"Capek, Pak?" Tanya saya, kepada seorang petugas pasukan Dalmas yang tengah rehat di pinggiran kawasan bunderan Bulaksumur.
"Nggih mbak. Kulo kesel sanget. Demonya kok ndak selesai-selesai. Tapi ya...namanya tugas nggih, tak jalankan saja"
Hari itu, sebuah aksi massa yang berlangsung di bawah terik matahari tengah rehat sejenak, lantaran terjadi lobbying di antara para koordinator aksi dan pemimpin pasukan Dalmas. Seorang anggota Pasukan Dalmas lain berkeliling mendistribusikan konsumsi kepada seluruh anggota. Dua buah kardus mie instan berpindah dari satu orang ke orang lain. Tiba saat giliran bapak petugas disamping saya mengambil jatahnya, ia mengambil masing-masing dua: roti bundar dan air putih dalam kemasan gelas.
"Monggo, mbak..disambi.....mbaknya mesti haus" Rupanya ia sengaja mengambil jatah dobel khusus untuk diberikan kepada saya. Saya tentu saya terbengong-bengong dan sungkan sekali.
"Ndak papa mbak....ini jatahnya masih banyak kok...." Temannya yang mengedarkan konsumso menimpali, meyakinkan saya untuk segera menuntaskan rasa haus dan lapar yang mendera. Akhirnya saya menerima pemberian tersebut dan tentu saja segala rasa kerin kerontang di kerongkongan hilang seketika. Begitu pula perut lapar saya, terganjal sudah dengan sepotong roti bundar rasa cokelat.
"sami-sami mbak.." Tutur kedua petugas Dalmas, membalas ucapan terima kasih saya.
Detik berikutnya, kami berpisah karena masa diplomasi telah usai. Aksi massa dilanjutkan, petugas kembali bersiaga.
"Hati-hati nggih mbak" Si Bapak petugas melamaikan tangan kepada saya dan saya membalasnya dengan menganggukkan kepala. Ia kembali menenteng sebuah perisai serat kaca transparan, lengkap dengan sebuah pentungan. Sementara saya, kemali menenteng SLR dan mencari-cari lokasi aman dengan angle menarik.