Inilah ritual pengantar tidur terbaik bagi anak-anak, penutup rangkaian aktivitas sepanjang hari
Mendongeng dipopulerkan oleh hampir semua ibu di berbagai
belahan dunia.
Meski tidak semua ibu memiliki
ketrampilan mendongeng, namun kedekatan emosi antar ibu dan anak nyatanya mampu
menepiskan kekurangan itu.
Saya termasuk golongan ibu yang tidak memiliki ketrampilan mendongeng yang fasih.
Meski mendiang ibu saya
menyisihkan sebagian malamnya untuk mendongeng bagi kami, anak-anaknya, namun kefasihan itu tidak serta merta menular kepada
saya.
Di samping fabel popular Kancil dan Buaya, kisah-kisah dari Negeri Seribu Satu Malam mendominasi tema dongeng saya di masa kecil, terutama kisah
kecerdikan Abunawas.
Saya sempat mengalami kegelisahan karena rasa ketidakmampuan mendongeng.
Rasanya ada yang hilang ketika saya tidak bisa mendongeng bagi
anak-anak saya.
Hingga suatu ketika,
saya membeli beberapa buku kecil kumpulan cerita
pendek bagi anak-anak, karya Enid Blyton. Saya membelinya dalam sebuah kesempatan bazaar buku di Gramedia, seharga Rp. 5000/buku (senangnya....dapat buku bagus dengan harga semurah itu... :) ...)
Semula buku tersebut saya peruntukkan bagi Eda, puteri sulung saya, agar ia lebih rajin membaca. Nawal yang belum bisa membaca merengek kepada saya agar membacakan cerita-cerita di buku kecil itu. Maka dimulailah ‘karir mendongeng’ saya.
Hampir setiap malam, menjelang tidur, Nawal selalu meminta dibacakan cerita. Ia menyodorkan buku kecil kumpulan cerpen karya Enid Blyton tersebut.
Ia
akan memilih cerpen mana yang malam itu ingin didengarnya.
Bahkan, terkadang
Rayda yang sudah bisa membaca turut meminta dibacakan salah satu judul
cerpen.
Buku-buku inilah yang setiap malam wajib saya bacakan. Betapapun lelah, saya berusaha mengabulkan keinginan mereka. Rayda dan Nawal menyimak betul cerita-cerita yang saya bacakan.
Berikutnya saya mulai menambah pilihan buku yang akan saya bacakan. Koleksi lama yang teronggok di rak buku anak-anak mulai saya bongkar. Hasilnya saya menemukan beragam harta terpendam yang selama beberapa waktu menganggur.
Bagi saya membacakan cerita menjelang tidur sangat penting karena saya yakin mampu
mendorong imajinasi dan kreativitas anak-anak. .
Proses mendengar cerita membuat mereka berimajinasi, membayangkan suasana /ilustrasi jalan cerita dalam benak masing-masing, bagaimana raut wajah dan mimik tokoh dalam cerita. Jika diminta menuangkan imajinasi tersebut ke dalam bentuk gambar maka hasil imajinasi tiap anak pasti berbeda.
Lewat mendongeng dan pembacaan cerita pula, stimulasi kecerdasan berbahasa anak-anak akan berkembang dan memperkaya perbendaharaan kosa kata mereka.
Proses mendengar cerita membuat mereka berimajinasi, membayangkan suasana /ilustrasi jalan cerita dalam benak masing-masing, bagaimana raut wajah dan mimik tokoh dalam cerita. Jika diminta menuangkan imajinasi tersebut ke dalam bentuk gambar maka hasil imajinasi tiap anak pasti berbeda.
Lewat mendongeng dan pembacaan cerita pula, stimulasi kecerdasan berbahasa anak-anak akan berkembang dan memperkaya perbendaharaan kosa kata mereka.
Awal membacakan cerita, lafal dan intonasi yang saya bawakan
sungguh payah.
Saya membacakan cerita cepat-cepat tanpa memperhatikan titik, koma bahkan intonasi.
Ada rasa ingin segera menyudahi cerita. Rayda dan Nawal protes dan meminta saya mengulangi kembali.
Beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari kekeliruan saya. Lalu mulai memperhatikan tanda-tanda baca , ritme dan intonasi. Saya mulai membacakan cerita sambil bermain imajinasi, membayangkan betul-betul kejadian yang ada dalam cerita tersebut. Jika tokoh dalam cerita tertawa terbahak-bahak, maka saya akan turut tertawa terbahak-bahak pula……
Atau jika tokoh lain berkata dalam nada sinis, saya akan bertutur pula dalam nada sinis seraya memonyongkan mulut. Anak-anak mengikuti mimik muka saya, tertawa, melotot, monyong , marah-marah......
Saya mulai menikmati membacakan cerita. Saat cerita berakhir anak-anak mulai tertidur, sayapun rupanya turut terlelap......meninggalkan piring dan gelas-gelas kotor yang terlewat untuk dicuci..... :)
Sejak menikmati karir baru saya ini, saya mulai percaya bahwa setiap ibu adalah pendongeng yang hebat bagi anak-anaknya.
Saya membacakan cerita cepat-cepat tanpa memperhatikan titik, koma bahkan intonasi.
Ada rasa ingin segera menyudahi cerita. Rayda dan Nawal protes dan meminta saya mengulangi kembali.
Beberapa waktu kemudian, saya mulai menyadari kekeliruan saya. Lalu mulai memperhatikan tanda-tanda baca , ritme dan intonasi. Saya mulai membacakan cerita sambil bermain imajinasi, membayangkan betul-betul kejadian yang ada dalam cerita tersebut. Jika tokoh dalam cerita tertawa terbahak-bahak, maka saya akan turut tertawa terbahak-bahak pula……
Atau jika tokoh lain berkata dalam nada sinis, saya akan bertutur pula dalam nada sinis seraya memonyongkan mulut. Anak-anak mengikuti mimik muka saya, tertawa, melotot, monyong , marah-marah......
Saya mulai menikmati membacakan cerita. Saat cerita berakhir anak-anak mulai tertidur, sayapun rupanya turut terlelap......meninggalkan piring dan gelas-gelas kotor yang terlewat untuk dicuci..... :)
Sejak menikmati karir baru saya ini, saya mulai percaya bahwa setiap ibu adalah pendongeng yang hebat bagi anak-anaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar