Jumat, 26 April 2013

Kucing dan Tai Kucing




Kucing merupakan hewan yang memiliki adaptasi paling tinggi dalam kehidupan manusia. Bahkan, meski tergolong karnivora, kucing ternyata mampu mengkonsumsi makanan dari tumbuhan, semisal nasi.


Pukul lima dini hari, seperti biasa saya bangun mempersiapkan aktivitas pagi: Memasak air panas untuk mandi, air panas untuk kopi, teh dan susu. Saat saya melangkah dari kamar tidur menuju dapur, tiba-tiba langkah kaki saya terhenti, kening mengernyit, hidung mengendus dan mata terbelalak. Sekonyong-konyong semua indera pada tubuh saya memberikan peringatan, menunjukkan pada saya seonggok benda yang tergeletak di lantai dapur: Tai Kucing!

Rupanya semalam seekor kucing telah buang hajat di dapur. Ini bukan kali pertama seonggok tai kucing menyambut pagi saya. Saya tidak dapat menduga kucing mana yag telah buang hajat karena ada beberapa ekor kucing yang berkeliaran bebas di sekitar kediaman kami.

Kucing bukanlah hewan asing bagi manusia, termasuk keluarga kami. Eda dan Nawal ,kedua anak saya, hampir setiap pulang sekolah menemui kucing-kucing kecil di kebun belakang. Dari sekedar menonton anak-anak kucing yang tengah menyusu pada induknya, mengelus-elus, menggendong hingga mengejar anak-anak kucing. Mereka tidak berhenti berman-main dengan anak-anak kucing itu meski sudah berulang-ulang saya melarangnya. Berulang-ulang pula saya mengingatkan anak-anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun setiap selesai bermain dengan kucing-kucing.

Bertahun-tahun silam jauh sebelum anak-anak saya mengenal kucing, saya telah lebih dulu mengakrabi hewan ini ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya dan dua orang adik saya memelihara seekor kucing yang kami beri nama Koneng. Koneng berasal dari bahasa Sunda yang berarti kuning, karena kucing kami memang berwarna kuning jingga. Aktifitas memeluk, menggendong bahkan menciumi si Koneng menjadi keseharian kami dalam mencintai si Koneng.

Memelihara seekor hewan di dalam rumah bukan tanpa resiko. Berkali-kali tangan saya berdarah terkena cakaran si Koneng. Tak jarang si Koneng buang hajat atau muntah di dalam rumah, bahkan di karpet kesayangan ibu saya. Ibupun ngomel-ngomel karena ia adalah orang yang membersihkan segala output organik si Koneng. Perlahan saya mulai menjauhi si Koneng, karena tidak tahan dengan bau dari output organiknya. Puncaknya, ibu membuang si Koneng ke pasar yang letaknya cukup jauh dari rumah kami. Saya sempat merasa sedih karena kehilangan si Koneng, tapi saya tahu betapa repotnya ibu jika harus terus membersihkan karpet akibat kotoran si Koneng.

Sekarang, episode tentang kucing peliharaan dan kotorannya kembali berulang. Kali ini saya menggantikan peran ibu, membersihkan kotoran kucing di dalam rumah. Saya berkeras melarang anak-anak mengakrabi kucing karena alasan-alasan tertentu. Alasan pertama tentu saja karena kucing ,seperti juga hewan-hewan lain, sering buang hajat di sembarang tempat apalagi jika buang hajatnya di dalam rumah. Jika ada sebagian orang yang mengklaim bahwa kucing peliharaannya terlatih buang hajat pada ‘tempatnya’, ya monggo saja. Itu adalah hak setiap orang.

Alasan lain adalah kemungkinan zoonosis. Zoonosis adalah penyakit-penyakit pada hewan yang bisa ditularkan kepada manusia. Pada hewan kucing, zoonosis bias ditularkan lewat cakaran yang menyebabkan penyakit bartonellosis. Toksoplasma adalah penyakit paling popular yang disebabkan oleh interaksi dengan kucing. Penyakit ini disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii, penularannya lewat kotoran, bulu-bulu hewan yang terinfeksi parasit toxoplasma gondii.

Atas dasar alasan-alasan tersebut, saya melarang anak-anak memelihara kucing di dalam rumah, termasuk ketika mereka ingin memelihara kelinci, hamster dan hewan-hewan lain. Hewan tetaplah hewan, merumahkan hewan tidak akan bisa menjadikannya manusia. Habitat hewan yang sesungguhnya ada di alam, bukan di dalam rumah.



Yk, 16 April 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...