Sabtu, 27 Desember 2014

Kalau Kepepet, Apa Boleh Buat


Berwisata di ALun-ALun Utara memang menyenangkan sekali, mulai dari ruang terbuka yang luas, pedagang makanan yang ramah, deretan pohon beringin di sisi jalan, bahkan arena Sekaten yang digelar setiap tahun menambah daya tarik kawasan ini.
Namun, semuanya buyar ketika secara tiba-tiba tubuh kita diserang sindrom pipis mendadak atau yang lebih parah harus BAB. Kawasan wisata yang tersohor ini tidak dilengkapi dengan fasilitas toilet yang memadai.
Minggu pagi, saya sering membawa anak-anak nongkrong-nongkrong di sisi barat ALun-ALun Utara untuk menikmati susu segar, wafel cokelat keju, roti goreng atau jajanan lain. Tak jarang, mereka mendadak ingin buang air kecil dan lokasi toilet terdekat adalah di sudut pertigaan jalan Pekapalan dan Jl. Ibu Ruswo, tepat di seberang outlet Dagadu. Di sini ada sebuah toilet yang tampaknya sudah cukup tua. Toilet ini terbuat dari lempeng besi dan berdiri di atas roda dan tiang. Pada beberapa bagian toilet ini serangan karat nampak mengerogoti dengan ganas. Nampaknya, toilet ini dulu merupakan mobile toilet yang digunakan berkeliling sebagai sarana pendudukung kegiatan outdoor.
Meski terlihat mengerikan, apa boleh buat, terpaksa kami menumpang buang hajat di toilet tersebut. Meski merasa agak was-was, saya tetap bersyukur dengan keberadaan toilet tersebut.



Kadang saya bertanya-tanya sendiri, sampai berapa lama ya.... toilet itu bertahan di sana? Atau, kapan ya.... toilet ini direvitalisasi, diganti dengan bangunan yang lebih baru dan permanen sehingga kami bisa memanfaatkanya tanpa perasaan deg-degan?

Selasa, 09 Desember 2014

Pasar-Pasar Kota Yogya dan Kamis Pahingan

Berbelanjalah dengan hati senang dan dapatkan nuansa yang berbeda di setiap Kamis Pahing di Pasar-Pasar Kota Yogya.




Kemarin, sesuatu yang berbeda hadir di pasar-pasar Kota Yogya. Para pedagang di seantero Pasar Kota ini mengenakan busaa tradisional, kebaya,jarik, lurik, blangkon. Semuanya terlihat cantik dan bagus dengan sunggingan senyum sumringah di wajah mereka.
Hari Kamis Pahing, sebagaimana para siswa sekolah, ada anjuran mengenakan busana tradisional. Maka pagi tadi, saya malah gagal berbelanja...gantinya, saya menjadi sibuk memotret mereka.
Hari Kamis Pahing dipilih berdasarkan weton pasaran lahirnya Keraton Yogyakarta sejak dipindah dari Pesanggarahan Ambar Ketawang. Sedangkan himbauan penggunaan pakaian tradisional ditujukan untuk mendukung penggunaan pakaian tradisional sebagai pakaian sehari-hari



Menjelajahi pasar di pagi ini, rasanya seperti memasuki lokasi syutng sinetron bersetting cerita kolosal, semacam Saur Sepuh gitu deh... ha...ha...ha...
Tercatat tiga pasar yag saya jelajahi: Pasar Legi, Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo....Niat banget'kan..he..he..he..















Pagi ini, para pedagang benar-benar menjelma menjadi para juragan

Jeruk Nipis

Saya tidak tahu pasti sejak kapan saya jatuh cinta pada Jeruk Nipis. Saya menyukainya sejak lama, berbelas tahun saya menikmatinya lewat tegukan-tegukan segar es teh manis yang kerap saya bubuhi perasan irisan Jeruk Nipis. Yang jelas, akarnya bermula dari kesukaan buah masa kecil saya, Jeruk. Ya, sejak kecil saya suka buah satu ini. Bahkan saya mengkonsumsi Jeruk beserta ampasnya, padahal untuk anak kecil ampas Jeruk tergolong pahit.
Jeruk Nipis, buah yang juga menjadi bagian dari bumbu dapur ini hampir selalu menjadi perhatian saya kala berbelanja di pasar tradisional. Mata saya kerap menjelajahi keranjang-keranjang pedagang yang berisi Jeruk Nipis. Saya mencari-cari butiran yang berukuran besar dan berwarna kekuningan, pertanda buah yang matang dan sarat cairan asam di dalamnya.
Sering kali, saat menyinggahi kedai-kedai soto, saya mencuri-curi kesempatan menekuk seiris Jeruk Nipis di atas gelas es teh manis. Hasilnya, segelas es lemon tea berhasil menemani santap soto saya.
Di dapur, saya melumuri daging ayam dan ikan yang hendak dimasak. Perpaduan asinnya garam dan asamnya perasan Jeruk Nipis membantu mengurangi lendir, bau amis pada daging ayam dan ikan yang hendak diolah. Pada ikan yang hendak digoreng, lumuran garam dan air Jeruk Nipis sudah merupakana bumbu yang cukup praktis. Air Jeruk Nipis menggantikan peran Asam Jawa yang terkadang membuat noda gosong pada ikan goreng.
Tak hanya berfungsi menghilangkan anyir pada ikan, Jeruk Nipis juga bisa mneghilangkan bau langu pada Pepaya dan Wortel. Seringkali saya menghadirkan jus Wortel yang diberi perasan air Jeruk Nipis, hasilnya jus Wortel saya tanda tak bersisa. Sementara pada buah Pepaya, saya menghidangkan dalan bentuk potongan-potongan kecil sekali makan yang ditaburi gula pasir dan perasan air Jeruk Nipis. Dan, tentu saja hasilnya juga habis dilahap anak-anak 
Lain waktu, saya menikmati Infused Water dengan perpaduan irisan Mentiun dan sedikit perasan air Jeruk Nipis. Rasanya? Segaaarrrr sekali........
Semalam saya menemukan resep baru: selai olesan roti dari wortel dan jeruk nipis. Hmm...nampaknya patut dicoba nih... 



Jumat, 05 Desember 2014

Menikmati Jeruk Peras di Sepanjang Tahun

Buah Jeruk hadir di hampir sepanjang tahun, seperti tak mengenal musim. Saya sering menghidangkannya dalam bentuk jus, hasil perasan buah Jeruk Peras yang saya beli di pasar tradisional dekat rumah. Perpaduan rasa dan aroma asam segar dengan manisnya sedikit gula sangat disukai anak-anak.
Saat udara panas, saya menghidangkan dengan sedikit campuran air dingin. Namun, saat cuaca sedang dingin seperti musim hujan ini, saya menhidangkan dalam keadaan hangat.

Milona dan Kopdar-Kopdar yang Menyertainya

Ona, demikia ia kerap disapa. Saya mengenalnya lewat foto-foto lini masa grup alumni Gajah Mada. Hingga suatu masa, di akhir 2012 saya berkesempatan berkenalan secara langsung dalam sebuah jumpa darat di Legend Cafe, Kotabaru.
Sebelumnya, saya sempat penasaran setengah mati dengan Ona. Bagaimana tidak, ia hadir di banyak acara kopdar dengan lokasi berbeda, kota yang berbeda bahkan terkadang beda provinsi dan beda pulau. Eksistensinya di jagad pertemanan alumni sungguh tak terbantahkan. Di mana ada kopdar maka di situ ada Ona. Hingga sebuah mahkota sempat dianugerahkan kepadanya: Ratu Kopdar.
Saya kurang tahu pasti siapa yang menyematkan gelar bergengsi itu kepadanya. Lain waktu, muncul pula sebuah idiom "Kopdar Tanpa Ona bagai Sayur tanpa Garam". Ini sebuah gejala ketergatungan akut akan kehadirannya dalam gelaran kopdar-kopdar di kalangan warga kampung.
Bagi yang pernah bertemu dengannya, pasti tahu pasti bagaimana perawakannya. Ia bertubuh mungil (bukan muka ngiler ya.....! Mohon dicermati). Namun penampakan tubuh kecilnya itu sepertinya mengecoh banyak orang. Banyak yang tidak tahu bahwa ia penggemar kuliner yang parah. Bahkan ada pula yang menjulukinya : Body Sedan Muatan Tronton.
Namun demikian, jangan meragukan kesetiaannya sebagai seorang teman. Suatu hari saya pernah hampir mati kelaparan, sungguh-sungguh kelaparan dalam sebuah perjalanan antar kabupaten. Saya baru saja menjalankan tugas dalam persiapan sebuah perhelatan kesenian. Demi menemui anak-anak di rumah, saya memaksakan diri pulang dalam keadaan tak memiliki uang dan bensin pas-pasan di jalan. Lokasi terdekat saya adalah kediaman kost Ona. Maka saya nekad menemuinya, menceritakan nasib apes itu. Ia meminjamkan saya uang untuk bekal perjalanan kembali ke rumah. Tak lupa ia mentraktir saya makan siang, hingga perut saya kenang tak terkira dan saya selamat dari kemungkinan mati kelaparan hari itu. Rupanya Ona tahu, saya kelaparan hari itu.
Belum sempat saya ganti mentraktirnya, ia sudah mentraktir saya lagi dalam kesempatan ulang tahunnya yang bersamaan dengan waktu kegiatan Idul Kurban grup Kampung.
Sebagai teman yang baik, saya mendoakannya lekas merampungkan tugas belajarnya. Namun itu adalah suatu dilema, jika ia lulus maka kemungkinan besar ia akan pulang kampung. Artinya, kopdar-kopdar akan terasa sunyi tanpa kehadirannya.
Dan saya juga mendoakannya lekas melepaskan status jomblonya itu, tentu saja dengan kekasih hati yang se-asoy dirinya. Saya sih yakin seyakin-yakinnya Ona adalah seorang jomblo yang baik hati, peramah dan sopan. Ia adalah seorang Single Happy.

Selasa, 02 Desember 2014

Panen Mangga di Musim Penghujan

Musim penghujan sudah tiba, banyak kebaikan didapat di musim ini: air yang melimpah, udara yang sejuk, pucuk-pucuk pohon yang membunga dan tentu saja panen buah. Salah satu buah yang tengah melimpah pada musim ini adalah Buah Mangga.
Meski pohon Mangga di pekarangan belakang rumah kami telah ditebang akibat usia yang menua, tetapi kelezatan Buah Mangga masih tetap dapat kami nikmati. Kini kami memanennya di pasar dekat rumah...ups tepatnya membeli  Tak hanya itu, beberapa rekan dengan senang hati mengundang dalam perayaan kecil panen buah Mangga di kediaman mereka. Ini tentu saja undangan yang sangat menyenangkan, memetik dan menikmatinya bersama dalam sebuah keriangan 
Buah berwarna kekuningan ini bernama asli Malayalam Maanga konon berasal dari wilayah di perbatasan India dengan Burma. Di masa kolonial, orang-orang Portugis mengenalkan buah ini ke daratan Eropa dan dikenal sebagai Manga dalam Bahasa Portugis dan Mango dalam Bahasa Inggris.
Buah Mangga yang saya beli di pasar adalah enis Mangga Harum Manis, jenis yang sangat popuper dan ikonik di antara jenis lainnya. Sedangkan pohon Mangga yang dulu pernah hadir di pekarang rumah kami merupakan jenis Mangga Madu. Mangga Madu adalah jenis Mangga yang daging buahnya sangat manis. Mangga ini harus dipetik dalam kondisi mengkal, jika dalam kondisi telah matang maka kita aan mendapati daging buah yang sudah terlalu matang, kondisinya bisa dikatankan hampir 'bonyok'. Jenis lain yang cukup populer adalah Mangga Cengkir Indramayu yang berdaging tebal, harumnya khas dan memiliki kandungan karbohidrat lebih banyak.


Panen Buah Mangga diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan buan Desember. Pasar-pasar akan dipenuhi dengan keranjang-keranjang berisi Buah Mangga, demikian pula pinggiran jalan raya akan diisi penual Mangga dadakan yang datang dari berbagai daerah.
Sudahkah temans menikmati Buah Mangga hari ini?

Senin, 01 Desember 2014

Lelang Buku yang Muram


Buku-buku di atas meja ini adalah sedikit dari keselruhan buku yang dicucigudangkan di Karta Pustaka Yogyakarta. Lembaga kebudayaan ini akan tutup. Ini kabar yang tak mengenakkan.
Lembaga ini berdiri sejak 1967, salah satu pendirinya adalah Romo Dick Hartoko. Ibu Anggi Minarni merupakan nahkoda terakhir yang memimpin Karta Pustaka.

Saya bukan bagian orang yang kerap mengunjungi Karta Pustaka, tercatat hanya dua kali menyinggahinya. Pertama di tahun 1995 saat masih berlokasi di Jl. Suroto. Kedua, ya hari ini, saat mendengar kabar lembaga ini akan tutup. Saya juga pernah menyaksikan resital biola seorang musisi Belanda yang diselenggarakan Karta Pustaka.


Kata Pustaka harus diakui telah menjadi bagian dinamika perjalanan kebudayaan Kota Yogyakarta. Hari ini saya membawa pulang dua buku dari sana: otobiografi "Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan" dan sebuah buku lama keluaran Depdikbud "Upacara Tradisional Sekaten DIY"

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...