Selasa, 28 Juli 2015

Pohon Besar dan Daun-Daun Berlidah Api





"Huuhh...panas sekali udara hari ini......." 

Aku mengipas-ngipaskan selembar koran menghalau rasa gerah dan peluh yang mengucur deras di sekujur tubuh. Aku tak habis pikir, kenapa udara panas tak segera hilang meski aku tengah berada di bawah pohon besar yang rindang ini, yang kerimbunannya jelas telah menghalangi sinar matahari jatuh di permukaan tanah. Biasanya kalau matahari seterik ini, aku akan berleha-leha di bawah pohon besar ini, lalu tertidur dalam belaian angin sepoi-sepoi yang meninabobokanku. 

Pohon besar ini, sependek yang kuketahui telah ada sejak mendiang kakekku berusia belia...kalau meminjam bahasa anak muda masa kini istilahnya abege. Kutaksir usianya lebih dari seabad, karena menurut mendiang nenek, ia dan kakek menikah saat masa pendudukan kolonial Belanda, ketika pemuda-pemuda bumiputera tengah berkumpul. Kuperkirakan pristiwa yang dimaksud nenek mungkin Kongres Pemuda pada 1928 sebab nampaknya hanya peristiwa itu yang gaungnya bergema kemana-mana, cetar membahana kala itu. Mungkin mendiang kakek lahir di awal abad ke-dua puluh, sedangkan kini aku telah memasuki abad 21, pada dekade pertamanya. Haduuh....hitung-hitungan usia pohon besar besar ini sungguh ruwet, yang jelas usianya sudah tuaaa sekali....... 


Diameter batang pohon ini mungkin lebih dari tiga meter. Bayangkan saja, untuk memeluk batangnya dibutuhkan lima orang dewasa yang mengelilingi lingkar batangnya. Sungguh sebuah penopang yang luar biasa bagi sebuah pohon dengan cabang, ranting dan daun-daun yang rimbun ini. Ini tentu didukung oleh akar tunjag pohon yang tak kalah kokoh menghujam ke bawah, dan tentu saja juga berdahan, meranting dengan kelengkapan bulu-bulu halus tudung akar yang siap menyedot segala intisari di dalam lahan yang gembur. 

Daunnya? Kau tahu bagaimana daun-daun yang berjumlah ribuan ini menjadi ujung tombak bagi proses fotosintesis, mengeksekusi segala intisari dari lahan gebur yang dialirkan melalui saluran-saluran panjang pembuluh xylem. Pada dedaunan inilah, lahan di sekitar pohon besar ini membuktikan kesuburannya. Entahlah..padahal menurut ibu, pohon itu tak pernah disiram atau diberi pupuk. Dibiarkan begitu saja. 

Yang mengherankan tentu saja warna pada permukaan daun-daunnya, meski terlihat berwarna hijau dan nampak sejuk di mata namun jika kau perhatikan daun-daun itu tak sungguh-sungguh berwarna hijau, melainkan berwarna oranye kemerahan....ya...mirip dengan arang yang kau bakar saat kau membakar satai daging kambing di hari raya kurban. Kira-kira seperti itulah.....Aku tidak tahu bagaimana harus menggambarkan sebuah warna yang mewakili rasa panas namun tetap diliputi rasa riang gembira. Sebab, demikian juga dengan daun-daun pohon besar ini, terkadang menimbulkan sebuah keriangan karena warna hijaunya yang teduh, namun jika kupandangi dengan seksama nyata sekali warna bukan hijau...ya..itu tadi sepeti arang yang kau bakar dalam sebuah keriangan hari raya. 

Seperti siang ini, tiba-tiba warna daun-daun itu merah menyala di bawah terik matahari dan tentu saja membuatku merana dalam cuaca tropis yang sedemikian kering ini. 

Kulirik arloji,pukul 12 siang. Bayangan hitam tubuhku telah memendek dalam ukuran yang hampir menyamai selop-selop kakiku. Baiklah...ini memang pukul12 siang dan matahari menggeram dengan garang tepat di atas ubun-ubun kepalaku. Panas yang terasa menusuk itu seolah ujung-ujung lidah api matahari telah sampai ke permukaan bumi, menjilat-jilat permukaan kulit kepalaku. Tajam dan panas. 

Pandanganku berkunang hampir gelap....tiba-tiba kulihat ujung rambutku menguning jingga....beberapa ujung daun pohon besar ini menggapai kepalaku tanpa kusadari. Rasa panas terbakar itu menjalar perlahan memasuki tubuhku.....Dahan dan ranting-ranting yang berwarna laksana bara itu perlahan memanjang, menjulurkan ujung-ujung daunnya serupa lidah api.....berusaha menggapai seluruh tubuhku. Otot-otot tubuhku mengejang, kaku. 

Samar-samar kulihat mendiang kakek, nenek, Bapak, Ibu dan para tetua yang telah berpulang menarik tubuhku beramai-ramai......mengerahkan segala kekuatan yang tersisa dari arwah-arwah mereka.....menjauhkanku dari lilitan pohon besar yang berubah menjingga itu. 

Aku terlempar jauh dan terhempas di atas rumput-rumput liar dan ilalang yang berselimut embun di siang terik, bukan pada pagi seperti biasa. Dari kejauhan, pohon besar itu menarik kembali ranting-ranting dan daun-daunnya pada posisi semula dan kembali berwarna hijau serupa hijaunya rumput dan ilalang tempatku bersimpuh. 
Di kemudian hari, aku mendapat sebuah cerita mistis tentang daun-daun serupa bara api itu. Konon daun-daun itu sesungguhnya hendak membawaku ke surga, sebuah tempat yang tak pernah terbayangkan. Aku mendengarnya tak lama setelah aku tehempas dan terkapar di antara rerumputan dan ilalang. 

Samar-samar aku mendengar bisik-bisik halus nun dari balik tanah tempatku terkapar. Rupanya akar-akar pohon besar tengah berbincang satu sama lain. Akar-akar yang telah menjalar hingga jauh melampaui jarak yg tak pernah kubayangkan, menjalar jauh melebihi jangkauan daun-daun pada ranting terluar pohon itu. 

Yogyakarta, 27 Juli 2015. 

Sabtu, 11 Juli 2015

Robohnya Rumah Kami (Afnan Malay)

Cuma beberapa menit setelah gempa ikut melindas Bantul pun Klaten, saya mengirim pesan singkat kepada Syaifudin Gani. Ia mantan aktivis Walhi Medan. Kepadanya saya sampaikan, "Bung, rumahku baru saja dihantam gempa hebat. Tampaknya Jogja segera habis." Begitu sepenggal kisah yang sempat saya kirimkan. Nyaris, saya, istri, kedua anak lelaki kami, dan ibu mertua—yang baru berani mengunjungi kami dari Semarang setelah Merapi tensinya mereda—hanya tinggal nama.
Sungguh, semula jawaban Gani bagi saya terkesan dingin, "Aku ikut dukacita, kudoakan semoga kamu setabah orang Aceh". Benar, tanah kelahiran kawan saya itu telah menjadi asosiasi untuk setidaknya dua hal: pertama, puncaknya malapetaka; kedua, tangguhnya kesabaran. Saya segera membalas, "Soal ketabahan, Aceh tidak tertandingi Bung! Sebetulnya ingin saya tambahkan, melihat dahsyatnya bencana, jangan melulu dihitung seberapa banyak korban jiwa. Tetapi, tanpa imbuhan itu pun, ia telah sedemikian gelisah. Lalu, membalas berkali-kali sesuai dengan perkembangan yang dilaporkan. Bagi saya itu semacam permakluman. Ternyata gempa Sabtu akhir Mei silam yang berpusat di Laut Selatan tidak main-main.
Menghadapi gempa merupakan hal baru bagi kami yang bermukim di Jawa. Hanya saja, mungkin bagaimana melawan kedukaan di mana pun tidak jauh berbeda. Kami sepertinya dipagari cukup kesabaran. Kalau dulu ada slogan kampanye SBY-Kalla, "Bersama Kita Bisa". Kami plesetkan menjadi bersama kita (jangan) binasa. Makanya, gempa kami "manipulasi" layaknya acara kumpul-kumpul bersama. Dapur umum seadanya digelar di hampir semua sudut jalan. Seolah-olah kami sedang menghadirkan nostalgia pramuka.
Ketika malam tiba, saat itulah teror sesungguhnya menggedor-gedor seberapa tebal kepasrahan—religiositas atau spiritualitas, bukan nrimo dalam artian fatalistik—yang kami punya. Dalam gelap berkawankan dingin, kami awas mencermati setiap geliat gempa susulan yang berkali-kali tidak sungkan ikut menyelinap berdesakan persis di tubuh-tubuh kami. Memang tidak ada isak tangis, lebih dari itu, kami sebetulnya tengah menyambut kematian. Sambil tetap menunggu akhir teka-teki: sanggup bertahan!
Kalau saja tidak ada interaksi dengan peristiwa di luar kami, mungkin kami lulus berguru kepada orang Aceh soal ilmu tabah. Nyatanya, kami "diganggu" jurnalisme yang heboh, terutama jurnalisme >small 2small 0
Sebenarnya, tidak kurang para jurnalis membuat interupsi, bahkan "unjuk rasa", merekam suara para korban bahwa bantuan yang melimpah itu baru sekadar realitas media, bukan realitas yang menyapa korban. Artinya, korban sama sekali tidak tersentuh. Solidaritas kita sebagai anak bangsa tidak terbantahkan. Tetapi, negara seperti sedang cuti: kecuali frekuensi rapat bertambah dan teknik koordinasi terus disusun. Kalau kami seolah "menikmati" pramuka-pramukaan, di radius nol kilometer, di Istana Gedung Agung, mungkin yang terhormat Tuan Presiden bersama para menterinya nostalgia beneran dan menyempatkan mendengar lantunan lembut Katon, "Nikmati bersama suasana Jogja…."
Mudah-mudahan mereka juga bisa "masuk" menghikmati suasana Jogja kini. Setidaknya, melalui pintu kesaksian Musidah (39), yang tinggal di Puton, beberapa ratus meter sebelah barat jembatan Karang Semut yang ketika dibangun arsiteknya bernama Djoko Kirmanto (kini Menteri Pekerjaan Umum). Ia adalah guru TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) dan kebetulan mengajar Rumi Rayhan Pekerti (5), anak saya yang bungsu.
Sore pada hari kedua bencana, saya tergerak mengunjunginya. Berbagi cerita sesama korban. Seperti juga rumah-rumah menuju ke perumahan kami—Perumnas Bumi Trimulyo Permai—di Kembang Songo, semua rumah di dusun tempat tinggalnya roboh. Mencoba berempati, saya katakan kepadanya, "Kita sama-sama korban Bu. Rumah saya juga rusak berat, memang tidak hancur lebur, tetapi saya takut memasukinya. Atapnya mau runtuh." Musidah menyambar cepat, sambil tersenyum getir, "Kalau saya tidak akan pernah takut lagi." Lalu, mengunci kepasrahannya, "Karena, saya sudah tidak punya rumah!"
Merasa masygul, saya alihkan topik soal bantuan. Jawabnya, seperti dugaan. Bahkan, Supermi pun belum ada. Silakan keliling ngecek pintanya. Saya hanya anggut-anggut, mungkin persis para birokrat kita ketika mendengarkan keluhan rakyat. Setelah itu segera saya layangkan pesan singkat kepada. Kali ini kepada seseorang dari jajaran nomor satu di negeri ini, jubir presiden, Andi Mallarangeng. Soal manajemen bantuan bencana yang tertumbuk birokrasi yang menuhankan prosedur. Soal tenda dan Supermi yang harus mengantre ke kantor bupati. Soal rakyat yang antre harus ber->small 2small 0
Orang yang saya SMS tadi menjawab dengan santun sambil menekankan, "Saat ini konsentrasi pada mereka yang telah mendahului kita!" Saya mungkin berlebihan ketika menjawab, "Bung yang mati sedang menemui Tuhan. Lha, yang bertahan hidup menemui siapa?"
Banyak yang bahagia menilai kuatnya solidaritas di antara kita. Anda pun agaknya begitu. Bahkan, saya bisa jamin di lapangan, solidaritas lebih terasa betapa kentalnya. Melampaui dari yang bisa kita ungkapan: dari rakyat untuk rakyat; dari yang terhindar bencana kepada para korban, pun sesama korban (yang tidak parah ke yang mengenaskan).
Tetapi, ingatkah kita bahwa kita hidup di rumah yang sama: Republik Indonesia. Lihatlah >small 2small 0<, bacalah koran. Bukankah presiden, wakil presiden, dan para menteri sibuk "mengurusi" rakyatnya? Kesigapan mereka tidak setara dengan operasionalisasi birokrasi. Apa yang dapat kita katakan kalau faktanya: Bantul dan Klaten hanya "beberapa senti" saja dari pusat kekuasaan: dan kekuasaan itu telah pula berumah di Gedung Agung, medannya tanpa rintangan sama sekali, tidak ada yang terisolasi. Tetap saja negara macet entah di mana.
Kepada mantan aktivis 1980-an, yang sehari-hari dekat dengan SBY, saya layangkan pesan singkat, "Ayo Bung, Presiden cekatan betul di media. Tetapi, ucapannya buntu menghadapi realitas: bantuan menumpuk di kantor kabupaten." Jawabnya, "Ini zaman otonomi kawan. Presiden gak bisa main perintah semaunya!" Ha-ha-ha, maafkan, jawaban kawan saya itu jelas kambing hitam atau dia sedang tidak serius.
Saya cuma mengelus dada berkali-kali. Ya, berkali-kali. Rumah-rumah kami, para korban gempa Bantul-Klaten, roboh. Mayoritas dari mereka pastilah tidak seberuntung saya. Di tengah bencana masih sempat melayangkan pesan singkat dari yang merasakan betul tabahnya saudara kita di Aceh hingga ke seseorang dari jajaran petinggi negeri. Saya masih bisa curhat ke mana-mana, ngomel kepada banyak kawan, tapi Musidah dan rakyat di Bantul pun di Klaten: kawan curhatnya paling jauh dalam hitungan radius lima kilometer. Atau telah berpulang. Bahagiakah saya, kalau boleh jujur: tidak! Kalau ada pilihan, saya tidak akan pernah melayangkan pesan singkat, terutama kepada jajaran petinggi dan aktivis 1980-an sahabatnya SBY itu. Saya tentu bangga bila pagi-pagi pemerintah bisa langsung dalam pelukan kami. Kalau gempa datang setelah subuh, kenapa negara begitu lelet?
Robohnya rumah kami, sekalipun kami iringi duka mendalam, toh solusinya digaransi Jusuf Kalla. Melalui Bakornas, pemerintah akan bantu membangunnya kembali. Tetapi, robohnya "rumah kita"? Ufh, maafkan saya. Jangan, jangan sampai itu terjadi, sekalipun benihnya kadang terasa. Tuhan, cukup rumah kami saja yang roboh!
Afnan Malay, Korban Gempa, Warga Perumnas Trimulyo Permai, Jetis, Bantul, DIY.

Dari saya:

Tulisan di atas adalah milik mas Afnan Malay yang diterbitkan di Harian Kompas
, Minggu, 4 juni 2006
Terima kasih kepada beliau yang telah menyalin ulang tulisan ini kepada saya. Saya menerbit ulang tulisan ini karena telah mendeskripsikan kepada saya kondisi gempa saat itu, sebuah kondisi bencana yang tak bisa saya bayangkan. 

Senin, 22 Juni 2015

Celana Panjang Suamiku

Suami saya termasuk kategori lelaki berperawakan kurus, meski tak bisa dibilang ceking. Sejak pertama bertemu, rasanya tak ada perubahan yang signifikan pada tampilannya, setidaknya jika menilik pada bobot tubuhnya yang tak pernah beranjak dari kisaran angka 50 dalam satuan kilogram. Berbeda dengan saya yang makin hari nampaknya makin melar ke samping dan ini dibuktikan dengan perbedaan bobot kami yang berselisih hingga di angka 20 pada satuan berat yang sama (Ehmmm....). Ia juga bukan tipe lelaki metroseksual yang gemar berdandan, fashionnya jenis casual sederhana: T'shirt dan selana pendek selutut. That's all.

Kondisi statis pada bobot dan tampilan suami saya membuat berbagai kelengkapan sandang yang dikenakannya menjadi awet dan efisien selama bertahun-tahun, setidaknya dalam kurun satu dasawarsa usia permikahan kami. Celana panjangnya  bahkan hampir sama usianya dengan usia pernikahan kami, meski jarang sekali dipakai. Suami saya lebih sering mengenakan kostum kebesarannya: t'shirt dan celana pendek selutut (atau beken dengan sebutan celana Hawaii), maklumlah dia jenis pekerja dengan prinsip SOHO (Small Office Home Office) alias ngantor di rumah alias ngantor di laptop.

Waktu berlalu, saking terlalu terbuai dengan kostum kebesarannya tersebut, suatu ketika hendak kopdar dengan teman-teman seprofesi ia mendapati celana-celana panjang sudah terlalu sesak untuk dikenakan.  Saya membayangkan ia harus menahan lengkung perut dan membatasi hidangan saat pertemuan berlangsung demi menahan lingkar pinggang celana panjangnya. Alternatif lain mungkin harus membuka kait linkar pingang agar lebih leluasa menikmati canda tawa dalam pertemuan tersebut, yang tentu saja harus terus waspada agar celana panjangnya tidak kedodoran.

Kejadian itu tak lantas mebuatnya berangkat untuk membeli celana panjang baru, ia tetap setia dengan celana pendeknya. Ia meminta saya membelikan celana panjang dengan ukuran tertentu yang elah diperkirakannya sesuai dengan lingkar pinggangnya. Dan tentu saja, celana yang dipesannya tetap tak mencukupi  dan ia tetap dalam kondisi tak memiliki celana panjang yang layak pakai.

Pagi ini, dua kerabat kami datang dari Sorong, Papua. Suami saya tentu mau tak mau harus bersikap sebagai tuan rumah yang baik  untuk menemui tamu kami. Wajahnya terlihat bingung karena harus mebayangkan mengulangi siksa diri lagi.  Namun, sehelai sarung menyelamatkannya dari kemungkinan kondisi yang menyiksanya. Alih-alih bercelana Hawaii atau mengenakan celana panjang yang kesempitan, ia mengenakan sehelai sarung layaknya hendak shalat. Maka ia kemudian tampak terlihat santun dan siap menjadi tuan rumah yang baik bagi kerabat kami.

Kesuksesan sehelai sarung menggantikan fungsi celana panjang, saya harap tidak melenakannya. Saya harap ia mengeyahkan keengganan untuk pergi menyambangi deretan toko atau mall sekalipun untuk mencari celana panjang baru, memastikan ukuran yang tepat dan membawanya pulang untuk disimpan sebagai amunisi jika pertemuan-pertemuan luar rumah berlangsung.  Saya juga berharap untuk benda yang satu ini, ia tidak membelinya secara online sebagaimana kebiasaannya selama ini. Hayyoo...suamiku...langkahkan kakimu ke toko-toko itu.....barang satu jam saja.....!!! :D

#NulisRandom2015
#Day22

Tubuh dan Kenangan-Kenangan di Dalamnya

"Tubuh kita sesungguhnya terdiri dari kenangan-kenangan yang saling menjalin dan membenak"

Apa yang kita santap setiap hari adalah kenangan. Sarapan apa hari ini? Apa menu makan siang dan makan malammu? Setangkup roti selai cokelat? Sepinggan nasi dan ikan bakar? Semangkuk sup jagung hangat? 

Bagaimana dengan lidahmu? Apa yang kaucecap hari ini? Rasa asam sebutir buah jeruk, rasa manis gula, asinnya garam......Semua adalah kenangan sepanjang hidup.  Aneka rasa yang membentuk tubuhmu kini.

Dengarkan desau angin di sore hari, pernahkah kau mendengarnya sebelum ini? Dingin udara berkabut yang menggiggilkan tubuh seolah kau mengalami demam berhari-hari......Mengapa kau menyebutnya demam?

Lihatlah matahari yang tak henti terbit dan tenggelam.......Mengapa tak henti berulang?

Apa yang kau lihat, kau rasakan, kau hayati, kau dengar.....semua tak lebih dari repetisi sepanjang hidup.

#NulisRandom2015
#Day19

Ketumbar

Aku mengenal butir-butirnya di dapur rumah, saat ibu  melakukan ritual memasak untuk keluarga. Ibu menggerus butir-butir Ketumbar usai menyangrainya, membubuknya dan menambahkan bumbu lain ke dalam lumpang batu hitam tua peninggalan nenek.

Unggas-unggas di pekarangan belakang rumah telah selesai disembelih, dibersihkan dan siap menerima baluran berbagai bumbu rempah yang telah luluh lantak dalam lumpang batu itu.  Bau tajam Ketumbar masih tercium di hidungku, saat daging-daging unggas itu mulai memasuki belanga. Rutinitas ritual dapur adalah pertemuan-pertemuan intensku dengan Ketumbar.

Nun, bertahun-tahun kemudian, aku mengenal Ketumbar dengan lebih intim. Persalinan pertamaku membawa keintiman itu. Usai melewati perjuangan semalam penuh dengan segala peluh, ibu membawakanku ramuan kering  berisi aneka rempah, daun-daun hutan, akar-akar tanaman hutan hingga beberapa bumbu dari dapur termasuk bau itu, bau Ketumbar. Seorang paraji desa telah menjelajah hutan mencari berbagai dedaunan dan akar, menyangrainya dengan berbagai bumbu dapur, menumbuknya hingga halus. Mereka menyebutnya Jamu Peluntur, jamu bubuk kering bagi seorang perempuan yang telah rampung berjuang sepertiku.

Dan, kini....aku menyangrai butir-butir itu....mejumput beberapa butirnya, menggigit dalam getas geligi. Aku menikmati dengan sungguh butir-butirnya, mengunyah dan mencecap rasa gurih getir di dalam rongga mulut. Mencecap segala perjumpaan kami dalam berbagai peristiwa.

#NulisRandom2015
#Day18

Bunga dan Doa

"Doa-doa laksana jembatan dunia manusia dan dunia arwah"
Pasar Beringharjo pada hari-hari menjelang Bulan Puasa Ramadhan dipenuhi wangi bunga. Berjalan di Jalan Papringan, sisi selatan pasar ini, pada sepanjang ruasnya, kau akan menjumpai aneka bunga: mawar, melati, kenanga, kanthil yang menebar wangi dan membuatmu ingin menghirupnya lebih dalam.

Pasar Beringharjo menjelang Bulan Puasa Ramadhan, para petani bunga memetik bunga-bunga di ladang, mengirimnya ke pasar ini melalui para pedagang bunga.

Pasar Beringharjo menjalang Bulan Puasa Ramadhan: Segenap anak, cucu, kerabat, teman dan handai taulan orang-orang yang telah berpulang akan memenuhi keranjang-keranjang mereka dengan bunga-bunga semerbak ini.

Pada ziarah-ziarah beruntai bunga, segala doa akan dipanjatkan bagi yang telah berpulang. Menuntaskan rindu yang tak pernah tuntas, mengenang yang mampu dikenang, mengulang doa yang selalu berulang.

#NulisRandom2015
#Day15

Fiksi adalah Latihan, Latihan dan Latihan

Dalam beberapa minggu ini saya harus fokus pada beberapa hal dan hasilnya menyenangkan. Namun sayangnya, kreatifitas menulis cerpen dan novel sedikit terhambat. Beberapa kali mencoba untuk "nyambi" menulis di sela-sela kesibukan. Ealahh..ternyata ide gak bisa keluar. Dialog yang saya susun terasa kaku dan dipaksakan. Saya jadi makin mengerti, mengapa menulis fiksi disebut sebagai proses kreatif.

                                                                                                        ***   *** ***

Paragraf di atas saya comot dari status seorang teman yang saya yakin adalah seorang penulis fiksi handal, mampu mendeskripsikan kisah fiksi dari benaknya yang seolah hadir nyata. Kisah-kisah yang disampaikannya kerap membuat saya dan teman-teman penyimak lain kerap cengar-cengir bahkan tertawa terbahak-bahak. Tak jarang kami sering menggelar tikar bersama demi menyimak kisah-kisah fiksinya, tentu semua kami lakukan bersama dalam jagad virtual. "Nggelar Kloso" demikian kami kerap memberi komen untuk ritual menyimak bersama itu dan tentu dengan disertai foto selembar tikar yang tergelar para penyimak.

Lebih lanjut, teman saya itu berkata bahwa menulis fiksi sangat berbeda dengan menulis artikel ilmiah populer yang tergantung pada data-data empiris dan teori yang sudah dibakukan. Tentu saja berbeda karena fiksi memang melulu megandalkan kemampuankita dalam berimajinasi. Dan, menrut hemat saya, imajinasi juga haru dibarengi logika. Fiksi harus logis, masuk akal. Bukan tidak mungkin kita bercerita tentang gajah yang bisa terbang, sebagaimana kita mendapati banyak cerita tentang kuda bersayap yang juga bisa terbang. Di sinilah penulis fiksi menghadapi tantangan bagaimana menampilkan gajah terbang sama logisnya dengan kuda terbang.

Fiksi adalah juga melulu tentang bagaimana kita menajamkan sensitivitas segenap indera yang kita miliki. Bagaimana kita membaui aroma, mengecap rasa, meraba bentuk, mendengar suara, melihat bentuk. Semua senitivitas yang ditangkap indera kita harus diterjemahkan ke dalam kata-kata, ke dalam gaya bahasa yag mampu mewakili indera-indera kita. Kita harus mampu menyampaikan pesan kepada pembaca hingga indera-inera pembaca juga mampu merasakan apa yang kita rasakan.

Maka saya hanya bisa nyengir ketika ada yang berpendapat bahwa menulis fiksi itu gampang! Maka saya masih perlu belajar banyak....Latihan, latihan dan latihan, begitu saran teman saya yang lain. Untuk apa latihan terus menerus? Tak lain untuk melemaskan bahasa tulis, gaya bahasa yang kita gunakan akan mempengaruhi hasil akhir fiksi yag kita tulis, sehingga kita mampu menyampaikan pesan kita ke pembaca.

Jadi, saya masih harus banyak latihan, latihan dan latihan.

#NulisRandom2015
#Day12

Rumahku, Istanaku

Seorang teman mengunggah foto rumahnya dalam akun media sosialnya dengan disertai sebuah tagline: Rumahku, Istanaku.  Foto itu berisi sebuah rumah mngil di perumahan yang nampaknya cukup sederhana,  yang dibangun secara massif oleh sebuah badan usaha milik pemerintah khusus dalam bidang perumahan. Teman saya itu, dengan lugunya menyertakan batang-batang bambu di halaman rumahnya, lengkap dengan jemuran-jemuran yang menghiasi muka rumah tersebut. 

Ahasil, posting yang sesungguhnya sederhana itu ramai oleh berbagai komen rekan-rekannya.
"Haaa....Ramayana dah buka" celetuk komentator pertama seorang perempuan berambut panjang dengan kacamata bertengger di wajahnya
"BIG SALE" Seorang perempuan berhijab ungu dengan kacamata hitam dan nampaknya alumni sebuah perguran tinggi populer di ibukota, turut megomentari, dan menimpali kembali degan gaya bahasa seperti seorag pedagang kaki lima menawarkan barang dagangan "dipeleh..dipeleh...dipeleh..."
Seorang lelaki berkaus garis-garis tak mau kalah, berceloteh "Pasar apa mall?"
Atau lelaki lain dengan profile picture tengah asyik merokok  turut nimbrung "Cuci gudang nich..he he he"

Begitulah sebuah rumah, terasa seperti istana meski berbagai jemuran menghiasi rumah kita serupa bendera-bendera yang meramaikan sebuah karnaval. Sesederhana apapun, semungil apapun rumah yang kita diami, akan terasa bak sebuah istana jika kita merasa nyaman  di dalamnya.

Sebuah rumah adalah sebuah istana, terutama jika kita memilikinya denga segala daya usaha. Sebuah rumah juga bisa kita rasakan bak istana meski kita hanya mengontrak. Rasa kepemilikan bak istana itu  kita rasakan meski setiap bulan rasa itu harus diperpanjang dengan menyetor uang sewa, jadi rasa itu tergantung bagaimana rutinitas kelancaran uang sewanya. Tak apa, jika kita baru mampu sebatas menyewa, selama kita nyaman maka rumah sewa itu adalah istana kita untuk sebulan ke depan.

Rumahku istanaku.....sangat terasa betul ketika kita mengalami sebuah diare berkepanjangan. Ini sebuah bencana yang membutuhkan kenyamanan sebuah rumah. Bayangkan jika kita buang hajat secara terus menerus di toilet umum berbayar. Katakanlah, kita harus lima kali bolak-balik ke toilet tersebut, coba dikalikan seribu rupiah maka uang sebesar lima ribu rupiah harus kita relakan untuk memenuhi hasrat buang air yang menyiksa itu. Belum lagi, gerutuan kesal para pengantri yang turut membutuhkan layanan toilet tersebut.

Bayangkan jika diare yang kita alami itu berlangsung di rumah kita sendiri, alangkah bebasnya perasaan kita, bebas bolak-balik toilet, bebas membayar, bebas mengantri, bebas dari rasa malu. Meski mungkin, bau pesing dan bau-bau lain tak berbeda dengan yang tercium di toilet umum berbayar. Toh.. rasa nyaman buang hajat di toilet rumah kita tak akan mungkin bisa tersaingi oleh toilet umum berbayar manapun. Kalian percaya bukan?

Maka begitulah sebuah rumah jika dimaknai sebagai sebuah istana, itulah tempat di mana kita merasa nyaman saat diare menyerang kita tanpa permisi.

#NulisRandom2015
#Day11

Yogya Hari Ini: Berimajinasilah!

Yogya hari ini adalah pesta siang malam pasukan crane dan traktor yang  tak henti menyusun kubikal-kubikal beton, yang nampaknya sama mudahnya seperti anak-anak menyusun kotak-kotak korek api  hingga menjulang. Sebegitu tingginya hingga cahaya matahari kelak tak mampu menerobos gubuk-gubuk tersisa. Sebegitu tingginya hingga kelak, kau hanya bisa memandang keindanhan merapi hanya lewat baliho-baliho yang tak kalah menjulang.


"Hahh...apa asyiknya menyaksikan keindahan gunug lewat sebuah baliho?" Ah...kau ini sungguh tidak  kreatif, gunakan imajinasimu....sekali lagi imajinasi! Kau harus tahu, hidup tanpa imajinasi itu sungguh menyedihkan. Begini..tentang Merapi yang tak dapat kau nikmati lewat imajinasimu itu: Bukankah kau juga memandang Merapi hanya dari kejauhan? Bukankah kau nyaris tak pernah menyentuhnya secara langsung? Nah....apa bedanya antara memandangnya dari kejauhan dengan memandangnya lewat sebuah baliho? Bukankah kau akan mendapatkan pemandangan yang sama indahnya? Imajinasi, teman...sekali lagi imajinasi.

Begitulah cara kami bertahan di Yogya. Berimajinasilah, teman!

#NulisRandom2015
#Day9 

Balada Rocker Gondrong

Aku tahu pada siapa kau tergila-gila.....pada lelaki rocker itu bukan? Yang rambut gondrongnya masih belum dipangkasnya sejak ia masih muda belia, rocker yang hingga menjelang usia setengah abadnya masih energik dan memikat banyak perempuan dan grupies-grupies di sekelilingnya.  

Begini ya......kuceritakan padamu kisah lamaku. Dulupun aku tergila-gila pada rocker gaek itu. Dulu sekali...saat usiakupun masih belasan tahun dan ia belum setua sekarang. Mungkin kau benar-benar tak tahu dulu aku adalah anggota sebuah grupies bagi band rock si tua itu. Meski saat itu aku hanya ikut-ikutan saja, namun harus kuakui aku sangat membanggakan diriku yang memiliki kesempatan langka masuk dalam grupies itu.

Hingga suatu hari, saat grup rock dan si tua itu singgah di kotaku, aku dan grupiesku segera memburu rocker pujaan kami. Kami mengnvestigasi kemungkinan-kemungkinan di mana rocker pujaan kami itu menginap. Pada suatu malam sehari sebelum pementasan besar mereka, kami menyogok manajer pertunjukan  mereka untuk menghamburkan diri ke kamar-kamar  tempat seluruh anggota band menginap.

Kau tahu, satu persatu anggota grupiesku mengasingkan diri dengan masing-masing anggota band rock itu, termasuk aku. Kau tentu tak menyangka dengan siapa aku mengisolasi diri? Siapa sangka  rocker pujaan kami ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama padaku, yang anak bawang di grupies ini, ya setidaknya begitulah menurut pengakuan rocker itu.

Lelaki rocker itu nampaknya memang tergila-gila padaku, ia memandangku tak putus-putus dan seperti seekor serigala lapar yang telah berpuasa tak makan dan tak minum selama berbulan-bulan. Ia membelai rambutku dengan mesra dan entah kenapa matanya menjadi terlihat sayu merayu.

Aku tak kalah mesra, balas membelai rambut gondrongnya yang memepesona itu. AKu tak mempedulikan bau tengik rambutnya yang nampaknya jarang dikeramas itu. Saat itu, bau tengik yang menusuk-nusuk hidung itu merupakan bagian dari segala pesona kebintangannya. Apalah arti secuil bau tengik itu jika dibandingkan hatiku yang bunggah, dapat bertemu rocker yang digila-gilai jutaan fansnya.

Hingga suatu ketika......sesuatu membuatku terperangah.....sesuatu yang berwarna hitam..kecil dan nampak merayap-rayap....di antara sulur-sulur rambutnya.....nampaknya tak hanya satu ada dua...tiga..empat..lima...enam..tujuh...delapan,,sembilan,,sepuluh......dua puluh..tiga puluh.....

Astaga, aku tak mampu menghitungnya.......puluhan serangga kecil merayap-rayap di seluruh batang rambutnya menyambut belaian tanganku dengan keriangan yang aneh. Astaga....laki-laki rocker pujaanku ini membiakan puluhan kutu rambut di kepalanya. Seketika bulu romaku berdiri....merinding  dan bergidik.

Aku segera melepaskan diri dari pelukan lelaki rocker itu, menerobos pintu keluar dan berlari sekencang-kencangnya.

Jadi, bukan aku tak menyukai rocker pujaanmu itu, aku hanya agak mual membayangkan kutu-kutu di kepalanya yang memenuhi sulur-sulur rambutnya yang telah memutih itu.

Kau tidak bisa membayangkan  betapa serangga-serangga penghisap darah itu memenuhi segala penjuru kepalanya, bukan?

#NulisRandom2015
#Day8 

Bersin-Bersin dan Segelas Teh Panas

"Hatsyi...!!! Hatsyi...!!!"

Kepalaku  terangguk-angguk hebat dan mengeluarkn suara keras,

"Hatsyii...!!.....Hatsyii...!!"Alih-alih menyeruput teh dalam gelas di hadapanku, aku malah meniupnya tak sabar. Bapak tua pemilik kedai nampaknya tak cukup cermat mengamati pesananku. Aku memesan teh hangat dan ia menerjemahkannya dengan menuangkan air mendidih ke dalam gelas berisi daun teh kering yang lengkap dengan batang-batang tua di dalamnya.

Sesungguhnya keinginanku sederhana saja, aku ingin menyeruput segelas teh hangat untuk meredakan bersin-bersin yang menyerang hidungku pagi ini. Minggu pagi, usai  berolahraga yang hanya bisa kulakukan seminggu sekali ini, tiba-tiba aku diserang bersin-bersin tak berkesudahan. Serangan ini cukup mengganggu dan segera saja aku menghampiri kedai kecil itu untuk memesan segelas teh hangat. Butuh waktu cukup lama bagi rongga mulutku untuk menerima kehangatan dari seduhan teh itu. "Hatsyii...!!...Hatsyii...!!!" Sementara menunggu panasnya reda di dalam gelas besar itu, aku mengedarkan pandangan ke sekililingku. Kedai Bapak tua ini bukan satu-satunya kedai makanan di sini. Kedai ini bersama sekitar delapan kedai lainnya berada dalam satu naungan sebuah pendopo besar terbuka berukuran 10 meter persegi. Hampir seluruh kedai di sini menyajikan jajan pasar dan hidangan sarapan tradisional Jawa, serta tentu saja minuman  teh dan kopi dalam dua pilhan panas dan dingin. Minuman hangat, seperti yang kupesan, nampak masuk dalam kategori minuman panas yang secara harfiah bersuhu hampir mendekati suhu air mendidih. Ramuan yang kuanggap mampu meredakan bersin di hidungku, setidaknya dalam beberapa jam ke depan.

Perubahan suhu dalam gelas di hadapanku ini membutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa kunikmati untuk menghangatkan dinding rongga hidung bagian bawahku yang terhubung dengan rongga mulut.  Serangan bersinku mereda, gatal-gatal di rongga hidungku berkurang.

#NulisRandom2015
#Day10

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...