya. Puncaknya, ibu membuang si Koneng ke pasar yang letaknya cukup jauh dari rumah kami. Saya sempat merasa sedih karena kehilangan si Koneng, tapi saya tahu betapa repotnya ibu jika harus terus membersihkan karpet akibat kotoran si Koneng.

Sekarang, episode tentang kucing peliharaan dan kotorannya kembali berulang. Kali ini saya menggantikan peran ibu, membersihkan kotoran kucing di dalam rumah. Saya berkeras melarang anak-anak mengakrabi kucing karena alasan-alasan tertentu. Alasan pertama tentu saja karena kucing ,seperti juga hewan-hewan lain, sering buang hajat di sembarang tempat apalagi jika buang hajatnya di dalam rumah. Jika ada sebagian orang yang mengklaim bahwa kucing peliharaannya terlatih buang hajat pada ‘tempatnya’, ya monggo saja. Itu adalah hak setiap orang.

Alasan lain adalah kemungkinan zoonosis. Zoonosis adalah penyakit-penyakit pada hewan yang bisa ditularkan kepada manusia. Pada hewan kucing, zoonosis bias ditularkan lewat cakaran yang menyebabkan penyakit bartonellosis. Toksoplasma adalah penyakit paling popular yang disebabkan oleh interaksi dengan kucing. Penyakit ini disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii, penularannya lewat kotoran, bulu-bulu hewan yang terinfeksi parasit toxoplasma gondii.

Atas dasar alasan-alasan tersebut, saya melarang anak-anak memelihara kucing di dalam rumah, termasuk ketika mereka ingin memelihara kelinci, hamster dan hewan-hewan lain. Hewan tetaplah hewan, merumahkan hewan tidak akan bisa menjadikannya manusia. Habitat hewan yang sesungguhnya ada di alam, bukan di dalam rumah.



Yk, 16 April 2013

Kamis, 25 April 2013

Going (green) to the traditional market

Pagi ini saya berbelanja di pasar legi, sebuah pasar tradisional di kawasan bugisan yogyakarta. Saya membeli kebutuhan memasak untuk hari ini, ayam, telur, tempe dan sayur sop. Selain itu beberapa stok juga harus saya beli, beras, bumbu dapaur, kecap, serta penganan untuk anak-anak. 

Hal menarik ketika berbelanja di sini, sebagian besar pembeli telah menyiapkan diri membawa tas belanja dari rumah, sesuatu yang jarang saya jumpai di kota lain. 

Tas belanja tersebut terbuat dari karung plastik, biasanya bekas kemasan terigu. Beberapa pedagang menjualnya seharga dua ribu rupiah. 

Saya tidak ketinggalan, turut membawa tas belanja tersebut. Hal utama yang saya rasakan adalah kepraktisan. Ketika berbelanja, barang yang saya beli tidak perlu di kemas dua kali. Biasanya penjual harus mengemas barang yang dijual dengan plastik bening dan kantong plastik kresek. Kali ini barang belanjaan hanya dikemas kantong plastik bening secukupnya lalu plung! Langsung dimasukkan ke dalam tas belanja. 

Dulu, jika berbelanja, jemari saya sering perih menahan berat akibat harus memegang beberapa kantong kresek sekaligus. 

Entah disadari atau tidak, para pedagang dan pembeli di pasar ini sesungguhnya tengah menjalani gaya hidup yang ramah lingkungan, yaitu mengurangi penggunaan kantung plastik. Sesuatu yang biasanya hanya kita dengung-dengungkan saja lewat media.


Yk, 25 Agustus 2012

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...