Selasa, 17 Februari 2015

Gembok Cinta dan Harapan Kosong


Saya berharap bangunan gembok cinta di Titik Nol Malioboro  ini tetap kosong, tak menarik perhatian pasangan muda yang tengah menjalin percintaan.
Apa yang kita harapkan dari sebuah gembok dengan tulisan nama kita yang terpasang di monumoen ini? Berharap cinta kita abadi sepanjang masa? Tak tergoyahkan oleh segala badai yang menerjang?
Inilah mitos yang sengaja dibangun dengan memanfaatkan romantika percintaan sepasang kekasih. Bukankah jalinan kasih sayang seyogyanya dipupuk dan dibina berdasarkan niatan dari kedua belah pihak? Semua butuh perjuangan, buka semata-mata menggantungkan nasib pada sebuah benda mati bernama gembok.
Kalau kita googling perihal gembok cinta, maka akan bermunculan bermacam foto berisi monumen dari berbagai negara yang dipadati aneka gembok. Entah sudah beraja juta pasangan kekasih yang menggantungkan harapan pada monumen-monumen gembok cinta.
Sebuah pagar jembatan gembok cinta di Paris bahkan roboh karena beban yang melebihi kapasitasnya. Kalau sudah begini, apakah doa cinta para pasangan itu akan roboh juga, menyusul nasib pagar jembatan itu?

Selasa, 10 Februari 2015

Cinta Kecil: Halaman Kosong dan Interaksi Pembaca




Sebuah buku berisi kumpulan puisi telah di tangan saya, bukan diantar tetapi saya menjemputnya dengan sengaja. Puisi-puisi ini terangkum dalam sebuah judul yang manis: Cinta kecil.
Saya tak hendak berbicara soal isi dan makna puisi-puisi di dalamnya. Ada hal menarik ketika saya berbincang dengan sang penulis Sakyahara. Ia menceritakan perihal halaman-halaman kosong di antara puisi-puisi yang tercetak dalam bukunya. Ia berharap saat bukunya telah sampai di tangan pembacanya, maka benda itu sepenuhnya milik sang pembaca. Pembacanya berhak mengisi halaman-halaman kosong itu dengan puisi atau tulisan versi mereka.

Konsep halaman kosong pada buku "Cinta Kecil" Sakyahara ini mengingatkan saya pada konsep yang sama yang diusung perupa Dunadi. Dunadi menciptakan 3 patung gajah dari bahan resin yang dic
at putih, dipajang di kawasan Titik Nol, Malioboro.
Saya pertama kali melihatnya saat melintas jalan Malioboro di Hari Raya Idul Adha tahun 2014 lalu. Waktu itu patungnya masih dibungkus dan nampaknya bercat dasar putih.

Beberapa minggu berselang, saya mendapati patung baru itu telah habis di cat sana-sini...digambari begitu rupa dengan tema "Sepak Bola Gajah". Saat itu memang tengah ramai kasus Sepak Bola Gajah antara PSS Sleman dan Persis Solo. Saya sempat misuh-misuh dalam hati, mengutuki si pembuat grafiti yang telah tega mencoret-coret patung baru itu. 

Beberapa bulan berlalu, Di minggu ketiga Januari 2015, saya membawa anak-anak mengunjungi kawasan Titik Nol di minggu pagi. Area Car Free Day ini memang saya incar untuk mengabadikan banyak instalasi seni di sana. Salah satunya tentu saja Patung Gajah itu.


Tak dinyana, saya menemukan sebuah catatan kecil perihal kenapa ada grafiti di sekujur patung tersebut. Rupanya, grafiti yag menghiasi tubuh putih gajah-gajah itu memang disengaja dan diperuntukkan bagi para pengunjung. 

Judul instalasi seni ini adalah "Bertautan", semula saya mengira berhubungan dengan ekor dan belalai gajah-gajah ynag saling bertautan itu. Ternyata oh ternyata...."Tautan" yang dimaksud adalah interaksi antara si perupa dengan pengunjung. Tautannya adalah: Si perupa menciptakan instalasi tiga dimensi patung gajah ini dan sengaja di cat putih agar pengunjung bisa bebas mencoret-coret patung tersebut dalam bentuk dua dimensi...ya..itu...grafiti tadi. Inilah tautan yang dimaksud: Interaksi antar karya perupa yag berbentuk 3 dimensi dengan penikmatnya yang berbentuk 2 dimensi.

Dunadi, sebagimana Sakyahara Novel, menyadari betul bahwa sebuah karya bukanlah mutlak hak ekslusif mereka, manakala karya tersebut telah sampai di tangan penikmatnya. Maka, ada hak publik untuk berinteraksi dalam karya yang telah sampai di tangan mereka.

Rabu, 28 Januari 2015

Setangkup Tempe yang "Hijau"

Pagi ini membeli sepuluh potong tempe yang dibungkus satu-satu dengan daun pisang. Di luar dugaan, mbah pedagang tempe menawarkan apakah tempe yang saya beli mau dibuka satu persatu agar saya tak repot membukanya di rumah. Saya langsung menyetujuinya. Maka kesepuluh tempe langsung ditelanjangi dan disatukan dalam sebuah "mangkuk" besar yang terbuat dari daun pisang, sisa bungkus salah satu tempe.
Hmmm...lumayan juga pikir saya. Saya tak perlu repot mengupasi satu persatu tempe bungkus ini dan mengurangi tumpukan sampah di dapur. Maklum saja, meski cuma berjumlah 10 buah, bungkus tempe-tempe ini cukup menghebohkan untuk ukuran dapur saya yang mungil
Di sisi lain, mbah Penjual Tempe juga bisa menggunakan kembali bungkus tempe tersebut. Re-use, itu istilah yag sering kita ucapkan kalau sedang ngobrol tentang Daur ulang sampah.




Sebenarnya....dalam hati....saya malu juga kepada mbah Penjual Tempe ini. Saya yang sering terlibat diskusi soal lingkungan hidup ternyata masih sering berlaku kurang "hijau" dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan si mbah Penjual Tempe, dia menjalankan prinsip re-use dalam diam.


Jadi deh, diam-diam dan secara sepihak saya menetapkan si mbah sebagai langganan tempe bungkus saya 
smile emoticon
Merdeka!

Tiket Museum yang Mahal

Saya baru saja membaca komen seorang teman yang mengeluhkan harga tiket Mueum Affandi yang menurutnya mahal. Masih saja ada yang menganggap tiket museum itu mahal.
Simak harga tiket Museum Affandi di bawah ini, yang kebetulan merupakan milik pribadi, bukan milik negara.
Tiket Masuk Museum Affandi:
Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan negara asal.
Tiket untuk turis mancanegara Rp.50.000,-
Tiket domestik dewasa Rp.20.000,-
Untuk tiket dewasa bisa ditukar dengan softdrink gratis
Tiket untuk anak di atas 8 tahun Rp.10.000,-
Sedangkan anak-anak hingga usia 8 tahun bebas bayar.
Yang harus dipahami ketika mengunjungi museum mungkin bukan cuma lihat-lihat koleksi museum, selfie-selfie lalu selesai.
Museum bukan sekedar objek wisata, ini adalah tempat yang harus berkedudukan sebagai subjek. Inilah tempat kita bercermin perihal perjalanan panjang sejarah manusia. Tempat kita mencari tahu apa yang terjadi di masa lampau, kaitannya dengan masa kini dan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Harga tiket masuk sebuah museum mencerminkan sistem yang berjalan di dalamnya. Hal-hal yang menyangkut berdirinya, koleksi-koleksi, pemeliharaan, jaringan-jaringan kerja yang melingkupinya.



Kita memang terbiasa tidak menghargai tempat bernama museum hingga harga senilai 20ribu rupiah diaggap mahal dan tidak layak untuk sebuah museum.

Notting Hill dan Fragmen-Fragmen yang Menyertainya

Menonton ulang film komedi romantisnya Julia Roberts dan Hugh Grant......dan membincangkannya dengan suami.
Ini jenis film perpaduan komedi Inggris yang ekspresif namun dikemas ala Hollywood. Film ini berkisah lika-liku cinta Anna Scotts, seorang aktris kondang Hollywood dengan William Thackher seorang pemilik kedai buku travelling di kawasan Notting Hill Kota London. Perbedaan keduanya yang bagai bumi dan langit tak menyurutkan hati keduanya meski begitu banyak lika-liku.....Pasang surut hati yang berakhir happy ending khas Hollywood ini dihiasi banyak fragmen-fragmen kecil.



Banyak fragmen yang disisipkan dalam film ini tanpa menggangu jalannya kisah utama film ini. Lihatlah bagaimana Thackher menghadapi ancaman kebangkrutan karena hanya menjual buku-buku bertema khusus "travelling" bukan novel yang bakal laris terjual. Ada juga fragmen soal teman satu rumahnya yang aneh bin ajaib dengan penampilan seperti psikopat....dan ternyata tanpa diduga, temannya tersebut berjodoh dengan adiknya. Kisah lain soal mantan Thackher yang menikah dengan sahabatnya sendiri dan mengalami cedera tulang punggung hingga harus hidup di atas kursi roda.


Lain lagi dengan fragmen di sekeliling Anna Scotts yang ternyata pernah menjalani operasi pada hidung dan dagu untuk alasan estetika, pacar yang ternyata tak membuatnya nyaman. Semua kisah-kisah itu adalah penguat kisah cinta kedua bintang utama.
Hal menarik lain adalah pengisolasian kedua tokoh utama dari tokoh-tokoh pendukung lainnya. Wajah rupawan Anna Scotts dan William Thackher hadir di layar kaca sebagaimana besutan film-film Hollywood lain. Ada jarak antara penonton dengan kedua tokoh utama (Julia Roberts dan Hugh Grant) yang sengaja diciptakan, bahwa mereka hanyalah sebuah kisah dalam film.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi pemeran pendukung lain, terutama teman-teman dekat William Thackher. Hampir semua teman dekat William Thackher adalah kita ......orang-orang yang tak sempurna, mulai dari penampilan fisik, mimik, perjalanan hidup...semua sangat natural, semuanya terlihat seperti loser. Tak beda dengan kita kebanyakan yang tidak cantik, tidak ganteng, pecundang, pengangguran dan lain sebagainya.
Berbeda sekali dengan Anna Scotts, ya...kalau nonton Julia Roberts kira-kira seperti itulah....dia bukan bagian dari kita...dia itu bintang.... Juga karakter William Thackher, apa bedanya dengan Hugh Grant sang aktor British yang gantengnya bikin cewek klepek-klepek?
Hal lain yang membuat film ini istimewa adalah Notting Hill. Ini adalah sebuah ruas jalan di Kota London yang sama sekali tidak disetting untuk film ini. Justru film ini menyesuaikan diri dengan kawasan Notting Hill itu sendiri. Pasar kaget Portobello di ruas jalan ini memang begitu adanya. Rumah berpintu biru memang benar-benar ada, dan kebetulan pemiliknya adalah penulis cerita film ini.

Minggu, 25 Januari 2015

COFFE CUPPING DI WIKI KOPI


Temans, seberapa sering kamu mengkonsumsi kopi dalam sehari? Apa jenis kopi yang kamu konsumsi?
Kalau saya...hmmm masih berkutat pada jenis kopi sachet sih...hi..hi..hi... kadang jenis kopi instant yang ada krimnya....kadang juga menyeduh kopi tubruk.....biasa deh...yang merk generik cap Kapal Laut itu he..he...he...
Mengkonsumsi kopi yang beneran segar dari biji kopi yang digiling langsung cuma sesekali saja.....itu juga kalau ada kesempatan menyambangi kafe-kafe pas gelaran hang out alias kopdar he..he..he... (cekikikan lagi)
Nah, siang tadi tanpa sengaja saya berkesempatan mencicipi kopi espreso plus-plus....eits, jangan disamakan dengan pijit plus-plus yaa sodara-sodara. Sajian kopi espresso yang saya maksud di sini tentu saja dengan segala kesempatan langka yang jarang-jarang kita dapatkan: Coffe Cupping.
Apaan tuh Coffe Cupping? Bagi yang belum tahu dan awam (seperti saya ini..ehmm!), Coffe Cupping merupakan ajang icip-icip kopi murni, alias espresso. Icip-icipnya tentu bukan cuma satu lho...ada beberapa jenis kopi ang bisa kita coba dan bandingan rasa dan aromanya satu sama lain.

Biji-biji kopi dalam toples yang disertai keterangan label.
Label berisi nama jenis/asal kopi, proses pengeringan tanggal pembelian.
Penantuman tanggal juga penting ntuk mengetahu kadar kesegaran biji kopi.

Secara umum jenis kopi ada 2: Arabica dan Robusta
.
Mesin manual espresso menghasilkan sajian kopi yang minim kafein.
Sajian pertama terdii dari dua jenis kopi dengan perlakuan beda saat proses penjemuran.
Timer digunakan untuk menentukan kapan waktu yang pas untuk cupping. 

Cupping mengunakansendok lalu di sedot seara cepat oleh rongga mulut kita.
Penghisapan secara cepat berguna membuka pori-pori indra pengecap agar dimensi rasa lebih dapat kita tangkap.



Buih-buih di permukaan adalah krema yang mengandung minyak atsiri dari biji kopi.
Untuk proses cupping, krema disingkirkan agar aroma dan rasa yang sebenarnya bisa kita dapatkan.

Brewing menggunakan V60

Tahu nggak temans, kopi yang saya icip-icip ini diproses langsung dari bijinya, digiling, lalu dipress menggunakan mesin espresso manual.....langsung oleh mas-mas brewer muda yang tekun dan menghayati sekali ritual ini....

Setelah puas cupping dengan aneka kopi berkualitas baik.....terakhir, sebagai perbandingan saya disuguhi kopi cap Kapal Laut yang biasa kita seduh..... Rasanya....ternyata beda sekali.... kopi generik yang biasa saya minum itu jadinya terasa hambar di lidah. Kok bisa begini?....
Begitulah kopi, segala dimensi aroma dan rasa ternyata sangat dipengaruhi oleh proses yang menyertainya sejak hulu hingga hilir: kondisi geografis tanah, jenis bibit, kematangan biji, cara pengeringan biji kopi, pemanggangan, cara penggilingan hingga suhu air saat proses brewing......Hmmmm.... Cobain sendiri deh....
O,ya Wiki Kopi ini sebenarnya semacam komunitas tempat kita belajar mengenal kopi. Bagi teman-teman yang serius ada program residensi selama 3 bulan full belajar all about kopi.
Dari obrolan dengan mas Tauhid Aminulloh, saya jadi tahu bagaimana peta kondisi perkebunan kopi di Indonesia, nasib petani kopi yang tak senikmat aromanya, konsumsi kopi orang Indonesia pertahun, jalur perdagangan kopi-kopi terbaik, industri kopi kemasan dan tentu saja yang paling menarik adalah: Cerita beliau mengunjungi petani kopi di Papua dan mengenalkan kepada mereka bagaimana rasa asli kopi yang mereka tanam. Sssttt.....banyak petani kopi kita yang mengkonsumbi kopi kemasan lho...bukan kopi hasil kebun mereka....Ironis'kan?

Sabtu, 27 Desember 2014

Kalau Kepepet, Apa Boleh Buat


Berwisata di ALun-ALun Utara memang menyenangkan sekali, mulai dari ruang terbuka yang luas, pedagang makanan yang ramah, deretan pohon beringin di sisi jalan, bahkan arena Sekaten yang digelar setiap tahun menambah daya tarik kawasan ini.
Namun, semuanya buyar ketika secara tiba-tiba tubuh kita diserang sindrom pipis mendadak atau yang lebih parah harus BAB. Kawasan wisata yang tersohor ini tidak dilengkapi dengan fasilitas toilet yang memadai.
Minggu pagi, saya sering membawa anak-anak nongkrong-nongkrong di sisi barat ALun-ALun Utara untuk menikmati susu segar, wafel cokelat keju, roti goreng atau jajanan lain. Tak jarang, mereka mendadak ingin buang air kecil dan lokasi toilet terdekat adalah di sudut pertigaan jalan Pekapalan dan Jl. Ibu Ruswo, tepat di seberang outlet Dagadu. Di sini ada sebuah toilet yang tampaknya sudah cukup tua. Toilet ini terbuat dari lempeng besi dan berdiri di atas roda dan tiang. Pada beberapa bagian toilet ini serangan karat nampak mengerogoti dengan ganas. Nampaknya, toilet ini dulu merupakan mobile toilet yang digunakan berkeliling sebagai sarana pendudukung kegiatan outdoor.
Meski terlihat mengerikan, apa boleh buat, terpaksa kami menumpang buang hajat di toilet tersebut. Meski merasa agak was-was, saya tetap bersyukur dengan keberadaan toilet tersebut.



Kadang saya bertanya-tanya sendiri, sampai berapa lama ya.... toilet itu bertahan di sana? Atau, kapan ya.... toilet ini direvitalisasi, diganti dengan bangunan yang lebih baru dan permanen sehingga kami bisa memanfaatkanya tanpa perasaan deg-degan?

Selasa, 09 Desember 2014

Pasar-Pasar Kota Yogya dan Kamis Pahingan

Berbelanjalah dengan hati senang dan dapatkan nuansa yang berbeda di setiap Kamis Pahing di Pasar-Pasar Kota Yogya.




Kemarin, sesuatu yang berbeda hadir di pasar-pasar Kota Yogya. Para pedagang di seantero Pasar Kota ini mengenakan busaa tradisional, kebaya,jarik, lurik, blangkon. Semuanya terlihat cantik dan bagus dengan sunggingan senyum sumringah di wajah mereka.
Hari Kamis Pahing, sebagaimana para siswa sekolah, ada anjuran mengenakan busana tradisional. Maka pagi tadi, saya malah gagal berbelanja...gantinya, saya menjadi sibuk memotret mereka.
Hari Kamis Pahing dipilih berdasarkan weton pasaran lahirnya Keraton Yogyakarta sejak dipindah dari Pesanggarahan Ambar Ketawang. Sedangkan himbauan penggunaan pakaian tradisional ditujukan untuk mendukung penggunaan pakaian tradisional sebagai pakaian sehari-hari



Menjelajahi pasar di pagi ini, rasanya seperti memasuki lokasi syutng sinetron bersetting cerita kolosal, semacam Saur Sepuh gitu deh... ha...ha...ha...
Tercatat tiga pasar yag saya jelajahi: Pasar Legi, Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo....Niat banget'kan..he..he..he..















Pagi ini, para pedagang benar-benar menjelma menjadi para juragan

Jeruk Nipis

Saya tidak tahu pasti sejak kapan saya jatuh cinta pada Jeruk Nipis. Saya menyukainya sejak lama, berbelas tahun saya menikmatinya lewat tegukan-tegukan segar es teh manis yang kerap saya bubuhi perasan irisan Jeruk Nipis. Yang jelas, akarnya bermula dari kesukaan buah masa kecil saya, Jeruk. Ya, sejak kecil saya suka buah satu ini. Bahkan saya mengkonsumsi Jeruk beserta ampasnya, padahal untuk anak kecil ampas Jeruk tergolong pahit.
Jeruk Nipis, buah yang juga menjadi bagian dari bumbu dapur ini hampir selalu menjadi perhatian saya kala berbelanja di pasar tradisional. Mata saya kerap menjelajahi keranjang-keranjang pedagang yang berisi Jeruk Nipis. Saya mencari-cari butiran yang berukuran besar dan berwarna kekuningan, pertanda buah yang matang dan sarat cairan asam di dalamnya.
Sering kali, saat menyinggahi kedai-kedai soto, saya mencuri-curi kesempatan menekuk seiris Jeruk Nipis di atas gelas es teh manis. Hasilnya, segelas es lemon tea berhasil menemani santap soto saya.
Di dapur, saya melumuri daging ayam dan ikan yang hendak dimasak. Perpaduan asinnya garam dan asamnya perasan Jeruk Nipis membantu mengurangi lendir, bau amis pada daging ayam dan ikan yang hendak diolah. Pada ikan yang hendak digoreng, lumuran garam dan air Jeruk Nipis sudah merupakana bumbu yang cukup praktis. Air Jeruk Nipis menggantikan peran Asam Jawa yang terkadang membuat noda gosong pada ikan goreng.
Tak hanya berfungsi menghilangkan anyir pada ikan, Jeruk Nipis juga bisa mneghilangkan bau langu pada Pepaya dan Wortel. Seringkali saya menghadirkan jus Wortel yang diberi perasan air Jeruk Nipis, hasilnya jus Wortel saya tanda tak bersisa. Sementara pada buah Pepaya, saya menghidangkan dalan bentuk potongan-potongan kecil sekali makan yang ditaburi gula pasir dan perasan air Jeruk Nipis. Dan, tentu saja hasilnya juga habis dilahap anak-anak 
Lain waktu, saya menikmati Infused Water dengan perpaduan irisan Mentiun dan sedikit perasan air Jeruk Nipis. Rasanya? Segaaarrrr sekali........
Semalam saya menemukan resep baru: selai olesan roti dari wortel dan jeruk nipis. Hmm...nampaknya patut dicoba nih... 



Jumat, 05 Desember 2014

Menikmati Jeruk Peras di Sepanjang Tahun

Buah Jeruk hadir di hampir sepanjang tahun, seperti tak mengenal musim. Saya sering menghidangkannya dalam bentuk jus, hasil perasan buah Jeruk Peras yang saya beli di pasar tradisional dekat rumah. Perpaduan rasa dan aroma asam segar dengan manisnya sedikit gula sangat disukai anak-anak.
Saat udara panas, saya menghidangkan dengan sedikit campuran air dingin. Namun, saat cuaca sedang dingin seperti musim hujan ini, saya menhidangkan dalam keadaan hangat.

Milona dan Kopdar-Kopdar yang Menyertainya

Ona, demikia ia kerap disapa. Saya mengenalnya lewat foto-foto lini masa grup alumni Gajah Mada. Hingga suatu masa, di akhir 2012 saya berkesempatan berkenalan secara langsung dalam sebuah jumpa darat di Legend Cafe, Kotabaru.
Sebelumnya, saya sempat penasaran setengah mati dengan Ona. Bagaimana tidak, ia hadir di banyak acara kopdar dengan lokasi berbeda, kota yang berbeda bahkan terkadang beda provinsi dan beda pulau. Eksistensinya di jagad pertemanan alumni sungguh tak terbantahkan. Di mana ada kopdar maka di situ ada Ona. Hingga sebuah mahkota sempat dianugerahkan kepadanya: Ratu Kopdar.
Saya kurang tahu pasti siapa yang menyematkan gelar bergengsi itu kepadanya. Lain waktu, muncul pula sebuah idiom "Kopdar Tanpa Ona bagai Sayur tanpa Garam". Ini sebuah gejala ketergatungan akut akan kehadirannya dalam gelaran kopdar-kopdar di kalangan warga kampung.
Bagi yang pernah bertemu dengannya, pasti tahu pasti bagaimana perawakannya. Ia bertubuh mungil (bukan muka ngiler ya.....! Mohon dicermati). Namun penampakan tubuh kecilnya itu sepertinya mengecoh banyak orang. Banyak yang tidak tahu bahwa ia penggemar kuliner yang parah. Bahkan ada pula yang menjulukinya : Body Sedan Muatan Tronton.
Namun demikian, jangan meragukan kesetiaannya sebagai seorang teman. Suatu hari saya pernah hampir mati kelaparan, sungguh-sungguh kelaparan dalam sebuah perjalanan antar kabupaten. Saya baru saja menjalankan tugas dalam persiapan sebuah perhelatan kesenian. Demi menemui anak-anak di rumah, saya memaksakan diri pulang dalam keadaan tak memiliki uang dan bensin pas-pasan di jalan. Lokasi terdekat saya adalah kediaman kost Ona. Maka saya nekad menemuinya, menceritakan nasib apes itu. Ia meminjamkan saya uang untuk bekal perjalanan kembali ke rumah. Tak lupa ia mentraktir saya makan siang, hingga perut saya kenang tak terkira dan saya selamat dari kemungkinan mati kelaparan hari itu. Rupanya Ona tahu, saya kelaparan hari itu.
Belum sempat saya ganti mentraktirnya, ia sudah mentraktir saya lagi dalam kesempatan ulang tahunnya yang bersamaan dengan waktu kegiatan Idul Kurban grup Kampung.
Sebagai teman yang baik, saya mendoakannya lekas merampungkan tugas belajarnya. Namun itu adalah suatu dilema, jika ia lulus maka kemungkinan besar ia akan pulang kampung. Artinya, kopdar-kopdar akan terasa sunyi tanpa kehadirannya.
Dan saya juga mendoakannya lekas melepaskan status jomblonya itu, tentu saja dengan kekasih hati yang se-asoy dirinya. Saya sih yakin seyakin-yakinnya Ona adalah seorang jomblo yang baik hati, peramah dan sopan. Ia adalah seorang Single Happy.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...