Semalam, saat saya hendak keluar rumah seorang tetangga belakang mendatangi saya. Tetangga saya ini seorang ibu, dia menggendong anaknya bernama Septi berusia 5 tahun. Dalam pelukan ibunya, Septi terlihat menangis tersengal-sengal. Sang ibu bertanya pada saya, "Maaf bu, ibu ini ibunya Nawal ya?". Saya menjawab,"Iya bu. Ada apa?"
"Bu, tangan anak saya digigit oleh anak ibu!" Ia memperlihatkan jempol kiri Septi. saya memperhatikan dengan seksama, terlihat ada bekas gigitan pada ruas jari Septi. "Bu, kalau bisa anaknya dikurung aja di dalam rumah, gak usah dikelurin. Anak saya nangis kesakitan sampai keringat dingin"
Saya terdiam dan berkali-kali meminta maaf pada Septi dan ibunya. Ibu Septi tidak marah, dia hanya berusaha menahan kesedihan atas kesakitan luarbiasa yang dialami putrinya. Setelah kami berbincang agak lama, akhirnya Septi dan ibunya pamit.
Kemudian, saya dan suami saya bertanya pada Nawal, apakah benar ia telah menyakiti temannya septi dengan menggit jempolnya. Nawal terdiam, wajahnya sedikit tegang. Suami saya mengulangi pertanyaannya,"Nawal, ayah tanya sama Nawal. Tadi adik gigit jempol Septi?" Nawal menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Nawal nggak kasihan sama temannya? Temannya kesakitan begitu" Ketegangan dan ketakutan atas rasa bersalah dalam diri Nawal memuncak, tangisnyapun meledak.
Malam itu juga, usai interogasi kecil kami, Saya mengantar Nawal ke rumah Septi. Membujuknya untuk meminta maaf secara langsung pada temannya.
Interogasi kedua saya lakukan pada siang hari, usai Nawal pulang dari TK.
"Nawal, kenapa menggigit jempol Septi?"
"Epi aa, Nawa dipuku ama epi" (Septi jahat, Nawal dipukul sama Septi).
Meski pengucapannya masih kurang jelas, saya mengerti apa yang diucapkannya.
Semalam saya merasa sedih atas perbuatan Nawal terhadap temannya.
Tetapi keesokan harinya saya merasa lega karena Nawal telah memberikan alasan kenapa ia menggigit jempol Septi.
Terima kasih Nawal anakku karena telah bertanggung jawab dengan meminta maaf secara langsung dan menceritakan alasan perbuatanmu.
Bintara, 2 Mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar