Jumat, 26 April 2013

Menikmati Wisata Cahaya di Alun-Alun Selatan Yogyakarta


Apa yang membuat malam hari menjadi begitu hidup? Jawabnya adalah cahaya. 
Gemerlap warna-warni lampu hias, dalam berbagai bentuk dan warna, akan menghidupkan malam yang gelap, bahkan terkadang terasa melebihi siang hari.

Mengunjungi Yogyakarta di malam hari, ternyata tidak melulu harus menghabiskan waktu denngan duduk dan makan gudeg di lesehan-lesehan pinggir jalan. Ada cara baru menikmati malam di Yogyakarta. Datanglah ke Alun-Alun Selatan yang terletak di sisi selatan Keraton Yogyakarta. Anda akan terkesima dengan kemeriahan suasana di ruang terbuka yang satu ini.

Selama bertahun-tahun sebelumnya, wisata utama yang ada di sini adalah Masangin. Masangin adalah berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin yang ada di tengah Alun-Alun. Mitos yang berkembang, jika kita berhasil berjalan lurus melewati dua beringin kembar tersebut, maka segala keinginan kita akan terkabul.

Suasana malam yang semula syahdu dan terkesan hening, kini berubah 1800. Kehadiran puluhan odong-odong dan sepeda tandem yang di hiasi dengan lampu-lampu hias warna-warni dan ditingkahi alunan berbagai musik mampu mengubah suasana hening menjadi hingar-bingar. Bak konser musik di malam hari.

Ada beberapa cara menikmati wisata cahaya di sini. Pilihan utama, anda yang kebetulan datang dengan keluarga atau teman dapat mengelilingi Alun-Alun Selatan dengan menyewa wahana odong-odong. Odong-odong adalah semacam kereta beroda terbuat dari rangka besi yang memiliki desain aneka bentuk dan rupa. Mulai dari odong-odong yang bergambar Dora Emon, Petruk, Angsa, Mickey Mouse, Kuda Terbang hingga Angry Bird.

Rata-rata harga sewa untuk 1 trip perjalanan adalah Rp.35.000,- Eits, jangan membayangkan anda hanya duduk santai berkeliling ya…. harga sewa odong-odong ini tidak termasuk jasa pengemudi lho! Secara bersama-sama, tiap penumpang harus mengayuh sendiri wahana ini, dengan 1 orang berada di kursi kemudi.



Jenis odong-odong  bertingkat dengan kapasitas 6 penumpang


Ada banyak sekali pilihan odong-odong yang disesuaikan dengan selera dan kebutuhan jumlah penumpang. Dari odong-odong berkapasitas untuk 3-4 orang hingga odong-odong bertingkat yang berkapasitas 6-8 orang.

Pilihan kedua adalah berkeliling menggunakan sepeda tandem. Bagi Anda yang hanya pergi berdua dengan pasangan, bisa mencoba sepeda tandem berkapasitas dua penumpang. Atau bagi anda yang datang dengan kelompok kecil rombongan dapat mencoba sepeda tandem berkapasitas empat orang. Harga sewa sepeda tandem ini Rp. 15.000 untuk 1 kali trip.




Sepeda tandem dengan kapasitas 2 penumpang


Pengunjung anak-anak tak kalah dimanjakan, ada banyak pedagang yang menjajakan gelembung sabun tiup. Ada pula Kitir-kitir berlampu yang bila diterbangkan ke langit akan terlihat laksana kumpulan ubur-ubur terbang.

Penat mengayuh odong-odong dan sepeda tandem, Anda dapat beristirahat sambil mengisi perut yang lapar. Di sekeliling pinggir jalan area Alun-Alun Selatan ini, puluhan penjual makanan siap menyajikan hidangan makan malam pilihan. Sambil makan malam ala lesehan, Anda tetap dapat menikmati hiruk-pikuk suasana.

Ingin merasakan suasana sensasional ini? Ada pilihan waktu yang harus di perhatikan jika hendak berwisata ke tempat ini. Anda yang tidak terlalu suka keramaian dapat memilih hari-hari dimana area ini sepi pengunjung. Hari-hari sepi pengunjung antara lain Senin hingga Kamis malam. Tapi jika Anda menyukai keramaian dan kemeriahan suasana maka datanglah pada Jumat hingga Minggu malam. Terlebih jika datang pada musim liburan, dijamin suasana akan sangat cetar membahana! :)



Yk, 24 April 2013

Kucing dan Tai Kucing




Kucing merupakan hewan yang memiliki adaptasi paling tinggi dalam kehidupan manusia. Bahkan, meski tergolong karnivora, kucing ternyata mampu mengkonsumsi makanan dari tumbuhan, semisal nasi.


Pukul lima dini hari, seperti biasa saya bangun mempersiapkan aktivitas pagi: Memasak air panas untuk mandi, air panas untuk kopi, teh dan susu. Saat saya melangkah dari kamar tidur menuju dapur, tiba-tiba langkah kaki saya terhenti, kening mengernyit, hidung mengendus dan mata terbelalak. Sekonyong-konyong semua indera pada tubuh saya memberikan peringatan, menunjukkan pada saya seonggok benda yang tergeletak di lantai dapur: Tai Kucing!

Rupanya semalam seekor kucing telah buang hajat di dapur. Ini bukan kali pertama seonggok tai kucing menyambut pagi saya. Saya tidak dapat menduga kucing mana yag telah buang hajat karena ada beberapa ekor kucing yang berkeliaran bebas di sekitar kediaman kami.

Kucing bukanlah hewan asing bagi manusia, termasuk keluarga kami. Eda dan Nawal ,kedua anak saya, hampir setiap pulang sekolah menemui kucing-kucing kecil di kebun belakang. Dari sekedar menonton anak-anak kucing yang tengah menyusu pada induknya, mengelus-elus, menggendong hingga mengejar anak-anak kucing. Mereka tidak berhenti berman-main dengan anak-anak kucing itu meski sudah berulang-ulang saya melarangnya. Berulang-ulang pula saya mengingatkan anak-anak untuk selalu mencuci tangan dengan sabun setiap selesai bermain dengan kucing-kucing.

Bertahun-tahun silam jauh sebelum anak-anak saya mengenal kucing, saya telah lebih dulu mengakrabi hewan ini ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya dan dua orang adik saya memelihara seekor kucing yang kami beri nama Koneng. Koneng berasal dari bahasa Sunda yang berarti kuning, karena kucing kami memang berwarna kuning jingga. Aktifitas memeluk, menggendong bahkan menciumi si Koneng menjadi keseharian kami dalam mencintai si Koneng.

Memelihara seekor hewan di dalam rumah bukan tanpa resiko. Berkali-kali tangan saya berdarah terkena cakaran si Koneng. Tak jarang si Koneng buang hajat atau muntah di dalam rumah, bahkan di karpet kesayangan ibu saya. Ibupun ngomel-ngomel karena ia adalah orang yang membersihkan segala output organik si Koneng. Perlahan saya mulai menjauhi si Koneng, karena tidak tahan dengan bau dari output organiknya. Puncaknya, ibu membuang si Koneng ke pasar yang letaknya cukup jauh dari rumah kami. Saya sempat merasa sedih karena kehilangan si Koneng, tapi saya tahu betapa repotnya ibu jika harus terus membersihkan karpet akibat kotoran si Koneng.

Sekarang, episode tentang kucing peliharaan dan kotorannya kembali berulang. Kali ini saya menggantikan peran ibu, membersihkan kotoran kucing di dalam rumah. Saya berkeras melarang anak-anak mengakrabi kucing karena alasan-alasan tertentu. Alasan pertama tentu saja karena kucing ,seperti juga hewan-hewan lain, sering buang hajat di sembarang tempat apalagi jika buang hajatnya di dalam rumah. Jika ada sebagian orang yang mengklaim bahwa kucing peliharaannya terlatih buang hajat pada ‘tempatnya’, ya monggo saja. Itu adalah hak setiap orang.

Alasan lain adalah kemungkinan zoonosis. Zoonosis adalah penyakit-penyakit pada hewan yang bisa ditularkan kepada manusia. Pada hewan kucing, zoonosis bias ditularkan lewat cakaran yang menyebabkan penyakit bartonellosis. Toksoplasma adalah penyakit paling popular yang disebabkan oleh interaksi dengan kucing. Penyakit ini disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii, penularannya lewat kotoran, bulu-bulu hewan yang terinfeksi parasit toxoplasma gondii.

Atas dasar alasan-alasan tersebut, saya melarang anak-anak memelihara kucing di dalam rumah, termasuk ketika mereka ingin memelihara kelinci, hamster dan hewan-hewan lain. Hewan tetaplah hewan, merumahkan hewan tidak akan bisa menjadikannya manusia. Habitat hewan yang sesungguhnya ada di alam, bukan di dalam rumah.



Yk, 16 April 2013

Kamis, 25 April 2013

Going (green) to the traditional market

Pagi ini saya berbelanja di pasar legi, sebuah pasar tradisional di kawasan bugisan yogyakarta. Saya membeli kebutuhan memasak untuk hari ini, ayam, telur, tempe dan sayur sop. Selain itu beberapa stok juga harus saya beli, beras, bumbu dapaur, kecap, serta penganan untuk anak-anak. 

Hal menarik ketika berbelanja di sini, sebagian besar pembeli telah menyiapkan diri membawa tas belanja dari rumah, sesuatu yang jarang saya jumpai di kota lain. 

Tas belanja tersebut terbuat dari karung plastik, biasanya bekas kemasan terigu. Beberapa pedagang menjualnya seharga dua ribu rupiah. 

Saya tidak ketinggalan, turut membawa tas belanja tersebut. Hal utama yang saya rasakan adalah kepraktisan. Ketika berbelanja, barang yang saya beli tidak perlu di kemas dua kali. Biasanya penjual harus mengemas barang yang dijual dengan plastik bening dan kantong plastik kresek. Kali ini barang belanjaan hanya dikemas kantong plastik bening secukupnya lalu plung! Langsung dimasukkan ke dalam tas belanja. 

Dulu, jika berbelanja, jemari saya sering perih menahan berat akibat harus memegang beberapa kantong kresek sekaligus. 

Entah disadari atau tidak, para pedagang dan pembeli di pasar ini sesungguhnya tengah menjalani gaya hidup yang ramah lingkungan, yaitu mengurangi penggunaan kantung plastik. Sesuatu yang biasanya hanya kita dengung-dengungkan saja lewat media.


Yk, 25 Agustus 2012

Jalan Baru I Gusti Ngurah Rai, Wisata Belanja Murah Meriah di Batas Kota Jakarta Timur


Jika suatu saat anda melintas keluar kota Jakarta menuju Bekasi, sesekali ambillah jalur di jalan terusan I Gusti Ngurah Rai. Maka anda akan menemui jalan dua arah yang padat luar biasa pada setiap sore hari. Kapadatan ini karena adanya pasar sore disepanjang trotoar jalan, mulai dari stasiun Cakung Jakarta Timur hingga fly over Kranji Bekasi.
Perjalanan melintasi jalur ini memang tidak akan senyaman jika kita melewati jalur tol. Namun menelusuri jajaran pedagang kaki lima yang mengular sepanjang hampir 5 km ini, mata kita akan mendapati banyak kejutan.

Ada banyak barang dagangan ditawarkan, mulai dari jajanan, pakaian, mainan anak-anak, hewan peliharaan, perkakas rumah tangga, elektronika, handphone, sepatu hingga wisata berkuda bagi anak-anak. Semua itu ditawar, kan hampir setiap sore dan dengan biaya yang tidak menguras kocek terlalu dalam.

Pedagang pakaian menguasai hampir 80% area ini. Tidak hanya menyediakan sekedar pakaian dalam, t shirt, jilbab atau daster, baju anak bermerk semacam Nevada, Osh Kosh, Gymboree, Donita turut pula meramaikan koleksi para pedagang di sepanjang jalan yang  kerap di sebut JB ini, akronim dari Jalan Baru.


Bagi anda yang membawa serta keluarga, ada kejutan kecil untuk anak anda. Coba saja wisata menunggang kuda untuk menguji keberanian anak anda. Kuda yang digunakan adalah jenis kuda poni. Selama proses menunggang kuda, pemilik kuda akan selalu memgang tali kendali kuda, berjalan atau berlari menndampingi kuda tersebut. Tarif yang dipatok sangat terjangkau, cuma Rp. 5.000 untuk 1 kali trip sepanjang setengah kilomenter. Hewan lain yang bisa dilihat atau jika anda berminat memeliharanya juga tersedia di sini. Sebut saja Kus Kus, Hamster,ikan hias hingga bebeapa jenis ular.

Menunggang kuda poni di antara keriuhan pasar kaget JB

Sedang mencari handphone baru? Berbagai merk handphone bisa anda dapatkan, mau yang bekas atau baru tinggal pilih. Bahkan jika anda teliti menelusur, anda akan mendapatkan pedagang yang menjual Blackberry atau  Nokia terbaru dengan harga miring. Perkara orisinalitas, tentu saja barang yang ditawarkan adalah kualitas black market. 

Setelah lelah bekeliling pasar sore JB ini, anda bisa rehat sejenak samb il mengisi perut yang lapar. Berbagai menu tersedia di sini dari yang populer seperti bakso, bubur ayam, batagor,otak-otak hingga menu tradisional macam mendoan, lemang atau asinan betawi. Atau ada pula menu baruyag mulai populer yaitu rujak kangkung dan gulai tutut (sejenis keong parasit tanaman padi).

Berencana menelusuri kawasan ini? Jika anda melintas dari arah jakarta, anda bisa  berkendaraan umum dari Jatinegara menggunakan Metromini 506 turun di Pondok Kopi lalu melanjutkan perjalanan menggunakan angkot 03 menuju Jalan Baru  I Gusti Ngurah Rai. Bagi anda pengguna kereta api, anda bisa naik krl jurusan Kota-Bekasi dan turun di Stasiun Cakung. Anda yang berdomisili di Bekasi sebaiknya menggunakan kendaraan apapun untuk menuju Pasar Kranji Lama, lalu meneruskan perjalanan menggunakan angkot 03 menuju Jalan Baru I Gustu Ngurah Rai.

Sebaiknya anda tidak terlalu sore untuk tiba di kawasan ini karena setelah jam 6 sore atau beduk maghrib, keramaian di sini akan berangsur berakhir, para pedagang dan pengunjung akan pulang ke rumah masing-masing dengan sendirinya.Atau perhatikan cuaca, jika langit terlihat mendung dan pertanda akan hujan, ada baiknnya anda memilih hari lain denga cuaca lebih cerah. Cuaca yang tidak bersahabat secara otomatis akan membuat pedagang dan pengunjung berkurang.



Bintara,  20 Mei 2012

Nawal Mengigit Jempol Septi


Semalam, saat saya hendak keluar rumah seorang tetangga belakang mendatangi saya. Tetangga saya ini seorang ibu, dia menggendong anaknya bernama Septi berusia 5 tahun. Dalam pelukan ibunya, Septi terlihat menangis tersengal-sengal. Sang ibu bertanya pada saya, "Maaf bu, ibu ini ibunya Nawal ya?". Saya menjawab,"Iya bu. Ada apa?"

"Bu, tangan anak saya digigit oleh anak ibu!" Ia memperlihatkan jempol kiri Septi. saya memperhatikan dengan seksama, terlihat ada bekas gigitan pada ruas jari Septi. "Bu, kalau bisa anaknya dikurung aja di dalam rumah, gak usah dikelurin. Anak saya nangis kesakitan sampai keringat dingin"

Saya terdiam dan berkali-kali meminta maaf pada Septi dan ibunya. Ibu Septi tidak marah, dia hanya berusaha menahan kesedihan atas kesakitan luarbiasa yang dialami putrinya. Setelah kami berbincang agak lama, akhirnya Septi dan ibunya pamit.

Kemudian, saya dan suami saya  bertanya pada Nawal, apakah benar ia telah menyakiti temannya septi dengan menggit jempolnya. Nawal terdiam, wajahnya sedikit tegang. Suami saya mengulangi pertanyaannya,"Nawal, ayah tanya sama Nawal. Tadi adik gigit jempol Septi?" Nawal menjawabnya dengan anggukan kecil.

"Nawal nggak kasihan sama temannya? Temannya kesakitan begitu"  Ketegangan dan ketakutan atas rasa bersalah dalam diri Nawal memuncak, tangisnyapun meledak.

Malam itu juga,  usai interogasi kecil kami, Saya mengantar Nawal ke rumah Septi. Membujuknya untuk meminta maaf secara langsung pada temannya.

Interogasi kedua saya lakukan pada siang hari, usai Nawal pulang dari TK.
"Nawal, kenapa menggigit jempol Septi?"
"Epi aa, Nawa dipuku ama epi" (Septi jahat, Nawal dipukul sama Septi).
Meski pengucapannya masih kurang jelas, saya mengerti apa yang diucapkannya.

Semalam saya merasa sedih atas perbuatan Nawal terhadap temannya.
Tetapi keesokan harinya saya merasa lega karena Nawal telah memberikan alasan kenapa ia menggigit jempol Septi.
Terima kasih Nawal anakku karena telah bertanggung jawab dengan meminta maaf secara langsung dan menceritakan alasan perbuatanmu.


Bintara, 2 Mei 2011 

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...