Berwisata di ALun-ALun Utara memang menyenangkan sekali, mulai dari ruang terbuka yang luas, pedagang makanan yang ramah, deretan pohon beringin di sisi jalan, bahkan arena Sekaten yang digelar setiap tahun menambah daya tarik kawasan ini.
Namun, semuanya buyar ketika secara tiba-tiba tubuh kita diserang sindrom pipis mendadak atau yang lebih parah harus BAB. Kawasan wisata yang tersohor ini tidak dilengkapi dengan fasilitas toilet yang memadai.
Minggu pagi, saya sering membawa anak-anak nongkrong-nongkrong di sisi barat ALun-ALun Utara untuk menikmati susu segar, wafel cokelat keju, roti goreng atau jajanan lain. Tak jarang, mereka mendadak ingin buang air kecil dan lokasi toilet terdekat adalah di sudut pertigaan jalan Pekapalan dan Jl. Ibu Ruswo, tepat di seberang outlet Dagadu. Di sini ada sebuah toilet yang tampaknya sudah cukup tua. Toilet ini terbuat dari lempeng besi dan berdiri di atas roda dan tiang. Pada beberapa bagian toilet ini serangan karat nampak mengerogoti dengan ganas. Nampaknya, toilet ini dulu merupakan mobile toilet yang digunakan berkeliling sebagai sarana pendudukung kegiatan outdoor.
Meski terlihat mengerikan, apa boleh buat, terpaksa kami menumpang buang hajat di toilet tersebut. Meski merasa agak was-was, saya tetap bersyukur dengan keberadaan toilet tersebut.
Kadang saya bertanya-tanya sendiri, sampai berapa lama ya.... toilet itu bertahan di sana? Atau, kapan ya.... toilet ini direvitalisasi, diganti dengan bangunan yang lebih baru dan permanen sehingga kami bisa memanfaatkanya tanpa perasaan deg-degan?


