Selasa, 09 Desember 2014

Pasar-Pasar Kota Yogya dan Kamis Pahingan

Berbelanjalah dengan hati senang dan dapatkan nuansa yang berbeda di setiap Kamis Pahing di Pasar-Pasar Kota Yogya.




Kemarin, sesuatu yang berbeda hadir di pasar-pasar Kota Yogya. Para pedagang di seantero Pasar Kota ini mengenakan busaa tradisional, kebaya,jarik, lurik, blangkon. Semuanya terlihat cantik dan bagus dengan sunggingan senyum sumringah di wajah mereka.
Hari Kamis Pahing, sebagaimana para siswa sekolah, ada anjuran mengenakan busana tradisional. Maka pagi tadi, saya malah gagal berbelanja...gantinya, saya menjadi sibuk memotret mereka.
Hari Kamis Pahing dipilih berdasarkan weton pasaran lahirnya Keraton Yogyakarta sejak dipindah dari Pesanggarahan Ambar Ketawang. Sedangkan himbauan penggunaan pakaian tradisional ditujukan untuk mendukung penggunaan pakaian tradisional sebagai pakaian sehari-hari



Menjelajahi pasar di pagi ini, rasanya seperti memasuki lokasi syutng sinetron bersetting cerita kolosal, semacam Saur Sepuh gitu deh... ha...ha...ha...
Tercatat tiga pasar yag saya jelajahi: Pasar Legi, Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo....Niat banget'kan..he..he..he..















Pagi ini, para pedagang benar-benar menjelma menjadi para juragan

Jeruk Nipis

Saya tidak tahu pasti sejak kapan saya jatuh cinta pada Jeruk Nipis. Saya menyukainya sejak lama, berbelas tahun saya menikmatinya lewat tegukan-tegukan segar es teh manis yang kerap saya bubuhi perasan irisan Jeruk Nipis. Yang jelas, akarnya bermula dari kesukaan buah masa kecil saya, Jeruk. Ya, sejak kecil saya suka buah satu ini. Bahkan saya mengkonsumsi Jeruk beserta ampasnya, padahal untuk anak kecil ampas Jeruk tergolong pahit.
Jeruk Nipis, buah yang juga menjadi bagian dari bumbu dapur ini hampir selalu menjadi perhatian saya kala berbelanja di pasar tradisional. Mata saya kerap menjelajahi keranjang-keranjang pedagang yang berisi Jeruk Nipis. Saya mencari-cari butiran yang berukuran besar dan berwarna kekuningan, pertanda buah yang matang dan sarat cairan asam di dalamnya.
Sering kali, saat menyinggahi kedai-kedai soto, saya mencuri-curi kesempatan menekuk seiris Jeruk Nipis di atas gelas es teh manis. Hasilnya, segelas es lemon tea berhasil menemani santap soto saya.
Di dapur, saya melumuri daging ayam dan ikan yang hendak dimasak. Perpaduan asinnya garam dan asamnya perasan Jeruk Nipis membantu mengurangi lendir, bau amis pada daging ayam dan ikan yang hendak diolah. Pada ikan yang hendak digoreng, lumuran garam dan air Jeruk Nipis sudah merupakana bumbu yang cukup praktis. Air Jeruk Nipis menggantikan peran Asam Jawa yang terkadang membuat noda gosong pada ikan goreng.
Tak hanya berfungsi menghilangkan anyir pada ikan, Jeruk Nipis juga bisa mneghilangkan bau langu pada Pepaya dan Wortel. Seringkali saya menghadirkan jus Wortel yang diberi perasan air Jeruk Nipis, hasilnya jus Wortel saya tanda tak bersisa. Sementara pada buah Pepaya, saya menghidangkan dalan bentuk potongan-potongan kecil sekali makan yang ditaburi gula pasir dan perasan air Jeruk Nipis. Dan, tentu saja hasilnya juga habis dilahap anak-anak 
Lain waktu, saya menikmati Infused Water dengan perpaduan irisan Mentiun dan sedikit perasan air Jeruk Nipis. Rasanya? Segaaarrrr sekali........
Semalam saya menemukan resep baru: selai olesan roti dari wortel dan jeruk nipis. Hmm...nampaknya patut dicoba nih... 



Jumat, 05 Desember 2014

Menikmati Jeruk Peras di Sepanjang Tahun

Buah Jeruk hadir di hampir sepanjang tahun, seperti tak mengenal musim. Saya sering menghidangkannya dalam bentuk jus, hasil perasan buah Jeruk Peras yang saya beli di pasar tradisional dekat rumah. Perpaduan rasa dan aroma asam segar dengan manisnya sedikit gula sangat disukai anak-anak.
Saat udara panas, saya menghidangkan dengan sedikit campuran air dingin. Namun, saat cuaca sedang dingin seperti musim hujan ini, saya menhidangkan dalam keadaan hangat.

Milona dan Kopdar-Kopdar yang Menyertainya

Ona, demikia ia kerap disapa. Saya mengenalnya lewat foto-foto lini masa grup alumni Gajah Mada. Hingga suatu masa, di akhir 2012 saya berkesempatan berkenalan secara langsung dalam sebuah jumpa darat di Legend Cafe, Kotabaru.
Sebelumnya, saya sempat penasaran setengah mati dengan Ona. Bagaimana tidak, ia hadir di banyak acara kopdar dengan lokasi berbeda, kota yang berbeda bahkan terkadang beda provinsi dan beda pulau. Eksistensinya di jagad pertemanan alumni sungguh tak terbantahkan. Di mana ada kopdar maka di situ ada Ona. Hingga sebuah mahkota sempat dianugerahkan kepadanya: Ratu Kopdar.
Saya kurang tahu pasti siapa yang menyematkan gelar bergengsi itu kepadanya. Lain waktu, muncul pula sebuah idiom "Kopdar Tanpa Ona bagai Sayur tanpa Garam". Ini sebuah gejala ketergatungan akut akan kehadirannya dalam gelaran kopdar-kopdar di kalangan warga kampung.
Bagi yang pernah bertemu dengannya, pasti tahu pasti bagaimana perawakannya. Ia bertubuh mungil (bukan muka ngiler ya.....! Mohon dicermati). Namun penampakan tubuh kecilnya itu sepertinya mengecoh banyak orang. Banyak yang tidak tahu bahwa ia penggemar kuliner yang parah. Bahkan ada pula yang menjulukinya : Body Sedan Muatan Tronton.
Namun demikian, jangan meragukan kesetiaannya sebagai seorang teman. Suatu hari saya pernah hampir mati kelaparan, sungguh-sungguh kelaparan dalam sebuah perjalanan antar kabupaten. Saya baru saja menjalankan tugas dalam persiapan sebuah perhelatan kesenian. Demi menemui anak-anak di rumah, saya memaksakan diri pulang dalam keadaan tak memiliki uang dan bensin pas-pasan di jalan. Lokasi terdekat saya adalah kediaman kost Ona. Maka saya nekad menemuinya, menceritakan nasib apes itu. Ia meminjamkan saya uang untuk bekal perjalanan kembali ke rumah. Tak lupa ia mentraktir saya makan siang, hingga perut saya kenang tak terkira dan saya selamat dari kemungkinan mati kelaparan hari itu. Rupanya Ona tahu, saya kelaparan hari itu.
Belum sempat saya ganti mentraktirnya, ia sudah mentraktir saya lagi dalam kesempatan ulang tahunnya yang bersamaan dengan waktu kegiatan Idul Kurban grup Kampung.
Sebagai teman yang baik, saya mendoakannya lekas merampungkan tugas belajarnya. Namun itu adalah suatu dilema, jika ia lulus maka kemungkinan besar ia akan pulang kampung. Artinya, kopdar-kopdar akan terasa sunyi tanpa kehadirannya.
Dan saya juga mendoakannya lekas melepaskan status jomblonya itu, tentu saja dengan kekasih hati yang se-asoy dirinya. Saya sih yakin seyakin-yakinnya Ona adalah seorang jomblo yang baik hati, peramah dan sopan. Ia adalah seorang Single Happy.

Selasa, 02 Desember 2014

Panen Mangga di Musim Penghujan

Musim penghujan sudah tiba, banyak kebaikan didapat di musim ini: air yang melimpah, udara yang sejuk, pucuk-pucuk pohon yang membunga dan tentu saja panen buah. Salah satu buah yang tengah melimpah pada musim ini adalah Buah Mangga.
Meski pohon Mangga di pekarangan belakang rumah kami telah ditebang akibat usia yang menua, tetapi kelezatan Buah Mangga masih tetap dapat kami nikmati. Kini kami memanennya di pasar dekat rumah...ups tepatnya membeli  Tak hanya itu, beberapa rekan dengan senang hati mengundang dalam perayaan kecil panen buah Mangga di kediaman mereka. Ini tentu saja undangan yang sangat menyenangkan, memetik dan menikmatinya bersama dalam sebuah keriangan 
Buah berwarna kekuningan ini bernama asli Malayalam Maanga konon berasal dari wilayah di perbatasan India dengan Burma. Di masa kolonial, orang-orang Portugis mengenalkan buah ini ke daratan Eropa dan dikenal sebagai Manga dalam Bahasa Portugis dan Mango dalam Bahasa Inggris.
Buah Mangga yang saya beli di pasar adalah enis Mangga Harum Manis, jenis yang sangat popuper dan ikonik di antara jenis lainnya. Sedangkan pohon Mangga yang dulu pernah hadir di pekarang rumah kami merupakan jenis Mangga Madu. Mangga Madu adalah jenis Mangga yang daging buahnya sangat manis. Mangga ini harus dipetik dalam kondisi mengkal, jika dalam kondisi telah matang maka kita aan mendapati daging buah yang sudah terlalu matang, kondisinya bisa dikatankan hampir 'bonyok'. Jenis lain yang cukup populer adalah Mangga Cengkir Indramayu yang berdaging tebal, harumnya khas dan memiliki kandungan karbohidrat lebih banyak.


Panen Buah Mangga diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan buan Desember. Pasar-pasar akan dipenuhi dengan keranjang-keranjang berisi Buah Mangga, demikian pula pinggiran jalan raya akan diisi penual Mangga dadakan yang datang dari berbagai daerah.
Sudahkah temans menikmati Buah Mangga hari ini?

Senin, 01 Desember 2014

Lelang Buku yang Muram


Buku-buku di atas meja ini adalah sedikit dari keselruhan buku yang dicucigudangkan di Karta Pustaka Yogyakarta. Lembaga kebudayaan ini akan tutup. Ini kabar yang tak mengenakkan.
Lembaga ini berdiri sejak 1967, salah satu pendirinya adalah Romo Dick Hartoko. Ibu Anggi Minarni merupakan nahkoda terakhir yang memimpin Karta Pustaka.

Saya bukan bagian orang yang kerap mengunjungi Karta Pustaka, tercatat hanya dua kali menyinggahinya. Pertama di tahun 1995 saat masih berlokasi di Jl. Suroto. Kedua, ya hari ini, saat mendengar kabar lembaga ini akan tutup. Saya juga pernah menyaksikan resital biola seorang musisi Belanda yang diselenggarakan Karta Pustaka.


Kata Pustaka harus diakui telah menjadi bagian dinamika perjalanan kebudayaan Kota Yogyakarta. Hari ini saya membawa pulang dua buku dari sana: otobiografi "Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan" dan sebuah buku lama keluaran Depdikbud "Upacara Tradisional Sekaten DIY"

Minggu, 30 November 2014

Selamat Hari Guru






Tanggal 25 November 2014 Doodle menyajikan ilustrasi peringatan Hari Guru Nasional....besok anak-anak juga libur sekolah untuk peringatan Hari PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia.
Temans, masih ingatkah kenangan saat menyimak pengetahuan di bangku sekolah? Saya teringat seorang guru di masa sekolah menengah pertama,

Ibu Holiyati Gumay, guru Bahasa Inggris saya di SMP mengajar dengan cara yang menyenangkan sekali. Di sela-sela pelajaran, beliau sering cerita pengalaman-pengalman nakal saat masih sekolah. Bagaimana ia mencuri waktu utuk mengendarai motor ayahnya, menyamar sebagai seorang pemuda. Jauh dari kesan jaim deh..... Atau saat ia ikut gerak jalan dan tak mau berhenti karena gengsi akibantnya selama seminggu kakinya bengkak-bengkak. Nah....setelah cerita pengalman kembelingannya itu.....lalu beliau memberi nasihat..... "Makanya kalian jangan seperti ibu ya... akibatnya begitu tuh"....

Lain waktu, Ibu Holy pernah memberikan tugas latihan Bahasa Inggris kepada kami. Beliau hapal sekali kalau anak-anak di kelas kami ini hobi berisik, ribut bak ayam berkotek. Maka, beliau membeaskan kami mengerjakan tugas di mana saja di luar kelas. Kami bersorak kegirangan bak kuda lepas dari kandang. Alhasil, semua tempat di luar kelas kami jelajahi. Ada yang nangkring di kantin jajan sambil mengerjakan tugas. Ada yang di taman sekolah, selasar sekolah......bahkan ada yang gelar tikar di kebun singkong belakang sekolah.. Hi..hi..hi....

Ajaibnya semua tugas langsung terkumpul tepat waktu meski ada beberapa buku yang kotor terkena noda minyak atau tanah merah. Nah... yang terkena noda minyak itu kemungkinan yang nagkring di kantin, mungkin lupa melap tangan sehabis makan gorengan he..he...he...

Atau, yang bukunya kotor akibat noda tanah, sepertinya yang gelar tikar di kebun singkong itu...... Kalau tikarnya sih pinjam ke penjaga sekolah.
Hmm.... Ibu Holy apa kabarnya ya sekarang? 

Gorengan


Tahu, pisang, tempe....bisa masuk kategori bahan makanan yang akan nikmat bila dicampur tepung dan menjadi menu gorengan. Gorengan adalah jenis penganan khas merakyat di Indonesia. Nikmat disajikan di pagi, siang, sore bahkan malam hari juga OK. Apalagi di saat cuaca dingin hujan yang menderas.
Sist, jangan lupa ya.......perhatikan minyak yang ada di wajan penggorengan.....apakah sudah berwarna hitam sehitam jelaga di balik wajannya? Jangan lupa juga ya.... bahwa resep jitu membuat gorengan jadi renyah mak kriuk adalah mencampurkan plastik kemasan minyak ke dalam wajannya. Resep ini sebenarnya rahsia dapur para pedagang gorengan, tapi sepertinya sudah menjadi rahasia umum...... atau tepatnya Rahasia Dapur Umum, he..he...he....
Sebagaimana lezat dan kriuknya gorengan abang-abang penjual gorengan, begitu pula informasi di dunia virtual, wahai sist, bro and guys......
Informasi yang tersaji di depan monitor gadget dan lappie nggak bisa langsung ditelan mentah-mentah. Kira-kira seperti gorengan di kaki lima, kita juga wajib menelusuri asal-usul info yang sebenarnya. Cross check kebenaran berita dan gambarnya.....
1. Foto/Gambar Untuk berita kita bisa pakai bah google. Untuk foto, ini dia triknya: Gunakan klik kanan pada mouse, nanti ada menu "Telusuri Google untuk gambar ini" . Maka....beberapa foto sejenis akan terpampang dan ketahuan deh, dari mana foto-foto itu berasal.

2. Artikel. copy 2-3 paragraf kemudian paste di google. kesamaan kalimat akan muncul dr bbrp website.

3. Situs yang Hilang. Google mengcopy semua laman yang pernah singgah. Pada nama situs yang muncul di google, klik tombol cached, maka kita bisa menelusuri artikel yang telah dihapus.

Masih ngobrolin soal gorengan..... Jangan lupa ya.... Sist, mas bro and guys.... Profesi Tukang Gorengan itu nggak cuma ada di pinggir jalan lho...... Di dunia virtual ini banyak bahkan ratusan ribu profesi serupa yang dapat kita jumpai... Bahkan tak sedikit Tukang Gorenga Virtual yang mendadak jadi selebriti.... Hi..hi..hi...

Udah dulu ya.... saya mau cari gorengan dulu... Eits kalau yang ini beneran cari jajanan gorengan lho.... 



Gravity dan Cita-Cita Masa Kecil yang Kubatalkan


Sewaktu kecil saya pernah bercita-cita menjadi seorang astronot lantaran senang melihat bintang. Itu cita-cita jangka panjang. Cita-cita jangka pendek saya adalah mengintip bintang di Observatorium Bosscha, Bandung. Kedua cita-cita itu tak pernah terlaksana.
Saya urung menjadi astronot karena rasa takut yang berlebihan, sebuah ketakutan yang mungkin menghinggapi semua orang. Saya takut jika menjadi astronot akan melayang dan menghilang di tengah kegelapan luar angkasa. Cita-cita saya yang lain juga urung terlaksana, setidaknya belum. Sampai tulisan ini dibuat saya belum pernah menginjakkan kaki ke Observatorium Bosscha, apalagi meneropong bintang-bintang.
Sutradara Alfonso Cuaron menghadirkan mimpi buruk saya di masa lalu. Ia mengirim George Clooney dan Sandra Bullock ke luar Angkasa lewat film besutannya yang dilansir tahun lalu, Gravity.
Saya hadir secara tiba-tiba ketika suami dan anak-anak memutarnya di ruang keluarga. Saya hadir saat adegan Dr. Ryan Stone, yang diperankan Sandra Bullock, terlepas dari tali kendali yang menghubungkannya dengan wahana Teleskop Hubble yang tengah diperbaikinya. Tubuhnya tak henti berputar tanpa bisa dikendalikannya. HIngga akhirnya, rekannya Matt Kowalsi (George Clooney) berhasil menangkapnya.
Saya meninggalkan adegan di televisi, berpindah ke ruang lain. Saya tidak tahan menahan degup jantung demi menahan ketegangan itu. Terus terang ya....ini bukan soal alay atau bukan.....rasanya kok saya seperti nonton film G30S/PKI-nya Arifin C Noer yang tersohor itu..... 




Hari berikutnya, saya memutar film itu kembali, mencoba menyaksikan utuh. Akhirnya saya berhasil menyaksikan film ini secara utuh setelah melewati semua ketegangan yang menyertainya.



Jumat, 28 November 2014

Tongsis Gak Cuma Untuk Selfie


Jika menyebut Tongsis maka yang terlintas di benak kita adalah sebuah tongkat panjang yang ujungnya dipasang gadget lalu... jepret! Maka terekamlah foto kita bersama teman-teman.
Hai..hai.... sesungguhnya apa sih Tongsis itu?
Tongsis (Tongkat Narsis) sesungguhnya hanyalah sebuah perpanjangan fungsi dari alat bantu fotografi. Nama sebenarnya adalah monopod, yaitu alat bantu berkaki tunggal yang digunakan untuk menopang dudukan kamera untuk mengurangi getaran pada saat proses pemotretan.
Dalam perkembangannya, seiring dengan maraknya aksi selfie maka monopod juga mengalami perkembangan dan modifikasi sebagai penunjang aksi selfie bareng-bareng atau dikenal dengan istilah groufie.
Apakah tongsis hanya bisa digunakan untuk selfie dan groufie saja? Kita juga bisa lhooo memanfaatkan tongsis untuk mengambil objek foto yang tak terjangkau tangan.
Nah...foto di bawah ini adalah salah satu manfaat lain tongsis....
Lihatlah orang di latar depan. Ia memanfaatkan tongsis untuk memotret prosesi upacara bendara tujuh belas agustus di Gedung Agung Malioboro.



Perpaduan ketinggan dan lensa wide angle akan mengasilkan gambar yang bisa menyapu keseluruhan objek foto, sehingga akan lebih banyak info yang didapatkan.

Rabu, 12 November 2014

Lokomotif Itu Bernama Kuldesak

Sebelum film  Ada Apa Dengan Cinta booming, empat sutradara muda Indonesia telah menyemai bibit melalui sebuah film indie. Kuldesak, inilah lokomotif kebangkitan kembali film Indonesia. Sebuah film hasil kerja gotong royong berbagai pihak, mulai dari produser, sutradara, bintang utama, penulis skenario dan seluruh kru yang kerja bakti demi menyambung sebuah mata rantai yang terputus, mata rantai sinema Indonesia.
Film ini berisi empat cerita pendek yang satu sama lain tak berhubungan sama sekali, masing-masing film disutradari oleh Mira Lesmana, Nan T achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani. Meski benak penonton dipenuhi teka-teki dalam mencari benang merah antar cerita, tetapi tak mengurangi antrian penonton di loket-loket gedung bioskop. Kami, para anak muda yang memenuhi antrian itu merasa terhibur dengan sajian film-film ala video klip ini. Ya....satu-satunya benang merah antara film ini dengan para penontonnya adalah keindahan adegan yang bak video klip sebuah lagu. Kronologi cerita sudah bukan masalah lagi kala itu, bahkan anggapan bahwa Kuldesak mengambil ide film Four Rooms juga bukan hal penting.
Dalam sebuah talkshow di Fakultas Sastra UGM, Mira Lesmana mengungkapkan sebuah misi: Keuntungan film ini akan digunakan untuk produksi film berikutnya, demikian seterusnya ia berharap ada efek domino yang menjalar dari proyek percobaan serius mereka ini.
Tahun-tahun berikutnya, saya mendapati Rizal Mantovani yang sukses dengan Jailangkung, Nan T Achnas dengan Pasr Berbisik dan Bendera, Mira Lesmana memproduseri film Petualangan Sherina, Gie, Ada Apa Denga Cinta, trilogi Laskar Pelangi. Tak ketinggalan Riri Riza yang menyutradarai Petualangan Sherina, Eliana Eliana.

Sejak itu, kereta perfilman Indonesia mulai melintasi rel waktu, menyinggahi stasiun-stasiun. Gerbong-gerbongnya mempersilahkan diri dimasuki para penonton yang hendak turut dalam petualangan kereta ini.




MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...