Jumat, 20 Maret 2015

MATA UANG DAN PERUBAHAN ZAMAN


Tadi pagi, saya menyambangi gang sempit di sisi utara Pasar Beringharjo mencari sekeping koin Benggol, apalagi kepentinngan saya kalau bukan untuk kerikan...he...he..he....

Mencari keping-keping logam tembaga ini tak sulit.....Koin ini bisa ditemukan dalam jumlah cukup banyak di setiap penjual benda-benda kuno di gang samping Pasar Beringharjo. Ada dua jenis koin Benggol yang ditawarkan penjual: Koin mulus bersih dengan cetakan baik untuk kepentingan koleksi...atau....koin yang memiliki pinggiran lebih halus untuk kepentingan terapi tubuh, ya,,itu tadi..untuk kerikan smile emoticon

Salah satu sisi koin Benggol menyajikan info identitas koin tersebut.
Koin ini diterbitkan oleh Pemerintah Hindia Belanda (Nederlands Indie) senilai 2,5 sen
dengan tahun penerbitan 1945





Harga koin berkisar Rp.10.000 hingga Rp.20.000 tergantung kondisi. Koin untuk kerikan harganya paling murah. Menurut pengakuan penjual, koin ini termasuk yang paling sering dicari pembeli untuk keperluan kerik....dan saya termasuk pembeli kategori tersebut pacman emoticon

Koin ini kondang dengan nama Benggol berdasarkan nilainya yaitu 2,5 sen. Di masa kolonial Belanda, selain koin Benggol ini ada juga beberapa koin dengan nama yang didasaran pada nilainya.

1. Bil merupakan koin dengan nilai setengah sen
2. Sen, satuan mata uang senilai 2 Bil
3. Benggol/Gobang, senilai 2,5 sen
4. Kelip, senilai 5 sen
5. Ketip, senilai 10 sen atau 4 Benggol atau 2 Kelip
6. Stalen, senilai 25 sen atau 10 Benggol atau 5 Kelip atau 2,5 Ketip
7. Perak, senilai 100 sen atau 25 kelip atau 10 Ketip atau 4 Stalen
8. Ringgit, senilai 2,5 Rupiah

Istilah-istilah di atas pernah saya dengar dari cerita-cerita mendiang Bapak. Di masa kecil, saya lebih mengenal istilah satuan mata uang dalam Bahasa Hokkian:

1. Ji Go, senilai dengan 25 Rupiah atau Selawe (Jawa)
2. Go Cap, senilai dengan 50 Rupiah atau Seket (Jawa)
3. Ce Pek, senilai dengan 100 Rupiah atau Satus (Jawa)
4. Pek Go, senilai dengan 150 Rupiah atau Satus Seket (jawa)
5. Go Pek, senilai dengan 500 Rupiah atau Limang Atus (Jawa)
6. Se Ceng, senilai dengan 1000 Rupiah atau Sewu (Jawa)
7. Ceng Go, senilai 1500 Rupiah atau Sewu Mang Atus (Jawa)
8. Go Ceng, senilai dengan 5000 Rupiah atau Limang Ewu (Jawa)
9. Ce Ban, senilai 10.000 Rupiah atau Sepuluh Ewu (Jawa)

Masa berganti, nilai mata uang dan sebutannya berganti sesuai zaman dan kebudayaan.



Rabu, 11 Maret 2015

Fashion: Beda Ruang, Beda Makna

Dalam beberapa kesempatan, terkadang saya menggunakan syal sebagai aksen penunjang pakaian yang saya gunakan. Kain ringan berbentuk persegi panjang ini, cukup dikalungkan di leher dan sudah cukup menggantikan aksesoris lainnya. Biasanya tanpa menggunakan anting, gelang atau kalung saya sudah merasa outstanding jika memakai syal, scarft atau bahkan pasmina.........atau...lebih sederhana selendang smile emoticon

Saya mulai tertarik menggunakan jenis kain ringan persegi panjang ini saat melihat istri boss saya menggunakannya. Ia merupakan seorang perempuan cantik dan anggun. Ia pandai mematut diri dan rasanya pantas memakai pakaian apa saja. Saya mulai memberanikan diri mencoba beberapa tips ringan seputar aksesoris fashion semisal penggunaan bangle, kalung hingga syal.

Alhasil, beberapa kali berangkat ke kantor saya yang biasanya 'sebodo amat' dengan penampilan, mulai mencoba tips ringan tersebut. Terutama sekali saya mencoba penggunaan syal, pashmina, scaft dan stole......pokoknya semua saudaranya selendang deh....

Beberapa rekan kerja senang dengan perubahan penampilan saya.....dan hmm....sayapun merasa senang mendaat dukungan teman-teman, kemudian mulai pede dan nyaman menggunakannya.

Lain waktu, saat hendak berangkat ke kantor, saya berpapasan dengan seorang tetangga. Ia tertegun melihat saya yang memakai baju resmi namun menggantungkan syal di leher. Lalu ia bertanya "Mau pengajian di mana, Bu?"
Setengah jengkel saya menjawab "Mau melayat, pak!" 

Kamis, 05 Maret 2015

Minggu Pagi di Lapangan Mancasan

Lapangan sepakbola terbuka yang dikelilingi sebuah jogging track.
Beberapa anak dan orang dewasa tengah berolahraga lari dan jalan di intasan ini


Jadwal pengguna Lapangan Mancasan Cukup banyak kalangan masyarakat yang memanfaatkan lahan ini,
mulai dari kesebelasan tarkam hingga berbagai institusi sekolah.
Mungkin Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Kidul di seputar Keraton merupakan lapngan terbuka yang paling populer di seantero Yogyakarta. Padahal, masih ada lapangan terbuka lain yang lebih dari layak untuk ditongkrongi. Salah satunya Lapangan Mancasan ini yang terletak di Kampung Ketanggungan, Wirobrajan.
Papan nama Paguyuban Pengelola Lapangan Mancasan.
Papan nama ini berisi info alamat pengelola dan ketentuan/tata tertib penggunaan lapangan.
Sebuah kalimat berbunyi "MENCLA MENCLE" tampak jelas menutupi sebagian aturan.



Lapangan sepakbola ini berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat dan manfaatkan secara rutin oleh berbagai komunitas sepakbola dan institusi pendidikan. Karena letaknya yang tidak berada di pinggir jalan raya inilah, suasana di sini tak sepadat lapangan lain. Namun, inilah kenyaman yang bisa kita nikmati, jauh dari hiruk-pikuk pedagang dan sampah-sampah yang bertebaran sisa bungkus makanan.
apan status lahan Lapangan Mancasan.
Latar belakang adalah gedung Kantor Kelurahan Wirobrajan

Sebuah cermin fish eye akhirnya di pasang di salah persimpangan yang rawan kecelakaan.
Ruas jalan ini berupa sebuah simpang tiga dengan tikungan 90 derajat. 

Bangunan masjid cukup signifikan menutupi pandangan pengguna jalan pada ruas jalan berikutnya

Sebuah persiapan perhelatan pernikahan di sebuah pendopo
yang terletak di sisi selatan Lapangan Mancasan
 

Sebuah rumah kosong yang terbengkalai.
Halaman rumah ini biasanya digunakan pedagang sayur keliling untuk menggelar dagangannya.

Apa yang terjadi dengan bangunan yang nampaknya cukup kokoh ini? Siapa pemiliknya?



Saya membandingkan langsung lapangan ini dengan Alun-ALun Utara, karena kebetulan saya cukup sering menyambangi kedua laha ini di minggu pagi. Jika Alun-Alun Utara telah menjadi semacam "selebriti" bagi para pengunjung terutama turis, maka Lapangan Mancasan ibarat lapangan bagi warga lokal yang sangat kental nuansa private.

Papan skor pertandingan dipasang di sisi timur Lapangan Mancasan 


Inilah lahan terbuka yang masih dikelilingi pohon-pohon besar yang hijau. Lapngan luas yang menjadi saksi pertandingan sepak bola antar kesebelasan kampung-kampung di sekitarnya.


Di lapangan ini saya masih bisa bersantai melepas anak-anak berlari-lari tanpa khawatir mereka hilang dari pandangan. Sebuah kondisi yang membuat saya menghargai lahan terbuka ini dibanding Alun-Alun Utara atau Selatan. Di malam haripun, terkadang kami sekeluarga menikmati bintang-bintang di sini. Sambil menemani anak-anak yang berlari dan melesatkan untir-untir bercahaya ke udara bebas, kami menyeruput teh hangat.

Sebuah latihan sepak bola di minggu pagi.
Kalau melihat papan daftar pengguna, nampaknya ini adalah PS Serangan

Gedung PAUD Taman Pintar: Ruang penitipan Anak yang Edukatif


Menjadi penduduk Yogya, artinya bersiap menjadi tuan rumah bagi teman-teman yang berkunjung ke kota ini. Beberapa kali, saya menjadi guide bagi teman yang berwisata ke sini.

Teman-teman saya, kebanyakan masih satu generasi dengan saya, artinya masih memiliki anak-anak kecil usia sekolah...bahkan ada juga yang masih memiliki anak-anak batita.

Terkait kunjungan tersebut, biasanya saya mengajak mereka ke Kompleks Taman Pintar. Pertimbangan utama tentu saja karena faktor anak-anak dan isi kantong he..he..he....

Tampilan fasad Gedung PAUD Barat

Di kompleks ini ada banyak pilihan dengan harga tiket ramah kantong dan banyak yang gratisan.....(ini dia sasaran utamanya smile emoticon )

Nawal selalu mengajak masuk ke Gedung PAUD. Gedung PAUD ini ada 2 yang sebelah Timur dan Barat. Harga tiketnya cuma Rp.2.000 ..iya dua ribu perak lhoo... smile emoticon
Kalau sekarang sih naik menjadi Rp.3.000,- karena digabung dengan tiket Taman Lalu Lintas.

Deanah ruangan dalam Gedung PAUD Barat


Meja Resepsionis dan rak sepatu


Di dalam gedung PAUD ini ada pilihan ruangan yang bisa dimasuki anak-anak dengan tema2 yang berbeda. Ada tema profesi, perpustakaan, seni budaya. Peraturan utama di gedung PAUD ini: orang tua tidak boleh masuk ke dalam ruang-ruang bermain itu. Ada petugas pendamping yang akan membimbing dan mengawasi anak-anak, lagipula anak-anak memang didorong untuk mandiri, bermain sendiri tanpa orang tua.

Lalu orang tua menunggu di luar gedung? Ho..ho..ho... tenang saja Bapak, Ibu...kita-kita sebagai orang tua akan sedikit dimanja dengan disediakan sebuah ruang tunggu yang adem...plus sebuah layar monitor yang menampilkan aktivitas anak-anak di dalam ruang-ruang bermain mereka. Setiap ruangan memang dilengkapi dengan CCTV. Inilah waktunya orang tua beristirahat......setelah lelah mendampingi anak-anak menjelajah wahana-wahana lain.

Ruang Tunggu bagi para orang tua, cukup nyaman dan sejuk 

Sambil duduk-duduk di ruang tunggu, orang bisa memantau anak-anak
 lewat monitor yang terhubung dengan CCTV di tiap ruangan


Salah satu fasilitas di Gedung PAUD Barat adalah perpustakaan anak

\Ngomong-ngomong....saya cukup sering lhoo.....kopdar dengan beberapa teman di dalam Gedung PAUD ini.....Jadi kami janjian di sini...setelah beli tiket...anak-anak bermain di dalam....maka kami bisa kopdar sambil duduk lesehan dalam ruangan sejuk sambil sesekali memperhatikan anak-anak lewat monitor pemantau.

Salah satu aktivitas anak-anak di dalam ruangan, bermain puzzle




The Beauty and The Beast Love Story

Sebagaimana film-film Amerika lain, Fifty Shades of Grey adalah produk yang ramai oleh segala kehebohan, huru hara .....sebuah trik marketing yang membuat banyak orang menoleh pada film ini.

Apa yang menarik dari film ini? Unsur sensualitasnya? 
Ternyata, setelah menonton film ini.....ya..begitu deh..biasa-biasa saja. Tidak ada yang membuat saya merasa "wow".....mungkin akan berbeda efeknya jika saya pernah membaca novelnya.

Film Fifty Shades of Grey berkisah tentang hubungan percintaan Anastasia Steele dan Christian Grey. Anastasia Steele adalah sorang mahasiwi jurusan Sastra yang secara tak sengaja menggantikan temannya mewawancarai Christian Grey. Grey, merupakan seorang milyuner berusia muda yang menjadi donatur penting di universitas tempat Steele kuliah. Pertemuan pertama berlanjut pada kencan-kencan berikutnya. Perlahan Steele mulai mengenal karakter Grey yang tersembunyi, sebuah obsesi seksual yang aneh dalam hubungan antara Dominator dan Submissive.

Konon, EL James terinspirasi oleh karakter Edward Cullen dan Isabella Swan dalam novel besutan Stephanie Mayer. Karater Christian Grey memiliki kemiripan dengan Edward Cullen: Tampan, kaya raya, memiliki kekuatan/kekuasaan, baik hati namun menyimpan sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, Anastasia Steele juga terlihat mewakili karakter yang ada pada Isabella Swan: Cantik, dari kalangan biasa, kondisi ekonomi biasa, memiliki keinginan kuat, berani menempuh bahaya.
Secara garis besar kedua cerita tersebut, baik trilogi Twilight maupun Fifty Shades of Grey sama-sama mengusung tema "The Beauty and The Beast Love Story"

Satu-satunya unsur paling menarik dalam film ini adalah dasi metalik milik Christian Grey. Sebuah benda yang semula hanya berfungsi sebagai aksesoris fashion laki-laki kantoran, kini punya nilai yang berbeda di mata publik. Dasi metalik ini seakan merepresentasikan sensualitas si pemilik, mengalahkan ikon-ikon sensualitas perempuan yang selama ini mendominasi imajinasi publik.

Sin Chia dan Tradisi Bersanjo


Saat menginjak bangku SMP saya punya teman seorang Tionghoa tulen...namanya Ang Bi Yung. Saya dan teman-teman sekelas selalu berkunjung saat ia merayakan Sin Chia....dulu saya nggak tahu kalau Sin Chia sama dengan Imlek. Niat sebenarnya cuma ingin makan kue-kue di rumahnya... kuenya enak-enak.....ALhamdulillah saya masih ingat betul wajahnya. Kulit putih mata yang sipit, tubuhnya agak gemuk dan rambutnya tebal lurus dipotong model bob.
Ang Bi Yung teman yang baik dan supel. Dia bergaul dengan semua teman di kelas kami. Saya bersyukur, di masa kecil memiliki pengalaman saling berkunjung ke kediaman teman-teman yang merayakan hari besar mereka.

SMP saya terletak di Kota Palembang. Di Palembang, ada tradisi bersanjo yang sangat kental. Tradisi sanjo atau berkunjung saat hari besar membutuhkan durasi waktu yang cukup lama, minimal seperempat jam. Tamu harus duduk, mencicipi hidangan yang disuguhkan tuan rumah. Setidaknya ada 3 jenis hidangan yang harus dicicipi: minuman, kue kering di toples dan potongan kue basah yang disajikan dalam piring kecil, lengkap dengan garpu kecil.

Berbeda sekali dengan perayaan hari besar di Pulau Jawa. Setidaknya saat Lebaran, terkadang tamu hanya cukup saling bersalaman. Tak ada tradisi harus berlama-lama bertamu, kecuali kerabat dekat.
Lebaran Idul Fitri misalnya. Tradisi sanjo, mengakibatkan durasi Hari Raya Idul Fitri menjadi sangat panjang. Satu bulan penuh -selama masih terhitung Bulan Syawal- merupakan waktu yang dipandang sebagai Lebaran. Jadi Idul Fitri di sana durasinya sebulan penuh. Sementara itu, di Pulau Jawa, LEbaran Idul Fitri hanya bisa diraskan nuansanya sekitar hari saja.. atau maksimal 1 minggu.

Bagi saya, tradisi sanjo telah berjasa memperkenalkan pengalaman keberagaman di masa remaja saya.

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...