Rabu, 28 Januari 2015

Setangkup Tempe yang "Hijau"

Pagi ini membeli sepuluh potong tempe yang dibungkus satu-satu dengan daun pisang. Di luar dugaan, mbah pedagang tempe menawarkan apakah tempe yang saya beli mau dibuka satu persatu agar saya tak repot membukanya di rumah. Saya langsung menyetujuinya. Maka kesepuluh tempe langsung ditelanjangi dan disatukan dalam sebuah "mangkuk" besar yang terbuat dari daun pisang, sisa bungkus salah satu tempe.
Hmmm...lumayan juga pikir saya. Saya tak perlu repot mengupasi satu persatu tempe bungkus ini dan mengurangi tumpukan sampah di dapur. Maklum saja, meski cuma berjumlah 10 buah, bungkus tempe-tempe ini cukup menghebohkan untuk ukuran dapur saya yang mungil
Di sisi lain, mbah Penjual Tempe juga bisa menggunakan kembali bungkus tempe tersebut. Re-use, itu istilah yag sering kita ucapkan kalau sedang ngobrol tentang Daur ulang sampah.




Sebenarnya....dalam hati....saya malu juga kepada mbah Penjual Tempe ini. Saya yang sering terlibat diskusi soal lingkungan hidup ternyata masih sering berlaku kurang "hijau" dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan si mbah Penjual Tempe, dia menjalankan prinsip re-use dalam diam.


Jadi deh, diam-diam dan secara sepihak saya menetapkan si mbah sebagai langganan tempe bungkus saya 
smile emoticon
Merdeka!

Tiket Museum yang Mahal

Saya baru saja membaca komen seorang teman yang mengeluhkan harga tiket Mueum Affandi yang menurutnya mahal. Masih saja ada yang menganggap tiket museum itu mahal.
Simak harga tiket Museum Affandi di bawah ini, yang kebetulan merupakan milik pribadi, bukan milik negara.
Tiket Masuk Museum Affandi:
Harga tiket bervariasi disesuaikan usia dan negara asal.
Tiket untuk turis mancanegara Rp.50.000,-
Tiket domestik dewasa Rp.20.000,-
Untuk tiket dewasa bisa ditukar dengan softdrink gratis
Tiket untuk anak di atas 8 tahun Rp.10.000,-
Sedangkan anak-anak hingga usia 8 tahun bebas bayar.
Yang harus dipahami ketika mengunjungi museum mungkin bukan cuma lihat-lihat koleksi museum, selfie-selfie lalu selesai.
Museum bukan sekedar objek wisata, ini adalah tempat yang harus berkedudukan sebagai subjek. Inilah tempat kita bercermin perihal perjalanan panjang sejarah manusia. Tempat kita mencari tahu apa yang terjadi di masa lampau, kaitannya dengan masa kini dan segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.
Harga tiket masuk sebuah museum mencerminkan sistem yang berjalan di dalamnya. Hal-hal yang menyangkut berdirinya, koleksi-koleksi, pemeliharaan, jaringan-jaringan kerja yang melingkupinya.



Kita memang terbiasa tidak menghargai tempat bernama museum hingga harga senilai 20ribu rupiah diaggap mahal dan tidak layak untuk sebuah museum.

Notting Hill dan Fragmen-Fragmen yang Menyertainya

Menonton ulang film komedi romantisnya Julia Roberts dan Hugh Grant......dan membincangkannya dengan suami.
Ini jenis film perpaduan komedi Inggris yang ekspresif namun dikemas ala Hollywood. Film ini berkisah lika-liku cinta Anna Scotts, seorang aktris kondang Hollywood dengan William Thackher seorang pemilik kedai buku travelling di kawasan Notting Hill Kota London. Perbedaan keduanya yang bagai bumi dan langit tak menyurutkan hati keduanya meski begitu banyak lika-liku.....Pasang surut hati yang berakhir happy ending khas Hollywood ini dihiasi banyak fragmen-fragmen kecil.



Banyak fragmen yang disisipkan dalam film ini tanpa menggangu jalannya kisah utama film ini. Lihatlah bagaimana Thackher menghadapi ancaman kebangkrutan karena hanya menjual buku-buku bertema khusus "travelling" bukan novel yang bakal laris terjual. Ada juga fragmen soal teman satu rumahnya yang aneh bin ajaib dengan penampilan seperti psikopat....dan ternyata tanpa diduga, temannya tersebut berjodoh dengan adiknya. Kisah lain soal mantan Thackher yang menikah dengan sahabatnya sendiri dan mengalami cedera tulang punggung hingga harus hidup di atas kursi roda.


Lain lagi dengan fragmen di sekeliling Anna Scotts yang ternyata pernah menjalani operasi pada hidung dan dagu untuk alasan estetika, pacar yang ternyata tak membuatnya nyaman. Semua kisah-kisah itu adalah penguat kisah cinta kedua bintang utama.
Hal menarik lain adalah pengisolasian kedua tokoh utama dari tokoh-tokoh pendukung lainnya. Wajah rupawan Anna Scotts dan William Thackher hadir di layar kaca sebagaimana besutan film-film Hollywood lain. Ada jarak antara penonton dengan kedua tokoh utama (Julia Roberts dan Hugh Grant) yang sengaja diciptakan, bahwa mereka hanyalah sebuah kisah dalam film.
Namun, hal ini tidak berlaku bagi pemeran pendukung lain, terutama teman-teman dekat William Thackher. Hampir semua teman dekat William Thackher adalah kita ......orang-orang yang tak sempurna, mulai dari penampilan fisik, mimik, perjalanan hidup...semua sangat natural, semuanya terlihat seperti loser. Tak beda dengan kita kebanyakan yang tidak cantik, tidak ganteng, pecundang, pengangguran dan lain sebagainya.
Berbeda sekali dengan Anna Scotts, ya...kalau nonton Julia Roberts kira-kira seperti itulah....dia bukan bagian dari kita...dia itu bintang.... Juga karakter William Thackher, apa bedanya dengan Hugh Grant sang aktor British yang gantengnya bikin cewek klepek-klepek?
Hal lain yang membuat film ini istimewa adalah Notting Hill. Ini adalah sebuah ruas jalan di Kota London yang sama sekali tidak disetting untuk film ini. Justru film ini menyesuaikan diri dengan kawasan Notting Hill itu sendiri. Pasar kaget Portobello di ruas jalan ini memang begitu adanya. Rumah berpintu biru memang benar-benar ada, dan kebetulan pemiliknya adalah penulis cerita film ini.

Minggu, 25 Januari 2015

COFFE CUPPING DI WIKI KOPI


Temans, seberapa sering kamu mengkonsumsi kopi dalam sehari? Apa jenis kopi yang kamu konsumsi?
Kalau saya...hmmm masih berkutat pada jenis kopi sachet sih...hi..hi..hi... kadang jenis kopi instant yang ada krimnya....kadang juga menyeduh kopi tubruk.....biasa deh...yang merk generik cap Kapal Laut itu he..he...he...
Mengkonsumsi kopi yang beneran segar dari biji kopi yang digiling langsung cuma sesekali saja.....itu juga kalau ada kesempatan menyambangi kafe-kafe pas gelaran hang out alias kopdar he..he..he... (cekikikan lagi)
Nah, siang tadi tanpa sengaja saya berkesempatan mencicipi kopi espreso plus-plus....eits, jangan disamakan dengan pijit plus-plus yaa sodara-sodara. Sajian kopi espresso yang saya maksud di sini tentu saja dengan segala kesempatan langka yang jarang-jarang kita dapatkan: Coffe Cupping.
Apaan tuh Coffe Cupping? Bagi yang belum tahu dan awam (seperti saya ini..ehmm!), Coffe Cupping merupakan ajang icip-icip kopi murni, alias espresso. Icip-icipnya tentu bukan cuma satu lho...ada beberapa jenis kopi ang bisa kita coba dan bandingan rasa dan aromanya satu sama lain.

Biji-biji kopi dalam toples yang disertai keterangan label.
Label berisi nama jenis/asal kopi, proses pengeringan tanggal pembelian.
Penantuman tanggal juga penting ntuk mengetahu kadar kesegaran biji kopi.

Secara umum jenis kopi ada 2: Arabica dan Robusta
.
Mesin manual espresso menghasilkan sajian kopi yang minim kafein.
Sajian pertama terdii dari dua jenis kopi dengan perlakuan beda saat proses penjemuran.
Timer digunakan untuk menentukan kapan waktu yang pas untuk cupping. 

Cupping mengunakansendok lalu di sedot seara cepat oleh rongga mulut kita.
Penghisapan secara cepat berguna membuka pori-pori indra pengecap agar dimensi rasa lebih dapat kita tangkap.



Buih-buih di permukaan adalah krema yang mengandung minyak atsiri dari biji kopi.
Untuk proses cupping, krema disingkirkan agar aroma dan rasa yang sebenarnya bisa kita dapatkan.

Brewing menggunakan V60

Tahu nggak temans, kopi yang saya icip-icip ini diproses langsung dari bijinya, digiling, lalu dipress menggunakan mesin espresso manual.....langsung oleh mas-mas brewer muda yang tekun dan menghayati sekali ritual ini....

Setelah puas cupping dengan aneka kopi berkualitas baik.....terakhir, sebagai perbandingan saya disuguhi kopi cap Kapal Laut yang biasa kita seduh..... Rasanya....ternyata beda sekali.... kopi generik yang biasa saya minum itu jadinya terasa hambar di lidah. Kok bisa begini?....
Begitulah kopi, segala dimensi aroma dan rasa ternyata sangat dipengaruhi oleh proses yang menyertainya sejak hulu hingga hilir: kondisi geografis tanah, jenis bibit, kematangan biji, cara pengeringan biji kopi, pemanggangan, cara penggilingan hingga suhu air saat proses brewing......Hmmmm.... Cobain sendiri deh....
O,ya Wiki Kopi ini sebenarnya semacam komunitas tempat kita belajar mengenal kopi. Bagi teman-teman yang serius ada program residensi selama 3 bulan full belajar all about kopi.
Dari obrolan dengan mas Tauhid Aminulloh, saya jadi tahu bagaimana peta kondisi perkebunan kopi di Indonesia, nasib petani kopi yang tak senikmat aromanya, konsumsi kopi orang Indonesia pertahun, jalur perdagangan kopi-kopi terbaik, industri kopi kemasan dan tentu saja yang paling menarik adalah: Cerita beliau mengunjungi petani kopi di Papua dan mengenalkan kepada mereka bagaimana rasa asli kopi yang mereka tanam. Sssttt.....banyak petani kopi kita yang mengkonsumbi kopi kemasan lho...bukan kopi hasil kebun mereka....Ironis'kan?

MALAM TAHUN BARU PERTAMA SAYA: HIKING KALIURANG-BEBENG

Dua puluh empat jam ke depan, kalender di dinding kamar kerja saya akan berganti baru. Dua puluh empat jam lagi, penera waktu akan diset ula...