Rabu, 11 Maret 2015

Fashion: Beda Ruang, Beda Makna

Dalam beberapa kesempatan, terkadang saya menggunakan syal sebagai aksen penunjang pakaian yang saya gunakan. Kain ringan berbentuk persegi panjang ini, cukup dikalungkan di leher dan sudah cukup menggantikan aksesoris lainnya. Biasanya tanpa menggunakan anting, gelang atau kalung saya sudah merasa outstanding jika memakai syal, scarft atau bahkan pasmina.........atau...lebih sederhana selendang smile emoticon

Saya mulai tertarik menggunakan jenis kain ringan persegi panjang ini saat melihat istri boss saya menggunakannya. Ia merupakan seorang perempuan cantik dan anggun. Ia pandai mematut diri dan rasanya pantas memakai pakaian apa saja. Saya mulai memberanikan diri mencoba beberapa tips ringan seputar aksesoris fashion semisal penggunaan bangle, kalung hingga syal.

Alhasil, beberapa kali berangkat ke kantor saya yang biasanya 'sebodo amat' dengan penampilan, mulai mencoba tips ringan tersebut. Terutama sekali saya mencoba penggunaan syal, pashmina, scaft dan stole......pokoknya semua saudaranya selendang deh....

Beberapa rekan kerja senang dengan perubahan penampilan saya.....dan hmm....sayapun merasa senang mendaat dukungan teman-teman, kemudian mulai pede dan nyaman menggunakannya.

Lain waktu, saat hendak berangkat ke kantor, saya berpapasan dengan seorang tetangga. Ia tertegun melihat saya yang memakai baju resmi namun menggantungkan syal di leher. Lalu ia bertanya "Mau pengajian di mana, Bu?"
Setengah jengkel saya menjawab "Mau melayat, pak!" 

Kamis, 05 Maret 2015

Minggu Pagi di Lapangan Mancasan

Lapangan sepakbola terbuka yang dikelilingi sebuah jogging track.
Beberapa anak dan orang dewasa tengah berolahraga lari dan jalan di intasan ini


Jadwal pengguna Lapangan Mancasan Cukup banyak kalangan masyarakat yang memanfaatkan lahan ini,
mulai dari kesebelasan tarkam hingga berbagai institusi sekolah.
Mungkin Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Kidul di seputar Keraton merupakan lapngan terbuka yang paling populer di seantero Yogyakarta. Padahal, masih ada lapangan terbuka lain yang lebih dari layak untuk ditongkrongi. Salah satunya Lapangan Mancasan ini yang terletak di Kampung Ketanggungan, Wirobrajan.
Papan nama Paguyuban Pengelola Lapangan Mancasan.
Papan nama ini berisi info alamat pengelola dan ketentuan/tata tertib penggunaan lapangan.
Sebuah kalimat berbunyi "MENCLA MENCLE" tampak jelas menutupi sebagian aturan.



Lapangan sepakbola ini berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat dan manfaatkan secara rutin oleh berbagai komunitas sepakbola dan institusi pendidikan. Karena letaknya yang tidak berada di pinggir jalan raya inilah, suasana di sini tak sepadat lapangan lain. Namun, inilah kenyaman yang bisa kita nikmati, jauh dari hiruk-pikuk pedagang dan sampah-sampah yang bertebaran sisa bungkus makanan.
apan status lahan Lapangan Mancasan.
Latar belakang adalah gedung Kantor Kelurahan Wirobrajan

Sebuah cermin fish eye akhirnya di pasang di salah persimpangan yang rawan kecelakaan.
Ruas jalan ini berupa sebuah simpang tiga dengan tikungan 90 derajat. 

Bangunan masjid cukup signifikan menutupi pandangan pengguna jalan pada ruas jalan berikutnya

Sebuah persiapan perhelatan pernikahan di sebuah pendopo
yang terletak di sisi selatan Lapangan Mancasan
 

Sebuah rumah kosong yang terbengkalai.
Halaman rumah ini biasanya digunakan pedagang sayur keliling untuk menggelar dagangannya.

Apa yang terjadi dengan bangunan yang nampaknya cukup kokoh ini? Siapa pemiliknya?



Saya membandingkan langsung lapangan ini dengan Alun-ALun Utara, karena kebetulan saya cukup sering menyambangi kedua laha ini di minggu pagi. Jika Alun-Alun Utara telah menjadi semacam "selebriti" bagi para pengunjung terutama turis, maka Lapangan Mancasan ibarat lapangan bagi warga lokal yang sangat kental nuansa private.

Papan skor pertandingan dipasang di sisi timur Lapangan Mancasan 


Inilah lahan terbuka yang masih dikelilingi pohon-pohon besar yang hijau. Lapngan luas yang menjadi saksi pertandingan sepak bola antar kesebelasan kampung-kampung di sekitarnya.


Di lapangan ini saya masih bisa bersantai melepas anak-anak berlari-lari tanpa khawatir mereka hilang dari pandangan. Sebuah kondisi yang membuat saya menghargai lahan terbuka ini dibanding Alun-Alun Utara atau Selatan. Di malam haripun, terkadang kami sekeluarga menikmati bintang-bintang di sini. Sambil menemani anak-anak yang berlari dan melesatkan untir-untir bercahaya ke udara bebas, kami menyeruput teh hangat.

Sebuah latihan sepak bola di minggu pagi.
Kalau melihat papan daftar pengguna, nampaknya ini adalah PS Serangan

Gedung PAUD Taman Pintar: Ruang penitipan Anak yang Edukatif


Menjadi penduduk Yogya, artinya bersiap menjadi tuan rumah bagi teman-teman yang berkunjung ke kota ini. Beberapa kali, saya menjadi guide bagi teman yang berwisata ke sini.

Teman-teman saya, kebanyakan masih satu generasi dengan saya, artinya masih memiliki anak-anak kecil usia sekolah...bahkan ada juga yang masih memiliki anak-anak batita.

Terkait kunjungan tersebut, biasanya saya mengajak mereka ke Kompleks Taman Pintar. Pertimbangan utama tentu saja karena faktor anak-anak dan isi kantong he..he..he....

Tampilan fasad Gedung PAUD Barat

Di kompleks ini ada banyak pilihan dengan harga tiket ramah kantong dan banyak yang gratisan.....(ini dia sasaran utamanya smile emoticon )

Nawal selalu mengajak masuk ke Gedung PAUD. Gedung PAUD ini ada 2 yang sebelah Timur dan Barat. Harga tiketnya cuma Rp.2.000 ..iya dua ribu perak lhoo... smile emoticon
Kalau sekarang sih naik menjadi Rp.3.000,- karena digabung dengan tiket Taman Lalu Lintas.

Deanah ruangan dalam Gedung PAUD Barat


Meja Resepsionis dan rak sepatu


Di dalam gedung PAUD ini ada pilihan ruangan yang bisa dimasuki anak-anak dengan tema2 yang berbeda. Ada tema profesi, perpustakaan, seni budaya. Peraturan utama di gedung PAUD ini: orang tua tidak boleh masuk ke dalam ruang-ruang bermain itu. Ada petugas pendamping yang akan membimbing dan mengawasi anak-anak, lagipula anak-anak memang didorong untuk mandiri, bermain sendiri tanpa orang tua.

Lalu orang tua menunggu di luar gedung? Ho..ho..ho... tenang saja Bapak, Ibu...kita-kita sebagai orang tua akan sedikit dimanja dengan disediakan sebuah ruang tunggu yang adem...plus sebuah layar monitor yang menampilkan aktivitas anak-anak di dalam ruang-ruang bermain mereka. Setiap ruangan memang dilengkapi dengan CCTV. Inilah waktunya orang tua beristirahat......setelah lelah mendampingi anak-anak menjelajah wahana-wahana lain.

Ruang Tunggu bagi para orang tua, cukup nyaman dan sejuk 

Sambil duduk-duduk di ruang tunggu, orang bisa memantau anak-anak
 lewat monitor yang terhubung dengan CCTV di tiap ruangan


Salah satu fasilitas di Gedung PAUD Barat adalah perpustakaan anak

\Ngomong-ngomong....saya cukup sering lhoo.....kopdar dengan beberapa teman di dalam Gedung PAUD ini.....Jadi kami janjian di sini...setelah beli tiket...anak-anak bermain di dalam....maka kami bisa kopdar sambil duduk lesehan dalam ruangan sejuk sambil sesekali memperhatikan anak-anak lewat monitor pemantau.

Salah satu aktivitas anak-anak di dalam ruangan, bermain puzzle




The Beauty and The Beast Love Story

Sebagaimana film-film Amerika lain, Fifty Shades of Grey adalah produk yang ramai oleh segala kehebohan, huru hara .....sebuah trik marketing yang membuat banyak orang menoleh pada film ini.

Apa yang menarik dari film ini? Unsur sensualitasnya? 
Ternyata, setelah menonton film ini.....ya..begitu deh..biasa-biasa saja. Tidak ada yang membuat saya merasa "wow".....mungkin akan berbeda efeknya jika saya pernah membaca novelnya.

Film Fifty Shades of Grey berkisah tentang hubungan percintaan Anastasia Steele dan Christian Grey. Anastasia Steele adalah sorang mahasiwi jurusan Sastra yang secara tak sengaja menggantikan temannya mewawancarai Christian Grey. Grey, merupakan seorang milyuner berusia muda yang menjadi donatur penting di universitas tempat Steele kuliah. Pertemuan pertama berlanjut pada kencan-kencan berikutnya. Perlahan Steele mulai mengenal karakter Grey yang tersembunyi, sebuah obsesi seksual yang aneh dalam hubungan antara Dominator dan Submissive.

Konon, EL James terinspirasi oleh karakter Edward Cullen dan Isabella Swan dalam novel besutan Stephanie Mayer. Karater Christian Grey memiliki kemiripan dengan Edward Cullen: Tampan, kaya raya, memiliki kekuatan/kekuasaan, baik hati namun menyimpan sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, Anastasia Steele juga terlihat mewakili karakter yang ada pada Isabella Swan: Cantik, dari kalangan biasa, kondisi ekonomi biasa, memiliki keinginan kuat, berani menempuh bahaya.
Secara garis besar kedua cerita tersebut, baik trilogi Twilight maupun Fifty Shades of Grey sama-sama mengusung tema "The Beauty and The Beast Love Story"

Satu-satunya unsur paling menarik dalam film ini adalah dasi metalik milik Christian Grey. Sebuah benda yang semula hanya berfungsi sebagai aksesoris fashion laki-laki kantoran, kini punya nilai yang berbeda di mata publik. Dasi metalik ini seakan merepresentasikan sensualitas si pemilik, mengalahkan ikon-ikon sensualitas perempuan yang selama ini mendominasi imajinasi publik.

Sin Chia dan Tradisi Bersanjo


Saat menginjak bangku SMP saya punya teman seorang Tionghoa tulen...namanya Ang Bi Yung. Saya dan teman-teman sekelas selalu berkunjung saat ia merayakan Sin Chia....dulu saya nggak tahu kalau Sin Chia sama dengan Imlek. Niat sebenarnya cuma ingin makan kue-kue di rumahnya... kuenya enak-enak.....ALhamdulillah saya masih ingat betul wajahnya. Kulit putih mata yang sipit, tubuhnya agak gemuk dan rambutnya tebal lurus dipotong model bob.
Ang Bi Yung teman yang baik dan supel. Dia bergaul dengan semua teman di kelas kami. Saya bersyukur, di masa kecil memiliki pengalaman saling berkunjung ke kediaman teman-teman yang merayakan hari besar mereka.

SMP saya terletak di Kota Palembang. Di Palembang, ada tradisi bersanjo yang sangat kental. Tradisi sanjo atau berkunjung saat hari besar membutuhkan durasi waktu yang cukup lama, minimal seperempat jam. Tamu harus duduk, mencicipi hidangan yang disuguhkan tuan rumah. Setidaknya ada 3 jenis hidangan yang harus dicicipi: minuman, kue kering di toples dan potongan kue basah yang disajikan dalam piring kecil, lengkap dengan garpu kecil.

Berbeda sekali dengan perayaan hari besar di Pulau Jawa. Setidaknya saat Lebaran, terkadang tamu hanya cukup saling bersalaman. Tak ada tradisi harus berlama-lama bertamu, kecuali kerabat dekat.
Lebaran Idul Fitri misalnya. Tradisi sanjo, mengakibatkan durasi Hari Raya Idul Fitri menjadi sangat panjang. Satu bulan penuh -selama masih terhitung Bulan Syawal- merupakan waktu yang dipandang sebagai Lebaran. Jadi Idul Fitri di sana durasinya sebulan penuh. Sementara itu, di Pulau Jawa, LEbaran Idul Fitri hanya bisa diraskan nuansanya sekitar hari saja.. atau maksimal 1 minggu.

Bagi saya, tradisi sanjo telah berjasa memperkenalkan pengalaman keberagaman di masa remaja saya.

Selasa, 17 Februari 2015

Gembok Cinta dan Harapan Kosong


Saya berharap bangunan gembok cinta di Titik Nol Malioboro  ini tetap kosong, tak menarik perhatian pasangan muda yang tengah menjalin percintaan.
Apa yang kita harapkan dari sebuah gembok dengan tulisan nama kita yang terpasang di monumoen ini? Berharap cinta kita abadi sepanjang masa? Tak tergoyahkan oleh segala badai yang menerjang?
Inilah mitos yang sengaja dibangun dengan memanfaatkan romantika percintaan sepasang kekasih. Bukankah jalinan kasih sayang seyogyanya dipupuk dan dibina berdasarkan niatan dari kedua belah pihak? Semua butuh perjuangan, buka semata-mata menggantungkan nasib pada sebuah benda mati bernama gembok.
Kalau kita googling perihal gembok cinta, maka akan bermunculan bermacam foto berisi monumen dari berbagai negara yang dipadati aneka gembok. Entah sudah beraja juta pasangan kekasih yang menggantungkan harapan pada monumen-monumen gembok cinta.
Sebuah pagar jembatan gembok cinta di Paris bahkan roboh karena beban yang melebihi kapasitasnya. Kalau sudah begini, apakah doa cinta para pasangan itu akan roboh juga, menyusul nasib pagar jembatan itu?

Selasa, 10 Februari 2015

Cinta Kecil: Halaman Kosong dan Interaksi Pembaca




Sebuah buku berisi kumpulan puisi telah di tangan saya, bukan diantar tetapi saya menjemputnya dengan sengaja. Puisi-puisi ini terangkum dalam sebuah judul yang manis: Cinta kecil.
Saya tak hendak berbicara soal isi dan makna puisi-puisi di dalamnya. Ada hal menarik ketika saya berbincang dengan sang penulis Sakyahara. Ia menceritakan perihal halaman-halaman kosong di antara puisi-puisi yang tercetak dalam bukunya. Ia berharap saat bukunya telah sampai di tangan pembacanya, maka benda itu sepenuhnya milik sang pembaca. Pembacanya berhak mengisi halaman-halaman kosong itu dengan puisi atau tulisan versi mereka.

Konsep halaman kosong pada buku "Cinta Kecil" Sakyahara ini mengingatkan saya pada konsep yang sama yang diusung perupa Dunadi. Dunadi menciptakan 3 patung gajah dari bahan resin yang dic
at putih, dipajang di kawasan Titik Nol, Malioboro.
Saya pertama kali melihatnya saat melintas jalan Malioboro di Hari Raya Idul Adha tahun 2014 lalu. Waktu itu patungnya masih dibungkus dan nampaknya bercat dasar putih.

Beberapa minggu berselang, saya mendapati patung baru itu telah habis di cat sana-sini...digambari begitu rupa dengan tema "Sepak Bola Gajah". Saat itu memang tengah ramai kasus Sepak Bola Gajah antara PSS Sleman dan Persis Solo. Saya sempat misuh-misuh dalam hati, mengutuki si pembuat grafiti yang telah tega mencoret-coret patung baru itu. 

Beberapa bulan berlalu, Di minggu ketiga Januari 2015, saya membawa anak-anak mengunjungi kawasan Titik Nol di minggu pagi. Area Car Free Day ini memang saya incar untuk mengabadikan banyak instalasi seni di sana. Salah satunya tentu saja Patung Gajah itu.


Tak dinyana, saya menemukan sebuah catatan kecil perihal kenapa ada grafiti di sekujur patung tersebut. Rupanya, grafiti yag menghiasi tubuh putih gajah-gajah itu memang disengaja dan diperuntukkan bagi para pengunjung. 

Judul instalasi seni ini adalah "Bertautan", semula saya mengira berhubungan dengan ekor dan belalai gajah-gajah ynag saling bertautan itu. Ternyata oh ternyata...."Tautan" yang dimaksud adalah interaksi antara si perupa dengan pengunjung. Tautannya adalah: Si perupa menciptakan instalasi tiga dimensi patung gajah ini dan sengaja di cat putih agar pengunjung bisa bebas mencoret-coret patung tersebut dalam bentuk dua dimensi...ya..itu...grafiti tadi. Inilah tautan yang dimaksud: Interaksi antar karya perupa yag berbentuk 3 dimensi dengan penikmatnya yang berbentuk 2 dimensi.

Dunadi, sebagimana Sakyahara Novel, menyadari betul bahwa sebuah karya bukanlah mutlak hak ekslusif mereka, manakala karya tersebut telah sampai di tangan penikmatnya. Maka, ada hak publik untuk berinteraksi dalam karya yang telah sampai di tangan mereka.

Rabu, 28 Januari 2015

Setangkup Tempe yang "Hijau"

Pagi ini membeli sepuluh potong tempe yang dibungkus satu-satu dengan daun pisang. Di luar dugaan, mbah pedagang tempe menawarkan apakah tempe yang saya beli mau dibuka satu persatu agar saya tak repot membukanya di rumah. Saya langsung menyetujuinya. Maka kesepuluh tempe langsung ditelanjangi dan disatukan dalam sebuah "mangkuk" besar yang terbuat dari daun pisang, sisa bungkus salah satu tempe.
Hmmm...lumayan juga pikir saya. Saya tak perlu repot mengupasi satu persatu tempe bungkus ini dan mengurangi tumpukan sampah di dapur. Maklum saja, meski cuma berjumlah 10 buah, bungkus tempe-tempe ini cukup menghebohkan untuk ukuran dapur saya yang mungil
Di sisi lain, mbah Penjual Tempe juga bisa menggunakan kembali bungkus tempe tersebut. Re-use, itu istilah yag sering kita ucapkan kalau sedang ngobrol tentang Daur ulang sampah.




Sebenarnya....dalam hati....saya malu juga kepada mbah Penjual Tempe ini. Saya yang sering terlibat diskusi soal lingkungan hidup ternyata masih sering berlaku kurang "hijau" dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan si mbah Penjual Tempe, dia menjalankan prinsip re-use dalam diam.


Jadi deh, diam-diam dan secara sepihak saya menetapkan si mbah sebagai langganan tempe bungkus saya 
smile emoticon
Merdeka!

Tiket Museum yang Mahal

Saya baru saja membaca komen seorang teman yang mengeluhkan harga tiket Mueum Affandi yang menurutnya mahal. Masih saja ada yang menganggap tiket museum itu mahal.
Simak harga tiket Museum Affandi di bawah ini, yang kebetulan merupakan milik pribadi, bukan milik negara.
Tiket Masuk Museum Affandi:
Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan negara asal.
Tiket untuk turis mancanegara Rp.50.000,-
Tiket domestik dewasa Rp.20.000,-
Untuk tiket dewasa bisa ditukar dengan softdrink gratis
Tiket untuk anak di atas 8 tahun Rp.10.000,-
Sedangkan anak-anak hingga usia 8 tahun bebas bayar.
Yang harus dipahami ketika mengunjungi museum mungkin bukan cuma lihat-lihat koleksi museum, selfie-selfie lalu selesai.
Museum bukan sekedar objek wisata, ini adalah tempat yang harus berkedudukan sebagai subjek. Inilah tempat kita bercermin perihal perjalanan panjang sejarah manusia. Tempat kita mencari tahu apa yang terjadi di masa lampau, kaitannya dengan masa kini dan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Harga tiket masuk sebuah museum mencerminkan sistem yang berjalan di dalamnya. Hal-hal yang menyangkut berdirinya, koleksi-koleksi, pemeliharaan, jaringan-jaringan kerja yang melingkupinya.



Kita memang terbiasa tidak menghargai tempat bernama museum hingga harga senilai 20ribu rupiah diaggap mahal dan tidak layak untuk sebuah museum.

Notting Hill dan Fragmen-Fragmen yang Menyertainya

Menonton ulang film komedi romantisnya Julia Roberts dan Hugh Grant......dan membincangkannya dengan suami.
Ini jenis film perpaduan komedi Inggris yang ekspresif namun dikemas ala Hollywood. Film ini berkisah lika-liku cinta Anna Scotts, seorang aktris kondang Hollywood dengan William Thackher seorang pemilik kedai buku travelling di kawasan Notting Hill Kota London. Perbedaan keduanya yang bagai bumi dan langit tak menyurutkan hati keduanya meski begitu banyak lika-liku.....Pasang surut hati yang berakhir happy ending khas Hollywood ini dihiasi banyak fragmen-fragmen kecil.



Banyak fragmen yang disisipkan dalam film ini tanpa menggangu jalannya kisah utama film ini. Lihatlah bagaimana Thackher menghadapi ancaman kebangkrutan karena hanya menjual buku-buku bertema khusus "travelling" bukan novel yang bakal laris terjual. Ada juga fragmen soal teman satu rumahnya yang aneh bin ajaib dengan penampilan seperti psikopat....dan ternyata tanpa diduga, temannya tersebut berjodoh dengan adiknya. Kisah lain soal mantan Thackher yang menikah dengan sahabatnya sendiri dan mengalami cedera tulang punggung hingga harus hidup di atas kursi roda.


Lain lagi dengan fragmen di sekeliling Anna Scotts yang ternyata pernah menjalani operasi pada hidung dan dagu untuk alasan estetika, pacar yang ternyata tak membuatnya nyaman. Semua kisah-kisah itu adalah penguat kisah cinta kedua bintang utama.
Hal menarik lain adalah pengisolasian kedua tokoh utama dari tokoh-tokoh pendukung lainnya. Wajah rupawan Anna Scotts dan William Thackher hadir di layar kaca sebagaimana besutan film-film Hollywood lain. Ada jarak antara penonton dengan kedua tokoh utama (Julia Roberts dan Hugh Grant) yang sengaja diciptakan, bahwa mereka hanyalah sebuah kisah dalam film.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi pemeran pendukung lain, terutama teman-teman dekat William Thackher. Hampir semua teman dekat William Thackher adalah kita ......orang-orang yang tak sempurna, mulai dari penampilan fisik, mimik, perjalanan hidup...semua sangat natural, semuanya terlihat seperti loser. Tak beda dengan kita kebanyakan yang tidak cantik, tidak ganteng, pecundang, pengangguran dan lain sebagainya.
Berbeda sekali dengan Anna Scotts, ya...kalau nonton Julia Roberts kira-kira seperti itulah....dia bukan bagian dari kita...dia itu bintang.... Juga karakter William Thackher, apa bedanya dengan Hugh Grant sang aktor British yang gantengnya bikin cewek klepek-klepek?
Hal lain yang membuat film ini istimewa adalah Notting Hill. Ini adalah sebuah ruas jalan di Kota London yang sama sekali tidak disetting untuk film ini. Justru film ini menyesuaikan diri dengan kawasan Notting Hill itu sendiri. Pasar kaget Portobello di ruas jalan ini memang begitu adanya. Rumah berpintu biru memang benar-benar ada, dan kebetulan pemiliknya adalah penulis cerita film ini.

Minggu, 25 Januari 2015

COFFE CUPPING DI WIKI KOPI


Temans, seberapa sering kamu mengkonsumsi kopi dalam sehari? Apa jenis kopi yang kamu konsumsi?
Kalau saya...hmmm masih berkutat pada jenis kopi sachet sih...hi..hi..hi... kadang jenis kopi instant yang ada krimnya....kadang juga menyeduh kopi tubruk.....biasa deh...yang merk generik cap Kapal Laut itu he..he...he...
Mengkonsumsi kopi yang beneran segar dari biji kopi yang digiling langsung cuma sesekali saja.....itu juga kalau ada kesempatan menyambangi kafe-kafe pas gelaran hang out alias kopdar he..he..he... (cekikikan lagi)
Nah, siang tadi tanpa sengaja saya berkesempatan mencicipi kopi espreso plus-plus....eits, jangan disamakan dengan pijit plus-plus yaa sodara-sodara. Sajian kopi espresso yang saya maksud di sini tentu saja dengan segala kesempatan langka yang jarang-jarang kita dapatkan: Coffe Cupping.
Apaan tuh Coffe Cupping? Bagi yang belum tahu dan awam (seperti saya ini..ehmm!), Coffe Cupping merupakan ajang icip-icip kopi murni, alias espresso. Icip-icipnya tentu bukan cuma satu lho...ada beberapa jenis kopi ang bisa kita coba dan bandingan rasa dan aromanya satu sama lain.

Biji-biji kopi dalam toples yang disertai keterangan label.
Label berisi nama jenis/asal kopi, proses pengeringan tanggal pembelian.
Penantuman tanggal juga penting ntuk mengetahu kadar kesegaran biji kopi.

Secara umum jenis kopi ada 2: Arabica dan Robusta
.
Mesin manual espresso menghasilkan sajian kopi yang minim kafein.
Sajian pertama terdii dari dua jenis kopi dengan perlakuan beda saat proses penjemuran.
Timer digunakan untuk menentukan kapan waktu yang pas untuk cupping. 

Cupping mengunakansendok lalu di sedot seara cepat oleh rongga mulut kita.
Penghisapan secara cepat berguna membuka pori-pori indra pengecap agar dimensi rasa lebih dapat kita tangkap.



Buih-buih di permukaan adalah krema yang mengandung minyak atsiri dari biji kopi.
Untuk proses cupping, krema disingkirkan agar aroma dan rasa yang sebenarnya bisa kita dapatkan.

Brewing menggunakan V60

Tahu nggak temans, kopi yang saya icip-icip ini diproses langsung dari bijinya, digiling, lalu dipress menggunakan mesin espresso manual.....langsung oleh mas-mas brewer muda yang tekun dan menghayati sekali ritual ini....

Setelah puas cupping dengan aneka kopi berkualitas baik.....terakhir, sebagai perbandingan saya disuguhi kopi cap Kapal Laut yang biasa kita seduh..... Rasanya....ternyata beda sekali.... kopi generik yang biasa saya minum itu jadinya terasa hambar di lidah. Kok bisa begini?....
Begitulah kopi, segala dimensi aroma dan rasa ternyata sangat dipengaruhi oleh proses yang menyertainya sejak hulu hingga hilir: kondisi geografis tanah, jenis bibit, kematangan biji, cara pengeringan biji kopi, pemanggangan, cara penggilingan hingga suhu air saat proses brewing......Hmmmm.... Cobain sendiri deh....
O,ya Wiki Kopi ini sebenarnya semacam komunitas tempat kita belajar mengenal kopi. Bagi teman-teman yang serius ada program residensi selama 3 bulan full belajar all about kopi.
Dari obrolan dengan mas Tauhid Aminulloh, saya jadi tahu bagaimana peta kondisi perkebunan kopi di Indonesia, nasib petani kopi yang tak senikmat aromanya, konsumsi kopi orang Indonesia pertahun, jalur perdagangan kopi-kopi terbaik, industri kopi kemasan dan tentu saja yang paling menarik adalah: Cerita beliau mengunjungi petani kopi di Papua dan mengenalkan kepada mereka bagaimana rasa asli kopi yang mereka tanam. Sssttt.....banyak petani kopi kita yang mengkonsumbi kopi kemasan lho...bukan kopi hasil kebun mereka....Ironis'kan?

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...