Jumat, 04 September 2015
ASPAL
Sepasang koin Benggol (10 sen) dari sebuah gang sempit di sudut Pasar Beringharjo. Kedua koin kembar ini lahir pada abad yang berbeda. Koin berwarna hitam kumal lahir pada pertengahan abad 19, detil cetakannya hampir tak terlihat, tertutup debu sejarah panjang yang dilaluinya. Koin di sampingnya, nampaknya lahir 170 tahun kemudian. Koin kedua ini, berwarna cerah, merah tembaga. Usianya masih muda memikat.
The Lord of the Ring
Sebuah cincin bermata satu tergeletak di antara cincin-cincin lain, di dalam sebuah mangkuk. Pendarnya memikat, sejenak melenakan, melupakan hingar bingar gang sempit pasar tua ini.
Entah siapa pemiliknya yang telah tega melemparkannya ke sudut jejeran lapak loakan ini.
"Pinten, Bu?"
"Kaleh doso"
"Sedoso mawon, njih?"
"Njih"
Sedetik kemudian, usai transaksi, cincin itu beralih kepemilikan.
Entah siapa pemiliknya yang telah tega melemparkannya ke sudut jejeran lapak loakan ini.
"Pinten, Bu?"
"Kaleh doso"
"Sedoso mawon, njih?"
"Njih"
Sedetik kemudian, usai transaksi, cincin itu beralih kepemilikan.
Koin untuk Yoyok
"Kami pernah disuguhi air 'panas' oleh seorang Kepala Desa" tuturnya lirih menceritakan pengalaman mengamankan temuan kayu-kayu curian nun di pelosok negeri.
Tak jarang, ia pulang ke rumah hingga lewat tengah malam. Perjuangan yang kerap menyisakan kepenatan mendalam dan udara yang bersembunyi dalam ruang terkecil permukaan tubuhnya.
Di hari yang mulai menguning jingga, dalam temaram matahari sore, kami bertemu usai perpisahan panjang selama hampir 15 tahun. Pertemuan singkat yang menyisakan kekhawatiranku pada jalan hidup yang ditempuhnya.
Kami tak kuasa menahan perpisahan di ujung senja. Aku memberikannya sekeping koin bertuah yang kudapat dari sebuah gang sempit di sebuah pasar tua pagi tadi. Koin ini datang dari pertengahan abad ke 19. Kuharap, koin ini mampu menjaganya dari segala hal yang akan menghalangi perjalanan hidupnya.
Koin itu, koin bertuah, sepanjang hampir 170 tahun merupakan benda keramat bagai jimat yang disimpan hampir sebagian besar keluarga di negeri ini. Koin itu, tersembunyi di sudut-sudut setiap rumah hingga ke pelosok negeri. Inilah koin tua yang tak lekang digerus zaman, mengusir serbuan benda tak kasat mata yang menyerangmu usai lelah berkepanjangan.
Selamat kerikan, Yok!
Selamat kerikan, Yok!
Selasa, 01 September 2015
Berburu Momen
Ide itu datangnya tak pernah diduga. Seperti angin yang bertiup di siang hari, kadang terasa lamabat sepoi-sepoi namun menyejukkan, kadang berupa badai disertai gemuruh, tak jarang ia tak bertiup sama sekali, membiarkan udara lengang tak berangin yang membuat kita gelisah kepanasan.
Tapi, kita tak boleh selamanya hanya menanti ide datang. Ide itu harus dicari dan diburu bak buronan berkelas residivis.
Ide adalah runtutan peristiwa-peristwa yang kita ciptakan dalam benak kita, mengawinkannya dengan peristiwa lain di atas kenangan-kenangan kita sendiri.
Terkadang, untuk menciptakan peritiwa itu kita harus menjemputnya, memburu momen-momen yang berlangsung di hadapan kita, mengawinkannya dengan rencana-rencana liar kita.
Upaya mengawinkan momen nyata dan rencana liar bukan hal mudah, karena kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sering mengejutkan, membelokkan segala rencana yang telah kita susun. Ketika hal itu terjadi, kita harus siap menyusun ulang segala rencana.
Djamaludin, salah satu orang yang menghancurkan rencana-rencana saya di malam saat ia bertemu adiknya, Yuslan. Dimulai saat saya menjemput kedatangannya di Bandara. Saya membayangkan ia akan celingak-celinguk saat mendarat di Bandara untuk pertama kalinya. Maklum, nampaknya itu adalah kali pertama ia bepergian jauh menggunakan moda pesawat udara. Apa daya, justru saya yang terkecoh oleh kealpaan mengolah informasi dari Fermy Nurhidayat. Saya mengira Djamaludin transit di Surabaya, sebelum meneruskan penerbangan menuju Yogyakarta. Maka, justru saya yang harus celingak-celinguk mengamati satu-persatu penumpang yang keluar dari pintu terminal Bandara, memastikan kehadirannya.
Kali kedua, Djamaludin kembali menggagalkan rencana-rencana saya. Usai makan malam, kami menuju rumah sakit tempat adiknya Yuslan dirawat. Nah...ini dia, pikir saya, peristiwa monumental yang harus saya hadiri, pertemuan kedua kakak beradik yang tak bersua setelah lebih dari 16 tahun lamanya. Ini adalah momen epik, pikir saya. Saya membayangkan akan ada pristiwa mengharu-biru, bertabur air mata yang bisa saya saksikan. Dalam hati, sejak kegagalan merekam momen di Bandara, saya mulai menyusun serangkaian kata-kata, merekam langsung lewat kamera pocket dan kemudian menuliskan pertemuan keluarga itu sesampainya di rumah.
Namun, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan, hampir tak air mata di sana, di ruangan berbalut gorden putih itu. Bahkan suara terbata-batapun hampir tak terdeteksi oleh telinga saya. Tak ada peluk kerinduan yang mereka lakukan, sebagaimana layaknya oarang yang belasan tahun memendam kerinduan.
Alik-alih beradegan termehek-mehek, mereka kakak beradik itu malah berjabat tangan layaknya dua sobat yang kerap bertemu. Bahkan, Djamaludin, menawarkan roti kasur yang dibawanya untuk disuapkan kepada adiknya.
Haaa??....Bagaimana ini, bagimana dengan rencana tulisan saya nantinya jika tak ada sedu-sedan di anatar mereka? Kenapa tak ada satupun di antara mereka yang menitikkan air mata? Apakah mereka tidak kasihan kepada saya, yang telah bersusah payah menghadiri pertemuan monumental mereka? di tengah kebingungan atas kejutan yang mereka berikan, saya terpaksa menyusun ulang rencana-rencana tulisan saya itu. Maka, malam harinya, usai kegagalan mendapatkan sebuah momen termehek-mehek, akhirnya saya harus memutar ulang rencana menyusun tulisan tentang pertemuan mereka.
Begitulah ide, gampang-gampang susah dan susah-susah gampang.
Terkadang, untuk menciptakan peritiwa itu kita harus menjemputnya, memburu momen-momen yang berlangsung di hadapan kita, mengawinkannya dengan rencana-rencana liar kita.
Upaya mengawinkan momen nyata dan rencana liar bukan hal mudah, karena kita harus berhadapan dengan kenyataan yang sering mengejutkan, membelokkan segala rencana yang telah kita susun. Ketika hal itu terjadi, kita harus siap menyusun ulang segala rencana.
Djamaludin, salah satu orang yang menghancurkan rencana-rencana saya di malam saat ia bertemu adiknya, Yuslan. Dimulai saat saya menjemput kedatangannya di Bandara. Saya membayangkan ia akan celingak-celinguk saat mendarat di Bandara untuk pertama kalinya. Maklum, nampaknya itu adalah kali pertama ia bepergian jauh menggunakan moda pesawat udara. Apa daya, justru saya yang terkecoh oleh kealpaan mengolah informasi dari Fermy Nurhidayat. Saya mengira Djamaludin transit di Surabaya, sebelum meneruskan penerbangan menuju Yogyakarta. Maka, justru saya yang harus celingak-celinguk mengamati satu-persatu penumpang yang keluar dari pintu terminal Bandara, memastikan kehadirannya.
Kali kedua, Djamaludin kembali menggagalkan rencana-rencana saya. Usai makan malam, kami menuju rumah sakit tempat adiknya Yuslan dirawat. Nah...ini dia, pikir saya, peristiwa monumental yang harus saya hadiri, pertemuan kedua kakak beradik yang tak bersua setelah lebih dari 16 tahun lamanya. Ini adalah momen epik, pikir saya. Saya membayangkan akan ada pristiwa mengharu-biru, bertabur air mata yang bisa saya saksikan. Dalam hati, sejak kegagalan merekam momen di Bandara, saya mulai menyusun serangkaian kata-kata, merekam langsung lewat kamera pocket dan kemudian menuliskan pertemuan keluarga itu sesampainya di rumah.
Namun, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan, hampir tak air mata di sana, di ruangan berbalut gorden putih itu. Bahkan suara terbata-batapun hampir tak terdeteksi oleh telinga saya. Tak ada peluk kerinduan yang mereka lakukan, sebagaimana layaknya oarang yang belasan tahun memendam kerinduan.
Alik-alih beradegan termehek-mehek, mereka kakak beradik itu malah berjabat tangan layaknya dua sobat yang kerap bertemu. Bahkan, Djamaludin, menawarkan roti kasur yang dibawanya untuk disuapkan kepada adiknya.
Haaa??....Bagaimana ini, bagimana dengan rencana tulisan saya nantinya jika tak ada sedu-sedan di anatar mereka? Kenapa tak ada satupun di antara mereka yang menitikkan air mata? Apakah mereka tidak kasihan kepada saya, yang telah bersusah payah menghadiri pertemuan monumental mereka? di tengah kebingungan atas kejutan yang mereka berikan, saya terpaksa menyusun ulang rencana-rencana tulisan saya itu. Maka, malam harinya, usai kegagalan mendapatkan sebuah momen termehek-mehek, akhirnya saya harus memutar ulang rencana menyusun tulisan tentang pertemuan mereka.
Begitulah ide, gampang-gampang susah dan susah-susah gampang.
Langganan:
Komentar (Atom)
MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG
Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...
-
Sejak Unesco menganugerahkan Batik sebagai Karya Lisan dan Takbenda Warisan Manusia Oktober 2009 maka Bulan oktober dinobatkan menjadi Bula...
-
Bor maual eukuran mikro, untuk menarik keluar syaraf gigi Dentist menggunakan alat lup (lensa) yang ditanam pada kacamata. Tangan kiri...
