Sebuah buku berisi kumpulan puisi telah di tangan saya, bukan diantar tetapi saya menjemputnya dengan sengaja. Puisi-puisi ini terangkum dalam sebuah judul yang manis: Cinta kecil.
Saya tak hendak berbicara soal isi dan makna puisi-puisi di dalamnya. Ada hal menarik ketika saya berbincang dengan sang penulis Sakyahara. Ia menceritakan perihal halaman-halaman kosong di antara puisi-puisi yang tercetak dalam bukunya. Ia berharap saat bukunya telah sampai di tangan pembacanya, maka benda itu sepenuhnya milik sang pembaca. Pembacanya berhak mengisi halaman-halaman kosong itu dengan puisi atau tulisan versi mereka.
Konsep halaman kosong pada buku "Cinta Kecil" Sakyahara ini mengingatkan saya pada konsep yang sama yang diusung perupa Dunadi. Dunadi menciptakan 3 patung gajah dari bahan resin yang dicat putih, dipajang di kawasan Titik Nol, Malioboro.
Saya pertama kali melihatnya saat melintas jalan Malioboro di Hari Raya Idul Adha tahun 2014 lalu. Waktu itu patungnya masih dibungkus dan nampaknya bercat dasar putih.
Beberapa minggu berselang, saya mendapati patung baru itu telah habis di cat sana-sini...digambari begitu rupa dengan tema "Sepak Bola Gajah". Saat itu memang tengah ramai kasus Sepak Bola Gajah antara PSS Sleman dan Persis Solo. Saya sempat misuh-misuh dalam hati, mengutuki si pembuat grafiti yang telah tega mencoret-coret patung baru itu.
Beberapa bulan berlalu, Di minggu ketiga Januari 2015, saya membawa anak-anak mengunjungi kawasan Titik Nol di minggu pagi. Area Car Free Day ini memang saya incar untuk mengabadikan banyak instalasi seni di sana. Salah satunya tentu saja Patung Gajah itu.
Tak dinyana, saya menemukan sebuah catatan kecil perihal kenapa ada grafiti di sekujur patung tersebut. Rupanya, grafiti yag menghiasi tubuh putih gajah-gajah itu memang disengaja dan diperuntukkan bagi para pengunjung.
Judul instalasi seni ini adalah "Bertautan", semula saya mengira berhubungan dengan ekor dan belalai gajah-gajah ynag saling bertautan itu. Ternyata oh ternyata...."Tautan" yang dimaksud adalah interaksi antara si perupa dengan pengunjung. Tautannya adalah: Si perupa menciptakan instalasi tiga dimensi patung gajah ini dan sengaja di cat putih agar pengunjung bisa bebas mencoret-coret patung tersebut dalam bentuk dua dimensi...ya..itu...grafiti tadi. Inilah tautan yang dimaksud: Interaksi antar karya perupa yag berbentuk 3 dimensi dengan penikmatnya yang berbentuk 2 dimensi.
Dunadi, sebagimana Sakyahara Novel, menyadari betul bahwa sebuah karya bukanlah mutlak hak ekslusif mereka, manakala karya tersebut telah sampai di tangan penikmatnya. Maka, ada hak publik untuk berinteraksi dalam karya yang telah sampai di tangan mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar