Rabu, 27 Mei 2015

Gudeg, suvenir peninggalan Daendels

Sepiring gudeg di pagi hari membawa saya mengarungi perjalanan pahit bangsa ini.
Sepiring gudeg di pagi hari adalah suvenir abadi peninggalan Herman Willem Daendels dan penaklukannya atas tatanan lama di tanah Jawa.

Konon, hidangan gudeg lahir di tengah keprihatinan rakyat Yogya saat masa tanam paksa. Buah Nangka menjadi pilihan karena tidak termasuk dalam jenis tanaman yang masuk wajib tanam kala itu. Pohon Nangka bebas ditanam di pekarangan rumah warga. Adapun rasa manis, ditengarai berasal dari gula jawa yang menjadi satu-satunya bumbu dapur yang bisa diraih. Krecek mungkin juga menjadi satu-satunya hiburan lauk yang menemani hidangan ini, krecek sendiri merupakan lauk yang terbuat dari kulit sapi. 




Demikianlah, semua komponen gudeg sesungguhnya merupakan bahan makanan yang dianggap sebelah mata.


Cinta dalam Sepotong Roti


"Makan..e...kakak bawakan kau roti dari Bacan. Enak.."
Tangan Djamaludin merobek plastik pembungkus roti kasur di hadapannya. Sepotong roti dicuilnya untuk disuapkan kepada Yuslan, adiknya.
Momen pertemuan ini tak sedramatik yang saya bayangkan. Tak ada linang air mata dipelupuk mata kedua kakak beradik yang telah terpisah selama lebih dari 16 tahun. Djamaludin dan Yuslan telah melewati hari-hari keras di sepanjang hidup mereka, sehingga hampir tak tertangkap irama kesedihan di wajah mereka.
Saya tak habis fikir, apa istimewanya roti yang dibawa Djamaludin jauh-jauh dari Bacan itu? Roti itu terlihat biasa-biasa saja dan saya sudah bisa menebak rasanya juga pasti biasa saja. Hanya jenis roti pengganjal perut dalam keadaan lapar.
Namun, bagi Djamaludin tampaknya roti ini adalah media penyampai isi hatinya kepada Yuslan. Roti dari Bacan dianggap penawar kerinduan akan kampung halaman. Ketidaksabaran tangannya merobek plastik pembungkus roti adalah kekhawatirannya jikalau adiknya lapar belum makan. Suapan tangannya mewakili isi hatinya betapa ia ingin mendekap adiknya.
Barangkali demikian, sepotong roti sudah lebih dari cukup untuk mewakili adegan dramatik yang penuh airmata.

Aksi Massa dan Rehat

"Capek, Pak?" Tanya saya, kepada seorang petugas pasukan Dalmas yang tengah rehat di pinggiran kawasan bunderan Bulaksumur.
"Nggih mbak. Kulo kesel sanget. Demonya kok ndak  selesai-selesai. Tapi ya...namanya tugas nggih, tak jalankan saja"
Hari itu, sebuah aksi massa yang berlangsung di bawah terik matahari tengah rehat sejenak, lantaran terjadi lobbying di antara para koordinator aksi dan pemimpin pasukan Dalmas. Seorang anggota Pasukan Dalmas lain berkeliling mendistribusikan konsumsi kepada seluruh anggota. Dua buah kardus mie instan berpindah dari satu orang ke orang lain. Tiba saat giliran bapak petugas disamping saya mengambil jatahnya, ia mengambil masing-masing dua: roti bundar dan air putih dalam kemasan gelas.
"Monggo, mbak..disambi.....mbaknya mesti haus" Rupanya ia sengaja mengambil jatah dobel khusus untuk diberikan kepada saya. Saya tentu saya terbengong-bengong dan sungkan sekali.
"Ndak papa mbak....ini jatahnya masih banyak kok...." Temannya yang mengedarkan konsumso menimpali, meyakinkan saya untuk segera menuntaskan rasa haus dan lapar yang mendera. Akhirnya saya menerima pemberian tersebut dan tentu saja segala rasa kerin kerontang di kerongkongan hilang seketika. Begitu pula perut lapar saya, terganjal sudah dengan sepotong roti bundar rasa cokelat.
"sami-sami mbak.." Tutur kedua petugas Dalmas, membalas ucapan terima kasih saya.
Detik berikutnya, kami berpisah karena masa diplomasi telah usai. Aksi massa dilanjutkan, petugas kembali bersiaga.
"Hati-hati nggih mbak" Si Bapak petugas melamaikan tangan kepada saya dan saya membalasnya dengan menganggukkan kepala. Ia kembali menenteng sebuah perisai serat kaca transparan, lengkap dengan sebuah pentungan. Sementara saya, kemali menenteng SLR dan mencari-cari lokasi aman dengan angle menarik.

Jumat, 15 Mei 2015

Renang dan "'Pindah Rumah"




Renang mungkin menjadi aktivitas favorit setiap anak karena di dalam kolam mereka bisa bermain air dan hampir tak merasakan peluh keringat.


Saya termasuk sering mengajak ke kolam renang dengan harapan dapat mengajari mereka berenang, namun selalu berakhir sia-sia. Padahal saya terhitung ibu yang pandai renang, bahkan di masa single kerap didapuk menjadi coach gadungan bagi teman-teman kost saat kami renang bersama.

Saya selalu gagal mengajari anak-anak belajar renang, ujung-ujungnya ya cuma jadi tukang ojek 'Lumba-lumba' . Mereka menunggangi punggung saya lalusaya berjalan keliling kolam.

Meski menyenangkan sebearnya renang itu cukup merepotan. Gimana nggak repot, persiapannya banyak banget: Menyiapkan handuk baju ganti, sabun, shampoo, bedak, minyak kayu putih, kantong plastik kresek untuk wadah baju basah dan tentu saja nggak boleh alpa mengingatkan anak-anak untuk makan sebelum renang. Itu baru persiapannya......nanti sesampai di kolam renang, kita juga harus menjadi asisten utuk membantu anak mandi usai renang, pakain bedak minyak kayu putih, sisiran hingga pakai baju. Juga siap-siap anak-anak akan kelaparan usai renang. Pokoknya renang itu seperti 'pindah rumah' deh.... Semua keperluan toiletres diangkut...ha...ha...ha....

Lebih dari sebulan yang lalu, mendadak Kakak Eda mengajukan permintaan mengiuti kelas renang kepada saya dan ayahnya. Usut punya usut ternyata ia minder terhadap teman-teman sekelasnya lantaran di antara teman-temannya hanya ia sendiri yang tidak bisa berenang.

Akhirnya, saya dan ayahnya menyepakati permintaannya untuk mengikuti kelas renang. Kakak Eda sangat antusias mengetahui diizinkan mengikuti kelas renang. Bersyukur saya berhasil mendapatkan lokasi kolam yang representatif bagi anak-anak dengan harga terjangkau dan coach yang memahami anak-anak.

Setiap awal pertemuan, coach selalu meminta anak-anak berbaris di pinggir kolam untuk berbaris dan melakukan pemanasan. Pelajaran awal di kelas renang adalah melatih mental anak-anak untuk tidak takut terhadap air. Anak-anak diminta menahan nafas di dalam air selama beberapa detik, gunanya untuk mengatur pernafasan.

Pelajaran kedua adalah berdiri tegak di dalam kolam dengan kaki dlurus dan kedua tangan direntangkan, lalu anak-anak diminta merebahkan iri ke air dalam keadaan telungkup dan menahan nafas selama beberapa detik. Gerakan ini meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak akan tenggelam.

Minggu beriku adalah pelajaran menggerakkan kedua kaki secara bergantian dan berulang-ulang, dilanjutkan dengan pelajaran meluncur.

Dalam beberapa pertemuan, Kakak Eda mulai melatih kemampuan meluncur dari satu titik ke titik lain. Perkembangannya cukup signifikan dan dia sangat antusias mengikuti kelas renang ini. Setelah cukup mahir meluncur, materi selanjutnya adalah engenalan pada gaya bebas, gerakan meluncur mulai dikombinasikan dengan gerakan mendayung dari satu tangan, kedua tangan dan geraka megambil nafas dari satu sisi. Semua diajarkan secara bertahap.

Di akhir setiap kelas, anak-anak diberi kesempatan melakukan relaksasi di dampingi coach. Setiap anak tiduran terlentang di permukaan air dengan kepala disangga oleh telapak tangan coach. Saya bisa melihat anak-anak melayang di permukaan air dengan mata tertutup seperti tertidur.

Dengan perkembangan seperti ini, perjuangan saya setiap minggu 'pindah rumah' jadi nggak sia-sia deh

Rabu, 13 Mei 2015

Kisah di Balik Poster Boeng Ajoe Boeng

Siapa nyana tagline termasyur “Boeng, Ajoe Boeng” yang dibuat oleh pelukis Affandi sebenarnya merupakan kalimat yg dicomot Chairil Anwar dari kawasan Senen?


Konon, Chairil Anwar yang gemar berpetualang di dunia kupu-kupu malam ini terinspirasi dari kalimat yang digunakan para pekerja seksual di kawasan Senen untuk menjajakan layanan mereka.

Poster legendaris ini merupakan permintaan Bung Karno untuk mengajak para pemuda turut berjuang di era kemerdekaan.
Awalnya Bung Karno meminta pelukis Sudjono untuk membuat sebuah poster ajakan memperjuangkan kemerdekaan. Namun, Sudjono malah mendelegasikan tugas trsebut kepada Affandi.

Akhirnya Sudjono dan Affandi bersama penyair Chairil Anwar membuat konsep poster tersebut. Pelukis Dullah didaulat menjadi model pada lukisan poster tersebut.

Jumat, 08 Mei 2015

Jalan Panjang Perawatan Saluran Akar Gigi

Bor maual eukuran mikro, untuk menarik keluar syaraf gigi
Dentist menggunakan alat lup (lensa) yang ditanam pada kacamata. Tangan kirinya menggunakan cincin yang berisi kumpulan beberapa bor mikro manual. 
Untuk mengukur kedalaman saluran akar, dentist menggunakan scanner yang dihubungkan dengan sebuah monitor mini.
Saliva Injector (penyedot ludah), ujungnya disambung pipa biru lancip, untuk keperluan irigasi menyedot cairan pembersih pada lubang gigi.
Foto gig yang dipasang jarum bor mikro, untuk keperluan rontgen.


Sudah 7 kali saya mengunjungi seorang dentist di RS Gigi & Mulut Prof Soedomo UGM. Saat ini saya tengah menjalani pearawatan akar gigi, disebabkan lubang besar pada salah satu gigi geraham.


Dentist yang merawat saya mengalami kesulitan menemukan sebuah syaraf gigi yang harus dicabutnya. Dari hasil rontgen diketahui salah satu akar gigi saya sangat panjang sehingga sehingga sulit dijangkau. Kondisi ini diperparah oleh kecilnya lubang akar gigi, ini dipengaruhi faktor usia. Menurut sang dentist, semakin tua usia seseorang maka saluran akar gigi akan semakin menyempit.




Ada kalanya gigi kita yang berlubang sudah tidak bisa ditambal akibat lubang yang terlalu besar & mengenai bagian syaraf.
Opsinya ada 2: Dicabut atau menjalani perawatan saluran akar gigi.




Jika memilih opsi kedua, pasien akan diberi obat pemati syaraf gigi, lalu bagian dalam gigi berlubang dibor hingga bersih.
Selanjutnya, bor mikro itu di masukkan ke dalam saluran akar gigi yang kecil sekalai. Tangan kiri Dentist pegang kaca pantul sementara jari kanan pegang bor mikro manual. ALat ini akan mencapai syaraf dan diputar2 manual oleh Dentist, jika kira2 terlilit jarum bor maka Dentist akan menariknya lalu syaraf gigi akan terputus & tercabut.





Akar gigi yang sudah dicabut syarafnya, kemudian diisi semacam semen , bagian lubang diisi juga, terakhir gigi ditambal permanen. Akhirnya gigi yang berlubang besar bisa diselamatkan deh...


Proses ini memakan waktu yang tidak sebentar, bisa bolak-balik ke Dentist sampai 5-6 kali. Tentu dibutuhkan kesabaran anatara pasien dan Dentist.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...