Minggu, 12 April 2015

Serupa Tapi Tak Sama: Malioboro, Marlborough dan Marlboro



“Monggo….batiknya mbak, murah...untuk oleh-oleh di rumah”
Tawaran pedagang di kiri kanan tak asing lagi jika kita menjelajah trotoar Jalan Malioboro, sekeping surga belanja bagi pelancong yang mengunjungi Yogyakarta. Inilah ruas jalan paling tersohor dan penting di seantero Yogyakarta. Tersohor karena menjadi destinasi utama kunjungan wisata dan penting karena menjadi jalan resmi bagi berbagai prosesi tradisi Keraton seperti pawai saat jumenengan Sultan, pernikahan putra-putri Raja, pawai kemerdekaan RI Pawai Imlek atau pawai terkait berbagai festival/karnaval.

Namun, tahukah kita arti nama Malioboro? Darimana nama tersebut berasal? Ini menarik sekali karena dengan ketenaran yang sedemikian rupa ternyata asal-usul nama Malioboro masih tak diketahui secara luas.

Banyak yang mengaitkan nama Malioboro dengan Marlborough, sebuah benteng peninggalan Inggris yang berdiri di Bengkulu. Kesamaan pengucapan menjadi alasan utama kenapa kedua nama ini sering dikaitkan satu sama lain. Mari kita bayangkan: Apa mungkin nama jalan yang sangat seremonial itu diambil dari nama asing yang notabene menjadi bagian dari sejarah “penjajahan” negeri kita?

Usut punya usut, ternyata…..nama Malioboro ini konon berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu Malyabara yang artinya: Dihiasi untaian bunga. Nah...kalau arti kata “Dihiasi untaian bunga” nampaknya lebih pas karena seirama dengan fungsi jalan ini yang sering menjadi lintasan karnaval atau pawai saat berlangsungnya berbagai perayaan di Yogyakarta. Terbayang bukan bagaimana riuhnya berbagai pawai/karnaval di jalan Malioboro ini yang seolah-olah sepanjang jalan ini memang dihiasi oleh beragam untaian bunga.

Kalau Benteng Marlborough itu bagaimana ceritanya? Nah....cerita tentang benteng kuno ini sepertinya lebih terang benderang. Benteng yang terletak di Propinsi Bengkulu ini sesuai namanya diambil dari gelar kehormatan John Curchill yaitu Duke of Marlborough. John Churchill sendiri merupakan seorang Jenderal perang Kerajaan Inggris yang sangat terkenal dan terhormat pada masanya (1650-1722)

Yag terakhir….adalah merk sebuah rokok yang terkenal dengan ikon koboinya, Marlboro. Nama ini sama sekali tak ada kaitannya dengan jalan Malioboro, tetapi berkaitan dengan Duke of Marlborough. Gimana ceritanya sih? Hee...he… begini di awal kemunculannya sekitar tahun 1924, rokok yag semula ditujukan bagi kaum perempuan ini tengah mencari nama bagi produk tersebut. Ini cerita tentang penemua nama sebuah produk yang terjadi secara kebetulan. Secara tidak sengaja produsen rokok ini membaca sebuah berita tentang PM INggris WInston Churchill yag ternyata merupakan keturunan John Churchill sang Jenderal tersohor itu.Penelusuran menemukan nama Duke of Marlborough, gelar sang jenderal. Nama Marlborough rupanya memikiat sang produsen karena terdengar sangat berkelas, mudah disebut dan tentu saja unik. Untuk memantapkan penyebutan nama tersebut sebagai sebuah brand, huruf “ugh” di akhir kata Marlborough sengaja dihilangkan menjadi Marlboro.

Lalu, apa hubungan Malioboro dengan Marlboro? Ya..tentu saja tidak ada hubungannya…. Namun, berpuluh tahun kemudian….industri periklanan mengkaitkan kedua nama ini dalam sebuah papan billborad yang dipasang persisi dipintu masuk jalan Malioboro. Sekitar dekade 90-an bagi teman-teman yang pernah berdiam di Yogyakarta tentu pernah melihat sebuah billboard besar bergambar laki-laki koboy yang macho dengan tulisan “Come to Marlboro Country”.

Inilah kaitan kedua nama tersebut: Papan iklan Marlboro seolah menyambut kedatangan pengunjung kawasan Malioboro dengan kalimat “Come to Marlboro Country”. Sebuah kesamaan nama yang tak terkait sama sekali namun secara paksa sengaja dikaitkan oleh industri periklanan.

Kepustakaan:
Makalah: Asal Usul Nama Yogyakarta dan Malioboro (Peter Carey, penerbit Komunitas Bambu),
Makalah: How Marlboro Brand changed its sex (Krishnamurthy Prabhakar)

Jumat, 20 Maret 2015

MATA UANG DAN PERUBAHAN ZAMAN


Tadi pagi, saya menyambangi gang sempit di sisi utara Pasar Beringharjo mencari sekeping koin Benggol, apalagi kepentinngan saya kalau bukan untuk kerikan...he...he..he....

Mencari keping-keping logam tembaga ini tak sulit.....Koin ini bisa ditemukan dalam jumlah cukup banyak di setiap penjual benda-benda kuno di gang samping Pasar Beringharjo. Ada dua jenis koin Benggol yang ditawarkan penjual: Koin mulus bersih dengan cetakan baik untuk kepentingan koleksi...atau....koin yang memiliki pinggiran lebih halus untuk kepentingan terapi tubuh, ya,,itu tadi..untuk kerikan smile emoticon

Salah satu sisi koin Benggol menyajikan info identitas koin tersebut.
Koin ini diterbitkan oleh Pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie) senilai 2,5 sen
dengan tahun penerbitan 1945





Harga koin berkisar Rp.10.000 hingga Rp.20.000 tergantung kondisi. Koin untuk kerikan harganya paling murah. Menurut pengakuan penjual, koin ini termasuk yang paling sering dicari pembeli untuk keperluan kerik....dan saya termasuk pembeli kategori tersebut pacman emoticon

Koin ini kondang dengan nama Benggol berdasarkan nilainya yaitu 2,5 sen. Di masa kolonial Belanda, selain koin Benggol ini ada juga beberapa koin dengan nama yang didasaran pada nilainya.

1. Bil merupakan koin dengan nilai setengah sen
2. Sen, satuan mata uang senilai 2 Bil
3. Benggol/Gobang, senilai 2,5 sen
4. Kelip, senilai 5 sen
5. Ketip, senilai 10 sen atau 4 Benggol atau 2 Kelip
6. Stalen, senilai 25 sen atau 10 Benggol atau 5 Kelip atau 2,5 Ketip
7. Perak, senilai 100 sen atau 25 kelip atau 10 Ketip atau 4 Stalen
8. Ringgit, senilai 2,5 Rupiah

Istilah-istilah di atas pernah saya dengar dari cerita-cerita mendiang Bapak. Di masa kecil, saya lebih mengenal istilah satuan mata uang dalam Bahasa Hokkian:

1. Ji Go, senilai dengan 25 Rupiah atau Selawe (Jawa)
2. Go Cap, senilai dengan 50 Rupiah atau Seket (Jawa)
3. Ce Pek, senilai dengan 100 Rupiah atau Satus (Jawa)
4. Pek Go, senilai dengan 150 Rupiah atau Satus Seket (jawa)
5. Go Pek, senilai dengan 500 Rupiah atau Limang Atus (Jawa)
6. Se Ceng, senilai dengan 1000 Rupiah atau Sewu (Jawa)
7. Ceng Go, senilai 1500 Rupiah atau Sewu Mang Atus (Jawa)
8. Go Ceng, senilai dengan 5000 Rupiah atau Limang Ewu (Jawa)
9. Ce Ban, senilai 10.000 Rupiah atau Sepuluh Ewu (Jawa)

Masa berganti, nilai mata uang dan sebutannya berganti sesuai zaman dan kebudayaan.



Rabu, 11 Maret 2015

Fashion: Beda Ruang, Beda Makna

Dalam beberapa kesempatan, terkadang saya menggunakan syal sebagai aksen penunjang pakaian yang saya gunakan. Kain ringan berbentuk persegi panjang ini, cukup dikalungkan di leher dan sudah cukup menggantikan aksesoris lainnya. Biasanya tanpa menggunakan anting, gelang atau kalung saya sudah merasa outstanding jika memakai syal, scarft atau bahkan pasmina.........atau...lebih sederhana selendang smile emoticon

Saya mulai tertarik menggunakan jenis kain ringan persegi panjang ini saat melihat istri boss saya menggunakannya. Ia merupakan seorang perempuan cantik dan anggun. Ia pandai mematut diri dan rasanya pantas memakai pakaian apa saja. Saya mulai memberanikan diri mencoba beberapa tips ringan seputar aksesoris fashion semisal penggunaan bangle, kalung hingga syal.

Alhasil, beberapa kali berangkat ke kantor saya yang biasanya 'sebodo amat' dengan penampilan, mulai mencoba tips ringan tersebut. Terutama sekali saya mencoba penggunaan syal, pashmina, scaft dan stole......pokoknya semua saudaranya selendang deh....

Beberapa rekan kerja senang dengan perubahan penampilan saya.....dan hmm....sayapun merasa senang mendaat dukungan teman-teman, kemudian mulai pede dan nyaman menggunakannya.

Lain waktu, saat hendak berangkat ke kantor, saya berpapasan dengan seorang tetangga. Ia tertegun melihat saya yang memakai baju resmi namun menggantungkan syal di leher. Lalu ia bertanya "Mau pengajian di mana, Bu?"
Setengah jengkel saya menjawab "Mau melayat, pak!" 

Kamis, 05 Maret 2015

Minggu Pagi di Lapangan Mancasan

Lapangan sepakbola terbuka yang dikelilingi sebuah jogging track.
Beberapa anak dan orang dewasa tengah berolahraga lari dan jalan di intasan ini


Jadwal pengguna Lapangan Mancasan Cukup banyak kalangan masyarakat yang memanfaatkan lahan ini,
mulai dari kesebelasan tarkam hingga berbagai institusi sekolah.
Mungkin Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Kidul di seputar Keraton merupakan lapngan terbuka yang paling populer di seantero Yogyakarta. Padahal, masih ada lapangan terbuka lain yang lebih dari layak untuk ditongkrongi. Salah satunya Lapangan Mancasan ini yang terletak di Kampung Ketanggungan, Wirobrajan.
Papan nama Paguyuban Pengelola Lapangan Mancasan.
Papan nama ini berisi info alamat pengelola dan ketentuan/tata tertib penggunaan lapangan.
Sebuah kalimat berbunyi "MENCLA MENCLE" tampak jelas menutupi sebagian aturan.



Lapangan sepakbola ini berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat dan manfaatkan secara rutin oleh berbagai komunitas sepakbola dan institusi pendidikan. Karena letaknya yang tidak berada di pinggir jalan raya inilah, suasana di sini tak sepadat lapangan lain. Namun, inilah kenyaman yang bisa kita nikmati, jauh dari hiruk-pikuk pedagang dan sampah-sampah yang bertebaran sisa bungkus makanan.
apan status lahan Lapangan Mancasan.
Latar belakang adalah gedung Kantor Kelurahan Wirobrajan

Sebuah cermin fish eye akhirnya di pasang di salah persimpangan yang rawan kecelakaan.
Ruas jalan ini berupa sebuah simpang tiga dengan tikungan 90 derajat. 

Bangunan masjid cukup signifikan menutupi pandangan pengguna jalan pada ruas jalan berikutnya

Sebuah persiapan perhelatan pernikahan di sebuah pendopo
yang terletak di sisi selatan Lapangan Mancasan
 

Sebuah rumah kosong yang terbengkalai.
Halaman rumah ini biasanya digunakan pedagang sayur keliling untuk menggelar dagangannya.

Apa yang terjadi dengan bangunan yang nampaknya cukup kokoh ini? Siapa pemiliknya?



Saya membandingkan langsung lapangan ini dengan Alun-ALun Utara, karena kebetulan saya cukup sering menyambangi kedua laha ini di minggu pagi. Jika Alun-Alun Utara telah menjadi semacam "selebriti" bagi para pengunjung terutama turis, maka Lapangan Mancasan ibarat lapangan bagi warga lokal yang sangat kental nuansa private.

Papan skor pertandingan dipasang di sisi timur Lapangan Mancasan 


Inilah lahan terbuka yang masih dikelilingi pohon-pohon besar yang hijau. Lapngan luas yang menjadi saksi pertandingan sepak bola antar kesebelasan kampung-kampung di sekitarnya.


Di lapangan ini saya masih bisa bersantai melepas anak-anak berlari-lari tanpa khawatir mereka hilang dari pandangan. Sebuah kondisi yang membuat saya menghargai lahan terbuka ini dibanding Alun-Alun Utara atau Selatan. Di malam haripun, terkadang kami sekeluarga menikmati bintang-bintang di sini. Sambil menemani anak-anak yang berlari dan melesatkan untir-untir bercahaya ke udara bebas, kami menyeruput teh hangat.

Sebuah latihan sepak bola di minggu pagi.
Kalau melihat papan daftar pengguna, nampaknya ini adalah PS Serangan

Gedung PAUD Taman Pintar: Ruang penitipan Anak yang Edukatif


Menjadi penduduk Yogya, artinya bersiap menjadi tuan rumah bagi teman-teman yang berkunjung ke kota ini. Beberapa kali, saya menjadi guide bagi teman yang berwisata ke sini.

Teman-teman saya, kebanyakan masih satu generasi dengan saya, artinya masih memiliki anak-anak kecil usia sekolah...bahkan ada juga yang masih memiliki anak-anak batita.

Terkait kunjungan tersebut, biasanya saya mengajak mereka ke Kompleks Taman Pintar. Pertimbangan utama tentu saja karena faktor anak-anak dan isi kantong he..he..he....

Tampilan fasad Gedung PAUD Barat

Di kompleks ini ada banyak pilihan dengan harga tiket ramah kantong dan banyak yang gratisan.....(ini dia sasaran utamanya smile emoticon )

Nawal selalu mengajak masuk ke Gedung PAUD. Gedung PAUD ini ada 2 yang sebelah Timur dan Barat. Harga tiketnya cuma Rp.2.000 ..iya dua ribu perak lhoo... smile emoticon
Kalau sekarang sih naik menjadi Rp.3.000,- karena digabung dengan tiket Taman Lalu Lintas.

Deanah ruangan dalam Gedung PAUD Barat


Meja Resepsionis dan rak sepatu


Di dalam gedung PAUD ini ada pilihan ruangan yang bisa dimasuki anak-anak dengan tema2 yang berbeda. Ada tema profesi, perpustakaan, seni budaya. Peraturan utama di gedung PAUD ini: orang tua tidak boleh masuk ke dalam ruang-ruang bermain itu. Ada petugas pendamping yang akan membimbing dan mengawasi anak-anak, lagipula anak-anak memang didorong untuk mandiri, bermain sendiri tanpa orang tua.

Lalu orang tua menunggu di luar gedung? Ho..ho..ho... tenang saja Bapak, Ibu...kita-kita sebagai orang tua akan sedikit dimanja dengan disediakan sebuah ruang tunggu yang adem...plus sebuah layar monitor yang menampilkan aktivitas anak-anak di dalam ruang-ruang bermain mereka. Setiap ruangan memang dilengkapi dengan CCTV. Inilah waktunya orang tua beristirahat......setelah lelah mendampingi anak-anak menjelajah wahana-wahana lain.

Ruang Tunggu bagi para orang tua, cukup nyaman dan sejuk 

Sambil duduk-duduk di ruang tunggu, orang bisa memantau anak-anak
 lewat monitor yang terhubung dengan CCTV di tiap ruangan


Salah satu fasilitas di Gedung PAUD Barat adalah perpustakaan anak

\Ngomong-ngomong....saya cukup sering lhoo.....kopdar dengan beberapa teman di dalam Gedung PAUD ini.....Jadi kami janjian di sini...setelah beli tiket...anak-anak bermain di dalam....maka kami bisa kopdar sambil duduk lesehan dalam ruangan sejuk sambil sesekali memperhatikan anak-anak lewat monitor pemantau.

Salah satu aktivitas anak-anak di dalam ruangan, bermain puzzle




The Beauty and The Beast Love Story

Sebagaimana film-film Amerika lain, Fifty Shades of Grey adalah produk yang ramai oleh segala kehebohan, huru hara .....sebuah trik marketing yang membuat banyak orang menoleh pada film ini.

Apa yang menarik dari film ini? Unsur sensualitasnya? 
Ternyata, setelah menonton film ini.....ya..begitu deh..biasa-biasa saja. Tidak ada yang membuat saya merasa "wow".....mungkin akan berbeda efeknya jika saya pernah membaca novelnya.

Film Fifty Shades of Grey berkisah tentang hubungan percintaan Anastasia Steele dan Christian Grey. Anastasia Steele adalah sorang mahasiwi jurusan Sastra yang secara tak sengaja menggantikan temannya mewawancarai Christian Grey. Grey, merupakan seorang milyuner berusia muda yang menjadi donatur penting di universitas tempat Steele kuliah. Pertemuan pertama berlanjut pada kencan-kencan berikutnya. Perlahan Steele mulai mengenal karakter Grey yang tersembunyi, sebuah obsesi seksual yang aneh dalam hubungan antara Dominator dan Submissive.

Konon, EL James terinspirasi oleh karakter Edward Cullen dan Isabella Swan dalam novel besutan Stephanie Mayer. Karater Christian Grey memiliki kemiripan dengan Edward Cullen: Tampan, kaya raya, memiliki kekuatan/kekuasaan, baik hati namun menyimpan sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, Anastasia Steele juga terlihat mewakili karakter yang ada pada Isabella Swan: Cantik, dari kalangan biasa, kondisi ekonomi biasa, memiliki keinginan kuat, berani menempuh bahaya.
Secara garis besar kedua cerita tersebut, baik trilogi Twilight maupun Fifty Shades of Grey sama-sama mengusung tema "The Beauty and The Beast Love Story"

Satu-satunya unsur paling menarik dalam film ini adalah dasi metalik milik Christian Grey. Sebuah benda yang semula hanya berfungsi sebagai aksesoris fashion laki-laki kantoran, kini punya nilai yang berbeda di mata publik. Dasi metalik ini seakan merepresentasikan sensualitas si pemilik, mengalahkan ikon-ikon sensualitas perempuan yang selama ini mendominasi imajinasi publik.

Sin Chia dan Tradisi Bersanjo


Saat menginjak bangku SMP saya punya teman seorang Tionghoa tulen...namanya Ang Bi Yung. Saya dan teman-teman sekelas selalu berkunjung saat ia merayakan Sin Chia....dulu saya nggak tahu kalau Sin Chia sama dengan Imlek. Niat sebenarnya cuma ingin makan kue-kue di rumahnya... kuenya enak-enak.....ALhamdulillah saya masih ingat betul wajahnya. Kulit putih mata yang sipit, tubuhnya agak gemuk dan rambutnya tebal lurus dipotong model bob.
Ang Bi Yung teman yang baik dan supel. Dia bergaul dengan semua teman di kelas kami. Saya bersyukur, di masa kecil memiliki pengalaman saling berkunjung ke kediaman teman-teman yang merayakan hari besar mereka.

SMP saya terletak di Kota Palembang. Di Palembang, ada tradisi bersanjo yang sangat kental. Tradisi sanjo atau berkunjung saat hari besar membutuhkan durasi waktu yang cukup lama, minimal seperempat jam. Tamu harus duduk, mencicipi hidangan yang disuguhkan tuan rumah. Setidaknya ada 3 jenis hidangan yang harus dicicipi: minuman, kue kering di toples dan potongan kue basah yang disajikan dalam piring kecil, lengkap dengan garpu kecil.

Berbeda sekali dengan perayaan hari besar di Pulau Jawa. Setidaknya saat Lebaran, terkadang tamu hanya cukup saling bersalaman. Tak ada tradisi harus berlama-lama bertamu, kecuali kerabat dekat.
Lebaran Idul Fitri misalnya. Tradisi sanjo, mengakibatkan durasi Hari Raya Idul Fitri menjadi sangat panjang. Satu bulan penuh -selama masih terhitung Bulan Syawal- merupakan waktu yang dipandang sebagai Lebaran. Jadi Idul Fitri di sana durasinya sebulan penuh. Sementara itu, di Pulau Jawa, LEbaran Idul Fitri hanya bisa diraskan nuansanya sekitar hari saja.. atau maksimal 1 minggu.

Bagi saya, tradisi sanjo telah berjasa memperkenalkan pengalaman keberagaman di masa remaja saya.

Selasa, 17 Februari 2015

Gembok Cinta dan Harapan Kosong


Saya berharap bangunan gembok cinta di Titik Nol Malioboro  ini tetap kosong, tak menarik perhatian pasangan muda yang tengah menjalin percintaan.
Apa yang kita harapkan dari sebuah gembok dengan tulisan nama kita yang terpasang di monumoen ini? Berharap cinta kita abadi sepanjang masa? Tak tergoyahkan oleh segala badai yang menerjang?
Inilah mitos yang sengaja dibangun dengan memanfaatkan romantika percintaan sepasang kekasih. Bukankah jalinan kasih sayang seyogyanya dipupuk dan dibina berdasarkan niatan dari kedua belah pihak? Semua butuh perjuangan, buka semata-mata menggantungkan nasib pada sebuah benda mati bernama gembok.
Kalau kita googling perihal gembok cinta, maka akan bermunculan bermacam foto berisi monumen dari berbagai negara yang dipadati aneka gembok. Entah sudah beraja juta pasangan kekasih yang menggantungkan harapan pada monumen-monumen gembok cinta.
Sebuah pagar jembatan gembok cinta di Paris bahkan roboh karena beban yang melebihi kapasitasnya. Kalau sudah begini, apakah doa cinta para pasangan itu akan roboh juga, menyusul nasib pagar jembatan itu?

Selasa, 10 Februari 2015

Cinta Kecil: Halaman Kosong dan Interaksi Pembaca




Sebuah buku berisi kumpulan puisi telah di tangan saya, bukan diantar tetapi saya menjemputnya dengan sengaja. Puisi-puisi ini terangkum dalam sebuah judul yang manis: Cinta kecil.
Saya tak hendak berbicara soal isi dan makna puisi-puisi di dalamnya. Ada hal menarik ketika saya berbincang dengan sang penulis Sakyahara. Ia menceritakan perihal halaman-halaman kosong di antara puisi-puisi yang tercetak dalam bukunya. Ia berharap saat bukunya telah sampai di tangan pembacanya, maka benda itu sepenuhnya milik sang pembaca. Pembacanya berhak mengisi halaman-halaman kosong itu dengan puisi atau tulisan versi mereka.

Konsep halaman kosong pada buku "Cinta Kecil" Sakyahara ini mengingatkan saya pada konsep yang sama yang diusung perupa Dunadi. Dunadi menciptakan 3 patung gajah dari bahan resin yang dic
at putih, dipajang di kawasan Titik Nol, Malioboro.
Saya pertama kali melihatnya saat melintas jalan Malioboro di Hari Raya Idul Adha tahun 2014 lalu. Waktu itu patungnya masih dibungkus dan nampaknya bercat dasar putih.

Beberapa minggu berselang, saya mendapati patung baru itu telah habis di cat sana-sini...digambari begitu rupa dengan tema "Sepak Bola Gajah". Saat itu memang tengah ramai kasus Sepak Bola Gajah antara PSS Sleman dan Persis Solo. Saya sempat misuh-misuh dalam hati, mengutuki si pembuat grafiti yang telah tega mencoret-coret patung baru itu. 

Beberapa bulan berlalu, Di minggu ketiga Januari 2015, saya membawa anak-anak mengunjungi kawasan Titik Nol di minggu pagi. Area Car Free Day ini memang saya incar untuk mengabadikan banyak instalasi seni di sana. Salah satunya tentu saja Patung Gajah itu.


Tak dinyana, saya menemukan sebuah catatan kecil perihal kenapa ada grafiti di sekujur patung tersebut. Rupanya, grafiti yag menghiasi tubuh putih gajah-gajah itu memang disengaja dan diperuntukkan bagi para pengunjung. 

Judul instalasi seni ini adalah "Bertautan", semula saya mengira berhubungan dengan ekor dan belalai gajah-gajah ynag saling bertautan itu. Ternyata oh ternyata...."Tautan" yang dimaksud adalah interaksi antara si perupa dengan pengunjung. Tautannya adalah: Si perupa menciptakan instalasi tiga dimensi patung gajah ini dan sengaja di cat putih agar pengunjung bisa bebas mencoret-coret patung tersebut dalam bentuk dua dimensi...ya..itu...grafiti tadi. Inilah tautan yang dimaksud: Interaksi antar karya perupa yag berbentuk 3 dimensi dengan penikmatnya yang berbentuk 2 dimensi.

Dunadi, sebagimana Sakyahara Novel, menyadari betul bahwa sebuah karya bukanlah mutlak hak ekslusif mereka, manakala karya tersebut telah sampai di tangan penikmatnya. Maka, ada hak publik untuk berinteraksi dalam karya yang telah sampai di tangan mereka.

Rabu, 28 Januari 2015

Setangkup Tempe yang "Hijau"

Pagi ini membeli sepuluh potong tempe yang dibungkus satu-satu dengan daun pisang. Di luar dugaan, mbah pedagang tempe menawarkan apakah tempe yang saya beli mau dibuka satu persatu agar saya tak repot membukanya di rumah. Saya langsung menyetujuinya. Maka kesepuluh tempe langsung ditelanjangi dan disatukan dalam sebuah "mangkuk" besar yang terbuat dari daun pisang, sisa bungkus salah satu tempe.
Hmmm...lumayan juga pikir saya. Saya tak perlu repot mengupasi satu persatu tempe bungkus ini dan mengurangi tumpukan sampah di dapur. Maklum saja, meski cuma berjumlah 10 buah, bungkus tempe-tempe ini cukup menghebohkan untuk ukuran dapur saya yang mungil
Di sisi lain, mbah Penjual Tempe juga bisa menggunakan kembali bungkus tempe tersebut. Re-use, itu istilah yag sering kita ucapkan kalau sedang ngobrol tentang Daur ulang sampah.




Sebenarnya....dalam hati....saya malu juga kepada mbah Penjual Tempe ini. Saya yang sering terlibat diskusi soal lingkungan hidup ternyata masih sering berlaku kurang "hijau" dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan si mbah Penjual Tempe, dia menjalankan prinsip re-use dalam diam.


Jadi deh, diam-diam dan secara sepihak saya menetapkan si mbah sebagai langganan tempe bungkus saya 
smile emoticon
Merdeka!

Tiket Museum yang Mahal

Saya baru saja membaca komen seorang teman yang mengeluhkan harga tiket Mueum Affandi yang menurutnya mahal. Masih saja ada yang menganggap tiket museum itu mahal.
Simak harga tiket Museum Affandi di bawah ini, yang kebetulan merupakan milik pribadi, bukan milik negara.
Tiket Masuk Museum Affandi:
Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan negara asal.
Tiket untuk turis mancanegara Rp.50.000,-
Tiket domestik dewasa Rp.20.000,-
Untuk tiket dewasa bisa ditukar dengan softdrink gratis
Tiket untuk anak di atas 8 tahun Rp.10.000,-
Sedangkan anak-anak hingga usia 8 tahun bebas bayar.
Yang harus dipahami ketika mengunjungi museum mungkin bukan cuma lihat-lihat koleksi museum, selfie-selfie lalu selesai.
Museum bukan sekedar objek wisata, ini adalah tempat yang harus berkedudukan sebagai subjek. Inilah tempat kita bercermin perihal perjalanan panjang sejarah manusia. Tempat kita mencari tahu apa yang terjadi di masa lampau, kaitannya dengan masa kini dan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Harga tiket masuk sebuah museum mencerminkan sistem yang berjalan di dalamnya. Hal-hal yang menyangkut berdirinya, koleksi-koleksi, pemeliharaan, jaringan-jaringan kerja yang melingkupinya.



Kita memang terbiasa tidak menghargai tempat bernama museum hingga harga senilai 20ribu rupiah diaggap mahal dan tidak layak untuk sebuah museum.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...