Minggu, 30 Agustus 2015
Saya dan Sandal Jepit
Beberapa teman dekat mengidentifikasi saya sebagai pecinta syal, lantaran dalam banyak kesempatan saya kerap mengenakan kain panjang tersebut.
Ya..ya..ya... Saya memang pecinta selendang dan kerabat-kerabatnya itu dan nyaman dengan kehadiran mereka. Namun, tidak banyak yang tahu kalau sesungguhnya saya sering merasa saltum, salah kostum. Di mana letak saltumnya? Letaknya tersembunyi jauh di bawah tubuh saya, mendekati permukaan bumi tepatnya alas kaki he..he..he....
Ya..sebenarnya saya sering merasa salah kostum lantaran alas kaki saya nggak nyambung dengan pakaian. Pangkal masalahnya karena saya ini pecinta sandal jepit akut, jenis alas kaki yang dibuat massif di pabrik-pabrik berbahan baku karet dengan harga yang sangat terjangkau. Sebenarnya, kecintaan saya akan sandal jepit ini biasa-biasa saja sih....bukan sesuatu yang istimewa, toh banyak orang yang memakai sandal jepit di kesehariannya. Persoalannya, saya sering menyesuaikan kostum dengan sandal jepit saya. Padahal seharusnya, alas kaki menyesuaikan dengan pakaian. Nah...itu kemudian menjadi masalah buat saya, setidaknya bagi saya pribadi. Sering saya sudah memakai baju rapih-rapih hendak ke kampus, dandan dikit biar kelihatan agak cakepan dikit....#Eaaa..... Eh...ndilalah....saya melengkapinya dengan sandal jepit. Ajaibnya, saya merasa biasa saja, normal-normal saja...pokoknya pede sajalah.....orang lain yang melihat mungkin cuma melirik melihat ada sedikit keajaiban pada tampilan saya...hehehe... Pokonya biasa saja deh...Easy going wiss...
Persoalan mulai muncul tatkala ujian semester di kampus berlangsung. Lantaran pihak Dekanat sering melihat banyak mahasiswanya bersandal jepit ris di kampus, maka terbitlah sebuah aturan yang terasa menyiksa kami. "Peserta Ujian Wajib Memakai Sepatu", demikian bunyi aturan itu yang seolah menjadi kiamat kecil bagi saya dan komunitas pecinta sandal jepit kampus ini.
dengan segala keterpaksaan, akhirnya saya terpaksa mengeluarkan koleksi sepatu saya yang cuma satu-satunya, memasangnya menutupi kedua kaki saya. Toh, ini hanya akan berlangsung selama ujian semester saja, pikir saya. Dugaan saya agak meleset rupanya, pihak Dekanat mulai memberlakukan kewajiban mengenakan sepatu bagi seluruh peserta perkuliahanAn tepat ketika masa ujian semester berakhir. Wajib!
Terus terang, kenyataan ini sungguh berat bagi saya, terutama bagi kedua kaki saya dari ujung jari hingga setidaknya mata kaki. Ini bagai sebuah tsunami yang menghantam independensi kedua kaki saya. Jika semula mereka bebas merdeka merasakan angin spoi-sepoi saat saya melangkah menuju kampus, kini mereka dipaksa bersembunyi dalam kegelapan sebuah benda bernama sepatu. Alangkah tersiksanya mereka, ketika hampir seharian harus saling berdesakan dalam sebuah ruang tertutup bernama sepatu.
Sebulan sejak kebijakan Dekanat berlaku, kesua kaki saya nampaknya mulai bermasalah. Saya mulai merasa gatal-gatal pada beberapa bagian, terutama di sela-sela jari kaki. Tak hanya itu, bau tajam serupa bumbu dapaur hasil fermentasi udang-uadang kecil mulai menghiasi udara di sekitar mereka. Saya menyadari dengan hati penuh, inilah serangan jamur kaki, sesuatu yang saya khawatirkan selama ini. Maka lengkap sudah penderitaan saya sejak ujian semester sebulan yang lalu itu, sejak kewajiban bersepatu di berlakukan di kampus.
Jumat, 28 Agustus 2015
Bakso dan Para Perantau dari Wonogiri
"Ngebakso, yuk!" Ajakan ini tentu tak asing di telinga kita. Bakso hidangan sepinggan ini sangat akrab di lidah orang Indonesia.
Umumnya bakso terbuat dari daging sapi giling yang dicampur dengan tapioka dan bumbu-bumbu pelengkap, meski adapula yang terbuat dari daging ayam atau ikan. Akar kuliner hidangan ini berasal dari Cina. Dalam Bahasa Hokkian Bak-So artinya daging giling. Secara kasat mata, keseluruhan hidangan ni memang sangat oriental, mulai dari penggunaan bawang putih yang dominan, sup yang bening, penggunaan mie, tahu hingga krupuk pangsit.
Masyarakat Leuwiliang, sebagaimana masyarakat Sunda pada umumnya, sependek pengetahuan saya adalah penggila Bakso.Siang malam panas hujan, hidangan ini selalu diburu. Masih kurang yakin dengan pernyataan saya ini? Coba deh, teman-teman hitung-hitung: Dalam sebulan berapa kali frekwensi kita menyantap bakso.... Hmmmm atau, jika kebetulan singgah dan melewati di sekitaran Pasar LeuwiliNg, sesekali lihatlah berapa banyak pedagang bakso di sana.
Suatu ketika, saya pernah secara sengaja menghitung jumlah pedagang bakso di sekitar Pasar Leuwiliang. Mulai dari Bakso Pak Sadid yang tersohor dengan bonus daging kepala sapinya itu hingga ke kedai Bakso Gian di dekat Mualimin bahkan hingga ke kios Bakso Bom yang ukurannya segede alaihim gambreng itu. Sekitar tahun 2005, lebih 50 pedagang bakso yang saya temui tengah mengais rezeki di sana. Iseng? He..he..he.... Iya benar, ini kerjaan super iseng yang kerap saya lakukan di manapun. Tapi, ini iseng yang serius sih....wahai sist, bro and guys.
Kalau kita menjelajahi Pasar Leuwiliang ini, masuklah ke lorong pasar di sisi barat, maka kita akan menjumpai banyak pedagang daging sapi di dalamnya. Ada pula dua kedai pengolah adonan bakso yang melayani pelanggan tetapnya, para pedagang bakso.
Kronologinya kira-kira begini: Di pagi hari, para pedagang bakso membeli daging sapi, lalu langsung membawanya ke penggilingan. Proses penggilingan ini cukup memakan waktu. Mulai dari mengantri, menggiling daging, pencampuran daging giling dengan tapioka dan bumbu. Meski demikian proses ini cukup membantu meringankan pekerjaan para pedagang bako. Adonan siap masak ini selanjutnya dibawa pulang dan siap diolah.
Kenapa pedagang bakso di Leuwiliang banyak sekali ya? Bisa jadi karena masyarakatnya, seperti yang saya singgung di atas memang penggila Bakso. Begitulah Hukum Permintaan yang berlaku, ada permintaan maka ada penjual. Padahal, tidak semua pedagang bakso itu warga pribumi lho. Bahkan kalau dicermati, sebenarnya banyak sekali warga pedatang yang mengais rezeki di sana dengan berprofesi sebagai pedagang bakso.
Berdasarkan hasil obrolan dan pengamatan super iseng saya......ditengarai pedagang bakso di Pasar Leuwiliang ini sebagian merupakan pendatang dari Wonogiri. Nah, sist, bro and guys sekalian mungkin sekali waktu bisa memperhatikan dialek para pedagang ini ketika melayani pembelinya. Ada dua dialek utama yang dapat dikenali: Dialek Sunda atau Jawa. Jika si pedagang mengunakan dialek Jawa, besar kemungkinan ia berasal dari Wonogiri, Jawa Tengah.
Wonogiri di Jawa Tengah dan Malang di Jawa Timur merupakan dua wilayah yang terkenal sebagai sumber persebaran para pedagang baso. Kedua jenis bakso dari kedua tempat ini berbeda sekali. Jika menelisik penampakan bakso di kedai-kedai Bakso di Leuwilang, dapat dikatakan merupakan jenis bakso dari Wonogiri.
Ini jelas fenomena yang cukup mengerikan guys......! (Ups....jangan serius yaa.....Seklai lagi, saya sedang iseengg banget smile emotikon )
Jangan bicara soal imperialisme ya...kalau masyarakat Leuwiliang sendiri tidak sadar telah dijajah oleh masyarakat Wonogiri. Kegilaan akan bakso tanpa disadari merupakan bentuk penjajahan, invasi kuliner yang melenakan indera pengecap kita. Bayangkan.....para perantau Wonogiri itu telah berhasil menciptakan ketergantungan akut masyarakat Leuwiliang akan hidangan bernama bakso, he..he...he...
Jangan bicara soal imperialisme ya...kalau masyarakat Leuwiliang sendiri tidak sadar telah dijajah oleh masyarakat Wonogiri. Kegilaan akan bakso tanpa disadari merupakan bentuk penjajahan, invasi kuliner yang melenakan indera pengecap kita. Bayangkan.....para perantau Wonogiri itu telah berhasil menciptakan ketergantungan akut masyarakat Leuwiliang akan hidangan bernama bakso, he..he...he...
Tapi begitulah kuliner...bakso tetaplah bakso. Sebuah hidangan gurh dan lezat yang mampu mengusir rasa lapar, mencairkan suasana dan mengakraban sebuah perbincangan di sebuah kedai bakso.
Nah temans, sudahkah makan bakso hari ini?
Catatan "Ngobrol Produktif dengan Praktisi"
![]() |
| credit foto: Iving A Chevny |
"Kantor Pos bablas ngulon...."
Demikian pesan pendek Iwan J Prasetyo di inbox FB saya, membantu memberi petunjuk lokasi diskusi yang akan kami hadiri. Akhirnya saya menemukan lokasi pertemuan kami, setelah menjelajahi hampir separuh kampung Jomegatan lantaran urusan nomor rumah yang ternyata acak-acakan di kawasan ini.
Demikian pesan pendek Iwan J Prasetyo di inbox FB saya, membantu memberi petunjuk lokasi diskusi yang akan kami hadiri. Akhirnya saya menemukan lokasi pertemuan kami, setelah menjelajahi hampir separuh kampung Jomegatan lantaran urusan nomor rumah yang ternyata acak-acakan di kawasan ini.
Undangan diskusi terbatas yang digagas mas Iving A Chevny sungguh menggiurkan: "Ngobrol Produktif dengan Praktisi" . Iming-iming bahasannya juga tak kalah menggemaskan (he..he..he): Berbagi ilmu cara brand terkenal memproduksi sepatu, Berbagi ilmu tentang berbagai jenis bahan garmen(tas, sepatu), Berbagi ilmu tentang bagaimana cara kerja desainer dan product developer menghasilkan sebuah produk yg bagus dan berkualitas, Berbagi ilmu seluk beluk tentang foto produk, Berbagi ilmu tentang web, e commerce dll, Berbagi ilmu tentang packaging, yg mampu memberikan nilai lebih bagi sebuah product. Opo ra edan kuwi!
Dalam diskusi ini, hadir mas Iving A Chevny (wirausahan nasional), kang Diki Kusmayadi (Product Development), mas Imam Syafei (prakisi UMKM), mas Iwan J Pasetyo (Praktisi IT), mbak Destina Kawanti (BNN) dan komunitas Geluk Design (sekumpulan anak muda yang tekun berkarya dalam dunia komunikasi visual).
INTRO
INTRO
Tepat 1 Januari 2015, kawasan ASEAN akan memasuki babak baru, sebuah era diberlakukannya sistem ekonomi integral antar negara anggota ASEAN Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailan, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar. Sebuah sistem perdagangan bebas antar negara ASEAN akan menghilangkan berbagai sekat wilayah, termasuk berbagai kebijakan yang bisanya menjadi pengendali dalam sebuah negara. Sistem bea cukai akan lebih sederhana, adanya sistem self certification. Sistem kompetisi langsung ini memiliki resiko yang cukup serius dengan membanjirnya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia. Ini mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang jauh lebih berkualitas dan tak jarang jauh lebih murah. Kondisi kompetisi langsung ini kemungkinan akan membuat neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit.
Ilustrasi singkatnya begini: Pedagang Singapura atau Malaysia dapat leluasa berdagang di Indonesia, demikian juga sebaliknya Pedagang asal Indonesia dapat membuka kedai di Thailand atau Vietnam, tanpa disibukkan dengan berbagai regulasi.
MEA dan Tantangan UKM Indonesia
Mas Iving A Chevny mengawali diskusi dengan mengetengahkan dua isu penting yaitu pendapat pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsi terkait keberadaan UKM di era MEA (Masyarakat ekonomi ASEAN) dan pernyataan Jusuf Kalla terkait rencana dikucurkannya kredir untuk UKM. Kedua isu ini meski bukan isu baru namun merupakan isu yang cukup penting di kalangan pelaku bisnis UMKM.
Nah, bagaimana pelaku usaha d indonesia sendiri? Ini adalah tantangan luar biasa bagi pelaku usaha kita, terutama pelaku usaha UMKM? Apakah siap menghadapai "tamu-tamu" dari berbagai negara tetangga ini, di tengah hadirnya tantangan krisis moneter dunia yang melorotkan nilau tukar rupiah?
Sekedar pengingat, krisis tahun 1998 sesungguhnya UMKM telah menjadi tulang punggung bagi perekonomian bangsa kita, menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan lebih jauh. Di saat begitu banyak pelaku usaha kelas kakap yang kocar-kacir, UMKM mampu bertahan, meski tak sedikit yang gulung tikar.
Tantangan saat ini mungkin tak kalah dahsyat dengan badai ekonomi tahun 1998 yang lalu. Bagaimana pelaku UMKM menyikapinya? Apakah masih harus menunggu uluran tangan dari pemerintah terus? Bagaimana memenangkan persaingan usaha dengan pelaku UMKM dari negara serumpun?
Mas Imam Syafei mengemukakan bahwa sesungguhnya ada banyak kelebihan dan kelemahan UMKM kita dalam sejarah perjalanannya. Apa kelebihannya? Sebenarnya produk Indonesia itu mampu lho bersaing dengan produk dari luar negeri, bahan untuk standar Eropa yang membutuhkan banyak syarat dan kontrol kualitas yang ketat. Ini dibuktikan dengan banyaknya produk ekspor yang banyak memenuhi pasar dunia. Tak jarang banyak pula pesanan produksi yang mampu dipenuhi dengan spesifikasi tinggi.
Kalau produknya sudah mampu bersaing, kenapa UMKM kita sepertinya masih jalan di tempat? Ini dia kelemahan yang harus kita cermati: Masalah etos kerja. persoalan utama adalag pada komitmen saat menerima permintaan klien. Tak jarang, saat menerima order, banyak UMKM yang tak mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati alias mangkir. Komitmennya bukan soal waktu yang molor dari jadwal, terkadang demi meraih keuntung lebih spesifikasi bahan baku malah di bawah standar yang disepakai.
Faktor lain juga terkait pengetahuan. Pengetahuan akan pasar yang dituju, kemampuan membaca trend dan tentu saja saat yang tepat ketika meluncurkan produk. Saat ini, tengah dirintis sebuah institusi untuk mendampingi pelaku UMKM mengembangkan usahanya yaitu Rumah Branding Yogya
Salah satu contoh produk yang mampu memenuhi pesanan dengan standar Eropa adalah produk ikat pinggang sederhana dari bahan webbing (?) dengan merk Fret Free (http://www.fret-free.com/).
PENGEMBANGAN PRODUK DAN KONSUMEN
Di sessi ini juga dipaparkan betapa rumitnya merancang sebuah produk dalam menghadapi kompetitor. Kang Diki Kusmayadi berbagi cerita pengalamannya sebagai seorang Product Development untuk sebuah brand asal Autralia, mulai dari soal kompetisi antar produk, kualitas bahan, kualitas produksi hingga soal prosuk yang harus presisi satu sama lain. Terkait tugas utamanya seorang Product Development selain harus menguasai hal-hal teknis produksi, ia juga wajib membuka mata dan telinga terhadap perkembangan trend fashion terkini, menjawab keinginan pasar, mecari tahu perkembangan kompetitor. Semua itu adalah upaya yang terintegrasi satu sama lain dalam membangun dan mempertahankan brand dan tentu saja ekspansi pasar yang lebih luas.
Sebagai ilustrasi, brand Rip Curl sangat massif di Bali hingga terkesan menjadi brand yang generik (http://asia.ripcurl.com/). Di sudut manapun di pulau Dewata ini, kita akan dengan mudah menemukan logo Rip Curl. Ini berbeda sekali dengan kondisi di Jakarta, brand ini ternyata kurang populer. Perbedaan signifikan ini tentu saja sangat dipengaruhi kondisi pasar. Bali yang identik dengan destinasi wisata, termasuk aktivitas surfing, sementara Jakarta adalah kota metropolitan yang tak ada aktivitas surfing. Karakteristik pantai dan laut Jakarta berbeda dengan Bali, kondisi geografis ini adalah yang mendasari perbedaan pasar kedua kawasan ini. Jakarta justru lekat dengan aktivitas skateboard, sebuah jenis olahraga urban yang jauh dari kawasan pantai. Maka brand lain yang menjadi kompetitor lebih mampu bersaing di kawasan Jakarta. Istilah Rip Curl sendiri (atau Rip Current) berasal dari istilah kondisi akumulasi dua atau lebih arus balikgelomang laut yang cukup mematikan yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut.
Sekedar pengingat, krisis tahun 1998 sesungguhnya UMKM telah menjadi tulang punggung bagi perekonomian bangsa kita, menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan lebih jauh. Di saat begitu banyak pelaku usaha kelas kakap yang kocar-kacir, UMKM mampu bertahan, meski tak sedikit yang gulung tikar.
Tantangan saat ini mungkin tak kalah dahsyat dengan badai ekonomi tahun 1998 yang lalu. Bagaimana pelaku UMKM menyikapinya? Apakah masih harus menunggu uluran tangan dari pemerintah terus? Bagaimana memenangkan persaingan usaha dengan pelaku UMKM dari negara serumpun?
Mas Imam Syafei mengemukakan bahwa sesungguhnya ada banyak kelebihan dan kelemahan UMKM kita dalam sejarah perjalanannya. Apa kelebihannya? Sebenarnya produk Indonesia itu mampu lho bersaing dengan produk dari luar negeri, bahan untuk standar Eropa yang membutuhkan banyak syarat dan kontrol kualitas yang ketat. Ini dibuktikan dengan banyaknya produk ekspor yang banyak memenuhi pasar dunia. Tak jarang banyak pula pesanan produksi yang mampu dipenuhi dengan spesifikasi tinggi.
Kalau produknya sudah mampu bersaing, kenapa UMKM kita sepertinya masih jalan di tempat? Ini dia kelemahan yang harus kita cermati: Masalah etos kerja. persoalan utama adalag pada komitmen saat menerima permintaan klien. Tak jarang, saat menerima order, banyak UMKM yang tak mampu memenuhi komitmen yang telah disepakati alias mangkir. Komitmennya bukan soal waktu yang molor dari jadwal, terkadang demi meraih keuntung lebih spesifikasi bahan baku malah di bawah standar yang disepakai.
Faktor lain juga terkait pengetahuan. Pengetahuan akan pasar yang dituju, kemampuan membaca trend dan tentu saja saat yang tepat ketika meluncurkan produk. Saat ini, tengah dirintis sebuah institusi untuk mendampingi pelaku UMKM mengembangkan usahanya yaitu Rumah Branding Yogya
Salah satu contoh produk yang mampu memenuhi pesanan dengan standar Eropa adalah produk ikat pinggang sederhana dari bahan webbing (?) dengan merk Fret Free (http://www.fret-free.com/).
PENGEMBANGAN PRODUK DAN KONSUMEN
Di sessi ini juga dipaparkan betapa rumitnya merancang sebuah produk dalam menghadapi kompetitor. Kang Diki Kusmayadi berbagi cerita pengalamannya sebagai seorang Product Development untuk sebuah brand asal Autralia, mulai dari soal kompetisi antar produk, kualitas bahan, kualitas produksi hingga soal prosuk yang harus presisi satu sama lain. Terkait tugas utamanya seorang Product Development selain harus menguasai hal-hal teknis produksi, ia juga wajib membuka mata dan telinga terhadap perkembangan trend fashion terkini, menjawab keinginan pasar, mecari tahu perkembangan kompetitor. Semua itu adalah upaya yang terintegrasi satu sama lain dalam membangun dan mempertahankan brand dan tentu saja ekspansi pasar yang lebih luas.
Sebagai ilustrasi, brand Rip Curl sangat massif di Bali hingga terkesan menjadi brand yang generik (http://asia.ripcurl.com/). Di sudut manapun di pulau Dewata ini, kita akan dengan mudah menemukan logo Rip Curl. Ini berbeda sekali dengan kondisi di Jakarta, brand ini ternyata kurang populer. Perbedaan signifikan ini tentu saja sangat dipengaruhi kondisi pasar. Bali yang identik dengan destinasi wisata, termasuk aktivitas surfing, sementara Jakarta adalah kota metropolitan yang tak ada aktivitas surfing. Karakteristik pantai dan laut Jakarta berbeda dengan Bali, kondisi geografis ini adalah yang mendasari perbedaan pasar kedua kawasan ini. Jakarta justru lekat dengan aktivitas skateboard, sebuah jenis olahraga urban yang jauh dari kawasan pantai. Maka brand lain yang menjadi kompetitor lebih mampu bersaing di kawasan Jakarta. Istilah Rip Curl sendiri (atau Rip Current) berasal dari istilah kondisi akumulasi dua atau lebih arus balikgelomang laut yang cukup mematikan yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut.
E-COMMERCE
Iwan J Prasetyo, praktisi IT, mengingatkan bahwa kunci e-commerce terletak pada keberadaan sebuah produk itu sendiri. Kuncinya da di produk, bukan pada brand. MEA sendiri merupakan replika dari dunia e-commerce. Selanjutnya, metode apa yang akan dipakai? Branding atau Cloning? Contoh kasus adalah xiaomi yang merupakan kloning dari I-phone.
Iwan J Prasetyo, praktisi IT, mengingatkan bahwa kunci e-commerce terletak pada keberadaan sebuah produk itu sendiri. Kuncinya da di produk, bukan pada brand. MEA sendiri merupakan replika dari dunia e-commerce. Selanjutnya, metode apa yang akan dipakai? Branding atau Cloning? Contoh kasus adalah xiaomi yang merupakan kloning dari I-phone.
Start up aktivitas e-commerce bisa dilakukan dengan menumpang jual pada toko-toko online terkemuka seperti Lazada, Tokopdia, blibli, bhineka dan lain-lain. Jika telah mapan makaa bisa melakukan penjualan sendiri lewat situs sendiri.
Saat ini komoditi bukan lagi berupa produk degan tingkat kadaluarsa yang tinggi, tahan lama seperti fashion, peralatan rumah tangga, elektronik dan lain sebagainya. Bisnis e-commerce juga mulai merambah lahan kuliner, sebuah komoditi yang membuthkan waktu pengiriman cepat, dengan resiko besar, masa kadaluarsa yang singkat bahka dalam hitungan jam. Mas Iwan menceritakan pengalamannya memesan menu ayam ingkung dari sebuah grup pecinta kuliner, dan ia menerima pengiriman menu tersebut dalam waktu 3 jam saja, dengan kondisi menu dalam keadaan hangat. (https://www.facebook.com/groups/kulinus/)
Saat ini komoditi bukan lagi berupa produk degan tingkat kadaluarsa yang tinggi, tahan lama seperti fashion, peralatan rumah tangga, elektronik dan lain sebagainya. Bisnis e-commerce juga mulai merambah lahan kuliner, sebuah komoditi yang membuthkan waktu pengiriman cepat, dengan resiko besar, masa kadaluarsa yang singkat bahka dalam hitungan jam. Mas Iwan menceritakan pengalamannya memesan menu ayam ingkung dari sebuah grup pecinta kuliner, dan ia menerima pengiriman menu tersebut dalam waktu 3 jam saja, dengan kondisi menu dalam keadaan hangat. (https://www.facebook.com/groups/kulinus/)
PERILAKU KONSUMEN
"Hasrat itu munculnya dari mata", demikian mas Iving menuturkan quote tokoh psikopat Hannibal Lecter dan lakon Silence of the Lamb. Menurutnya, visualisasi yang ditangkap mata mampu mendorong konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Indra visual dianggap mampu mendominasi indra peraba untuk mempengaruhi perilaku konsumen dalam transaksi e-commerce ini. Dalam hal ini, peranan desain grafis sangat besar untuk menampilkan image produk, antara lain berupa desain kemasan yang menarik.
Meski hal tersebut benar adanya,namun tak dapat dipungkiri bahwa term of experince dan term refference sesungguhnya juga mempunyai peran dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
TENAGA KERJA DAN MESIN
Masalah tenaga kerja juga menjadi bahasan singkat dalam diskusi ini. Mbak Destina Kawanti dari BNN berbagi cerita tentang upaya rehabilitasi eks pengguna narkoba agar bisa dilatih menjadi tenaga yang lebh produktif.
Industri digital memasuki babak baru dengan kehadiran mesinm-mesin produksi digital yang dapat dioperasikan di rumah-rumah. sebut saja mulai dari printer sablon digital hingga printer 3 dimensi. Mesin CNC (Computer Numerically Controlled), sebuah mesin yang dikontrol penuh lewat sistem komputerisasi dan semula hanya beredar di kalangan terbatas ini, kini diproduksi massal dan dpat diakses oleh banyak orang dengan harga yang lebih terjangkau. Bayangkan bisa ukiran-ukiran kayu Jepara yang semula dikejakan oleh tenaga perajin ukir, kini cukup dioperasikan oleh mesin cnc di bawah kendali sistem digital. Melalui mesin ini, kayu ukir dapat diproduksi massif, presisi satu sama lain, tanpa ongkos pekerja, bahkan waktu produksi juga dapat dirancang sejak awal produksi.
Kehadiran secara massif mesin-mesin digital rumahan ini apakah mereduksi ruangan pabrik hanya menjadi seukuran ruang tidur, mereduksi besar-besaran tenaga pekerja? Lalu, bagaimana nasib tenaga kerja manusia?
GOJEK
Tidak afdol rasanya, mendiskusikan e-commerce tanpa melirik Gojek, bisnis e-commerce yang saat ini sedang happening atau meminjam istilah para enterpreneur sedang "moncer" :) Gojek, layanan antar jemput menggunakan moda kendaraan roda dua yang terintegrasi dengan sistem online ini diinisiasi Nadiem Makarim, masuk dalam kategori bisnis logistik: mengantarkan (biasa penumpang, bisa juga barang).
Sistem yang digunakan Gojek: Driver mendapatkan tool berupa gadget dengan program aplikasi yg tertanam di dalamnya, termasuk kelengkapan berkendara: Jaket driver dan 2 helm (untuk driver dan penumpang). Sistem pembayaran juga dilakukan secara online. Penumpang wajib melakukan registrasi dan membeli voucher, maka pembayaran tidak dilakukan secara tunai, secara otomatis deposit uang pada akun penumpang akan dipotong sesuai jarak tempuh. Sementara Driver akan menerima gaji dari Manajemen Gojek, sesuai akumulasi pada akunnya. (http://www.go-jek.com/)
PADA AKHIRNYA SEMUA ADALAH IDE
Jika semua elemen dasar industri direduksi, mulai dari regulasi, jarak, tenaga kerja, alat produksi...apa yang tersisa bagi manusia? hanya ide yang tak bisa direduksi, tak bisa digantikan. Ide adalah sumber daya tak akan pernah habis, semakin digali akan semakin cemerlang. Ide bisa datang dari manapun, kapanpun, oleh siapapun dan untuk siapapun. Eureka!
GOJEK
Tidak afdol rasanya, mendiskusikan e-commerce tanpa melirik Gojek, bisnis e-commerce yang saat ini sedang happening atau meminjam istilah para enterpreneur sedang "moncer" :) Gojek, layanan antar jemput menggunakan moda kendaraan roda dua yang terintegrasi dengan sistem online ini diinisiasi Nadiem Makarim, masuk dalam kategori bisnis logistik: mengantarkan (biasa penumpang, bisa juga barang).
Sistem yang digunakan Gojek: Driver mendapatkan tool berupa gadget dengan program aplikasi yg tertanam di dalamnya, termasuk kelengkapan berkendara: Jaket driver dan 2 helm (untuk driver dan penumpang). Sistem pembayaran juga dilakukan secara online. Penumpang wajib melakukan registrasi dan membeli voucher, maka pembayaran tidak dilakukan secara tunai, secara otomatis deposit uang pada akun penumpang akan dipotong sesuai jarak tempuh. Sementara Driver akan menerima gaji dari Manajemen Gojek, sesuai akumulasi pada akunnya. (http://www.go-jek.com/)
PADA AKHIRNYA SEMUA ADALAH IDE
Jika semua elemen dasar industri direduksi, mulai dari regulasi, jarak, tenaga kerja, alat produksi...apa yang tersisa bagi manusia? hanya ide yang tak bisa direduksi, tak bisa digantikan. Ide adalah sumber daya tak akan pernah habis, semakin digali akan semakin cemerlang. Ide bisa datang dari manapun, kapanpun, oleh siapapun dan untuk siapapun. Eureka!
Kamis, 27 Agustus 2015
Kelas Gerbong Kereta Toto-Chan
Melihat foto tumpukan bangkai gerbong kereta di stasiun Purwakarta ini, saya langsung teringat sebuah novel tentang anak kecil yang bersekolah di kelas-kelas gerbong kereta. Nama anak itu Toto-Chan. Gadis kecil ini ditolak belajar di beberapa sekolah lantaran memiliki kebiasan yang berbeda dibanding teman-teman lainnya.
Beruntungnya, Toto-Chan memiliki seorang ibu yang sabar dan memahami dirinya. Setelah beberapa kali pindah sekolah, tiba saatnya ia dan ibunya mendaftar di sebuah sekolah yang bisa memahami karakter anak-anak seperti dirinya.
Pertama memasuki pelataran sekolah barunya, gadis kecil ini sungguh takjub lantaran mendapati sekolah dengan bentuk fisik yang tidak seperti biasanya. MUlai dari lokasi yang berada di antara rerimbunan pohon, gerbang sekolah yang terdiri dari dua batang pohon dan masih memunculkan dedaunan hingga kelas-kelas belajar yang terbuat dari gerbong-gerbong kereta bekas. Yang tak kalah menarik adalah saat perkenalan dengan Kepala Sekolah, dimana sang Kepala Sekolah yang bijaksana itu mendengarkan dengan tekun dan antusias cerita gadis kecil ini selama 4 jam penuh, tanpa rasa kantuk atau bosan.
Episode lain yang tak kalah menarik dari novel ini adalah pengalaman Toto-Chan dan teman-teman sekolah saat berkemah di sekolah. Kemah kali ini bukan kemah sembarangan. Anak-anak ini berkemah bersama di sekolah untuk menyambut kedatangan gerbong kereta baru.
Sejak siang hari ketika terdengar kabar akan ada gerbong baru, mereka luar biasa antusias dan penasaran. Sambil membentuk kerumunan kecil, mereka menduga-duga bagaimana cara gerbong kereta akan diangkut ke sekolah mereka. Ada yang menduga diangkut menggunakan gerobak, atau ada pula yang menduga akan dibangun rel baru menuju sekolah.
Untuk menjawab rasa penasaran mereka, Kepala Sekolah mengizinkan mereka berkemah di sekolah untuk menyaksikan bagaimana gerbong kereta diangkut ke sekolah.
Saya terkesima dengan cerita-cerita dalam novel ini. Saya membayangkan seandainya bangkai-bangkai gerbong ini dimanfaatkan menjadi kelas-kelas sekolah dengan Kepala Sekolah yang sama bijaknya sebagaimana dalam novel tersebut, tentu akan ada anak-anak yang mengalami masa kecil tak terlupakan.
Beruntungnya, Toto-Chan memiliki seorang ibu yang sabar dan memahami dirinya. Setelah beberapa kali pindah sekolah, tiba saatnya ia dan ibunya mendaftar di sebuah sekolah yang bisa memahami karakter anak-anak seperti dirinya.
Pertama memasuki pelataran sekolah barunya, gadis kecil ini sungguh takjub lantaran mendapati sekolah dengan bentuk fisik yang tidak seperti biasanya. MUlai dari lokasi yang berada di antara rerimbunan pohon, gerbang sekolah yang terdiri dari dua batang pohon dan masih memunculkan dedaunan hingga kelas-kelas belajar yang terbuat dari gerbong-gerbong kereta bekas. Yang tak kalah menarik adalah saat perkenalan dengan Kepala Sekolah, dimana sang Kepala Sekolah yang bijaksana itu mendengarkan dengan tekun dan antusias cerita gadis kecil ini selama 4 jam penuh, tanpa rasa kantuk atau bosan.
Episode lain yang tak kalah menarik dari novel ini adalah pengalaman Toto-Chan dan teman-teman sekolah saat berkemah di sekolah. Kemah kali ini bukan kemah sembarangan. Anak-anak ini berkemah bersama di sekolah untuk menyambut kedatangan gerbong kereta baru.
Sejak siang hari ketika terdengar kabar akan ada gerbong baru, mereka luar biasa antusias dan penasaran. Sambil membentuk kerumunan kecil, mereka menduga-duga bagaimana cara gerbong kereta akan diangkut ke sekolah mereka. Ada yang menduga diangkut menggunakan gerobak, atau ada pula yang menduga akan dibangun rel baru menuju sekolah.
Untuk menjawab rasa penasaran mereka, Kepala Sekolah mengizinkan mereka berkemah di sekolah untuk menyaksikan bagaimana gerbong kereta diangkut ke sekolah.
Saya terkesima dengan cerita-cerita dalam novel ini. Saya membayangkan seandainya bangkai-bangkai gerbong ini dimanfaatkan menjadi kelas-kelas sekolah dengan Kepala Sekolah yang sama bijaknya sebagaimana dalam novel tersebut, tentu akan ada anak-anak yang mengalami masa kecil tak terlupakan.
Langganan:
Komentar (Atom)
MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG
Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...
-
Sejak Unesco menganugerahkan Batik sebagai Karya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia Oktober 2009 maka Bulan oktober dinobatkan menjadi Bula...
-
Bor maual eukuran mikro, untuk menarik keluar syaraf gigi Dentist menggunakan alat lup (lensa) yang ditanam pada kacamata. Tangan kiri...



